Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menghabarkan kepada kita dalam sabdanya,
إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
“Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan Dia mencintai keindahan. Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.” (HR. Muslim, no.275)
Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى Dzat-Nya indah. Wajah-Nya terindah yang merupakan puncak kenikmatan dan kelezatan yang akan dilihat oleh penghuni Surga pada hari Kiamat kelak. Nama-nama-Nya terindah dan sifat-sifat-Nya terindah, bahkan ketetapan-ketetapan-Nya adalah ketetapan-ketatapan yang terindah.
Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى Maha Indah dan Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى juga mencintai keindahan-keindahan. Dan di antara keindahan yang dicintai oleh Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى adalah keindahan akhlak. Dalam al-Qur’an Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menyebutkan empat akhlak, empat sikap yang disifati dengan ‘keindahan’.
Yang pertama adalah هَجْرًا جَمِيلًا (Meninggalkan dengan cara yang indah)
Yang kedua adalah الصَّفْحَ الْجَمِيلَ (Lapang dada yang indah)
Yang ketiga adalah صَبْرًا جَمِيلًا (Sabar yang indah)
Yang keempat adalah سَرَاحًا جَمِيلًا (Menceraikan dengan cara yang indah)
Pertama : Meninggalkan dengan Cara yang Indah
Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,
وَاصْبِرْ عَلَى مَا يَقُولُونَ وَاهْجُرْهُمْ هَجْرًا جَمِيلًا
“Bersabarlah (wahai Muhammad) atas apa yang mereka katakan kepadamu (berupa hinaan, cercaan, penentangan dan lain sebagainya ketika engkau berdakwah), dan tinggalkanlah mereka, hajerlah mereka dengan cara yang indah.” (al-Muzammil : 10)
Yaitu, kata para ulama, dakwahilah mereka dengan cara yang baik, jangan digubrisi perkataan-perkataan buruk mereka, jangan mencoba membalas perkataan mereka dengan perkataan yang buruk, yang sama seperti mereka. Hingga engkau akan tersibukkan dengan membalas dendam, sehingga engkau lalai dari kontinyu dalam berdakwah.
Oleh karenanya Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ diperintahkan, bahkan ketika berjidal/berdebat dengan mereka hendaknya dilakukan dengan debat yang terbaik. Kata Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى :
ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (an-Nahl : 125)
Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى juga berfirman :
وَلَا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
“Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik.” (al-Ankabut : 46)
Jika ternyata mereka tidak mau mendengar, tidak mau menerima, bahkan memberi gelaran-gelaran yang buruk, bahkan mengganggu, maka jangan dibalas. Jinggalkanlah mereka dengan cara yang baik.
Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى juga menyebutkan tentang ‘Ibadurrahman (para hamba Allah Dzat yang Maha Penyayang), Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,
وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا
“Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (al-Furqan : 63)
Mereka tidak menggubris, mereka meninggalkan dengan cara yang baik.
Maka, ini dapat kita praktekkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Kalau ternyata kita harus meninggalkan suatu komunitas, kita diganggu oleh seseorang, maka kita tinggalkan dengan cara yang baik. Tanpa harus membalas. Yang penting, kita telah menyampaikan. Kemudian, tinggalkan mereka dengan cara yang baik.
Kedua : Lapang Dada yang Indah
Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,
وَإِنَّ السَّاعَةَ لَآتِيَةٌ فَاصْفَحِ الصَّفْحَ الْجَمِيلَ
“Sesungguhnya saat (kiamat) itu pasti akan datang, maka berlapanglah dada dengan pemaafan yang indah.” (al-Hijr : 85)
Dalam ayat ini, Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى memerintahkan Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ untuk berlapang dada dengan memaafkan dengan cara yang indah. Yaitu, memaafkan tanpa harus mencela, memaafkan tanpa harus marah-marah, sebagaimana Yusuf عَلَيْهِ السَّلَامُ ketika memaafkan saudara-saudaranya yang telah memisahkan dirinya dari ayahnya dan ibunya sekian tahun lamanya, Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,
قَالَ لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ يَغْفِرُ اللَّهُ لَكُمْ وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ
Dia (Yusuf) berkata : “Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kalian, Mudah-mudahan Allah mengampuni kalian, dan Dia adalah Maha Penyayang diantara Para Penyayang.” (Yusuf : 92)
سُبْحَانَ اللهِ (Subhanallah, maha suci Allah) Nabi Yusuf عَلَيْهِ السَّلَامُ tidak mencaci maki, tidak mengatakan, ‘kalian telah berbuat buruk kepadaku demikian dan demikian’. Cercaan sama sekali tidak diucapkan oleh Nabi Yusuf عَلَيْهِ السَّلَامُ kepada saudara-saudaranya yang telah berbuat buruk kepada dirinya.
