Dari Khudzaifah, ia berkata,

ats-Tsauriy pernah melihat seorang lelaki di tengah-tengah sekelompok orang, ia tengah mengadu kondisi dirinya yang sempit (kepada mereka). Maka, berkatalah Tsauriy رَحِمَهُ اللهُ kepadanya, “Wahai orang ini! Engkau mengadukan Dzat yang menyayangimu kepada orang yang tidak menyayangimu.” (al-Mujalasah Wa Jawaa-hir al-Ilmi, karya : ad-Dainuriy, 1318)

Ibnul Qayyim رَحِمَهُ اللهُ berkata,

“Dan (tindakan) ini merupakan kebodohan perihal pihak yang diadukan dan pihak yang menjadi tempat pengaduan. Karena, kalaulah ia mengenal Rabbnya, niscaya ia tidak akan mengadukan-Nya. Dan, kalaulah ia mengenal manusia, niscaya ia tidak akan mengadu kepada mereka ….

Dikatakan (oleh pujangga),

Jika engkau mengadu kepada anak Adam
engkau mengadukan Dzat yang Maha Penyayang kepada orang yang tidak menyayangi.

Sedangkan orang yang benar-benar mengerti, ia akan mengadu hanya kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى semata.

(Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr, “asy-Syakwaa Ilallah”)