Jum’at, 14 Maret 2025
Sesungguhnya waktu seseorang adalah umurnya sejatinya. Ia adalah materi kehidupannya yang abadi dalam kenikmatan yang kekal atau dalam azab yang pedih. Dan ia berjalan (seperti) awan berjalan. Malam dan siang begitu cepat dalam mengurangi umur dan mendekatkan kepada ajal. Keduanya telah menemani orang-orang sebelum kita (dan membinasakan mereka) kaum Nuh, kaum ‘Ad, kaum Tsamud serta banyak (lagi) generasi di antara (kaum-kaum) itu. Maka, semuanya itu datang menghadap Rabb mereka, mereka datang dengam membawa amal-amal mereka dan umur-umur mereka pun putus. Sedangkan malam dan siang masih tetap, keduanya terus mengurangi hal baru pada umat-umat setelah mereka. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,
وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُورًا [الفرقان : 62]
Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau ingin bersyukur (al-Furqan : 62)
Maka, seorang muslim, terlebih di bulan yang penuh berkah ini, musim yang agung dan waktu yang sangat berharga, hendaknya mengambil pelajaran dan nasehat berharga dari lewatnya malam dan siang. Betapa banyak Ramadhan yang kita nanti-nantikan kedatangannya, lalu ia masuk dan berlalu dengan begitu cepatnya. Maka, malam dan siang membuat usang setiap hal yang baru, medekatkan yang jauh, melipat umur, menjadikan anak kecil beruban, membinasakan orang tua, dan kesemuanya ini memberikan kesan akan berlalunya kehidupan dunia dan datangnya kehidupan akhirat.
Ali bin Abi Thalib رَضِيَ اللهُ عَنْهُ berkata :
ارْتَحَلَتْ الدُّنْيَا مُدْبِرَةً وَارْتَحَلَتْ الْآخِرَةُ مُقْبِلَةً وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بَنُونَ فَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الْآخِرَةِ وَلَا تَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا فَإِنَّ الْيَوْمَ عَمَلٌ وَلَا حِسَابَ وَغَدًا حِسَابٌ وَلَا عَمَلٌ
“Dunia berpaling menjauh dan akhirat kian mendekat, dan masing-masing mimiliki pengikut, maka jadilah kalian pengikut akhirat, dan jangan menjadi pengikut dunia. Sesungguhnya hari ini (di dunia) adalah waktu untuk beramal tanpa ada hisab, dan esok (di akhirat) adalah waktu hisab bukan waktu untuk beramal.” [1]
Dan, Umar bin Abdul Aziz رَحِمَهُ اللهُ mengatakan :
إِنَّ الدُّنْيَا لَيْسَتْ بِدَارِ قَرَارِكُمْ دَارٌ كَتَبَ اللهُ عَلَيْهَا الْفَنَاءَ وَكَتَبَ عَلَى أَهْلِهَا مِنْهَا الظَّعْنَ –أي : اَلْاِرْتِحَال-فَكَمْ عَاِمِرٍ مُوَثِّقٍ عَمَّا قَلِيْلٍ يَخْرَبُ وَكَمْ مُقِيْمٍ مُغْتَبِطٍ عَمَّا قَلِيْلٍ يَظْعَنُ فَأَحْسِنُواْ رَحِمَكُمُ اللهُ مِنْهَا الرِّحْلَةَ بِأَحْسَنِ مَا بِحَضْرَتِكُمْ مِنَ النُّقْلَةِ وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى
“Sesungguhnya dunia bukanlah tempat menetap kalian. sesunguhnya dunia merupakan tempat yang telah ditetapkan Allah kefanaannya, dan Dia juga telah menetapkan atas peduduknya kepergiannya. Maka betapa banyak orang yang membangunnya dengan rasa penuh percaya diri ternyata sebentar saja ia runtuh, dan betapa banyak pula orang yang bermukim dengan gembira, ternyata sebentar saja beranjak pergi. Maka, perbaguslah oleh kalian-semoga Allah merahmati kalian-kepergian itu dengan sebaik-baik sarana perpindahan yang hadir di hadapan kalian, dan berbekallah kalian, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” [2]
Sesungguhnya seorang insan itu berada dalam proses penghancuran umurnya semenjak keluar dari perut ibunya. Bahkan, seperti kata Hasan al-Bashri رَحِمَهُ اللهُ “Manusia adalah kumpulan hari-hari ; setiap kali satu hari pergi, maka pergilah satu bagian manusia. Hari menghancurkan bulan, bulan menghancurkan tahun, dan tahun menghancurkan umur. Dan setiap saat berjalan dari seorang hamba, maka hal itu mendekatkannya dari ajal.”
