Jum’at, 30 Agustus 2024
Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, shalawat dan salam semoga tercurah atas baginda Muhammad ﷺ penutup para Nabi dan imam para rasul dan atas keluarganya serta para sahabatnya secara menyeluruh.
Saudara, saudariku
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu
Wa ba’du.
Perkenankan saya untuk menceritakan sebuah kisah nyata yang terjadi antara saya dan orang Yahudi Amerika pada bulan Nopember 1977. Saya mendapat undangan untuk mengikuti pembukaan Islamic Center di Los Angeles. Di sana saya bertemu dengan seorang Yahudi, dan biasanya orang-orang Yahudi Amerika mempunyai kebiasaan khusus. Ia bertanya kepadaku di tempat umum, “Anda membawa al-Qur’an ?” Saya jawab, “Ya.” Ia berkata, “Bukalah surat Yunus dan bacalah ayat 94.” Saya jawab, “Allah ﷻ berfirman kepada Rasul-Nya yang mulia,
فَإِنْ كُنْتَ فِي شَكٍّ مِمَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ فَاسْأَلِ الَّذِينَ يَقْرَءُونَ الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكَ
“Jika engkau berada dalam keraguan tentang (kisah nabi-nabi terdahulu) yang Kami turunkan kepadamu, tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu.” (Yunus : 94)
Ia kemudian berkata, “Kami adalah kaum yang membaca kitab sebelum Muhammad, jadi kami adalah referensinya. Kamilah yang berhak mengatakan, “engkau telah berbuat baik, engkau telah berbuat jahat, engkau benar, engkau salah.” Maka saya berkata kepadanya, “Bacalah ayat yang sebelumnya dan ayat yang sesudahnya. Sebelumnya adalah firman Allah ﷻ setelah Dia ﷻ menghancurkan Fir’aun,
وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ وَجُنُودُهُ بَغْيًا وَعَدْوًا حَتَّى إِذَا أَدْرَكَهُ الْغَرَقُ قَالَ آمَنْتُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا الَّذِي آمَنَتْ بِهِ بَنُو إِسْرَائِيلَ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir’aun dan bala tentaranya karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir’aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia, “Saya percaya bahwa tidak ada ilah melainkan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” (Yunus : 90)
Tapi Allah ﷻ menolak taubatnya,
آلْآنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنْتَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ . فَالْيَوْمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنْ خَلْفَكَ آيَةً وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ عَنْ آيَاتِنَا لَغَافِلُونَ
“Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.” (Yunus : 91-92)
Dan setelahnya adalah,
وَلَقَدْ بَوَّأْنَا بَنِي إِسْرَائِيلَ مُبَوَّأَ صِدْقٍ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ فَمَا اخْتَلَفُوا حَتَّى جَاءَهُمُ الْعِلْمُ
“Dan sesungguhnya Kami telah menempatkan Bani Israil di tempat kediaman yang bagus dan Kami beri mereka rizki dari yang baik-baik. Maka mereka tidak berselisih, kecuali setelah datang kepada mereka pengetahuan (yang tersebut dalam Taurat).” (Yunus : 93)
Di antara kriteria ilmu adalah menghindarkan perselisihan. Akan tetapi saat mereka mengetahui bahwa Muhammad ﷺ adalah Rasulullah dan mengenalnya sebagaimana mereka mengenal anak-anak mereka sendiri, mereka memutuskan untuk memeranginya. Karena itulah Allah ﷻ memberikan ancaman kepada kalian.”
Demikian saya berkata kepada orang Yahudi tersebut, “Jadi Allah ﷻ mengancam kalian dalam ayat yang Anda sebutkan tadi, yaitu :
إِنَّ رَبَّكَ يَقْضِي بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ . فَإِنْ كُنْتَ فِي شَكٍّ مِمَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ فَاسْأَلِ الَّذِينَ يَقْرَءُونَ الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكَ لَقَدْ جَاءَكَ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ . وَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ فَتَكُونَ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Sesungguhnya Rabb kamu akan memutuskan antara mereka di Hari Kiamat tentang apa yang mereka perselisihkan itu. Maka jika kamu (Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu. Sesungguhnya telah datang kebenaran kepadamu dari Rabbmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu. Dan sekali-kali janganlah kamu termasuk orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang rugi.” (Yunus : 93-95)
Wahai saudara-saudariku,
Demikianlah seorang lelaki itu mengarahkan sebuah ayat untuk hujjahnya, tapi ia melupakan al-Qur’an seluruhnya. Al-Qur’an itu harus diambil secara menyeluruh, tidak boleh kita hanya mengucapkan,
لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ
“Janganlah kamu shalat.” (an-Nisa : 43)
Kemudian berhenti sampai di situ saja.
Tidak boleh kita hanya membaca,
فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ
“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat.” (al-Ma’un : 4)
Kemudian berhenti.
