Ada satu surat dari surat-surat al-Qur’an yang menghimpun tujuan-tujuan terbesar Islam dan maksud-maksudnya yang paling agung. Surat tersebut bersaksi atas kebenaran risalah para Nabi. Membantah syubhat orang-orang kafir dan sesat. Menegakkan dalil-dalil tentang kebangkitan dan hari pembalasan dengan hujjah dan bukti yang nyata. Serta menyingkap gambaran kematian dan perhitungan sebagai pelajaran dan peringatan bagi orang-orang yang berakal. Surat itu adalah surat Qaaf.

Kali ini kita akan bersama ayat-ayatnya, menggali petunjuknya, merenungi tujuan-tujuannya, dan menyelami makna-maknanya. Sungguh di dalamnya terdapat peringatan bagi siapa saja yang memiliki hati atau mau mendengarkan dengan penuh perhatian.

Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ sering kali menasehati manusia dengan surat ini, pada hari raya, pertemuan umum, musim-musim besar, dan berbagai majelis.

Dari Ummu Hisyam binti Haritsah bin an-Nu’man رَضِيَ اللهُ عَنْهَا, ia berkata :

مَا أَخَذْتُ (ق وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ) إِلاَّ عَنْ لِسَانِ رَسُولِ اللَّهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- يَقْرَؤُهَا كُلَّ يَوْمِ جُمُعَةٍ عَلَى الْمِنْبَرِ إِذَا خَطَبَ النَّاسَ

“Aku tidak menghafal Surat Qaaf dan al-Qur’an yang mulia kecuali dari lisan Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , beliau membacanya setiap hari Jum’at di atas mimbar ketika berkhuthbah kepada manusia.” (HR. Muslim)

Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى membuka surat ini dengan salah satu huruf-huruf muqatha’ah, (yaitu, ق “Qaaf”)  yang mengandung makna dan isyarat yang hanya Allah سُبحَانَهُ وَتَعَالَى yang mengetahui hakikat dan tujuannya.

Kemudian Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى bersumpah dengan al-Qur’an yang mulia (وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ) “Demi al-Qur’an yang mulia.”

Lalu, Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menyebutkan keheranan orang-orang musyrik terhadap diutusnya Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dan pendustaan mereka terhadap kebangkitan. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman :

ق وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ (1) بَلْ عَجِبُوا أَنْ جَاءَهُمْ مُنْذِرٌ مِنْهُمْ فَقَالَ الْكَافِرُونَ هَذَا شَيْءٌ عَجِيبٌ (2) أَإِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا ذَلِكَ رَجْعٌ بَعِيدٌ (3) قَدْ عَلِمْنَا مَا تَنْقُصُ الْأَرْضُ مِنْهُمْ وَعِنْدَنَا كِتَابٌ حَفِيظٌ (4) بَلْ كَذَّبُوا بِالْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُمْ فَهُمْ فِي أَمْرٍ مَرِيجٍ (5) [ق : 1 – 5]

“Qaaf. Demi al-Qur’an yang mulia. Sungguh, mereka merasa heran karena telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari kalangan mereka sendiri. Maka orang-orang kafir berkata, ‘Ini adalah suatu yang sangat ajaib. Apakah apabila kami telah mati dan telah menjadi tanah (akan kembali lagi) ? itu adalah suatu pengembalian yang tidak mungkin.’ Sungguh, Kami telah mengetahui apa yang dimakan bumi dari (tubuh) mereka, dan pada Kami ada kitab yang terpelihara (mencatatnya). Bahkan mereka telah mendustakan kebenaran ketika datang kepada mereka, maka mereka berada dalam keadaan kacau.” (Qaaf : 1-5)

Demikianlah awal surat ini, mengguncang kaum musyrikin atas pengingkaran mereka terhadap kebangkitan, dan pendustaan mereka terhadap kebenaram dengan gaya bahasa yang kuat dan penjelasan yang kokoh.

