Imam al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan di dalam shahih keduanya, dari Anas bin Malik رَضِيَ اللهُ عَنْهُ, ia berkata, Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda,
يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلَاثَةٌ فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ
“Ada tiga yang akan mengikuti mayit (orang yang telah meninggal dunia) : dua akan kembali, dan satu tetap tinggal. Akan mengikutinya keluarganya, hartanya, dan amalnya. Keluarganya dan hartanya akan kembali, dan akan tetap tinggal bersamanya amalnya.”
Dalam satu riwayat Ibnu Hibban bahwa Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda,
: لِابْنِ آَدَمَ ثَلَاثَةُ أَخِلَّاء
أَمَّا خَلِيْلٌ فَيَقُوْلُ : مَا أَنْفَقْتَ فَلَكَ وَمَا أَمْسَكْتَ فَلَيْسَ لَكَ فَهَذَا مَالُهُ
وَأَمَّا خَلِيْلٌ فَيَقُوْلُ : أَنَا مَعَكَ فَإِذَا أَتَيْتَ بَابَ الْمَلِكِ تَرَكْتُكَ وَرَجَعْتُ فَذَلِكَ أَهْلُهُ وَحَشَمُهُ
وَأَمَّا خَلِيْلٌ فَيَقُوْلُ : أَنَا مَعَكَ حَيْثُ دَخَلْتَ وَخَرَجْتَ فَهَذَا عَمَلُهُ
فَيَقُوْلُ : إِنْ كُنْتَ لَأَهْوَنُ الثَّلَاثَةِ عَلَيَّ
‘Anak Adam mempunyai tiga kekasih ;
Satu kekasih mengatakan, ‘Apa yang engkau infakkan, maka itulah yang menjadi milikmu. Sedangkan yang engkau tahan, maka itu bukan milikmu. Ini adalah hartanya.
Satu kekasih lagi mengatakan, ‘Aku bersamamu, bila engkau telah sampai di pintu raja, aku akan meninggalkanmu dan aku akan kembali. Ini adalah keluarganya dan para kerabatnya.
Satu kekasih lagi mengatakan, ‘Aku bersamamu kapan pun kamu masuk dan kapan pun kamu keluar. Ini adalah amalnya.
Lalu, ia (si mayit) mengatakan (kepada kekasihnya yang satu ini) : ‘Demi Allah, dulu (semasa hidupku) engkau adalah sesuatu yang paling aku remehkan di antara ketiga kekasihku.
Si mayit ini, ia mengatakan hal ini kepada kekasihnya yang tidak akan memisahkan diri darinya. ‘Dulu (semasa hidupku) engkau adalah sesuatu yang paling aku remehkan di antara ketiga kekasihku.’ Aku telah tersibukan dari dirimu dengan kedua kekasihku yang kini telah memisahkan diri dariku.
Saudaraku…
Seseorang, di dunia ini, mestilah memiliki keluarga yang mempergaulinya. Ia pun harus memiliki harta yang dengannya ia menjalani kehidupannya. Ini adalah temannya. Ini adalah kekasihnya. Akan tetapi keduanya bakal memisahkan diri darinya. Sebagaimana sabda Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ,
فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ
“kelurga dan hartanya bakal kembali”
(Keduanya bakal meninggalkannya) keduanya bakal memisahkan diri darinya. Oleh karena itu, Rabb kita memerintahkan kita agar beramal. Memerintahkan kita agar kita berteman dengan kekasih yang tidak akan bakal memisahkan diri dari kita. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,
وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
Dan katakanlah : “Beramallah kamu, maka Allah akan melihat amalmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang Mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (at-Taubah : 105)
Saudaraku…
Rabb kita, ketika memerintahkan kita agar beramal, Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menjanjikan kepada kita balasan yang baik. Rabb kita berfirman,
إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَنَعِيمٍ (17) فَاكِهِينَ بِمَا آتَاهُمْ رَبُّهُمْ وَوَقَاهُمْ رَبُّهُمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ (18) كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (19) [الطور : 17 – 19]
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam Surga dan kenikmatan. Mereka bersuka ria dengan apa yang diberikan Tuhan kepada mereka; dan Tuhan memelihara mereka dari azab Neraka. (Dikatakan kepada mereka), “Makan dan minumlah dengan rasa nikmat sebagai balasan dari apa yang telah kamu kerjakan.” (ath-Thuur : 17-19)
Rabb kita سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى juga berfirman,
