عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيدُ سَوَادِ الشَّعَرِ لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِىِّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِى عَنِ الإِسْلاَمِ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- « الإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَتُقِيمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِىَ الزَّكَاةَ وَتَصُومَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيلاً. قَالَ صَدَقْتَ. قَالَ فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ. قَالَ فَأَخْبِرْنِى عَنِ الْإِيمَانِ. قَالَ « أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ ». قَالَ صَدَقْتَ. قَالَ فَأَخْبِرْنِى عَنِ الْإِحْسَانِ. قَالَ « أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ ». قَالَ فَأَخْبِرْنِى عَنِ السَّاعَةِ. قَالَ « مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ ». قَالَ فَأَخْبِرْنِى عَنْ أَمَارَتِهَا. قَالَ « أَنْ تَلِدَ الْأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُونَ فِى الْبُنْيَانِ ». قَالَ ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا ثُمَّ قَالَ لِى « يَا عُمَرُ أَتَدْرِى مَنِ السَّائِلُ ». قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ « فَإِنَّهُ جِبْرِيلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِينَكُمْ »
Dari Umar bin al-Khaththab رَضِيَ اللهُ عَنْهُ , ia berkata, “Ketika kami tengah berada di sisi Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ pada suatu hari, tiba-tiba muncul dan mendatangi kami seorang lelaki yang sangat putih bajunya, sangat hitam rambutnya, tak terlihat darinya bekas perjalanan jauh, dan tak seorang pun dari kami yang mengenalnya. Hingga duduk di hadapan Nabiصَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ . Lalu, ia menempelkan lututnya ke lutut Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Ia pun meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua paha Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Ia mengatakan : Wahai Muhammad ! Beritahukan kepadaku tentang Islam. Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ pun bersabda, ‘Islam itu, engkau bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dan bahwa Muhammad صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ adalah utusan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى , engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan engkau berhaji ke Baitullah jika engkau mampu melakukan perjalanan ke sana.’ Lelaki itu mengatakan, ‘Engkau benar.’ Ia (rawi, yakni, Umar bin Khaththab رَضِيَ اللهُ عَنْهً) mengatakan, ‘Maka kami pun merasa keheranan terhadapnya, ia bertanya namun ia membenarkannya.’
Laki-laki itu berkata (lagi), ‘Beritahukan kepadaku tentang iman,’ Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ pun bersabda, “ Engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari Akhir, dan engkau beriman terhadap takdir yang baik dan yang buruk.’ Lelaki itu pun berkata, ‘Engkau benar.’
Lelaki itu berkata (lagi), ‘Beritahukan kepadaku tentang Kiamat.’ Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ pun bersabda, ‘Tidaklah orang yang ditanya lebih mengetahui daripada orang yang bertanya.’
Lelaki itu berkata (lagi), ‘Kalau begitu, beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya.’ Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ pun bersabda, ‘Apabila seorang budak melahirkan (anak) tuannya, engkau melihat seorang yang tidak beralas kaki, telanjang, miskin, pengembala kambing, namun bermegah-megahan dalam membangun bangunan.’
Umar berkata, ‘Kemudian lelaki itu beranjak pergi. Maka, aku tetap saja heran, hingga beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda kepadaku, ‘Wahai Umar, tahukah kamu siapakah si penanya itu ?’ Aku pun menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.’ Beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda, ‘Sesungguhnya, si penanya itu adalah Jibril, dia datang untuk mengajarkan kepada kalian tentang agama kalian.’ [1]
***
Ini merupakan hadis nan agung, terkenal di kalangan para ulama dengan sebutan ‘hadis Jibril’ ; dan hal demikian itu karena Jibril ar-Ruh al-Amin عَلَيْهِ السَّلَامُ adalah malaikat yang paling utama, dan dia adalah malaikat yang ditugaskan menurunkan wahyu kepada Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Kali ini, dia datang kepada Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dalam rupa seorang A’robiy. Lalu, dia duduk di hadapan Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dengan sikap duduk yang lembut ini. Dan dia pun bertanya kepada Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ pertanyaan-pertanyaan yang agung ini, padahal sejatinya ia adalah seorang pengajar (guru) akan tetapi tampil dalam rupa seorang penanya yang tengah belajar mengambil ilmu (murid).