Kemudian datanglah dalil-dalil tentang kebangkitan, bahwa hal itu tidak lebih sulit daripada penciptaan langit dan apa saja yang ada di dalamnya dan penciptaan bumi serta apa yang ada di dalamnya. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى telah menyebarkan di alam semesta ayat-ayat yang nyata, seandainya mereka mau memperhatikannya, niscaya mereka akan berhenti dari perdebatan dan kembali dari kesesatan. Maka Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,

أَفَلَمْ يَنْظُرُوا إِلَى السَّمَاءِ فَوْقَهُمْ كَيْفَ بَنَيْنَاهَا وَزَيَّنَّاهَا وَمَا لَهَا مِنْ فُرُوجٍ (6) وَالْأَرْضَ مَدَدْنَاهَا وَأَلْقَيْنَا فِيهَا رَوَاسِيَ وَأَنْبَتْنَا فِيهَا مِنْ كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ (7) تَبْصِرَةً وَذِكْرَى لِكُلِّ عَبْدٍ مُنِيبٍ (8) [ق : 6 – 8]

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami membangunnya dan menghiasinya, dan tidak terdapat retak-rekat sedikitpun ?

Dan bumi itu Kami hamparkan dan Kami letakkan di atasnya gunung-gunung yang kokoh, dan Kami tumbuhkan padanya berbagai jenis tanaman yang indah, untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi setiap hamba yang kembali (kepada Allah). (Qaaf : 6-8)

Kemudian Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى  membuat perumpamaan tentang kebangkitan dengan menghidupkan bumi yang mati. Jika Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى mengizinkan awan menurunkan hujan dan bumi menumbuhkan tanaman, maka bumi menjadi hijau, bunga-bunganya bermekaran dan buah-buahnya keluar. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,

وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُبَارَكًا فَأَنْبَتْنَا بِهِ جَنَّاتٍ وَحَبَّ الْحَصِيدِ (9) وَالنَّخْلَ بَاسِقَاتٍ لَهَا طَلْعٌ نَضِيدٌ (10) رِزْقًا لِلْعِبَادِ وَأَحْيَيْنَا بِهِ بَلْدَةً مَيْتًا كَذَلِكَ الْخُرُوجُ (11) [ق : 9 – 11]

“Dan Kami turunkan dari laingit air yang penuh berkah, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun dan biji-bijian yang dapat dipanen, dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun-susun, sebagai rezeki bagi hamba-hamba Kami. Dan Kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati. Seperti itulah kebangkitan ini.” (Qaaf : 9-11)

Menghidupkan bumi setelah mati adalah bukti atas hidupnya manusia setelah mati. Ini adalah hujjah yang sangat terang dan penjelasan yang nyata. Namun mereka mengikuti jalan orang-orang sebelum mereka yang mendustakan ayat-ayat Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dengan zalim, dan mereka buta serta tuli dari mengambil manfaat dari al-Qur’an. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,

كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوحٍ وَأَصْحَابُ الرَّسِّ وَثَمُودُ (12) وَعَادٌ وَفِرْعَوْنُ وَإِخْوَانُ لُوطٍ (13) وَأَصْحَابُ الْأَيْكَةِ وَقَوْمُ تُبَّعٍ كُلٌّ كَذَّبَ الرُّسُلَ فَحَقَّ وَعِيدِ (14) أَفَعَيِينَا بِالْخَلْقِ الْأَوَّلِ بَلْ هُمْ فِي لَبْسٍ مِنْ خَلْقٍ جَدِيدٍ (15)  [ق : 12 – 15]

“Sebelum mereka, kaum Nuh, penduduk Rass dan Tsamud telah mendustakan (rasul-rasul), dan kaum ‘Ad, kaum Fir’aun dan kaum Luth. Dan penduduk Aikah dan kaum Tubba’, semuanya telah mendustakan rasul-rasul maka sudah sepantasnya mereka mendapat azab-Ku. Maka apakah Kami letih dengan penciptaan yang pertama ? Sebenarnya mereka dalam keadaan ragu-ragu tentang penciptaan yang baru.” (Qaaf : 12-15)

Kemudian Sang Pencipta Yang Maha Mengetahui menegaskan keesaan-Nya dalam penciptaan dan pengetahuan-Nya tentang jiwa manusia dan apa yang tesembunyi di dalamnya berupa niat, keinginan, dan bisikan. Seraya berfirman,

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ [ق : 16]

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (Qaaf : 16)

Ini mendorong manusia untuk merasa diawasi oleh penciptanya yang mengetahui lahir dan batinnya. Yang dekat dengannya dalam segala keadaan. Maka, hendaknya ia malu kepada-Nya jika Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى tidak mendapati dirinya di tempat yang diperintahkan, atau melihatnya di tempat yang dilarang dan dicegah.

