Allah سُبْحًانًهُ وًتًعَالَى berfirman,
إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُمْ مَيِّتُونَ (30) ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عِنْدَ رَبِّكُمْ تَخْتَصِمُونَ (31)
“Sesungguhnya kamu (Wahai Muhamamd) akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula). Kemudian sesungguhnya kalian pada hari Kiamat akan berbantah-bantah di hadapan Tuhanmu.” (az-Zumar: 30-31)
Sungguh benar apa yang Allah سُبْحًانًهُ وًتًعَالَى kabarkan, Nabi ﷺ kita meninggal, kita pun bakal meninggal meskipun kita tidak akan pernah tahu kapan waktunya kita meninggal.
Adapun meninggalnya Nabi kita ﷺ yang kita cintai, telah sejak lama terjadi. Syaikh Shafiyyur-Rahman al-Mubarakfury, menyebutkan, ‘Hal ini terjadi selagi waktu Dhuha sudah terasa panas, pada hari Senin tanggal 12 Rabi’ul-Awwal 11 H. , dengan usia enam puluh tiga tahun lebih empat hari. (ar-Rahiq al-Makhtum , 1/466)
Duhai gerangan diriku, bagaimana suatu kaum mengaku mencintai Nabi ﷺ, kemudian mereka adalah kapak pertama untuk menghancurkan syariat dan memerangi sunnahnya dengan berbuat bid’ah dalam agama dengan tetap mengklaim mencintainya seraya menutup mata dari peringatan keras beliau ﷺ,
وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
“Jauhilah ajaran-ajaran (agama) yang dibuat-buat, karena setiap ajaran yang dibuat-buat adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah kesesatan.” [Abu Dawud]
Orang yang benar-benar mencintai Rasulullah ﷺ, yang benar-benar ingin menolong beliau ﷺ, berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mengikuti beliau ﷺ dalam segala urusan beliau ﷺ, berhukum kepada syariat beliau ﷺ yang suci, rela kepadanya dan menerima dengan sempurna serta mengagungkan sunnah beliau ﷺ yang mulia.
(Hisyam Muhammad Sa’id Barghisy, A’zham Insan Arafathu al-Basyariyyah, Akhlaquhu wa Kaifa Nuhibbuhu wa Nanshuruhu , hal.182)