Dan di antara faedah hal ini adalah bahwa seorang penanya terkadang dapat menjadi seorang pengajar bagi orang-orang. Seperti ia tengah berada di sebuah majelis orang yang berilmu, dan ia mendapati bahwa di tengah-tengah para hadirin ada orang-orang yang membutuhkan untuk dijelaskan kepada mereka sebagian masalah ; maka, ia pun melontarkan beberapa masalah tersebut sementara dirinya sejatinya mengetahui jawabannya. Namun, ia bermaksud untuk memberikan faedah kepada mereka. Sehingga faktanya ia menjadi seorang penanya, namun sejatinya ia seorang mu’alim (pengajar) yang menginginkan untuk mengajari manusia. Ia pun mendapatkan pahala atas kebaikannya, kesemangatannya dan nasehatnya.
Dan, di antara pertanyaan (yang dikemukakan oleh Jibril) ini adalah pertanyaan tentang iman. Al-Iman (iman) secara bahasa adalah ‘al-Iqrar’ (pengakuan) karena kata iman diambil dari kata ‘al-mnu’ yang merupakan lawan kata ‘al-Khauf’ (takut) [2], keamanan hati, ketegarannya, ketenangannya, dan kepercayaan dirinya.
Adapun secara syar’i, maka iman adalah keyakinan, perkataan, dan amalan; keyakinan secara mantap terhadap setiap hal yang Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى perintahkan karena keyakinannya dari keimanan kepada-Nya, kepada para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya dan hal-hal yang lainnya.
Adapun yang dimaksud dengan ‘perkataan’ adalah pengucapan dua persyaksian, di mana pengucapan ini bersandarkan kepada keyakinan hati yang mantap terhadap sesuatu yang diucapkan oleh lisan, kemudian anggota badan melakukan ketaatan kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.
Jadi, iman itu bukan hanya yang terdapat di dalam hati saja. Bukan pula hanya yang terdapat pada lisan saja. Dan bukan pula hanya yang terdapat pada anggota badan saja. Tetapi, iman itu mencakup perkara-perkara ini seluruhnya; yaitu, keyakinan di hati, perkataan lisan, dan amalan anggota badan. Kesemuanya ini bekerja, tunduk, tenang, pasrah, dan melaksanakan perintah-perintah Allah عَزَّ وَجَلَّ
Dan iman ini tegak berdiri di atas pondasi yang agung, datang penjelasannya dengan sempurna di dalam hadis ini. Jibril عَلَيْهِ السَّلَامُ berkata, ‘Beritahukan kepadaku tentang (apa itu) iman ? Maka beliau (Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ) bersabda,
« أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَالْبَعْثِ بَعْدَ الْمَوْتِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ حُلْوِهِ وَمُرِّهِ»
“Engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari Akhir, kebangkitan setelah kematian, dan engkau beriman terhadap takdir yang baik dan yang buruk, yang manis dan yang pahit.” [3]
Maka, inilah enam landasan di mana iman berdiri tegak di atasnya, Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menjelaskannya, dan beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengumpulkannya di dalam hadis ini. Maka, wajib atas setiap Muslim untuk mengimaninya dengan keimanan yang mantap, tidak mencampurinya dengan keraguan sedikit pun.
Dan keenam perkara ini merupakan pokok-pokok yang saling berhubungan dan saling terkait satu sama lainnya, salah satunya tidak terpisah dari yang lainnya. Iman terhadap sebagiannya mengharuskan iman terhadap semuanya.
Oleh karena agungnya kedudukan landasan-landasan pokok ini dan ketinggian posisinya, datanglah penjelasan mengenai landasan-landasan pokok ini di dalam al-Qur’an al-Karim di sejumlah tempat. Di dalam surat al-Baqarah datang penyebutan landasan-landasan pokok ini; di permulaannya, di pertengahannya, dan di akhirnya.