وَقِيلَ لِلَّذِينَ اتَّقَوْا مَاذَا أَنْزَلَ رَبُّكُمْ قَالُوا خَيْرًا لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ وَلَدَارُ الْآخِرَةِ خَيْرٌ وَلَنِعْمَ دَارُ الْمُتَّقِينَ (30) جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ لَهُمْ فِيهَا مَا يَشَاءُونَ كَذَلِكَ يَجْزِي اللَّهُ الْمُتَّقِينَ (31) الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ طَيِّبِينَ يَقُولُونَ سَلَامٌ عَلَيْكُمُ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (32) [النحل : 30 -32]
Dan kemudian dikatakan kepada orang yang bertakwa, “Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Kebaikan.” Bagi orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (balasan) yang baik. Dan sesungguhnya negeri akhirat pasti lebih baik. Dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa.
(yaitu) surga-surga ‘Adn yang mereka masuki, mengalir di bawahnya sungai-sungai, di dalam (surga) itu mereka mendapat segala apa yang diinginkan. Demikianlah Allah memberi balasan kepada orang yang bertakwa.
(yaitu) orang yang ketika diwafatkan oleh para malaikat dalam keadaan baik, mereka (para malaikat) mengatakan (kepada mereka), “Salamun ‘alaikum, masuklah ke dalam surga karena apa yang telah kamu kerjakan.” (an-Nahl : 30-32)
Rabb kita سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى juga berfirman,
يَا عِبَادِ لَا خَوْفٌ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ وَلَا أَنْتُمْ تَحْزَنُونَ (68) الَّذِينَ آمَنُوا بِآيَاتِنَا وَكَانُوا مُسْلِمِينَ (69) ادْخُلُوا الْجَنَّةَ أَنْتُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ تُحْبَرُونَ (70) يُطَافُ عَلَيْهِمْ بِصِحَافٍ مِنْ ذَهَبٍ وَأَكْوَابٍ وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ الْأَنْفُسُ وَتَلَذُّ الْأَعْيُنُ وَأَنْتُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (71) وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (72) [الزخرف : 68 – 72]
Wahai hamba-hamba-Ku ! Tidak ada ketakutan bagimu pada hari itu, dan tidak pula kamu bersedih hati.
(Yaitu) orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami dan mereka berserah diri.
Masuklah kamu ke dalam Surga, kamu dan pasanganmu akan digembirakan.’
Kepada mereka diedarkan piring-piring dan gelas-gelas dari emas, dan di dalam surga itu terdapat apa yang diingini oleh hati dan segala yang sedap (dipandang) mata. Dan kamu kekal di dalamnya.
Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal perbuatan yang telah kamu kerjakan. (az-Zukhruf : 68-72)
Saudaraku …
Maka, inilah teman dan kekasih yang tidak akan memisahkan diri dari Anda. Adapun orang yang tersibukan dengan dua temannya, dua kekasihnya yang akan memisahkan diri darinya, sehingga terlupakan dari teman dan kekasihnya yang tidak akan memisahkan diri darinya, seperti kata الْمُخَلَّفُونَ مِنَ الْأَعْرَابِ (orang-orang Badui yang tertinggal, tidak turut serta ke Hudaibiyah)
شَغَلَتْنَا أَمْوَالُنَا وَأَهْلُونَا [الفتح : 11]
“Kami telah disibukkan oleh harta dan keluarga kami.” (al-Fath : 11)
Orang-orang ini, yang tersibukan oleh dua hal ini (harta dan keluarga) telah lalai dan tentunya akan merugi. Rabb kita سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ [المنافقون : 9]
Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta benda kalian dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari mengingat Allah. Dan barang siapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi. (al-Munafiqun : 9)
Maka, wahai saudaraku! Hari-hari di dunia ini adalah untuk beramal. Rabb kita سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى telah mengumpulkan untuk kita berbagai bentuk ibadah yang mungkin dilakukan, puasa, shalat, shalat malam, membaca al-Qur’an, doa yang bakal didengar dan diijabah, sedekah dan hal-hal lainnya berupa beragam bentuk pendekatan diri kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, Rabb kita. Maka, orang yang akan berbahagia adalah orang memperbanyak amal-amal ini, yang merupakan teman dan kekasih yang tidak akan memisahkan diri darinya.
