Orang beriman lagi bertakwa yang takut kepada Kekasihnya (Allah ﷻ) dan mengagungkanNya, ia menganggap besar dosanya dan menganggap besar dalam hatinya kekurangan dirinya di sisi Allah ﷻ. Sejauh mana keimanan seseorang dan pengagungannya kepada Allah ﷻ, sejauh itu ia menganggap besar kemaksiatan dan dosanya.
Allah ﷻ menyifati hamba-hamba-Nya yang bertakwa dengan firman-Nya,
كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ . وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
“Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).” [1]
Dalam ayat lain, Dia ﷻ berfirman,
الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ . الصَّابِرِينَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِينَ وَالْمُنْفِقِينَ وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ
“(Yaitu) orang-orang yang berdoa : ‘Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa Neraka.’ (Yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur.” [2]
Kendati sedemikian rupa ketakwaan, ibadah, infak, qiyamul lail yang mereka lakukan, tetapi mereka tetap beristighfar kepada Allah ﷻ pada waktu yang mereka anggap lebih mudah dikabulkan.
Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengilustrasikan keadaan orang yang beriman dalam hubungannya dengan kemaksiatan dengan ilustrasi yang detail dan mendalam : “Orang beriman melihat dosa-dosanya seolah-oleh ia duduk di bawah gunung, ia takut gunung tersebut menimpanya. Sementara orang yang fajir (suka berbuat dosa) melihat dosanya seperti lalat yang lewat di atas hidungnya.” Ia mengisyaratkan begini –Ibnu Syihab berkata- : “Dengan tangannya di atas hidungnya.” [3]
Ibnu Abi Jamrah rahimahullah mengatakan : “Hikmah dalam penyerupaan (dosa) dengan gunung ialah bahwa hal-hal yang membahayakan selain gunung ada kalanya diperoleh faktor yang menyelamatkan dirinya. Berbeda dengan gunung apabila menimpa seseorang, maka biasanya ia tidak dapat selamat darinya.” [4]
Al-Muhibb ath-Thabari rahimahullah berkata, “Ini hanyalah sifat orang yang beriman karena begitu takutnya kepada Allah ﷻ dan siksa-Nya. Karena ia merasa yakin dengan dosanya dan tidak yakin mendapatkan ampunan. Sedangkan orang yang fajir sedikit pengetahuannya tentang Allah ﷻ. Karena itu, kurang rasa takutnya dan menganggap remeh kemaksiatan.” [5]
Saudaraku, jika aku letakkan diriku juga dirimu pada timbangan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dan bagaimana kita melihat kemaksiatan-kemaksiatan dan dosa-dosa kita, maka kita termasuk dalam sisi timbangan yang mana ? Apakah kita termasuk mereka yang melihat dosa-dosanya laksana gunung ataukah termasuk orang-orang yang melihat dosanya seperti lalat ?
Kepekaan dan ketakutan terhadap dosa serta menganggap besar dosa tersebut bukan hanya sifat spesial Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, tetapi sifat yang umumnya dimiliki oleh generasi awal.
Dalam shahih al-Bukhari dari Ghailan, dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Sungguh kalian mengetahui amalan-amalan yang lebih kecil daripada rambut dalam pandangan kalian, padahal kami menilainya pada masa Rasulullah ﷺ sebagai dosa-dosa besa.” [6]
Seorang muslim merenungi atsar ini dengan kebingungan dan bertanya-tanya. Anas radhiyallahu ‘anhu mengatakan hal itu kepada salah seorang tabi’in dan salah seorang muridnya untuk mengilustrasikan perbandingan antara pandangan mereka terhadap dosa mereka dengan para sahabat Rasulullah ﷺ. ia bertanya-tanya dalam dirinya, sebesar apa dosa-dosa para tabi’in tersebut ? Dan bagaimana perbandingan antara pandangan kita terhadap dosa-dosa kita dan kekurangan kita dengan pandangan generasi tersebut ? Apa kir-kira yang akan dikatakan Anas radhiyallahu ‘anhu seandainya ia melihat apa yang kita lakukan ?
Perasaan yang sama kita lihat pada Hudzaefah bin Yaman radhiyallahu ‘anhu, ketika ia mengatakan, “Jika seseorang mengatakan suatu perkataan pada masa Rasulullah ﷺ, maka dengan perkataan itu ia menjadi munafik. Tapi aku mendengar perkataan itu dari salah seorang kalian empat kali dalam satu majlis.”[7]
Ini juga berlaku bagi sebaik-baik manusia sesudah Rasulullah ﷺ. Pernah Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu menemui Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu dalam keadaan menutup mulutnya. Ia mengatakan, “Lisanku inilah yang membawaku kepada kebinasaan.”[8]
Dalam perang Hudaibiyah kaum Muslimin datang dengan penuh kerinduan ke Baitullah. Tapi mereka beserta Rasulullah ﷺ dihalang-halangi oleh kaum musyrikin dari melaksanakan niat mereka itu. Sehingga ada unek-unek dalam hati para sahabat Rasulullah. Maka Umar radhiyallahu ‘anhu menemui Rasulullah ﷺ seraya bertanya, “Bukankah engkau benar-benar Nabi Allah ?” Nabi ﷺ menjawab, “Benar.” Ia bertanya, “Bukankah kita berada di atas kebenaran dan musuh kita di atas kebatilan ?” Beliau ﷺ menjawab, “Benar.” Ia berkata “Kalau begitu mengapa kita memberikan kehinaan kepada agama kita ?” Beliau ﷺ menjawab, “Aku adalah utusan Allah dan aku tidak pernah bermaksiat kepadaNya dan Dia adalah Penolongku.” Ia berkata, “Bukankah engkau mengatakan kepada kami bahwa kami akan datang ke Baitullah dan melakukan thawaf di sana ?” Beliau ﷺ menjawab, “Benar. Apakah aku telah memberitahukan kepada kalian bahwa kita akan datang ke Baitullah tahun ini ?” Ia (Umar radhiyallahu ‘anhu) mengatakan, “Tidak.” Beliau ﷺ bersabda, “Sesungguhnya kamu (wahai Umar) akan datang dan bertawaf di sana.” Lalu Umar radhiyallahu ‘anhu menemui Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, lalu Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berkata kepadanya seperti itu dan menjawabnya seperti jawaban Rasulullah ﷺ kepadanya. [9]
Anda lihat apa yang mendorong Umar radhiyallahu ‘anhu berdialog dengan Rasulullah ﷺ, bukankah keinginan untuk membela agamanya, bertawaf di Baitullah dan beribadah kepada Allah ﷻ ?