Demikian saya menceramahi orang Yahudi itu. Kemudian saya juga katakan kepadanya, “Apabila anda menganggap diri Anda sebagai Ahli Kitab, coba perhatikan pembahasan al-Qur’an tentang Ahli Kitab. Al-Qur’an telah membahas tentang Ahli Kitab dan membagi mereka menjadi dua kelompok. Kelompok pertama, yang disebutkan al-Qur’an tentang mereka,
وَلَئِنْ أَتَيْتَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ بِكُلِّ آيَةٍ مَا تَبِعُوا قِبْلَتَكَ
“Dan sesungguhnya jika kamu mendatangkan kepada orang-orang (Yahudi dan Nasrani), yang diberi al-Kitab (Taurat dan Injil), semua ayat (keterangan) mereka tidak akan mengikuti kiblatmu.” (al-Baqarah : 145)
Dan ayat berikut tentang mereka,
يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ وَإِنَّ فَرِيقًا مِنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ
“Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri al-Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.” (al-Baqarah : 146)
Kelompok kedua, al-Qur’an menyebutkan tentangnya,
وَالَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَفْرَحُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ
“Orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepada mereka bergembira dengan kitab yang diturunkan kepadamu.” (ar-Ra’d : 36)
Dan ayat tentangnya juga,
إِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَى عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ سُجَّدًا . وَيَقُولُونَ سُبْحَانَ رَبِّنَا إِنْ كَانَ وَعْدُ رَبِّنَا لَمَفْعُولًا . وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا
“Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata, “Maha suci Rabb kami ; sesungguhnya janji Rabb kami pasti dipenuhi.” Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.” (al-Isra : 107-109)
Jadi di dalam al-Qur’an, kalian itu dua kelompok. Jika Anda ingin saya tunjukkan satu tempat dalam al-Qur’an yang disebutkan satu kelompok di awalnya dan kelompok kedua di akhirnya, perhatikan kepada satu rubu’ terakhir surat Ali Imran. Allah ﷻ berfirman,
وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلَا تَكْتُمُونَهُ فَنَبَذُوهُ وَرَاءَ ظُهُورِهِمْ وَاشْتَرَوْا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا فَبِئْسَ مَا يَشْتَرُونَ
“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu), “Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan janganlah kamu menyembunyikannya,” lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruk tukaran yang mereka terima.” (Ali Imran : 187)
Dan (Allah ﷻ) berfirman di rubu’ akhir,
وَإِنَّ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَمَنْ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِمْ خَاشِعِينَ لِلَّهِ لَا يَشْتَرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ ثَمَنًا قَلِيلًا أُولَئِكَ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ
“Dan sesungguhnya di antara Ahli Kitab ada orang yang beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu dan yang diturunkan kepada mereka sedang mereka berendah hati kepada Allah dan mereka tidak menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit. Mereka memperoleh pahala di sisi Rabbnya. Sesungguhnya Allah amat cepat perhitunganNya.” (Ali Imran : 199)
Kemudian saya tanyakan kepada Yahudi itu, “Anda masuk ke kelompok mana ? Apakah anda masuk ke kelompok yang mengenal Muhammad ﷺ sebagaimana mereka mengenal anak-anak mereka sendiri, ataukah anda masuk dalam kelompok yang beriman dengan apa yang diturunkan kepada kalian yang berupa Taurat dan apa yang diturunkan kepada Muhammad ﷺ yang berupa al-Qur’an ?
Tidak disangsikan bahwa Anda dari kelompok yang menolak beriman kepada Muhammad ﷺ, menolak beriman kepada Isa ‘alaihis sallam, dan menolak beriman kepada Injil dan al-Qur’an. Al-Qur’an telah mencap kalian di banyak tempat dalam al-Qur’an, maka tidak masuk secara logika perkara ini diserahkan kepada kalian, padahal al-Qur’an telah mencela kalian. Bagaimana mungkin yang dimaksud dalam firman Allah ﷻ adalah kalian,
فَإِنْ كُنْتَ فِي شَكٍّ مِمَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ فَاسْأَلِ الَّذِينَ يَقْرَءُونَ الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكَ
“Maka jika kamu (Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu.” (Yunus : 94)
Orang-orang yang membaca al-Kitab sebelumnya ada dua kelompok. Satu kelompok kafir dan merubah kalam Allah ﷻ dari makna yang sebenarnya, maka tidak bisa kita bayangkan bahwa Nabi menyerahkan perkara Muhammad ini kepada kelompok yang telah dicap oleh al-Qur’an sebagai kafir dan tukang merubah kalam Allah ﷻ. Dan kelompok kedua, yang mengerti kebenaran dan mengikutinya. Penyerahan perkara ini bukan berarti Nabi ﷺ membutuhkannya, akan tetapi maksudnya adalah penyerahan yang oleh Allah ﷻ diberi persyaratan dengan lafazh ‘إِنْ ‘ (jika), karena itu Nabi ﷺ ketika membaca firman ini,
فَإِنْ كُنْتَ فِي شَكٍّ مِمَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ فَاسْأَلِ الَّذِينَ يَقْرَءُونَ الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكَ
“Maka jika kamu (Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu.” (Yunus : 94)
Beliau menjawab, “Demi Allah, aku tidak ragu dan tidak bertanya.”
