Terdapat puluhan ayat al-Qur’an yang menjelaskan tentang beberapa keutamaan para sahabat Nabi dan sanjungan terhadap mereka ini. Begitu pula memberikan kesaksian untuk mereka berkaitan dengan keimanan, keikhlasan, kejujuran, dan kesegeraan mereka untuk melakukan kebaikan-kebaikan. Menyebutkan tentang pengorbanan dan jihad mereka bersama Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, dan menyatakan keridhaan terhadap mereka.
Di antara ayat yang dengan gamblang menyebutkan hal-hal ini adalah sebagai berikut :
Pertama : Firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى :
مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan ia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya. Tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah ia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (al-Fath : 29)
Ayat yang mulia ini mengandung sanjungan terhadap para sahabat dengan disebutkannya sejumlah sifat yang cukup banyak, antara lain :
1-Sikap keras terhadap orang-orang kafir dan sikap kasih sayang mereka di antara sesama mereka (orang-orang yang beriman).
أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ
“keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka”
2-Penyifatan terhadap mereka dengan bahwa mereka banyak beramal shaleh, khususnya shalat :
تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا
“Kamu lihat mereka (banyak) ruku’ dan sujud”
3-Penyifatan terhadap mereka dengan bahwa mereka ikhlash (dalam mengerjakan ketaatan-ketaatan) dan mencari keridhan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى :
يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا
“(Mereka) mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya.”
4-Penyifatan terhadap mereka dengan bahwa mereka khusyu’ dalam mengerjakan shalat hingga nampak bekasnya pada wajah-wajah mereka berupa cahaya dan sinar di dunia dan di akhirat :
سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ
“Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.”
Dan sejumlah sifat yang disebutkan ini merupakan sifat-sifat para shahabat yang mulia, sebagaimana datang di dalam Taurat yang diturunkan kepada Musa عَلَيْهِ السَّلَامُ. Adapun sifat-sifat mereka di dalam Injil yang diturunkan kepada Isa عَلَيْهِ السَّلَامُ, datang di dalamnya perumpamaan mereka dengan tanaman yang mengeluarkan tunas-tunasnya kemudian menguat hingga menjadi keras, kemudian tegak berdiri di atas tunasnya. Tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah ia dan tegak lurus di atas pokoknya hingga menyenangkan hati orang-orang yang menanamnya disebabkan karena kekokohannya dan indahnya pemandangannya.
Begitulah dulu para sahabat, pada mulanya mereka lemah, jumlahnya sedikit, kemudian mereka bertambah dan menjadi banyak jumlahnya, dan menjadi kuat, hingga menjadikan orang-orang kafir marah.[1]
Kedua : Firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى,
لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا وَيَنْصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ (8)
وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (9)
وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ (10)
“(Harta rampasan itu pula) untuk orang-orang fakir yang berhijrah, yaitu orang-orang yang diusir dari kampung halamannya dan (meninggalkan) harta bendanya demi mencari karunia dari Allah, keridhaan(-Nya), serta (demi) menolong (agama) Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang benar.”
“Orang-orang (Anshar) yang telah menempati kota (Madinah) dan beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin) mencintai orang yang berhijrah ke (tempat) mereka. Mereka tidak mendapatkan keinginan di dalam hatinya terhadap apa yang diberikan (kepada Muhajirin). Mereka mengutamakan (Muhajirin) daripada dirinya sendiri meskipun mempunyai keperluan yang mendesak. Siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran itulah orang-orang yang beruntung.”
“Orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar) berdoa, “Ya Tuhan kami, ampunilah kami serta saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu daripada kami dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” [2]
Dalam ayat-ayat ini terdapat sanjungan yang sangat besar terhadap tiga kelompok dari kalangan orang-orang mukmin yang benar.
1-Pertama : al-Muhajirun (orang-orang yang berhijrah), orang-orang yang diusir dari Makkah dan mereka meninggalkan tempat tinggal mereka dan harta benda mereka demi untuk meraih keridhaan Rabb mereka dan untuk menolong agama-Nya, dan untuk memberikan persaksian terhadap mereka dengan penuh kejujuran dan keikhlasan.
