Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,

اتَّبِعْ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ

“Ikutilah apa (al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu (Nabi Muhammad) dari Tuhanmu. Tidak ada tuhan selain Dia. Berpalinglah pula dari orang-orang musyrik.” (al-An’am: 106)

Tidaklah seseorang dikatakan sebagai orang yang telah mengikuti petunjuk kecuali dengan dua perkara:

Membenarkan berita yang dikabarkan oleh Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى secara mutlak tanpa tersusupi oleh suatu syubhat yang akan mengotori pembenarannya tersebut.

Melaksanakan perintah-Nya سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى tanpa tersusupi oleh syahwat yang akan menghalanginya dari melaksanakan perintah-Nya.

Dan, di atas kedua pondasi inilah perputaran agama Islam.

(Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr, ‘Ittiba-‘ul Huda’)