Dan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى telah menugaskan dua malaikat kepada manusia untuk mencatat amal-amalnya tanpa lalai. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,

إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ (17) مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ (18) [ق : 17 ، 18]

“(Yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, yang satu duduk di sebelah kanan dan yang lain di sebelah kiri, tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaiakat pengawas yang selalu hadir.” (Qaaf : 17-18)

Ini adalah pengawasan yang terus-menerus dalam keadaan sepi maupun ramai, dalam gerak dan diam. Namun, banyak dari para pendosa yang lalai darinya dan tidak memikirkan akibatnya. Hingga apabila ajal datang, dahsyatlah sakaratul maut dan tibalah saat perpisahan…dan bertautlah betis dengan betis, orang yang lalai pun menyesal dan tidak ada lagi jalan keluar. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,

وَجَاءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ذَلِكَ مَا كُنْتَ مِنْهُ تَحِيدُ (19) [ق : 19]

“Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya.” (Qaaf : 19)

Setelah itu seorang hamba tinggal di alam barzakh selama Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menghendaki, hingga datang hari ketika apa yang ada di dalam kubur dibangkitkan dan apa yang ada di dalam dada dinampakkan. Saat itu kezhaliman berakhir, keadilan ditegakkan, hamba-hamba dihisab, timbangan ditegakkan, catatan amal dibuka, para saksi dihadirkan, dan anggota badan berbicara. Malaikat menggiring manusia ke tempat berkumpul, dan malaikat pula yang menjadi saksi atas mereka. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,

وَنُفِخَ فِي الصُّورِ ذَلِكَ يَوْمُ الْوَعِيدِ (20) وَجَاءَتْ كُلُّ نَفْسٍ مَعَهَا سَائِقٌ وَشَهِيدٌ (21) لَقَدْ كُنْتَ فِي غَفْلَةٍ مِنْ هَذَا فَكَشَفْنَا عَنْكَ غِطَاءَكَ فَبَصَرُكَ الْيَوْمَ حَدِيدٌ (22) [ق : 20 – 22]

“Dan ditiuplah sangkakala. Itulah hari terlaksananya ancaman. Dan datanglah tiap-tiap diri bersama seorang pengiring dan seorang saksi. Sesungguhnya kamu dulu dalam keadaan lalai dari hal ini, maka Kami singkapkan darimu tutup yang menutupimu, maka penglihatanmu pada hari ini amat tajam.” (Qaaf : 20-22)

وَقَالَ قَرِينُهُ هَذَا مَا لَدَيَّ عَتِيدٌ (23) [ق : 23]

“Dan yang menyertai dia berkata, “Inilah (catatan amalnya) yang tersedia pada sisiku.”

أَلْقِيَا فِي جَهَنَّمَ كُلَّ كَفَّارٍ عَنِيدٍ (24) مَنَّاعٍ لِلْخَيْرِ مُعْتَدٍ مُرِيبٍ (25) الَّذِي جَعَلَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ فَأَلْقِيَاهُ فِي الْعَذَابِ الشَّدِيدِ (26)  [ق : 24 – 26]

“(Allah berfirman) : “Lemparkanlah olehmu berdua ke dalam neraka semua orang yang sangat ingkar dan keras kepala, yang sangat menghalangi kebajikan, melangar batas lagi ragu-ragu, yang menyembah sesembahan yang lain beserta Allah maka lemparkan dia ke dalam siksaan yang sangat keras.” (Qaaf : 24-26)

Maka seorang hamba menyalahkan temannya yang telah menyesatkannya, lalu temannya berlepas diri darinya dan menafikan bahwa ia telah menyesatkannya dengan berkata :

قَالَ قَرِينُهُ رَبَّنَا مَا أَطْغَيْتُهُ وَلَكِنْ كَانَ فِي ضَلَالٍ بَعِيدٍ (27) [ق : 27]

“Ya Tuhan kami, aku tidak menyesatkannya tetapi dialah yang berada dalam kesesatan yang jauh.” (Qaf : 27)

Lalu Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى mengakhiri perselisihan itu dengan keputusan yang adil. Ancaman telah didahulukan dan peringatan telah disampaikan,