Dan, hal semacam itu pula yang diucapkan oleh Nabi Muhammad صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, ketika beliau menaklukkan kota Makkah setelah 8 tahun sebelumnya diusir dari kota Makkah sehingga harus berhijrah. Pada tahun 8 Hijriyah beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ datang berserta 10 ribu pasukan. Kemudian menaklukan kota Makkah, sehingga orang-orang Quraisy ketakutan. Maka, kemudian Nabi Muhammad صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ berkata kepada mereka, ‘لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ (Tak ada cercaan terhadap kalian pada hari ini). Aku berkata kepada kalian sebagaimana perkataan saudaraku Yusuf عَلَيْهِ السَّلَامُ kepada saudara-saudaranya, ‘لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ (Tak ada cercaan terhadap kalian pada hari ini). اِذْهَبُوْا وَأَنْتُمْ طَلَقَاءُ (pergilah kalian, wahai orang-orang Qurasiy, meskipun kalian musyrikin, sesungguhnya kalian bebas).”
Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ memaafkan dengan berlapang dada. Maka, seseorang ketika dizhalimi oleh orang lain, dia ingat ayat ini, hendaknya ia berusaha melapangkan dadanya. Berharap ampunan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Siapa yang mengampuni, dia akan diampuni oleh Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. memerintahkan kita untuk mengampuni kesalahan orang lain,
وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Dan hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (an-Nur : 22)
Jika kita memaafkan, niscaya kita akan dimaafkan oleh Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى . Dan, kita tahu bahwa kita semua banyak dosa. Ketika ada orang menzhalimi kita, ini kesempatan bagi kita untuk diampuni oleh Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Bagaimana caranya ? caranya adalah ‘dengan memaafkan orang yang menzhalimi kita tersebut.’ Kalau dalam hati kita berkata,’banyak hak-hak kita yang tidak ditunaikan.’ Ingat ! Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,
وَإِنَّ السَّاعَةَ لَآتِيَةٌ فَاصْفَحِ الصَّفْحَ الْجَمِيلَ
“Sesungguhnya saat (kiamat) itu pasti akan datang, Maka maafkanlah (mereka) dengan cara yang indah.” (al-Hijr : 85)
Maka, lapangkanlah dadamu. Hak-hakmu tidak akan hilang. Hak-hakmu akan dikembalikan pada hari Kiamat kelak. Lagi pula, kita hidup hanya sebentar, maka jangan kita rusak kebahagiaan kita dengan ‘dendam yang membara’ yang tidak selesai-selesai. Oleh karenanya, cara yang terbaik adalah : “maafkanlah (mereka) dengan cara yang baik.” Maafkan saja. Kita akan diberikan kebahagiaan di dunia dan di akhirat akan diampuni oleh Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.
Ketiga : Sabar yang Indah
Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. berfirman,
فَاصْبِرْ صَبْرًا جَمِيلًا
“Maka bersabarlah kamu dengan sabar yang indah.” (al-Ma’arij : 5)
Dan inilah yang diucapkan oleh Nabi Ya’qub عَلَيْهِ السَّلَامُ ketika dia dipisahkan dari Nabi Yusuf عَلَيْهِ السَّلَامُ anaknya yang sangat dia cintai.
Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. berfirman,
وَجَاءُوا عَلَى قَمِيصِهِ بِدَمٍ كَذِبٍ قَالَ بَلْ سَوَّلَتْ لَكُمْ أَنْفُسُكُمْ أَمْرًا فَصَبْرٌ جَمِيلٌ وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَى مَا تَصِفُونَ
“Mereka datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) dengan darah palsu. Ya’qub berkata: “Sebenarnya diri kalian sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu; Maka kesabaran yang indah itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kalian ceritakan.” (Yusuf : 18)
قَالَ بَلْ سَوَّلَتْ لَكُمْ أَنْفُسُكُمْ أَمْرًا فَصَبْرٌ جَمِيلٌ عَسَى اللَّهُ أَنْ يَأْتِيَنِي بِهِمْ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ
Ya’qub berkata: “Hanya diri kalian sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu. Maka kesabaran yang indah itulah (kesabaranku). Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semuanya kepadaku; Sesungguhnya Dia-lah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Yusuf : 83)
Apa yang dimaksud dengan ‘sabar yang indah’ ?