Di permulaannya, Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman berkaitan dengan beberapa sifat orang-orang yang bertakwa :
هُدًى لِلْمُتَّقِينَ (2) الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (3) وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ (4) أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (5) [البقرة : 2 – 5]
Petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang beriman pada yang ghaib, menegakkan shalat, dan menafkahkan sebagaian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka, dan mereka yang beriman pada (al-Qur’an) yang diturunkan kepadamu (Nabi Muhammad) dan (kitab-kitab suci) yang telah diturunkan sebelum engkau dan mereka yakin akan adanya akhirat (al-Baqarah : 2-5)
Firman-Nya, الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ ”Orang-orang yang beriman pada yang ghaib.” Ibnu Katsir رَحِمَهُ اللهُ menyebutkan dari Abu al-‘Aliyah dan yang lainnya dari kalangan salaf tentang makna ayat ini seraya berkata : yakni, orang-orang yang beriman kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari akhir, surga dan neraka, serta perjumpaan dengan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, kesemua itu termasuk iman pada yang ghaib. [4]
Di tengahnya, Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,
لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ [البقرة : 177]
Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, melainkan kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari Akhir, malaikat-malaikat, kitab suci, dan nabi-nabi…(al-Baqarah : 177)
Dan pada penutupnya, Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,
آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ [البقرة : 285]
Rasul (Muhammad) beriman pada apa (al-Qur’an) yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang mukmin. Masing-masing beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata) “Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya.” Mereka juga berkata, “Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami, wahai Tuhan kami. Hanya kepada-Mu tempat (kami) kembali.” (al-Baqarah : 285)
Dan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman di dalam surat an-Nisa :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَى رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا [النساء : 136]
Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah, Rasul-Nya (Nabi Muhammad), Kitab (al-Qur’an) yang diturunkan kepada Rasul-Nya, dan kitab yang Dia turunkan sebelumnya. Siapa yang kufur kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, dan hari Akhir sungguh dia telah tersesat sangat jauh. (an-Nisa : 136)
Dan di antara hal yang menjelaskan agungnya posisi landasan-landasan pokok ini adalah bahwa syariat-syariat para Nabi semuanya sepakat di atas landasan-landasan pokok ini. Tak seorang nabi pun yang menyelisihi nabi yang lainnya. Bahkan, semuanya sepakat di atas landasan-landasan pokok ini. Mereka pun menyeru kepadanya. Mereka pun memerintahkan dengannya. Mereka juga memberitakan akan keutamaan orang yang beriman dengan hal-hal tersebut, besarnya pahalanya, dan agungnya balasannya. Di mulai dari Nabi Nuh عَلَيْهِ السَّلَامُ dan ditutup dengan Nabi Muhammad صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , mereka semuanya sepakat di atas landasan-landasan pokok ini.
Dan hal teragung dan paling mulia dari landasan-landasan pokok ini adalah iman kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Ini adalah pokok dari landasan-landasan pokok ini, dan sisa landasan pokok yang lainnya mengikutinya.
Dan, iman kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى adalah iman terhadap keesaan-Nya سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى pada sifat rububiyah-Nya, nama-nama dan sifat-sifat-Nya, dan pada sifat keilahiyahan-Nya.
Iman kepada keesaan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى pada rububiyah-Nya yaitu seseorang mengesakan Allah جَلَّ وَعَلَا pada rububiyah-Nya, dengan keyakinan yang mantap bahwa Allah-lah semata Dia-lah sang pencipta, pemberi rizki, pemberi karunia, yang memutuskan dan yang mengatur urusan-urusan makhluk-Nya seluruhnya, tidak ada sekutu bagi-Nya.
Adapun iman terhadap keesaan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى pada nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya adalah mengakui dan menetapkan nama-nama-Nya yang paling indah dan sifat-sifat-Nya yang tinggi yang disebutkan di dalam al-kitab (al-Qur’an) dan as-Sunnah. Maka, apabila Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى mengkhabarkan tentang diri-Nya mengenai sebuah nama atau sifat (diri-Nya), maka kita mengimaninya sesuai dengan apa yang dimaksudkan-Nya سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى seperti yang dikatan oleh tidak hanya seorang ulama, “Aku beriman kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dan kepada apa-apa yang datang dari Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, sesuai dengan apa yang dimaksudkan oleh Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Dan, aku pun beriman kepada Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, dan kepada apa-apa yang datang dari Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, sesuai dengan apa yang dimaksudkan oleh Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.” [5] seperti kata al-Imam az-Zuhri رَحِمَهُ اللهُ , “Dari Allah-lah risalah itu, dan Rasul berkewajiban untuk menyampaikan, sementara kita berkewajiban untuk menerima.”[6]
Adapun iman terhadap keesaan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى pada keilahiyahan-Nya adalah mengesakan-Nya dengan melaksanakan semua macam bentuk ibadah. Maka, sebagaimana halnya bahwa tidak ada pencipta selain-Nya, maka demikian pula tidak ada yang disembah dengan benar selain-Nya. Maka mengesakan-Nya semata dengan perendahan diri, ketundukan, kepatuhan, ketaatan dan kepasrahan.
