Dari Umar bin Khaththab رَضِيَ اللهُ عَنْهُ, ia berkata :

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ.

Aku pernah mendengar Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda, “Sesungguhnya amal-amal itu tergantung niat-niat(nya). Dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Maka, barang siapa hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan, barang siapa hijrahnya karena urusan dunia yang ingin didapatkannya atau karena seorang wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya kepada apa yang ia berhijrah kepadanya. [1]

Ini merupakan hadis yang agung kedudukannya, mulia nilainya, menjelaskan kedudukan niat dari iman dan posisinya yang tinggi di dalam agama Allah عَزَّ وَجَلَّ .

Dari Hasan al-Bashri رَحِمَهُ اللهُ, ia mengatakan : “Perkataan tidak benar kecuali dibuktikan dengan amal. Perkataan dan amal tidak benar kecuali dengan adanya niat (yang benar). