Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman :

{وَإِذِ اعْتَزَلْتُمُوهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ فَأْوُوا إِلَى الْكَهْفِ يَنْشُرْ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيُهَيِّئْ لَكُمْ مِنْ أَمْرِكُمْ مِرْفَقًا (16)

وَتَرَى الشَّمْسَ إِذَا طَلَعَتْ تَزَاوَرُ عَنْ كَهْفِهِمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَإِذَا غَرَبَتْ تَقْرِضُهُمْ ذَاتَ الشِّمَالِ وَهُمْ فِي فَجْوَةٍ مِنْهُ ذَلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا (17)

وَتَحْسَبُهُمْ أَيْقَاظًا وَهُمْ رُقُودٌ وَنُقَلِّبُهُمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَذَاتَ الشِّمَالِ وَكَلْبُهُمْ بَاسِطٌ ذِرَاعَيْهِ بِالْوَصِيدِ لَوِ اطَّلَعْتَ عَلَيْهِمْ لَوَلَّيْتَ مِنْهُمْ فِرَارًا وَلَمُلِئْتَ مِنْهُمْ رُعْبًا (18)} [الكهف: 16-18]

  1. Karena kalian juga telah meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka berlindunglah ke dalam gua itu. (Dengan demikian,) niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan bagimu sesuatu yang berguna bagi urusanmu.”
  2. Engkau akan melihat matahari yang ketika terbit condong ke sebelah kanan dari gua mereka dan yang ketika terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri, sedang mereka berada di tempat yang luas di dalamnya (gua itu). Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Siapa yang Allah memberinya petunjuk, dialah yang mendapat petunjuk. Siapa yang Dia sesatkan, engkau tidak akan menemukan seorang penolong pun yang dapat memberinya petunjuk.
  3. Engkau mengira mereka terjaga, padahal mereka tidur. Kami membolak-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedangkan anjing mereka membentangkan kedua kaki depannya di muka pintu gua. Seandainya menyaksikan mereka, tentu engkau akan berpaling melarikan (diri) dari mereka dan pasti akan dipenuhi rasa takut terhadap mereka. (al-Kahfi : 16-18)

***

Makna Global

Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menghikayatkan apa yang diperbincangkan oleh para pemuda itu di antara mereka, dan apa yang mereka tetapkan setelah mereka mengasingkan diri dari kaum mereka. Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menyebutkan bahwa sebagian pemuda itu mengatakan kepada sebagian yang lainnya : Karena kamu juga telah meninggalkan kaum kalian dan kalian pun meninggalkan apa yang mereka sembah  dari sesembahan-sesembahan selain Allah, maka berlindunglah ke dalam gua itu agar kalian dapat menyembah Rabb kalian semata. Niscaya Rabb kalian akan menghamparkan untuk kalian dari rahmat-Nya, Dia pun akan memudahkan bagi kalian urusan kalian yang dengannya kalian akan memanfaatkannya dalam kehidupan kalian berupa sebab-sebab penghidupan.

Kemudian Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menyebutkan sebagian kondisi para pemuda ini setelah menetapnya mereka di dalam gua, dan ditidurkannya mereka di dalamnya.  Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menyebutkan perkara yang nampak berupa penjagaan-Nya terhadap mereka, yaitu, bahwa engkau melihat matahari ketika terbit condong ke sebelah kanan dari gua mereka ; agar pancaran sinarnya tidak mengenai mereka, dan ketika matahari itu tenggelam, menjauhi mereka ke sebelah kiri, padahal mereka berada di tempat yang lapang di dalam gua. Demikianlah yang Kami lakukan terhadap para pemuda ini berupa hal-hal yang menunjukkan kekuasaan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dan besarnya kelembutan-Nya terhadap para hamba-Nya.

Kemudian Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menutup ayat ini, seraya berfirman : “Barang siapa dibimbing oleh Allah untuk mendapatkan petunjuk kepada kebenaran, maka dialah orangnya yang benar-benar terbimbing, dan barang siapa yang tidak dibimbing oleh-Nya untuk itu, maka sekali-kali ia tidak akan mendapatkan penolong yang mengarahkan dan membimbingnya kepada kebenaran.

Kemudian Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menghikayatkan sebuah tampilan yang sangat menakjubkan pada ashabul kahfi, Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى mengatakan : “Dan engkau akan menyangka ahlu kahfi itu– kalaulah dapat melihat mereka ditakdirkan untukmu -terjaga, padahal sebenarnya mereka itu tidur, dan Kami pun membolak-balikkan keadaan tidur mereka ; sesekali ke sebelah kanan dan sesekali ke arah kiri, sementara itu anjing mereka yang menemani mereka membentangkan kedua kaki depannya di muka pintu gua, andai engkau menyaksikan mereka, tentu engkau akan berpaling melarikan (diri) dari mereka dan pastilah dirimu akan dipenuhi rasa takut terhadap mereka.