Dan Ibnu Mas’ud رَضِيَ اللهُ عَنْهُ mengatakan : “Aku tidak menyesali sesuatu seperti penyesalanku terhadap suatu hari di mana mataharinya tenggelam, ajalku berkurang pada hari itu sementara amalku tidak bertambah pada hari itu.” hal ini karena kesungguhan beliau رَحِمَهُ اللهُ dalam memperhatikan dan menjaga waktu.
Al-Hasan رَحِمَهُ اللهُ mengatakan : “Aku telah mendapati suatu kaum di mana mereka lebih bersungguh-sungguh menjaga waktu-waktu mereka daripada kalian yang bersungguh-sungguh untuk menjaga dirham dan dinar kalian.” [3]
Oleh karena ini, dikatakan : ((Barang siapa yang menghabiskan harinya bukan untuk suatu hak yang mesti ditunaikannya, atau kewajiban yang harus dikerjakannya, atau sebuah kemulian yang harus dimuliakan dan dihormatinya, atau sebuah hal terpuji yang selayaknya diperolehnya, atau sebuah kebaikan yang harus dibangunnya, atau suatu ilmu yang hendaknya diperoleh faedahnya, maka sungguh ia telah mendurhakai harinya dan menzhalimi dirinya)) dan ia (juga) telah menzhalimi harinya.” [4]
Sesungguhnya malam dan siang merupakan modal seorang insan dalam kehidupan ini ; keuntunganya adalah Surga dan kerugiannya adalah Neraka, tahun adalah pohon, bulan-bulan adalah cabang-cabangnya, hari-hari adalah dahan-dahan dan ranting-rantingnya, saat demi saatnya adalah daun-daunnya, nafas-nafasnya adalah buah-buahnya. Maka, barang siapa yang helaan demi helaan nafas-nafasnya berada dalam ketaatan kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى niscaya buahnya baik penuh berkah manis rasanya. Namun, barang siapa yang helaan demi helaan nafasnya berada dalam kemaksiatan kepada Allah, niscaya buahnya jelek pahit rasanya. [5]
**
Ya Allah, berkahilah waktu-waktu kami, umur-umur kami dan amal-amal kami. Mudahkanlah bagi kami petunjuk untuk segala urusan kami. Bimbinglah kami untuk dapat menggunakan waktu-waktu dengan sebaik-baiknya untuk melakukan amal kebajikan yang abadi (pahalanya). Cintakanlah kepada kami untuk mengerjakan kebaikan-kebaikan dan tanamkan dalam hati kami kebencian terhadap kemungkaran. Dan jadikanlah kami termasuk golongan orang yang berpuasa pada bulan ini dengan puasa yang akan menjadi sebab mendapatkan keridhaan-Mu dan mendapatkan keberuntungan berupa Surga-Surga-Mu.
Amin
Wallahu A’lam
Amar Abdullah bin Syakir
Sumber :
Maqalat Ramadhaniyah : Syahru ash-Shiyam…Ahkamun Wa Aadaabun, Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-‘Abbad-حَفِظَهُ اللهُ تَعَالَى, hal. 38-40.
Catatan :
[1] HR. al-Bukhari di dalam shahihnya secara mu’allaq di dalam kitab ar-Riqaq, bab : Fii al-Amal Wa Thuluhu.
[2] Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim di dalam Hilyatul Auliya, 5/292
[3] Lihat : Miftahul Afkar Li Ta-ahhubi Li Daari al-Qarar, 3/29
[4] Adabu ad-Dunya Wa ad-Diin, hal. 57
[5] Dikatakan oleh al-Imam Ibnul Qayyim رَحِمَهُ اللهُ di dalam kitabnya ‘al-Fawa-id’, hal. 164.