Sabar yang indah yaitu sabar yang tidak disertai dengan keluh kesah, tidak disertai dengan tadhajjur, ngamuk-ngamuk, dan tidak disertai dengan syakwa, tidak mengeluh kepada orang lain. Bahkan disebutkan bahwa Nabi Yaqub عَلَيْهِ السَّلَامُ dispisahkan dari putranya Yusuf عَلَيْهِ السَّلَامُ, sampai ada yang mengatakan 15 tahun, ada yang mengatakan 40 tahun, ada yang mengatakan lebih daripada itu. Dan, selama puluhan tahun tersebut dia tidak pernah mengeluh kepada manusia. Bahkan, dia bersabar meskipun sampai kedua matanya buta. Kata Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى :
وَابْيَضَّتْ عَيْنَاهُ مِنَ الْحُزْنِ فَهُوَ كَظِيمٌ
“Dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan dan ia adalah seorang yang menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya).” (Yusuf : 84)
Dia (Nabi Yaqub عَلَيْهِ السَّلَامُ) jengkel dengan anak-anaknya, tetapi dia tidak mengungkapkan kejengkelannya. Sampai anak-anaknya membuat masalah dan berkata (kepada Nabi Yaqub عَلَيْهِ السَّلَامُ, ayah mereka) :
تَاللَّهِ تَفْتَأُ تَذْكُرُ يُوسُفَ حَتَّى تَكُونَ حَرَضًا أَوْ تَكُونَ مِنَ الْهَالِكِينَ
“Demi Allah, senantiasa kamu (wahai ayahanda) mengingati Yusuf, sehingga kamu mengidap penyakit yang berat atau termasuk orang-orang yang binasa” (Yusuf : 85)
Apa kata Nabi Ya’qub عَلَيْهِ السَّلَامُ menanggapi perkataan mereka tersebut kepada beliau ? Dengan kesabaran yang indah, ia berkata,
قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Ya’qub menjawab : “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya.” (Yusuf : 86)
Nabi Ya’qub عَلَيْهِ السَّلَامُ tidak marah-marah kepada anak-anaknya. Meski anak-anaknya membuat dirinya jengkel, dia tetap menahan amarahnya, dia tetap bersabar, meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa dia tetap sedih sampai akhirnya kedua matanya tidak bisa melihat, dan dia tetap berkata : ‘Aku hanya mengeluhkan kesedihanku kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَاَلى “. Sebuah kesabaran yang berkesinambungan. Puluhan tahun, tidak mengeluh kepada siapa pun. Itulah yang disebut dengan ‘shabrun jamil’ (sabar yang indah) yang akhirnya mendatangkan keindahan pula.
Keempat : Menceraikan dengan Cara yang Indah
Nabi kita Muhammad صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ pernah berkata kepada istri-istrinya, sebagaimana Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَاَلى sebutkan dalam surat al-Ahzab :
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ إِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ وَأُسَرِّحْكُنَّ سَرَاحًا جَمِيلًا
“Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu : “Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut’ah dan aku ceraikan kamu sekalian dengan cara yang indah.” (al-Ahzab : 28)
Apa yang dimaksud dengan ‘cerai yang indah’ ?
Maksudnya, tanpa harus marah-marah, tanpa harus mencaci-maki, dan tanpa ada dendam.
Bila kondisi mengharuskan seorang suami untuk menceraikan istrinya, daripada bila bertahan kondisi semakin runyam, maka ketika menceraikan hendaknya benar-benar dibangun di atas kemaslahatan dan ketika menceraikan hendaknya dilakukan dengan cara yang indah. Sebagaimana yang Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَاَلى sebutkan,
الطَّلَاقُ مَرَّتَانِ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ
“Talak/cerai (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik.” (al-Baqarah : 229)
Maka, meskipun seorang suami menceraikan istrinya, hendaknya dilakukan dengan cara yang baik, dilakukan karena Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَاَلى, tanpa harus ngamuk-ngamuk, tanpa harus membongkar aib di antara mereka, dan tanpa harus membalas dendam. Namun, itulah yang banyak terjadi di kalangan masyarakat. Ketika terjadi percerain, maka bukan dengan perceraian yang indah, tapi dengan permusuhan, dendam, saling menjatuhkan, dan saling membongkar aib. Kadang-kadang anak-anak justru malah menjadi korbannya. Mereka (anak-anak) disuruh bermusuhan dengan ibunya atau disuruh bermusuhan dengan bapaknya. Sehingga menimbulkan kemudharatan yang berkepanjangan. Maka, tidak sepatutnya demikian, seorang ketika harus pun menjatuhkan cerai kepada istrinya, harus berpisah dengan istrinya, hendaknya ia ingat firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَاَلى :
فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ
“rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik.”
وَأُسَرِّحْكُنَّ سَرَاحًا جَمِيلًا
“dan aku ceraikan kamu sekalian dengan cara yang indah.”
Cerai yang dibangun di atas ketakwaan kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى
Wallahu A’lam
(Redaksi)