2-Kedua : al-Anshar (orang-orang yang memberikan pertolongan), orang-orang yang menyambut orang-orang yang berhijrah, mencintai mereka, memprioritaskan mereka atas diri-diri mereka sendiri, membagi hartanya untuk mereka, mensuport dan memberikan empati kepada mereka dengan segala sesuatu yang mereka miliki, sehingga mereka meraih keberuntungan di dunia dan di akhirat.
فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“itulah orang-orang yang beruntung.”
3-Ketiga : orang-orang yang datang setelah mereka dari kalangan orang-orang yang telah beriman setelah mereka dan mengikuti mereka dengan baik sampai hari pembalasan, dan di antara sifat mereka yang terpenting adalah bahwa mereka mencintai para sahabat Nabi dan mememohonkan ampunan (kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى) untuk mereka. Dan, tidak masuk ke dalam kelompok ini orang yang di dalam hatinya terdapat dendam, kedengkian, dan bencian terhadap salah seorang pun dari kalangan para sahabat atau bersikap sombong atau memusuhi terhadap mereka dengan bersikap buruk terhadap mereka atau mencela mereka, atau hal lainnya berupa tindakan-tindakan yang dilakukan oleh para ahli bid’ah.
Ketiga : firman-Nya,
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.” (at-Taubah : 100)
Dalam ayat yang mulia ini terdapat sanjungan terhadap tiga golongan manusia juga. Mereka ini adalah, Muhajirin, Anshar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.
Sangjungan tersebut meliputi hal-hal berikut :
1-Persaksian bagi mereka bahwa mereka ini adalah orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam), dan yang dimaksudkan dengan as-Sabiqin al-Awwalin (orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) ini adalah orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar seluruhnya, menurut pendapat yang kuat. Karena, mereka ini adalah orang-orang yang terlebih dahulu jika dibandangkan dengan seluruh kaum Muslimin.[3]
2-Pemberitahuan dari Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى bahwa Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى meridhai mereka dengan menerima ketaatan dan amal mereka, dan bahwasanya mereka ridha terhadap-Nya karena apa yang telah mereka peroleh dari-Nya berupa kenikmatan-kenikmatan yang agung dan kenikmatan yang kekal di Surga. Maka, betapa agungnya keridhaan ini !
3-Kabar gembira bagi mereka berupa Surga dan keuntungan yang besar, dan kabar gembira ini mencakup setiap orang yang mengikuti petunjuk Rasul dan para sahabat beliau yang mulia dengan baik sampai hari pembalasan.
Keempat : firman-Nya سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى,
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ آوَوْا وَنَصَرُوا أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ
“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang Muhajirin), mereka itulah orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia.” (al-Anfal : 74)
Dan firman-Nya سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى,
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, dan orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (al-Baqarah : 218)
Qatadah رَحِمَهُ اللهُ mengatakan, “Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى memberikan sanjungan terhadap para sahabat Nabi-Nya Muhammad صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dengan sebaik-baik sanjungan di dalam ayat ini, mereka inilah sebaik-baik manusia pilihan ummat ini, kemudian Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى (juga) menjadikan mereka sebagai orang-orang yang mengharapkan (rahmat-Nya سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى ) [4]
Maka, para sahabat adalah orang-orang yang mengharapkan rahmat Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dan pengijabahan dari-Nya, sementara mereka adalah orang-orang yang paling layak untuk diberi apa yang mereka harapkan.
Dan, hal ini merupakan bisyarah (kabar gembira) bagi para sahabat yang mulia dari kalangan orang-orang Muhajirin dan Anshar karena kebenaran iman mereka, dan merekapun akan mendapatkan ampunan, keridhaan, dan rizki yang mulia yang tidak terputus dan tidak berkesudahan di dalam Surga. Alangkah agungnya kabar gembira ini.
