Jum’at, 6 September 2024

Dua nama tersebut telah datang keterangannya pada beberapa hadis Nabi ﷺ di antaranya sebagai berikut :

Hadis Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu dari Nabi ﷺ bahwaasanya beliau dahulu berdoa dengan doa berikut,

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى خَطِيئَتِى وَجَهْلِى وَإِسْرَافِى فِى أَمْرِى وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّى اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى جِدِّى وَهَزْلِى وَخَطَئِى وَعَمْدِى وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِى اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّى أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ

“Ya Allah ampunilah kesalahan dan ketidaktahuanku, sikap berlebih-lebihanku dalam urusanku, dan dalam segala hal yang Engkau lebih tahu tentangnya dariku. Ya Allah ampunilah aku dalam keseriusan dan permainanku, ketidaksengajaan dan kesengajaanku, dan semua itu ada padaku. Ya Allah ampunilah aku atas segala yang telah aku perbuat sebelumnya dan setelahnya, apa yang aku rahasiakan dan perbuat terang-terangan dan apa saja yang Engkau lebih tahu tentangnya dariku, Engkau Maha mendahulukan dan Maha mengakhirkan, dan Engkau Maha berkuasa atas segala sesuatu.” (Muttafaq Alaih) [1]

Hadis Ali radhiyallahu ‘anhu seputar penjelasannya tentang sifat shalat Nabi ﷺ kemudian ia menyebutkan di dalamnya,

ثُمَّ يَكُونُ مِنْ آخِرِ مَا يَقُولُ بَيْنَ التَّشَهُّدِ وَالتَّسْلِيمِ « اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ وَمَا أَسْرَفْتُ وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّى أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ »

“Kemudian di akhir waktu antara tasyahud dan salam beliau berkata : “Ya Allah ampunilah aku atas segala yang telah aku perbuat sebelumnya dan setelahnya, apa yang aku rahasiakan atau perbuat secara terang-terangan, apa yang aku lakukan dengan berlebih-lebihan dan atas segala yang Engkau lebih tahu tentangnya dariku, Engkau adalah Maha mendahulukan dan Maha mengakhirkan, tiada ilah yang hak kecuali Engkau.” (HR. Muslim)[2]

Hadis Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu ia berkata “Adalah Nabi ﷺ apabila bangun malam untuk mengerjakan shalat Tahajud, beliau bersabda,

اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ وَلَكَ الْحَمْدُ لَكَ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ نُورُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ مَلِكُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ الْحَقُّ وَوَعْدُكَ الْحَقُّ وَلِقَاؤُكَ حَقٌّ وَقَوْلُكَ حَقٌّ وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ وَالنَّبِيُّونَ حَقٌّ وَمُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَقٌّ وَالسَّاعَةُ حَقٌّ اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ فَاغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ

“Ya Allah bagi-Mu semata segala pujian, Engkau Maha terus-menerus mengurus langit dan bumi serta yang ada pada keduanya, bagi-Mu semata segala pujian, hanya milik-Mu kekuasaan di langit dan di bumi serta yang ada pada keduanya, bagi-Mu semata segala pujian, Engkau adalah cahaya bagi langit dan bumi, bagi-Mu semata segala pujian, Engkau Maha Menguasai langit dan bumi, bagi-Mu semata segala pujian, Engkau adalah haq, janji-Mu adalah hak, pertemuan dengan-Mu adalah hak, firman-Mu adalah haq, surga itu haq, neraka juga haq, para Nabi adalah hak, dan Muhammad ﷺ adalah haq, hari Kiamat adalah haq, ya Allah hanya kepada-Mu semata aku berserah diri, dan hanya kepada-Mu aku bertawakkal, kepada-Mu semata aku kembali, kepada-Mu pula aku berdebat, kepada-Mu semata aku berhukum, maka ampunilah aku atas segala yang telah aku perbuat sebelumnya dan setelahnya, apa yang aku rahasiakan dan aku perbuat dengan terang-terangan, Engkau Maha Mendahulukan dan Maha Mengakhirkan, tiada ilah yang hak kecuali Engkau.” (Muttafaq Alaih) [3]