Tafsir Ayat

[Firman-Nya سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى]

وَإِذِ اعْتَزَلْتُمُوهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ فَأْوُوا إِلَى الْكَهْفِ يَنْشُرْ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيُهَيِّئْ لَكُمْ مِنْ أَمْرِكُمْ مِرْفَقًا

Karena kamu juga telah meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka berlindunglah ke dalam gua itu. (Dengan demikian,) niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan bagimu sesuatu yang berguna bagi urusanmu.

Korelasi Ayat Ini dengan Ayat Sebelumnya

Bahwa ketika para pemuda ini berargumentasi atas prinsip keyakinan mereka dan mereka pun mengetahui kebodohan orang-orang yang menyelisi (keyakinan) mereka, sementara mereka (para pemuda ini) sekelompok orang yang tidak memiliki kekuatan dan tidak juga memiliki kesanggupan untuk menghadapi kaumnya ; karena banyaknya jumlah kaumnya sementara mereka jumlahnya sangat sedikit sekali- hal tersebut menyebabkan mereka mengambil tindakan berhijrah meninggalkan kaumnya, demi untuk menyelamatkan agama mereka, maka Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman untuk memberikan penjelasan sesuatu yang masih tersisa dari urusan mereka.[1]

وَإِذِ اعْتَزَلْتُمُوهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ فَأْوُوا إِلَى الْكَهْفِ

Karena kamu juga telah meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka berlindunglah ke dalam gua itu.

Yakni, sebagian pemuda itu mengatakan kepada sebagian yang lainnya [2], ‘karena [3] kalian telah menyendiri dan kalian telah menjauhi dan meninggalkan mereka (kaum kalian) orang-orang yang kafir itu, dan kalian juga telah meninggalkan apa-apa yang mereka (kaum kalian) sembah berupa sesembahan-sesembahan selain Allah ; maka jadikanlah gua itu sebagai tempat berlindung bagi kalian. Kalian jadikan gua itu untuk menyembunyikan diri dari kaum kalian dan kalian menyembah dan beribadah hanya kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى semata (di dalamnya). [4]

[Firman-Nya سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى]

يَنْشُرْ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِنْ رَحْمَتِهِ

(Dengan demikian,) niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu.

Yakni, maka jika kalian meninggalkan kaum kalian dan apa yang mereka sembah selain Allah, dan kalian jadi pergi dan masuk ke dalam gua itu, niscaya Rabb kalian akan membentangkan sebagian dari rahmat-Nya untuk kalian, sehingga Dia akan menjaga agama kalian untuk kalian, dan Dia akan menyelamatkan kalian dari kaum kalian. [5]

Seperti kata Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى :

إِنَّ اللَّهَ يُدَافِعُ عَنِ الَّذِينَ آمَنُوا

Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang beriman. (al-Hajj : 38)

[Firman-Nya سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى]

وَيُهَيِّئْ لَكُمْ مِنْ أَمْرِكُمْ مِرْفَقًا

dan menyediakan bagimu sesuatu yang berguna bagi urusanmu.

Yakni, Rabb kalian akan memudahkan urusan kalian yang kalian tengah berada di dalamnya dengan sesuatu yang kalian akan dapat mengambil manfaat dalam urusan penghidupan kalian, ia akan mendatangi kalian dengan kemudahan, kasih sayang dan kelembutan [6]

Seperti kata Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى :

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga. Siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. (ath-Thalaq : 2-3)

Dan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى juga berfirman :

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا

Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya. (ath-Thalaq : 4)

[Firman-Nya سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى]

وَتَرَى الشَّمْسَ إِذَا طَلَعَتْ تَزَاوَرُ عَنْ كَهْفِهِمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَإِذَا غَرَبَتْ تَقْرِضُهُمْ ذَاتَ الشِّمَالِ وَهُمْ فِي فَجْوَةٍ مِنْهُ ذَلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا

Engkau akan melihat matahari yang ketika terbit condong ke sebelah kanan dari gua mereka dan yang ketika terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri, sedang mereka berada di tempat yang luas di dalamnya (gua itu). Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Siapa yang Allah memberinya petunjuk, dialah yang mendapat petunjuk. Siapa yang Dia sesatkan, engkau tidak akan menemukan seorang penolong pun yang dapat memberinya petunjuk.

Korelasi Ayat Ini dengan Ayat Sebelumnya

Ketika Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى telah menyebutkan perkataan sebagian para pemuda ini terhadap sebagian lainnya :

 فَأْوُوا إِلَى الْكَهْفِ يَنْشُرْ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيُهَيِّئْ لَكُمْ مِنْ أَمْرِكُمْ مِرْفَقًا

maka berlindunglah ke dalam gua itu. (Dengan demikian,) niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan bagimu sesuatu yang berguna bagi urusanmu.(al-Kahfi : 16)

Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menjelaskan keadaan mereka setelah mereka masuk dan berlindung ke gua itu, memberikan isyarat akan terealisasinya harapan mereka kepada Rabb mereka, yaitu berupa sesautu yang telah Dia persiapkan untuk mereka dalam urusan mereka berupa sesuatu yang berguna, dan bahwa hal tersebut merupakan balasan bagi mereka atas tindakan mereka mengambil petunjuk Rabb mereka, dan hal itu merupakan bentuk kelembutan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى terhadap mereka. [7]

[Firman-Nya سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى]

وَتَرَى الشَّمْسَ إِذَا طَلَعَتْ تَزَاوَرُ عَنْ كَهْفِهِمْ ذَاتَ الْيَمِينِ

Engkau akan melihat matahari yang ketika terbit condong ke sebelah kanan

Yakni, Engkau akan melihat matahari yang ketika terbit condong ke sebelah kanan dari gua [8] di mana para pemuda itu berlindung; hal itu agar pancaran sinarnya tidak mengenai mereka [9]

[Firman-Nya سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى]

وَإِذَا غَرَبَتْ تَقْرِضُهُمْ ذَاتَ الشِّمَالِ

dan ketika (matahari itu) terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri

Yakni, dan engkau melihat matahari itu ketika tenggelam, ia menjauhi (meninggalkan) [10] mereka ke sebelah kiri gua itu, sehingga pancaran sinarnya tidak mengenai mereka.

[Firman-Nya سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى]

وَهُمْ فِي فَجْوَةٍ مِنْهُ

sedang mereka berada di tempat yang luas di dalamnya

Yakni, sedangkan para pemuda ini berada di tempat yang luas di dalam gua tersebut [11]

[Firman-Nya سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى]

ذَلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ

Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah

Yakni, Kami lakukan yang telah Kami lakukan terhadap para pemuda ini ; berupa dimudahkannya gua itu untuk menjaga dan melindungi mereka di dalamnya, condongnya matahari dari mereka ketika terbitnya dan menjauhkannya untuk mereka ketika tenggelamnya- termasuk keajaiban tindakan Allah yang menunjukan akan keagungan kekuatan, kemampuan dan kekuasaan-Nya, dan kelembutan-Nya terhadap para hamba-Nya.[12]

[Firman-Nya سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى]

مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ

Siapa yang Allah memberinya petunjuk, dialah yang mendapat petunjuk.

Korelasi Ayat Ini dengan Ayat Sebelumnya

Ketika kesendirian mereka dengan mendapatkan petujuk, sementara orang-orang yang hidup sezaman dengan mereka tidak mendapatkannya,  semuanya merupakan perkara yang menakjubkan ; Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menyambungkannya dengan sesuatu yang jika direnungi niscaya akan hilang rasa ketakjubannya, seraya berfirman [13] :

مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ

Siapa yang Allah memberinya petunjuk, dialah yang mendapat petunjuk.

Yakni, Siapa yang dibimbing oleh Allah dan diberi taufiq oleh-Nya untuk mengambil petunjuk kepada kebenaran, maka dialah orang yang benar-benar memperoleh petunjuk, seperti para pemuda ini, orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى di antara kaum mereka. [14]

وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا

Siapa yang Dia sesatkan, engkau tidak akan menemukan seorang penolong pun yang dapat memberinya petunjuk.

Yakni, siapa yang dihinakan oleh Allah, niscaya engkau-wahai Muhammad- tidak akan menemukan baginya seorang kekasih dan penolong yang akan membimbingnya kepada kebenaran.[15]

Seperti kata Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى :

وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ سَبِيلًا

Siapa yang dibiarkan sesat oleh Allah niscaya engkau (Nabi Muhammad) tidak akan menemukan jalan baginya (untuk diberi petunjuk). (an-Nisa : 88)

Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى juga berfirman :

وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ

Siapa yang disesatkan Allah, tidak ada seorang pun yang dapat memberi petunjuk baginya.(ar-Ra’d : 33)

Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى juga berfirman :

وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِهِ

Siapa yang Dia sesatkan, engkau tidak akan mendapatkan penolong-penolong bagi mereka selain Dia. (al-Isra : 97)

[Firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى]

وَتَحْسَبُهُمْ أَيْقَاظًا وَهُمْ رُقُودٌ وَنُقَلِّبُهُمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَذَاتَ الشِّمَالِ وَكَلْبُهُمْ بَاسِطٌ ذِرَاعَيْهِ بِالْوَصِيدِ لَوِ اطَّلَعْتَ عَلَيْهِمْ لَوَلَّيْتَ مِنْهُمْ فِرَارًا وَلَمُلِئْتَ مِنْهُمْ رُعْبًا

Engkau mengira mereka terjaga, padahal mereka tidur. Kami membolak-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedangkan anjing mereka membentangkan kedua kaki depannya di muka pintu gua. Seandainya menyaksikan mereka, tentu engkau akan berpaling melarikan (diri) dari mereka dan pasti akan dipenuhi rasa takut terhadap mereka.