Tetapi Umar radhiyallahu ‘anhu masih merasa dan menilai sikap tersebut sebagai dosa. Karena itu ia bersungguh-sungguh dalam beramal shaleh yang akan dapat menghapus dosanya itu. Ia mengatakan, “Karena kesalahan itu, saya melakukan berbagai amalan.”
Dalam riwayat Ibnu Ishaq disebutkan bahwa Umar radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan, “Aku senantiasa bersedekah, berpuasa, shalat dan memerdekakan budak, karena apa yang pernah kulakukan waktu itu.”
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya dia melakukan amalan-amalan tersebut hanya karena hal ini, karena kalau tidak karena itu, maka seluruh yang muncul darinya adalah termaafkan, bahkan mendapatkan pahala karena ia berijtihad di dalamnya.” [10]
Jika demikian biografi mereka dalam apa yang mereka ijtihadkan, lalu bagaimana halnya dengan orang yang betul-betul melakukan kemaksiatan dengan terang-terangan ?
Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhu mengilustrasikan jiwa seorang mukmin ketika melakukan kesalahan. Ia mengatakan, “Sungguh jiwa orang yang beriman lebih menjauhi kesalahan di bandingkan burung ketika ia dilempar.” [11]
Mudah-mudahan Anda sama memahami dengan saya behwa terdapat perbedaan antara dosa yang dilihat Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhu dengan apa yang kita lihat.
Adakalanya pandangan seseorang tertuju pada kecilnya kesalahan. Tetapi Bilal bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu mengingatkan perilaku ini, ketika mengatakan, “Jangan melihat kecilnya dosa, tetapi lihatlah kepada siapa kamu bermaksiat.”[12]
Adapun Sulaiman bin Hubaib rahimahullah mengatakan, “Apabila Allah ﷻ menghendaki kebajikan pada hamba-Nya, Dia ﷻ menjadikan dosa itu suatu yang buruk. Dan apabila menghendaki keburukan pada hamba-Nya, Dia ﷻ membuatnya indah di matanya.” [13]
Menganggap remeh suatu dosa adalah suatu yang besar bagi al-Auza’ rahimahullah. Ia mengatakan, “Dikatakan sebagai dosa besar adalah apabila seseorang melakukan dosa (kecil) tapi ia anggap remeh.” [14]
Ia rahimahullah mengatakan juga, “Ishrar (terus menerus) adalah seorang melakukan dosa dan menganggapnya remeh.” [15]
Saudaraku yang budiman!
Menganggap besar suatu dosa, bagi orang yang melakukan dosa, akan melahirkan istighfar, taubat, tangisan, penyesalan dan rengekan kepada Allah ﷻ dengan doa dan permohonan kepadaNya agar dirinya dibebaskan dari bahaya dan keburukan dosa tersebut. Semua itu menjadi faktor utama yang memungkinkan pelaku dosa tersebut dapat mengalahkan syahwatnya dan menguasai hawa nafsunya.
Adapun mereka yang menganggap remeh dosa, mereka merasa menyesal dan bertekad untuk bertaubat tetapi tekad tersebut tekad yang sangat lemah yang mudah lenyap di hadapan tarikan-tarikan kemaksiatan.
Wallahu A’lam
(Redaksi)
Sumber :
Sabilu an-Najah Min Syu’mi al-Ma’shiyah, Muhammad bin Abdullah ad-Duwaisy, hal. 14-21
Catatan :
[1] Adz-Dzariyat : 17-18
[2] Ali Imran : 16-173
[3] HR. al-Bukhari, no. 6308
[4] Fath al-Bari, 11/105
[5] HR. al-Bukhari, no. 6492
[6] HR. al-Bukhari, no. 6492
[7] Diriwayatkan oleh Ibnu Ibnu Abi Ashim dalam az-Zuhd, hal. 69; dan Abu Nu’aim dalam al-Hilyah, 1/279.
[8] Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ashim dalam az-Zuhd, hal. 19, 18, 22; Ibnu Abi Syaibah, 9/66; dan Abu Nu’aim dalam al-Hilyah, 1/33.
[9] HR. al-Bukhari, no. 2732; dan Muslim, no. 1785 dengan redaksi lain yang senada dengannya.
[10] Fath al-Bari, 11/347
[11] Riwayat Ibnu Mubarak dalam a-Zuhd, hal. 72.
[12] Op Cit., hal. 71; dan al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, no. 7159.
[13] Riwayat Ibnu Mubarak dalam a-Zuhd, hal. 70.
[14] Riwayat al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, no. 7153.
[15] Op cit., no. 7154.