Adapun iman kepada para malaikat adalah mengakui dan menetapkan semua yang datang di dalam kitab Allah dan sunnah Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ tentang mereka, berupa nama-nama mereka, pekerjaan-pekerjaan mereka, sifat-sifat mereka dan jumlah mereka. Tekait dengan apa yang datang tentang hal tersebut secara global, maka kita mengimaninya secara global. Adapun yang datang tentang hal tersebut secara rinci, maka kita mengimaninya secara terperinci pula.
Mengenai jumlah para malaikat, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى . (Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,
وَمَا يَعْلَمُ جُنُودَ رَبِّكَ إِلَّا هُوَ [المدثر : 31]
Tidak ada yang mengetahui bala tentara Tuhanmu kecuali Dia sendiri. (al-Mudatstsir : 31).
Dan, di antara hal yang menjelaskan banyaknya malaikat dan besarnya jumlah mereka adalah apa yang datang di dalam hadis tentang peristiwa Isra, ketika Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ diisra-kan, beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda,
ثُمَّ رُفِعَ لِىَ الْبَيْتُ الْمَعْمُورُ فَقُلْتُ يَا جِبْرِيلُ مَا هَذَا قَالَ هَذَا الْبَيْتُ الْمَعْمُورُ يَدْخُلُهُ كُلَّ يَوْمٍ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ إِذَا خَرَجُوا مِنْهُ لَمْ يَعُودُوا فِيهِ آخِرُ مَا عَلَيْهِمْ
‘Kemudian aku dibawa naik ke Baitul Ma’mur yang mana dalam setiap hari, tujuh puluh ribu Malaikat akan memasukinya. Setelah mereka keluar, mereka tidak akan memasukinya (lagi). Karena itu merupakan terakhir kali mereka memasukinya.’ [7]
Termasuk pula hal yang menjelaskan banyaknya jumlah mereka adalah sabda Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ,
أَطَّتْ السَّمَاءُ وَحَقَّ لَهَا أَنْ تَئِطَّ مَا فِيهَا مَوْضِعُ أَرْبَعِ أَصَابِعَ إِلَّا عَلَيْهِ مَلَكٌ سَاجِدٌ لِلَّهِ
Langit merintih dan laik baginya merintih, tidaklah di sana ada tempat untuk empat jari melainkan ada malaikat yang meletakkan dahinya seraya bersujud kepada Allah. [8]
Dan di antara hal yang menjelaskan besarnya ujud mereka adalah apa yang datang dari Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bahwa beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda,
أُذِنَ لِى أَنْ أُحَدِّثَ عَنْ مَلَكٍ مِنْ مَلاَئِكَةِ اللَّهِ مِنْ حَمَلَةِ الْعَرْشِ إِنَّ مَا بَيْنَ شَحْمَةِ أُذُنِهِ إِلَى عَاتِقِهِ مَسِيرَةُ سَبْعِمِائَةِ عَامٍ
“Aku telah diberi izin untuk menceritakan tentang sesosok malaikat dari malaikat Allah yang bertugas membawa Arsy. Sesungguhnya, jarak antara ujung telinga dengan bahunya adalah perjalanan jutuh ratus tahun.” [9]
Dan Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ pernah melihat Jibril عَلَيْهِ السَّلَامُ, ia menutupi ufuk, dan ia memiliki 700 sayap. [10]
Sungguh Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى telah memilih mereka, dan memilih mereka untuk beribadah kepada-Nya dan menjalankan perintah-perintah-Nya, mereka tidak menentang/durhaka kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى terhdap apa yang Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى perintahkan kepada mereka, dan mereka pun selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.