وَتَحْسَبُهُمْ أَيْقَاظًا وَهُمْ رُقُودٌ

Engkau mengira mereka terjaga, padahal mereka tidur.

Yakni, engkau [16] mengira para pemuda ini -seandainya engkau melihat mereka (saat itu) – terjaga, padahal sesungguhnya mereka dalam keadaan tidur [17]

[Firman-Nya سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى]

وَنُقَلِّبُهُمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَذَاتَ الشِّمَالِ

Kami membolak-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri

Yakni, Kami membolak-balikan punggung mereka ; sesekali ke sisi kanan dan sesekali ke sisi kiri.[18]

[Firman-Nya سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى]

وَكَلْبُهُمْ بَاسِطٌ ذِرَاعَيْهِ بِالْوَصِيدِ

Sedangkan anjing mereka membentangkan kedua kaki depannya di muka pintu gua

Yakni, anjing [19] para pemuda ini duduk di atas perutnya, membentangkan kedua tangannya di muka tempat masuk gua; untuk menjaga mereka. [20]

[Firman-Nya سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى]

لَوِ اطَّلَعْتَ عَلَيْهِمْ لَوَلَّيْتَ مِنْهُمْ فِرَارًا

Seandainya menyaksikan mereka, tentu engkau akan berpaling melarikan (diri) dari mereka.

Yakni, kalaulah engkau dapat melihat dan menyaksikan ashabul kahfi, niscaya engkau melihat mereka sementara mereka dalam keadaan tidur, tentunya engkau akan lari dari mereka. [21]

[Firman-Nya سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى] :

وَلَمُلِئْتَ مِنْهُمْ رُعْبًا

dan pasti akan dipenuhi rasa takut terhadap mereka.

Yakni, dan pasti diri dan jiwamu dipenuhi rasa takut dan ngeri terhadap mereka (para ashabul kahfi itu) [22]

Faedah :

1-Firman-Nya سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى :

وَإِذِ اعْتَزَلْتُمُوهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ

Karena kamu juga telah meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah.

Di dalamnya terdapat (anjuran) meninggalkan ahlu asy-Syirki (para palaku kesyirikan) dan meninggalkan (pula) sembahan-sembahan mereka. [23]

2-Firman-Nya سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى :

وَإِذِ اعْتَزَلْتُمُوهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ فَأْوُوا إِلَى الْكَهْفِ يَنْشُرْ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيُهَيِّئْ لَكُمْ مِنْ أَمْرِكُمْ مِرْفَقًا

Karena kamu juga telah meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka berlindunglah ke dalam gua itu. (Dengan demikian,) niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan bagimu sesuatu yang berguna bagi urusanmu.”

Ini menunjukkan bahwa sikap seorang Mukmin meninggalkan kaumnya orang-orang yang kafir dan sesembahan-sesembhan mereka termasuk sebab yang akan mendatangkan kelembutan dan rahmat Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى terhadap dirinya.[24]

3-Bahwa disyariatkan ketika terjadi fitnah di tengah-tengah manusia, seorang hamba hendaknya melarikan diri dari mereka karena mengkhawatirkan akan (keselamatan) agamanya, sebagaimana datang dalam hadis :

يُوشِكُ أن يكونَ خَيرَ مالِ المسلم غَنَمٌ يَتبَعُ بها شَعَفَ الجِبالِ  ومواقِعَ القَطْرِ  ؛ يَفِرُّ بدِينِه مِن الفِتنِ

“Tak lama lagi sebaik-baik harta seorang muslim adalah kambing yang ia gembalakan di lereng-lereng gunung dan tempat-tempat hujan turun, ia lari untuk menyelamatkan agamanya dari gelombang fitnah.” [25]

Maka, dalam kondisi ini disyariatkan untuk beruzlah (mengasingkan diri) dari manusia dan tidak disyariatkan hal-hal lain selainnya…karena Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى memuji dalam ayat ini orang yang berlari dengan membawa agamanya karena takut fitnah akan menyambar dirinya.[26]

4-Wajib atas seseorang untuk bersandar kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى  dalam upaya mendidik dan membimbing anak-anaknya; karena sesungguhnya Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى Dia-lah pemberi hidayah. Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى   berfirman :

مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ

Siapa yang Allah memberinya petunjuk, dialah yang mendapat petunjuk.