Kedua nama tersebut termasuk nama-nama (Allah ﷻ) yang berpasang-pasangan dan bersamaan penyebutannya, yang tidak disandarkan salah satunya kepada Allah ﷻ, melainkan bersamaan dengan yang lainnya karena sesungguhnya kesempurnaan itu diperoleh dengan menyebutkan keduanya, dan mendahulukan dan mengakhirkan adalah dua sifat bagi Allah ﷻ yang menunjukkan kesempurnaan kekuasaan-Nya dan terlaksananya kehendak-Nya serta kesempurnan hikmah-Nya. Kedua sifat ini termasuk sifat dzatiyyah, karena keduanya tegak bagi Allah ﷻ dan Allah ﷻ tersifati dengan keduanya. Merupakan sifat af’al (perbuatan), karena mendahulukan dan mengakhirkan berkaitan dengan makhluk-makhluk, dzat, perbuatan-perbuatan dan sifat-sifatnya.

Mendahulukan dan mengakhirkan tersebut merupakan perkara kauni, seperti didahulukannya sebagian makhluk atas sebagian yang lain atau diakhirkannya sebagian darinya atas sebagian yang lain, seperti didahulukannya sebab sebelum akibat, syarat sebelum apa yang disyaratkan, dan seterusnya dari jenis mendahulukan dan mengakhirkan dalam ciptaan dan takdir. Merupakan perkara syar’i, sebagaimana didahulukan atau diutamakan para Nabi atas seluruh manusia dan diutamakannya sebagian atas sebagian yang lain, atau diutamakannya sebagian hamba atas sebagian yang lain, Dia ﷻ mendahulukan atau mengutamakan mereka dalam hal ilmu, keimanan, amal, akhlak, dan seluruh sifat, dan Dia ﷻ mengakhirkan dari mereka dengan sedikit dari semua itu. Semua itu di bawah hikmah-Nya, Dia ﷻ mendahulukan siapa saja yang dikehendaki dari mereka kepada rahmat, taufik, dan karunia-Nya, dan Dia ﷻmengakhirkan siapa saja yang dikehendaki dari semua itu dengan keadilan-Nya.

Kedua nama tersebut disebutkan pada tiga hadis di atas dalam konteks memohon ampunan atas dosa seluruhnya yang dahulu dan yang akan datang, yang tersembunyi atau yang terang-terangan, yang tidak sengaja maupun yang sengaja.

Dari sini dapat diketahui bahwa dosa-dosa itu dapat menghinakan seorang hamba dan membuatnya mundur, tetapi maaf Allah ﷻ dan ampunan-Nya bagi hamba dapat membuatnya maju dan mengangkatnya. Perkara semuanya adalah milik Allah ﷻ dan ada di tangan-Nya. Dia ﷻ merendahkan dan meninggikan, memuliakan dan menghinakan, memberi dan menahan. Siapa saja yang telah Dia ﷻ tetapkan baginya kemuliaan, ketinggian (derajat) dan kemajuan, maka tiada seorang pun yang dapat menghalangi orang itu dari semuanya. Siapa saja yang telah Allah ﷻ tetapkan baginya kehinaan, kerendahan, dan kemunduran, maka tiada seorang pun yang dapat menolongnya untuk melepaskan diri dari semua itu. Dalam sebuah hadis disebutkan,

مَا مِنْ قَلْبٍ إِلَّا وَهُوَ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ رَبِّ الْعَالَمِينَ إِنْ شَاءَ أَنْ يُقِيمَهُ أَقَامَهُ وَإِنْ شَاءَ أَنْ يُزِيغَهُ أَزَاغَهُ وَكَانَ يَقُولُ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ وَالْمِيزَانُ بِيَدِ الرَّحْمَنِ عَزَّ وَجَلَّ يَخْفِضُهُ وَيَرْفَعُهُ