Wahai Saudaraku … !
Hendaknya kita bersegera. Hendaknya kita memanfaatkan hari-hari kita dengan sebaik-baiknya. Hari-hari kita termasuk musim untuk beribadah mendekatkan diri kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى untuk mendulang banyak keuntungan. Para pedagang memahami bahwa kesempatan untuk meraih keuntungan merupakan peluang yang tidak patut dilewatkan begitu saja. Syaikh Dr. Sa’id al-Kamali, salah seorang ulama Maghrib, menceritakan dalam kesempatan khuthbahnya, ‘aku teringat sebuah kisah nyata, aku sering menyebut-nyebutnya. Aku sering menyebutkan kisah ini karena aku melihat sebuah kesemangatan dan kesungguhan yang sangat luar biasa. Aku ingat, suatu ketika aku menunaikan ibadah haji. Di mana, di bawah tempat aku tinggal, ada seorang pedagang yang menjual barang berupa syawarma, ia tidak menjual barang lainnya. Ketika itu, setiap kali aku turun (dan keluar dari penginapan) untuk pergi menunaikan shalat di Masjidil Haram, aku mendapati orang ini berdiri menawarkan dagangannya. Waktu kapan pun aku turun dan keluar dari penginapan baik malam maupun siang. Aku merasa takjub karena perbuatannya ini. Aku mengatakan dalam diriku, ’Kapan orang ini tidur ?’ kapan ia mengistirahatkan dirinya ?. Hal itu mendorongku untuk menemuinya, lalu aku katakan kepada orang itu,’kapan engkau pergi untuk tidur ?. Orang itu mengatakan (kepadaku), ‘Bila kalian telah pergi, ketika itulah aku tidur.’ Bagi dirinya, saat itu (saat manusia keluar dari tempat tinggalnya) bukanlah waktu untuk tidur, namun saat itu merupakan musim (untuk meraih keuntungan), musim yang waktunya harus dimanfaatkan sebaik-baiknya (untuk menawarkan dagangannya sehingga habis terjual dan meraih seabreg keuntungan).
Wahai saudaraku!
Inilah pedagang. Sementara, antara kita dan Rabb kita, Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى ada sebuah transaksi dagang yang nilai keuntungannya tidak sebanding sama sekali dengan keuntungan dunia sebesar apa pun juga. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ (10) تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (11) [الصف : 10 ، 11]
Wahai orang-orang yang beriman ! Maukah kalian Aku tunjukkan suatu perdagangan yang dapat menyelamatkan kalian dari azab yang pedih ?
(yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa kalian. Itulah yang lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui (ash-Shaff : 10-11)
Wahai saudaraku!
Orang yang sadar bahwa antara dirinya dan Rabbnya ada transaksi perdagangan, ia memahami bahwa hari-hari di dunia ini adalah di antara musim dagang yang sepatunya dimanfaatkan karena memberikan peluang besar kepadanya untuk meraih keuntungan. Maka, ia memperbanyak amal, tidak merasa cukup hanya dengan mengerjakan 17 rakaat shalat wajib yang dilakukan di masjid-masjid. Tetapi, ia juga meramaikan dan memenuhi rumah-rumah mereka dengan shalat-shalat sunnah, dengan bacaan-bacaan al-Qur’an, dan dengan amal shaleh lainnya. Ia tidak merasa lemah dan tidak pula merasa tidak mampu. Karena dirinya mengetahui, mengimani dan meyakini bahwa amal-amal yang dilakukannya ini akan menjadikannya gembira melihatnya.