Dan atas dasar ini, maka orang yang mengancam keturunannya (anaknya) karena takut tidak mampu untuk mendidik mereka, dia juga telah berburuk sangka terhadap Rabbnya. Kalaulah tidak, tentunya ditangan Allah-lah segala urusan. [27]

5-Firman-Nya سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى :

مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا

Siapa yang Allah memberinya petunjuk, dialah yang mendapat petunjuk. Siapa yang Dia sesatkan, engkau tidak akan menemukan seorang penolong pun yang dapat memberinya petunjuk.

Di dalamnya terdapat peringatan supaya tidak meminta hidayah (petunjuk) kecuali dari Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dan supaya tidak berkeluh kesah atau murka ketika melihat orang yang sesat ; karena Allah-lah yang menjadikan manusia dua macam ; (pertama) orang yang mendapat petunjuk dan (kedua) orang yang sesat. Maka, harus ada keimanan terhadap adanya takdir dan ridha terhadap ketentuan takdir tersebut atas setiap keadaan dan kondisi, dan tidak murka terkait penyesatan yang (berasal) dari Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Adapun terkait dengan sesuatu yang ditakdirkan, maka dalam masalah tersebut terdapat perincian. Akan tetapi, meski demikian, wajib atas kita untuk berupaya dalam menyampaikan hidayah kepada segenap manusia, dan kita berupaya untuk membimbing mereka orang-orang yang sesat itu (ke jalan yang benar). [28]

6-Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman :

وَكَلْبُهُمْ بَاسِطٌ ذِرَاعَيْهِ بِالْوَصِيدِ

sedangkan anjing mereka membentangkan kedua kaki depannya di muka pintu gua

Keberkahan mereka (para pemuda ashabul kahfi) merambah kepada anjing mereka, maka apa yang menimpa mereka berupa tidur dalam keadaan seperti itu menimpanya, dan ini merupakan faedah pertemanan dengan orang-orang baik. Anjing ini menjadi disebut-sebut, diberitakan, dan memiliki kedudukan [29]. Maka, penyebutan anjing ini sepanjang abad lamanya yang membersamai orang-orang yang ditidurkan oleh Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dalam rentang waktu yang panjang, karena keberkahan pertemanan dengan orang-orang yang mulia [30]. Maka, siapa yang mencintai orang-orang baik, niscaya ia bakal memperoleh sesuatu yang baik karena keberkahan mereka. Anjing ini, ia mencintai orang-orang baik dan berteman dengan mereka, Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menyebutnya di dalam kitab-Nya [31]. Bila mana sebagian anjing boleh jadi meraih derajat yang tinggi ini disebabkan karena pertemanan dan kebersamaannya dengan orang-orang yang baik hingga Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى kabarkan hal itu di dalam kitab-Nya, maka apa sangkaan anda terkait orang-orang beriman yang mengesakan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى yang membersamai mereka lagi mencintai para wali-Nya dan orang-orang yang shaleh ?! Bahkan, dalam pemberitahuan akan hal ini terdapat hiburan bagi orang-orang beriman yang memiliki keterbatasan untuk meraih derajat kesempurnaan, terdapat hiburan (pula) bagi para pencinta Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dan segenap keluarga beliau. [32]

Wallahu A’lam

(Redaksi)

Catatan :

[1] Lihat : Nazhmu ad-Durar, al-Biqa’iy, 12/23.

[2] Ibnu ‘Asyur mengatakan : Jelas bahwa ini termasuk perkataan sebagian mereka (para pemuda itu) terhadap sebagian mereka sebagai bentuk nasehat dan usulan gagasan yang benar, dan bukan merupakan kelaziman dalam penghikayatan perkataan-perkataan orang-orang yang berkata-kata bahwa sesuatu yang dihikayatkan itu seluruhnya terkemukakan dalam satu waktu. (Tafsir Ibnu ‘Asyur, 15/276)

Dan ada yang mengatakan, ‘Ungkapan tersebut merupakan perkataan yang muncul tiba-tiba ; merupakan pemberitahuan dari Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى tentang para pemuda itu bahwa mereka tidak pernah menyembah atau beribadah kepada selain Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.” Lihat : Tafsir ar-Ras’aniy, 4/257.