“Tidaklah ada sebuah hati melainkan hati itu berada di antara kedua jari dari jari-jari Rabb alam semesta, apabila Dia berkehendak untuk menegakkannya, niscaya Dia akan menegakkannya dan apabila berkehendak untuk menyesatkannya, niscaya Dia akan menyesatkannya. Dan dahulu beliau berkata dalam doanya : Wahai Maha Pembolak-balik hati, kokohkanlah hati-hati kami di atas agama-Mu,” dan timbangan itu ada di tangan Yang Maha Penyayang azza wa Jalla Dia merendahkan dan mengangkatnya.” (HR. Ahmad) [4]

Semua itu mengandung penjelasan bahwa hamba itu tidak memiliki sedikit pun dari perkara kebahagiaan atau celakanya, kerendahan atau ketinggiannya, kemajuan atau kemundurannya. Apabila ia mendapat petunjuk, maka hal tersebut adalah hidayah dari Allah ﷻ untuknya, apabila ia kokoh di atas keimanan, maka Allah ﷻ yang mengokohkannya dan apabila ia sesat, maka Allah ﷻ memalingkan dia dari petunjuk dan bahwasanya yang menguasai hati para hamba-Nya adalah Allah ﷻ. Dia ﷻ berbuat kepadanya sesuai kehendak-Nya, tidak ada sedikit pun yang dapat menolaknya, Dia ﷻ membolak-baliknya sesuka-Nya.

Seorang hamba bersamaan dengan ini perlu untuk mengarahkan berbagai usaha yang bermanfaat dan meniti jalan-jalan yang baik, yang dengan semua itu ia dapat menggapai ridha Allah ﷻ dan jauh dari jalan-jalan yang buruk, yang dapat menjerumuskan dirinya kepada murka Allah ﷻ. Sebagaimana firman Allah ﷻ,

لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَتَقَدَّمَ أَوْ يَتَأَخَّرَ

 

“(yaitu) bagi siapa di antaramu yang berkehendak akan maju atau mundur. (al-Mudatstsir : 37)

Maksudnya, dia dapat maju dengan mengerjakan apa saja yang dapat mendekatkan diri kepada Rabbnya dan melekatkan kepada ridha-Nya dan rumah kemuliaan-Nya, atau mundur dengan mengerjakan maksiat dan perbuatan dosa yang dapat menjauhkannya dari ridha Allah ﷻ dan melekatkannya kepada murka-Nya dan neraka. Seorang hamba tidak bisa lepas dalam mengerjakan apa yang dapat membuatnya maju dan menjauh dari apa yang dapat menyebabkan kemundurannya dari Rabb yang Maha Mendahulukan dan Maha Mengakhirkan. Dia senantiasa membutuhkan-Nya pada setiap urusannya, memerlukan-Nya dalam memenuhi kebutuhannya, dia tidak dapat lepas dari Rabbnya Maha Penolong sekejap mata pun.

Sesungguhnya Allah ﷻ telah membuka pintu-pintu-Nya bagi orang-orang yang mengharap dan memohon, Dia ﷻ tidak menolak orang yang berdoa kepada-Nya dan tidak pula merugikan orang yang menyeru-Nya. Pada sebuah hadis qudsi, Allah ﷻ berfirman,

يَا عِبَادِى كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلاَّ مَنْ هَدَيْتُهُ فَاسْتَهْدُونِى أَهْدِكُمْ يَا عِبَادِى كُلُّكُمْ جَائِعٌ إِلاَّ مَنْ أَطْعَمْتُهُ فَاسْتَطْعِمُونِى أُطْعِمْكُمْ يَا عِبَادِى كُلُّكُمْ عَارٍ إِلاَّ مَنْ كَسَوْتُهُ فَاسْتَكْسُونِى أَكْسُكُمْ يَا عِبَادِى إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا فَاسْتَغْفِرُونِى أَغْفِرْ لَكُمْ

“Wahai segenap hamba-Ku, kalian semua adalah tersesat, kecuali orang yang Aku beri petunjuk, maka mohonlah petunjuk hanya kepada-Ku, niscaya Aku beri petunjuk.”

“Wahai segenap hamba-Ku, kalian semua adalah kelaparan, kecuali orang yang Aku beri makan, maka mohonlah makan dari-Ku semata, niscaya akan Aku beri makan.”

