Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani agar kamu bersyukur.” (an-Nahl: 78)

Hati anugerah ilahi. Maka, jagalah ia, jangan kau merusaknya. Kerusakannya dapat terlahir karena banyak hal. Enam hal di antaranya disebutkan oleh seorang tokoh Tabi’in yang mulia, Hasan al-Bashri رَحِمَهُ اللهُ.
Beliau رَحِمَهُ اللهُ berkata, “Kerusakan hati terlahir dari enam hal, yaitu,

“Pertama, Mereka sengaja melakukan dosa-dosa dengan harapan dapat bertaubat nantinya.

“Kedua, Mereka belajar ilmu, namun mereka tidak mengamalkannya.

“Ketiga, Apabila mereka mengamalkan ilmu, mereka tidak ikhlas.

“Keempat, Mereka mengonsumsi rizki Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, namun mereka tidak bersyukur (kepada-Nya).

“Kelima, Mereka tidak ridha dengan pembagian Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.

“Keenam, Mereka menguburkan jenazah mayat-mayat di antara mereka, sementara mereka tidak mengambil pelajaran darinya.”

(Iiqaazhu Ulul Himam al-‘Aliyah, 1/96)