Adapun iman kepada para nabi adalah mengakui dan menetapkan secara mantap bahwa Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى telah mengutus para rasul pada setiap umat, di mana para rasul tersebut menyeru orang-orang untuk beribadah kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى semata, tidak ada sekutu bagi-Nya dan mengingkari terhadap segala sesuatu yang diibadahi selain-Nya, dan bahwa semua para utusan tersebut benar dan dibenarkan, baik, terbimbing, mulia, berbudi, bertakwa, amanah, mendapatkan petunjuk dan memberi petunjuk, mereka diperkuat dan didukung oleh Rabb mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan ayat-ayat yang terang, dan bahwa mereka telah menyampaikan risalah Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى yang diemban mereka, mereka tidak menyembunyikannya satu huruf pun juga. Mereka tidak mengubahnya, mereka tidak menambah-nambahinya dari sisi mereka satu huruf pun, dan mereka pun tidak menguranginya. Bukankah kewajiban para rasul hanya menyampaikan (amanat Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى) dengan jelas ?
Dan bahwa mereka seluruhnya berada di atas kebenaran yang nyata, petunjuk yang jelas, dan bahwa Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menjadikan Ibrahim sebagai khalil (kekasih-Nya) dan menjadikan Muhammad صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ sebagai khalil (kekasih-Nya) pula. Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى benar-benar berbicara kepada Musa عَلَيْهِ السَّلَامُ (secara langsung), Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى mengangkat Idris عَلَيْهِ السَّلَامُ pada tempat/kedudukan yang tinggi, dan bahwa Isa عَلَيْهِ السَّلَامُ adalah hamba Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dan rasulNya, dan kalimatNya yang Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى sampaikan kepada Maryam dan (dengan tiupan) roh dari-Nya, dan bahwa Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى melebihkan sebagian mereka dari sebagian yang lainnya, dan mengangkat sebagian mereka atas sebagian lainnya beberapa derajat.
Dan dakwah mereka sedari rasul pertama hingga rasul terakhir sepakat dalam hal pondasi agama. Adapun cabang-cabang syariat berupa perkara-perkara yang wajib, perkara halal dan haram kadang berbeda-beda. Terkadang suatu perkara diwajibkan atas sebagian mereka, tidak diwajibkan atas sebagian yang lainnya, karena suatu hikmah yang mendalam.
Adapun iman kepada kitab-kitab, yakni, mengakui dan menetapkan kitab-kitab Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى yang diturunkan kepada para rasul-Nya yang mulia, yang disucikan dari kedustaan, kebohongan, dan rekayasa, dan (disucikan pula) dari segala bentuk kebatilan. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,
قُلْ آمَنْتُ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنْ كِتَابٍ [الشورى : 15]
Katakanlah, “Aku beriman kepada kitab yang diturunkan Allah.” (asy-Syura : 15)
Yakni, kepada semua kitab yang diturunkan oleh Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى kepada rasul yang mana saja, maka kita mengatakan sebagaimana yang Rabb kita perintahkan kepada kita, ‘Kami beriman kepada apa yang Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى turunkan berupa kitab, dan rasul yang diutus, dan kita pun menyakini bahwa sesuatu yang ada di dalam kitab-kitab tersebut berupa syariat-syariat semuanya hak (benar), dan bahwa umat-umat yang diturunkan kepada mereka kitab wajib untuk tunduk terhadap ajaran yang terdapat di dalam kitab-kitab tersebut, dan berhukum dangan apa-apa yang terkandung di dalamnya, dan bahwa semua kitab-kitab tersebut sebagiannya membenarkan sebagian yang lainnya, seperti Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman tentang Injil,
وَمُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ [المائدة : 46]
“Yang membenarkan kitab suci yang sebelumnya.” (al-Maidah : 46)
Dan, Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman tentang al-Qur’an,
وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ [المائدة : 48]
Kami telah menurunkan kitab suci (al-Qur’an) kepadamu (Nabi Muhammad) dengan (membawa) kebenaran sebagai pembenar kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan sebagai penjaganya (acuan kebenaran terhadapnya). (al-Maidah : 48)
Adapun iman kepada hari akhir, yaitu, iman terhadap setiap yang dikabarkan oleh Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى tentang hari akhir tersebut tentang apa-apa yang akan terjadi setelah kematian, sejak masuknya seseorang ke dalam kubur, yang merupakan persinggahan pertama (kehidupan) akhirat sampai manusia terbagi menjadi dua kelompok; satu kelompok di Surga dan satu kelompok lainnya di Neraka. Maka, kita mengimani adanya fitnah kubur, siksanya dan kenikmatannya, turunnya dua malaikat ke dalam kubur, dan pertanyaan yang diajukan kepada orang yang berada di dalam kubur tentang rabbnya, agamanya dan nabinya صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , kemudian peniupan sangkakala, pembangkitan, pengumpulan manusia, kedatangan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى untuk memberikan penghakiman dan keputusan di antara para hamba, penimbangan, (pertunjukan) catatan-catatan amal, penerbangan lembaran-lembaran, shirat (jembatan) yang dipancangkan di atas neraka Jahannam, Jahannam beserta segala isinya berupa siksaan yang beraneka ragam, serta surga beserta segala isinya berupa kenikmatan yang kekal.