Imam al-Hakim, ath-Thabrani dan Ibnu Hibban رَحِمَهُمُ اللهُ meriwayatkan dari sahabat mulia Abu Hurairah رَضِيَ اللهُ عَنْهُ bahwa Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda,
إِنَّ الْمَيِّتَ إِذَا وُضِعَ فِي قَبْرِهِ إِنَّهُ يَسْمَعُ خُفق نِعَالِهِمْ حِيْنَ يُوَلُّوْنَ عَنْهُ فَإِنْ كَانَ مُؤْمِنًا كَانَتِ الصَّلَاةُ عِنْدَ رَأْسِهِ وَكَانَ الصِّيَامُ عَنْ يَمِيْنِهِ وَكَانَتِ الزَّكَاةُ عَنْ شِمَالِهِ وَكَانَ فِعْلُ الْخَيْرَاتِ مِنَ الصَّدَقَةِ وَالصِّلَةِ وَالْمَعْرُوْفِ وَالْإِحْسَانِ إِلَى النَّاسِ عِنْدَ رِجْلَيْهِ
Sesungguhnya mayat apabila telah diletakkan di dalam kuburnya, ia akan mendengar suara sandal-sandal mereka (orang-orang yang mengantarkan jenazahnya ke kubur) ketika mereka bertolak meninggalkannya. Maka, jika si mayit tersebut seorang mukmin (seorang yang beriman) niscaya shalat berada di sisi kepalanya. Puasa berada di samping kanannya. Zakat di samping kirinya. Tindakan kebaikan berupa sedekah, silaturahim, hal-hal yang ma’ruf, berbuat baik kepada manusia, di kedua kakinya.
Lalu, didatangilah (orang itu) dari arah kepalanya. Maka, shalat pun mengatakan, ‘tidak ada tempat masuk dari arahku.
Kemudian, ia didatangi dari arah kanannya. Maka, berkatalah puasa,’tidak ada tempat masuk dari arahku.’
Kemudian, ia didatangi dari arah kirinya. Maka, berkatalah zakat, ‘tidak ada tempat masuk dari arahku.’
Kemudian, ia didatangi dari arah kedua kakinya. Maka, tindakan kebaikan berupa sedekah, silaturahim, hal-hal yang ma’ruf, berbuat baik kepada manusia berkata, ‘Tidak ada tempat masuk dari arahku’...sampai sabda Nabi,
ثُمَّ يُفْتَحُ لَهُ بَابٌ مِنْ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ فَيُقَالُ لَهُ : هَذَا مَقْعَدُكَ مِنْهَا وَمَا أَعَدَّ اللهُ لَكَ فِيْهَا فَيَزْدَادُ غِبْطَةً وَسُرُوْرًا
Kemudian, dibukakan baginya sebuah pintu dari pintu-pintu Surga. Lalu dikatakan kepadanya, ‘Ini adalah tempat dudukmu dari Surga dan apa-apa yang telah Allah siapkan untukmu di dalam Surga. Maka, hal itu menambah rasa ingin mendapatkanya dan menambah pula kegembiraan pada dirinya…. Al-Hadis
Wahai saudaraku!
Inilah amal. Kemudian, amal-amal ini tidak memisahkan diri dari seseorang di tempat-tempat pemberhentian pada hari Kiamat. Dan, berdasarkan amal inilah pembagian tempat-tempat kedudukan seseorang di akhirat.
Wahai saudaraku!
Dan, Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ juga menyebutkan tentang mayat orang kafir dimana ia didatangi dari semua sisinya, namun tidak didapati apa pun juga, maka ia tetap dalam keadaan ketakutan yang sangat mencekam.
Maka, kita memohon kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى semoga memberikan taufik kepada kita untuk beramal dengan amalan-amalan yang diridhai-Nya.
Amin
Wallahu A’lam
(Redaksi)