Kelima : firman-Nya سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى,
لَكِنِ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ جَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ وَأُولَئِكَ لَهُمُ الْخَيْرَاتُ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ . أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Tetapi Rasul dan orang-orang yang beriman bersama dia, (mereka) berjihad dengan harta dan jiwa. Mereka itu memperoleh kebaikan. Mereka itulah orang-orang yang beruntung. Allah telah menyediakan bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang agung.” (at-Taubah : 88-89)
Dalam dua ayat ini terdapat persaksian berupa kemenangan atau keuntungan bagi para sahabat, orang-orang yang beriman terhadap Rasul صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dan berjihad bersama-Nya, dan kabar gembira bagi mereka berupa berbagai macam bentuk kebaikan dan kemenangan yang agung di dalam Surga-surga.
Keenam : firman-Nya سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى,
لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا
“Sungguh, Allah telah meridhai orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon, Dia mengetahui apa yang ada dalam hati mereka, lalu Dia memberikan ketenangan atas mereka dan memberi balasan dengan kemenangan yang dekat. (al-Fath : 18)
Ayat yang mulia ini merupakan bintang kehormatan yang mulia yang dengannya para sahabat orang-orang yang membaiat (berjanji setia) terhadap Rasul صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ pada momentun bai’atur ridhwan di bawah pohon sebelum sulhul Hudaibiyah, di mana jumlah mereka pada saat itu adalah 1400 orang, dan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى telah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka berupa kejujuran, kesetiaan, sikap mendengar dan taat, sehigga Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menurunkan ketenangan kepada mereka, dan sulhul Hudaibiyah merupakan kemenangan dan kebaikan yang besar bagi kaum muslimin.
Ketujuh : firman-Nya سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى,
لَا يَسْتَوِي مِنْكُمْ مَنْ أَنْفَقَ مِنْ قَبْلِ الْفَتْحِ وَقَاتَلَ أُولَئِكَ أَعْظَمُ دَرَجَةً مِنَ الَّذِينَ أَنْفَقُوا مِنْ بَعْدُ وَقَاتَلُوا وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَى
“Tidak sama orang yang menginfakan (hartanya di jalan Allah) di antara kamu dan berperang sebelum penaklukan (Makkah). Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menginfakkan (hartanya) dan berperang setelah itu. Allah menjanjikan (balasan) yang baik kepada mereka masing-masing.” (al-Hadid : 10)
Sebagian ulama [5] berdalil dengan ayat yang mulia ini bahwa semua sahabat Nabi di Surga ; karena Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menjanjikan kepada mereka dengan ‘al-Husna’ (Surga), dan barang siapa yang Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى janjikan kepadanya Surga (Surga) niscaya Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى akan menjaukan dirinya dari Neraka, sebagaimana Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,
إِنَّ الَّذِينَ سَبَقَتْ لَهُمْ مِنَّا الْحُسْنَى أُولَئِكَ عَنْهَا مُبْعَدُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang telah ada (ketetapan) yang baik untuk mereka dari Kami, mereka dijauhkan (dari Neraka).” (al-Anbiya : 101)
Ya Allah ! Jadikanlah kami termasuk golongan mereka, dan kumpulkanlah kami di dalam kelompok mereka.
Amin
Wallahu A’lam
(Redaksi)
Sumber :
Fadha-il ash-Shahabah Fi al-Qur’an al-Karim dalam Shahabatu Rasulillah Wa Juhuduhum Fi Ta’limi al-Qur’an al-Karim Wa al-‘Inayatu Bihi, Dr. Anas Ahmad Karzun, hal. 23-30.
Catatan :
[1] Fadha-il ash-Shahabah Wa ad-Difa’ ‘An Karamatihim, karya : syaikh Abdullah at-Talidiy, hal. 48.
[2] Qur’an surat al-Hasyr : 8-10.
[3] Ruhul Ma’aniy, karya : al-Alusiy, 6/9
[4] Tafsir ath-Thabari, 4/320.
[5] Lihat : al-Fasl, karya : Ibnu Hazm, 4/225 dan Lawa-mi’ al-Anwar, karya : Safarini, 2/389.