Adapun iman terhadap takdir, yaitu, iman bahwa Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى telah menentukan takdir-takdir para makhluk, dan Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى mengetahui apa yang bakal terjadi sejak zaman azali, dan Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menuliskan hal tersebut di Lauh Mahfuzh, dan tidak akan terjadi sesuatu kecuali dengan kehendak Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى , dan Dialah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى pencipta segala sesuatu.
Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,
أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ إِنَّ ذَلِكَ فِي كِتَابٍ إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ [الحج : 70]
Tidakkah engkau tahu bahwa Allah mengetahui apa yang di langit dan di bumi ?, sungguh, yang demikian itu sudah terdapat dalam sebuah Kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu sangat mudah bagi Allah. (al-Hajj : 70)
Dan Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,
وَكُلُّ شَيْءٍ فَعَلُوهُ فِي الزُّبُرِ (52) وَكُلُّ صَغِيرٍ وَكَبِيرٍ مُسْتَطَرٌ (53) [القمر : 52 ، 53]
Dan segala (sesuatu) yang telah mereka perbuat tercatat dalam buku-buku catatan. Dan segala (sesuatu) yang kecil maupun yang besar (semuanya) tertulis (al-Qamar : 52-53)
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- يَقُولُ : كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ
Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash رَضِيَ اللهُ عَنْهُ , ia berkata, aku pernah mendengar Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda, “Allah telah menentukan takdir seluruh makhluk-Nya lima puluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi. [11]
Wallahu A’lam
(Redaksi)
Sumber :
Ahaditsu al-Iman, Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin al-Badr, hal. 16-24
Wallahu A’lam
(Redaksi)
Sumber :
Ahaditsu al-Iman, Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin al-Badr, hal. 16-24.
Catatan :
[1] Diriwayatkan oleh Muslim (8)
[2] Lihat : Ash-Shihah, karya al-Jauhari (5/2071), Lisanul ‘Arob, Ibnu Manzhur, 13/21. ar-Raghib al-Ashfahaniy di dalam kitab Mufradaat (90) mengatakan : asal (makna) kata ‘al-Amnu adalah Thuma’ninatu an-Nafsi (ketenangan jiwa) dan Zawalu al-Khauf (hilangnya rasa takut).
[3] Diriwayatkan dengan lafazh حُلْوِهِ وَمُرِّهِ (yang manis dan yang pahit) oleh Ibnu Mandah di dalam (kitabnya) “al-Iman” 3/71 , al-Laalikaa-iy di dalam ‘Syarh Ushul ‘Itiqaad Ahli as-Sunnah Wa al-Jama’ah (314)
[4] Lihat : Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, 1/257
[5] Diriwayatkan oleh Abu Zakaria as-Salmani dari al-Imam asy-Syafi’i di dalam ‘Manazil al-Aimmah al-Arba’ah’ (146).
[6] al-Bukhari menyebutkannya di dalam ash-Shahih secara mu’allaq sebelum hadis (7530) dan Ibnu Hajar menyambungnya di dalam Taghliq at-Ta’liq, 5/365)
[7] HR. al-Bukhari, 3207, dan Muslim, 164. Dan, lafazh ini adalah miliknya.
[8] HR. Ahmad, 21516 dan at-Tirmidzi, 2312, dan dihasankan oleh al-Albani
[9] HR. Abu Dawud, 4727, dan dishahihkan oleh al-Albani.
[10] HR. al-Bukhari, 3232 dan Muslim 380
[11] HR. Muslim, no. 2653