قَالَ لَا تَخْتَصِمُوا لَدَيَّ وَقَدْ قَدَّمْتُ إِلَيْكُمْ بِالْوَعِيدِ (28) مَا يُبَدَّلُ الْقَوْلُ لَدَيَّ وَمَا أَنَا بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ (29) [ق : 28 ، 29]

“Allah berfirman : ‘Janganlah kamu bertengkar di hadapan-Ku, padahal sesungguhnya Aku dahulu telah memberikan ancaman kepadamu. Keputusan di sisi-Ku tidak dapat diubah dan Aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Ku.”  (Qaaf : 28-29)

Dan dalam salah satu adegan paling dahsyat pada hari Kiamat, neraka hampir-hampir meledak karena marah dan meminta tambahan kepada Rabbnya. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,

يَوْمَ نَقُولُ لِجَهَنَّمَ هَلِ امْتَلَأْتِ وَتَقُولُ هَلْ مِنْ مَزِيدٍ (30) [ق : 30]

“(Dan ingatlah akan) hari Kami bertanya kepada Jahannam : “Apakah kamu sudah penuh ? Dia menjawab, “Masihkah ada tambahan ?” (Qaaf : 30)

Anas bin Malik رَضِيَ اللهُ عَنْهُ meriwayatkan bahwa Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersada,

لاَ تَزَالُ جَهَنَّمُ تَقُولُ هَلْ مِنْ مَزِيدٍ. حَتَّى يَضَعَ فِيهَا رَبُّ الْعِزَّةِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى قَدَمَهُ وَيُزْوَى بَعْضُهَا إِلَى بَعْضٍ فَتَقُولُ قَطْ قَطْ

“Jahannam terus dilempari (orang-orang) dan ia berkata : “ Masih adakah tambahan?” hingga Rabb Yang Maha Perkasa meletakkan kaki-Nya di dalam-nya, lalu neraka itu saling berhimpit dan berkata : ‘Cukup, cukup.” (HR. Muslim)

Sebaliknya, ada pemandangan agung berupa pemuliaan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى terhadap hamba-hamba-Nya yang bertakwa, dan kenikmatan kekal yang Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى siapkan bagi mereka, Surga didekatkan kepada mereka agar mereka melihatnya dan (agar mereka) bertambah rindu sebelum (mereka) memasukinya, Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,

وَأُزْلِفَتِ الْجَنَّةُ لِلْمُتَّقِينَ غَيْرَ بَعِيدٍ (31) هَذَا مَا تُوعَدُونَ لِكُلِّ أَوَّابٍ حَفِيظٍ (32) مَنْ خَشِيَ الرَّحْمَنَ بِالْغَيْبِ وَجَاءَ بِقَلْبٍ مُنِيبٍ (33) [ق : 31 – 33]

“Dan didekatkan Surga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tidak jauh (dari mereka). Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-Nya). (Yaitu) orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertobat.” (Qaaf : 31-33)

Maka, betapa bahagianya mereka ketika dikatakan kepada mereka :

ادْخُلُوهَا بِسَلَامٍ ذَلِكَ يَوْمُ الْخُلُودِ  [ق : 34]

“Masukilah Surga itu dengan aman dan damai, itulah hari kekekalan.” (Qaaf : 34)

Surga adalah negeri keamanan dan kedamaian. Tidak ada dengki, tidak ada permusuhan dan tidak ada pertengkaran. Seruan mereka di dalamnya adalah : “Mahasuci Engkau yang Allah.” dan salam adalah penghormatan mereka.

Di dalamnya mereka memperoleh apa yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga, dan tidak pernah terlintas di hati manusia. Dan yang paling agung, paling mulia dan paling utama, adalah memandang wajah Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Memandang wajah Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى yang mulia, menikmati dan mendengar firman-Nya, dan merasakan kedekatan dengan-Nya. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,

لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ  [ق : 35]

“Mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki di dalamnya dan pada sisi Kami ada tambahan.” (Qaaf : 35)

Wallahu A’lam

(Redaksi)

Sumber :

Diringkas dari Khuthbah Jum’at (khuthbah pertama), Syaikh Prof. Dr. Yasser al-Dosary, Masjid Haram 20 Rajab 1447 H (9 Januari 2026).