“Wahai segenap hamba-Ku, kalian semua adalah telanjang, kecuali orang yang Aku kenakan pakaian untuknya, maka mintalah pakaian dari-Ku semata, niscaya Aku beri kalian pakaian.”

“Wahai segenap hamba-Ku, sesungguhnya kalian berbuat salah malam dan siang hari, sementara itu hanya Aku-lah yang dapat mengampuni segala dosa, maka itu mohonlah ampunan hanya kepada-Ku niscaya Aku beri ampunan bagi kalian.” (HR. Muslim) [5]

Sesungguhnya keimanan seorang hamba bahwa Allah ﷻ semata Yang Maha Mendahulukan dan Mengakhirkan, tiada sekutu bagi-Nya dapat membuahkan kerendahan yang sempurna di hadapan-Nya, harapan yang kuat akan apa yang ada di sisi-Nya, rasa takut dari-Nya semata, tidak akan putus asa dari nikmat-Nya, tidak merasa aman dari makar-Nya, permohonan perlindungan yang baik kepada-Nya dengan rasa harap, cemas, takut, tamak, antusias, dan saling berlomba-lomba dalam kebaikan dan amal shaleh. Firman-Nya,

سَابِقُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

“Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Rabbmu dan Surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (al-Hadid : 21)

Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah ﷺ pernah melihat keterlambatan yang ada pada para sahabatnya lalu beliau berkata,

تَقَدَّمُوا فَائْتَمُّوا بِى وَلْيَأْتَمَّ بِكُمْ مَنْ بَعْدَكُمْ لاَ يَزَالُ قَوْمٌ يَتَأَخَّرُونَ حَتَّى يُؤَخِّرَهُمُ اللَّهُ

 

Majulah kalian dan bermakmumlah kepadaku, dan hendaklah orang setelah kalian (yang ada pada shaf berikutnya) bermakmum kepada kalian, tidaklah suatu kaum sengaja lambat (untuk mendapatkan shaf-shaf pertama) hinga Allah mengakhirkan mereka (dari rahmat dan karunia-Nya).” (HR. Muslim) [6]

Di antara buah keimanan dari nama ini adalah antusias untuk mendahulukan apa yang Allahﷻ dahulukan dan mengakhirkan apa yang Allah ﷻ akhirkan. Nabi ﷺ dahulu adalah orang yang begitu semangat dalam berusaha untuk mendahulukan apa yang Allah ﷻ dahulukan dan memulai dari apa yang Allah ﷻ mulai dengannya. Oleh karena itu, beliau memulai bukit Shafa dalam sa’i, beliau bersabda, “Kita memulai dari tempat yang Allah mulai darinya”, dan beliau memulai wajah dulu, kedua tangan ketika wudhu. Tidak pernah beliau merusak (urutannya) sekalipun juga. [7]

Demikian seterusnya pada setiap urusan agama. Begitu pula yang wajib adalah mendahulukan siapa saja yang Allah ﷻ dahulukan dan mengakhirkan siapa saja yang Dia ﷻ akhirkan, serta mencintai orang yang Allah ﷻ cintai dan membenci orang yang Dia ﷻ benci, karena hal ini merupakan tali keimanan yang paling kokoh.

Wallahu A’lam

(Redaksi)

Sumber :

Fikih Asmaul Husna, Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-‘Abbad al-Badr-حَفِظَهُ اللهُ تَعَالَى.

Catatan :

[1] al-Bukhari, nomor 6035, dan Muslim, nomor 2719

[2] Nomor 771

[3] al-Bukhari, nomor 1120, dan ini lafazhnya, dan Muslim, nomor 769, tanpa ucapan, أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ ”Engkau Maha Mendahulukan dan Maha Mengakhirkan.”

[4] Juz 4, hal. 182 dari hadis An-Nawwas bin Sam’an رَضِيَ اللهُ عَنْهُ dengan sanad shahih.

[5] Nomor 2577 dari hadis Abu Dzar رَضِيَ اللهُ عَنْهُ

[6] Nomor 437.

[7] Bada’i’ al-Fawa-id, juz 2, hlm. 189.