Seorang hamba apabila ia tahu bahwa Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى akan memberikan keberkahan terhadap waktunya disebabkan karena dirinya mengingat Rabbnya, niscaya ia akan mendawamkan hal itu (yakni, senantiasa akan mengingatNya setiap saat).
Yang dimaksud bukanlah dzikirnya lisan. Tetapi, yang dimaksud adalah dzikirnya hati.
Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,
وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا
“Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (Al-Kahfi: 28)
(Ibnu Utsaimin, “At-Ta’liq ‘Ala Shahih Muslim”, 2/291)