[3] Asy-Syinqithiy mengatakan : kata «إِذْ» dalam firman-Nya : وَإِذِ اعْتَزَلْتُمُوهُمْ adalah lit-ta’ilil (untuk menunjukan alasan), menurut pendapat yang benar. Seperti dikatakan Ibnu Hisyam. Atas dasar ini, maka makna ungkapan tersebut adalah ‘dan karena sikap menjauhkan diri yang kalian lakukan terhadap kaum kalian orang-orang yang kafir itu dan apa-apa yang mereka sembah selain Allah, maka jadikanlah gua itu sebagai tempat berlindung (untuk kalian). (Adh-Waa-ul Bayan, 3/217)

[4] Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 15/181, 182, karya : Makkiy, 6/4330, al-Wasith, karya : al-Wahidiy, 3/138, Tafsir Ibnu ‘Athiyyah, 3/502, Tafsir Ibnu Katsir, 5/142, Tafsir as-Sa’diy, hal. 472. Tafsir Ibnu Asyur, 15/275, Adh-Waa-ul Bayan, karya : asy-Syinqithiy, 3/217.

Asy-Syinqithiy mengatakan : “ إِلَّا اللَّهَ “ (kecuali Allah), ada yang berpendapat ‘ini merupakan istitsna (pengecualian) muttasil (yang bersambung), pendapat ini dilandaskan pada pandangan bahwa mereka (kaum para pemuda ini) menyembah Allah dan berhala-berhala.’

Ada juga yang berpendapat bahwa ‘ini merupakan istitsna (pengecualian) munqathi’ (terputus), pendapat ini dilandaskan pada pandangan bahwa mereka ini (kaum para pemuda itu) mereka tidaklah mengenal Allah dan tidak pula menyembah dan beribadah kepada-Nya. (Adh-Waa-ul Bayaan, 3/217).

Lihat juga : Tafsir Zamakhsyariy, 2/707, Tafsir Ibnu ‘Athiyyah, 3/502, Tafsir Abu Hayyan, 7/150, Tafsir Ibnu Utsaimin – surat al-Kahfi, hal. 30.

[5] Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 15/182, Tafsir Ibnu Katsir, 5/142, Tafsir as-Sa’diy, hal. 472.

[6] Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 15/182, al-Wajiz, al-Wahidiy, hal. 655. Tafsir Abu Hayyan, 7/150. Tafsir Ibnu Katsir, 5/142. Tafsir as-Sa’diy, hal. 472. Adh-Waa-ul Bayan, asy-Syinqithiy, 3/217, 218.

[7] Lihat : Tafsir Ibnu ‘Asyur, 15/277.

[8] Ibnu Katsir mengatakan :

“Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى mengkhabarkan hal itu dan Dia menginginkan dari kita agar memahaminya dan mentadabburinya, sementara Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى tidak mengkhabarkan kepada kita tentang tempat di mana gua ini berada, di belahan bumi manakah gua ini berada. Karena, tidak ada faedahnya bagi kita dalam penyebutan tempat gua itu berada dan juga tidak ada tujuannya secara syar’iy. Namun, sebagian ahli tafsir telah bersikap merepotkan diri, di mana mereka menyebutkan dalam kasus ini berbagai pendapat…Allah-lah yang lebih tahu dimanakah gua ini berada dari belahan bumi Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Kalaulah saja ada kemaslahan agama bagi kita, niscaya Allah dan Rasul-Nya menunjuki kita ke tempat tersebut…Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى hanya memberitahukan kepada kita sifatnya, dan Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى tidak memberitahukan tempatnya. (Tafsir Ibnu Katsir, 5/143)

[9] Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 15/184, 186, 187. Tafsir al-Qurthubiy, 10/369 . Tafsir Ibnu Katsir, 5/142. Tafsir as-Sa’diy, hal. 472. Adh-Waa-ul Bayan, karya : asy-Syinqithi, 3/218, 220.

Ibnu Jarir mengatakan : Hal demikian itu karena kalau matahari itu terbit di mana pancaran sinarnya mengenai tubuh mereka niscaya akan membakar mereka atau akan mengubah warna kulit tubuh mereka. (Tafsir Ibnu Jarir, 15/187)

[10] Di antara orang (kalangan ahli tafsir) yang berpendapat bahwa kata تَقْرِضُهُم (dalam ayat) bermakna :  تتركُهم فلا تصيبُهم(meninggalkan atau menjauhi mereka) sehingga (sinarnya) tidak mengenai mereka) adalah : Ibnu Jarir, al-Qurthubiy, as-Sa’diy, Ibnu Asyur dan asy-Syinqithi. Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 15/186-187, Tafsir al-Qurthubiy, 10/369, Tafsir as-Sa’diy, hal. 472, Tafsir Ibnu Asyur, 15/278. Adh-Waa-ul Bayan, karya asy-Syinqithiy, 3/220.

Dan, di antara kalangan Salaf yang berpendapat dengan pendapat ini adalah : Ibnu Abbas, Sa’id bin Jubair, Mujahid dan Qatadah. Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 15/187.