Kalaupun seandainya-dan tentu saja ini mustahil-seseorang berada dalam keraguan, meski ia harus bertanya, tentu ia tidak mungkin akan bertanya kepada Menahem Begin, tidak mungkin akan bertanya kepada Golda Meir, tidak mungkin bertanya kepada Sharon, akan tetapi ia akan bertanya kepada Abdullah bin Salam. Karena itulah Allah ﷻ berfirman,
كُلُّ الطَّعَامِ كَانَ حِلًّا لِبَنِي إِسْرَائِيلَ إِلَّا مَا حَرَّمَ إِسْرَائِيلُ عَلَى نَفْسِهِ مِنْ قَبْلِ أَنْ تُنَزَّلَ التَّوْرَاةُ قُلْ فَأْتُوا بِالتَّوْرَاةِ فَاتْلُوهَا إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
“Semua makanan adalah halal bagi Bani Israil melainkan yang diharamkan oleh Israil (Ya’qub) untuk dirinya sendiri sebelum Taurat diturunkan. Katakanlah, “(Jika kamu mengatakan ada makanan yang diharamkan sebelum turun Taurat), maka bawalah Taurat itu, lalu bacalah dia jika kamu orang-orang yang benar.” (Ali Imaran : 93)
Kita, wahai kaum Muslimin, beriman kepada rasul semuanya, beriman kepada kitab-kitab Allah semuanya, dan membagi kelompok Ahli Kitab berdasarkan petunjuk al-Qur’an menjadi dua golongan. Satu golongan yang mengenal kebenaran, kemudian ia menggabungkan antara keimanannya kepada Musa ‘alahis sallam , Isa ‘alahis sallam , Taurat dan Injil kepada keimanan kepada Muhammad ﷺ dan al-Qur’an. Mereka bagian dari kita, dan kita adalah bagian dari mereka. Dan satu selompok lagi mengerti bahwa Muhammad ﷺ datang membenarkan apa yang ada pada mereka, akan tetapi mereka menyembunyikannya dan mengkufuri Muhammad ﷺ , karena dengki yang timbul dari diri mereka sendiri. Maka bagaimana mungkin seorang pendengki menjadi pengadil, bagaimana mungkin orang pengingkar menjadi referensi ? Kalian telah merubah kalam Allah ﷻ dari tempat-tempatnya. Tetapi saya ingin menenangkan diri saya sendiri dan menimbulkan keputusasaan kepada hatimu, engkau berusaha berbuat sesuatu terhadap al-Qur’an, yang pasti tidak akan berhasil, karena Allahﷻ berfirman tentang al-Qur’an,
لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ
“Yang tidak datang kepadanya (al-Qur’an) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari (Rabb) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.” (Fushshilat : 42)
Wahai saudaraku dan saudariku,
Pembahasan seperti ini yang berdasarkan kepada didahulukannya syubhat, yang dilakukan oleh budayawan-budayawan tanggung seperti mereka, banyak jumlahnya. Misalnya, seorang Yahudi lainnya berkata bahwa al-Qur’an menyebutkan,
وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada Surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (Ali Imran : 133)
Ia berkata bahwa ukuran lebar itu lebih kecil daripada panjang. Apabila surga lebarnya selebar langit dan bumi, maka di mana neraka jahannam ?
Maka saya katakan kepadanya, “Pertanyaanmu memberiku jawaban. Sesungguhnya, ‘panjang’ itu lebih besar daripada ‘lebar’. Apabila ‘lebar’ itu ukurannya seukuran langit dan bumi, maka ‘panjang’ itu ukurannya lebih besar dari ukuran langit dan bumi. Maka langit dan bumi tidak memuat Surga. Lalu di mana Surga itu ?
عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى . عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَى
“(Yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada Surga tempat tinggal.” (an-Najm : 14-15)
Adapun tentang langit dan bumi, Allah ﷻ telah berfirman tentangnya,
يَوْمَ تُبَدَّلُ الْأَرْضُ غَيْرَ الْأَرْضِ وَالسَّمَاوَاتُ وَبَرَزُوا لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ
“(yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) berkumpul menghadap ke hadirat Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.” (Ibrahim : 48)
Syubhat-syubhat sangat banyak. Semoga ini bisa menafsirkan kepada kita firman Allah ﷻ
لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا
“(karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu.” (Ali Imran : 118)
Maka hendaklah kita membentengi diri dengan ilmu dan ma’rifat, hendaknya kita membentengi diri dengan persatuan dan saling menjaga, dan hendaknya kita membentengi diri dengan kejujuran hubungan dengan Allah ﷻ Rabb semesta alam.
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (an-Nahl : 43)
Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuhu
(Redaksi)
Sumber :
Al-Yahud Fi al-Qur’an al-Karim, Syaikh Shalah Abu Ismail, ei, hal. 222-231.