Sementara, Ibnu Utsaimin mengatakan,’Ada yang berpendapat, maknanya, تتركُهم (meninggalkan atau menjauhi mereka). Ada juga yang berpendapat : تصيبُ منهم (mengenai sebagian (anggota badan) mereka. Dan, pendapat inilah yang lebih dekat (kepada yang benar) ;  bahwa (pancaran sinar mataharinya) mengenai sebagian (anggota badan) mereka, dan faedah terkenanya sebagian anggota badan mereka ini oleh pancaran sinar matahari ini akan mencegah jasad mereka dari terjadinya perubahan; karena matahari itu sebagaimana kata orang : sesungguhnya ia menyehatkan dan berfaedah bagi anggota badan. (Tafsir Ibnu Utsaimin-surat al-Kahfi, hal. 32. Dan lihat (juga) : Tafsir Ibnu ‘Athiyyah, 3/503, Tafsir Abi Hayyan, 7/152.

[11] Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 15/188, Tafsir al-Qurthubiy, 10/369, Tafsir Ibnu Katsir, 5/143, Tafsir as-Sa’diy, hal. 472, Tafsir Ibnu Asyur, 15/279.

[12] Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 15/189, Tafsir al-Baghawiy, 3/183, Tafsir al-Qurthubiy, 10/369, Tafsir Ibnu Katsir, 5/143, Tafsir as-Sa’diy, hal. 472, tafsir Ibnu Asyur, 15/279.

[13] Lihat : Nazhmu ad-Durar, karya : al-Biqaa-iy, 12/28.

[14] Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 15/190. Tafsir al-Khazin, 3/159. Tafsir Ibnu Katsir, 5/143.

[15] Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 15/190, Tafsir al-Baghawiy, 3/183. Tafsir as-Sa’diy, hal. 472. Tafsir Ibnu Utsaimin-surat al-Kahfi, hal. 34.

[16] Ada yang berpendapat, bahwa ungkapan ini ditunjukkan kepada Muhammad صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم.

Di antara orang yang berpendapat demikian adalah : Ibnu Jarir. Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 15/190. Dan dari kalangan salaf yang berpendapat demikian adalah Qatadah. Lihat : Tafsir Ibnu Abi Hatim, 7/2352.

Ada juga yang berpendapat, bahwa ungkapan ini ditunjukkan kepada seseorang tanpa dimaksudkan kepada orang tertentu. Yakni, engkau -wahai orang yang diajak bicara, siapa pun dirimu- mengira mereka… atau engkau, wahai orang yang melihat…

Di antara kalangan yang berpendapat demikian adalah : as-Sa’diy, asy-Syinqithiy, dan Ibnu Utsaimin. Lihat : Tafsir as-Sa’diy, hal. 472, Adh-Waa-ul Bayan, karya : asy-Syinqithiy, 3/224, Tafsir Ibnu Utsaimin-surat al-Kahfi, hal. 34.

[17] Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 15/190,191, Tafsir as-Sa’diy, hal.472, Adh-Waa-ul Bayan, karya : asy-Syinqithiy, 3/224.

Berkata Ibnu Athiyyah : para ahli tafsir mengatakan, “Keadaan mata mereka terbuka, sedangkan mereka tidur; oleh karenanya orang yang melihat, ia mengira bahwa mereka itu terjaga. Dan, berkemungkinan pula bahwa orang yang melihat mengira hal itu; karena kuatnya penjagaan yang diberikan kepada mereka dan sedikitnya perubahan yang terjadi. Hal demikian itu karena bahwa ghalibnya orang-orang yang tengah tidur itu berada pada kondisi terlentang dan posisi-posinya yang menunjukkan tidur, namun boleh jadi orang tidur itu berada pada keadaan yang tidak berubah dari keadaan terjaga, sehingga orang yang melihatnya mengira bahwa orang tersebut dalam keaadaan terjaga, mesekipun kedua matanya terpejam, dan seandainya benar terbukanya mata mereka berdasarkan sanad yang memutus uzur, tentunya lebih jelas untuk dikira bahwa mereka dalam keadaan terjaga. (Tafsir Ibnu Athiyyah, 3/503).

Berkata Ibnu Katsir : ‘Sebagian ahli ilmu menyebutkan bahwa mereka ketika Allah menghembuskan ke telinga mereka agar tertidur, mata-mata mereka tidak menutup; agar tidak cepat dimakan oleh tanah, maka bila kedua mata itu tetap nampak di permukaan udara, niscaya hal tersebut akan lebih mempertahannya; oleh karena ini Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman :

وَتَحْسَبُهُمْ أَيْقَاظًا وَهُمْ رُقُودٌ

Engkau mengira mereka terjaga, padahal mereka tidur. (Tafsir Ibnu Katsir, 5/143)

Dan, Az-Zajjaj mengatakan : Ada juga yang mengatakan : ‘Karena banyaknya pembolak-balikan (badan) mereka (saat tidur tersebut), maka dikira bahwa mereka itu tidak tidur. Hal itu ditunjukkan oleh firman-Nya setelahnya :

وَنُقَلِّبُهُمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَذَاتَ الشِّمَالِ

“Kami membolak-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri.” (Ma’aniy al-Qur’an Wa I’robuhu, 3/274).

[18] Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 15/191. Tafsir as-Sa’diy, hal. 472. Tafsir Ibnu Asyur, 15/281.

Asy-Syinqithiy mengatakan : ‘Perkataan para ahli tafsir di sini, tentang jumlah sedikit banyaknya proses pembolak-balikan mereka tidak memiliki landasan dalil (Adh-Waa-ul Bayan, 3/224)

Ibnu Asyur mengatakan : ‘Makna (firman-Nya ini, “Kami membolak-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri.”) bahwa Allah memperlakukan mereka keadaan orang-orang yang hidup lagi terjaga. Maka, Dia menjadikan mereka berubah-ubah posisi badannya, dari sisi kanan ke sisi kiri dan sebaliknya. Dan hal demikian itu untuk sebuah hikmah agar hal itu memberikan pengaruh dalam hal tetap terjaganya jasad mereka dalam kondisi selamat. (Tafsir Ibnu Asyur, 15/281).

Ada juga yang mengatakan ,’ Hikmah dari dibolak-balikannya tubuh mereka adalah bahwa mereka kalaulah saja tidak dibolak-balikkan badannya niscaya tanah akan memakannya.’ Di antara kalangan salaf yang berpendapat demikian ini adalah : Ibnu Abbas, Sa’id bin Jubair, dan Dahhak. Lihat : Tafsir Muqatil bin Sulaiman, 2/578, Tafsir Ibnu Jarir, 15/191, ad-Durru al-Mantsur, karya : as-Suyuthiy, 5/373.

Ada juga yang mengatakan : ‘Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى membolak-balik mereka; agar hembusan angin dapat mengenai seluruh anggota badan mereka, dan tidak terpengaruh oleh sesuatu yang berada di permukaan tanah karena lamanya keberadaan tubuh mereka di atasnya. Lihat : Nazhmu ad-Durar, karya : al-Biqa-‘iy, 12/29.

Ada juga yang mengatakan, “Hikmah dari dibolak-balikannya tubuh mereka adalah untuk menyeimbangkan darah di dalam jasad, sehingga tidak hanya ada di satu sisi tubuh saja.’ Lihat : Tafsir Ibnu Utsaimin-surat al-Kahfi, hal. 35.

[19] Ibnu Katsir mengatakan : ‘Mereka berselisih pendapat tentang warna anjing para pemuda ini menjadi beberapa pendapat yang tidak memiliki dalil dan tidak juga memiliki hujjah yang dapat dijadikan pegangan, bahkan pendapat-pendapat yang dikemukaan termasuk perkara yang terlarang karena sandarannya adalah terkaan terhadap yang ghaib. (Tafsir Ibnu Katsir, 5/144).

[20] Lihat : Tafsir Ibnu Jari, 15/194, Tafsir as-Samarqandi, 2/341. Tafsir Ibnu Katsir, 5/144. Tafsir as-Sa’diy, hal. 472. Adh-Waa-ul Bayan, karya asy-Syinqithiy, 3/225. Tafsir Ibnu Utsaimin-surat al-Kahfi, hal. 35.

[21] Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 15/194. Tafsir al-Qurthubiy, 10/373, Tafsir Ibnu ‘Asyur, 15/281.

[22] Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 15/194. Al-Wasith, karya : al-Wahidiy, 13/563. Tafsir al-Qurthubiy, 10/373. Tafsir Ibnu Utsaimin-surat al-Kahfi, hal. 36.

[23] Lihat : Tafsir Aayaat Min al-Qur’an al-Karim, 5/244, (Tercetak dalam kumpulan tulisan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab).

[24] Lihat : Adh-Waa-ul Bayan, karya : asy-Syinqithiy, 3/217.

[25] Diriwayatkan oleh al-Bukhari (19), dari hadis Abu Sa’id al-Khudhriy رَضِيَ اللهُ عَنْهُ

[26] Lihat : Fathul Baariy, karya : Ibnu Rajab, 1/108.

[27] Lihat : Fatawa Nuur ‘Ala ad-Darb, Ibnu Utsaimin, 6/16.

[28] Lihat : Tafsir Ibnu Utsaimin -surat al-Kahfi, hal. 34.

[29] Lihat : Tafsir Ibnu Katsir, 5/144.

[30] Lihat : Nazhmu ad-Durar, karya : al-Biqaa-‘iy, 12/29-30.

[31] Lihat : Tafsir Ibnu Athiyyah, 3/504.

[32] Lihat : Tafsir al-Qurthubiy, 10/371.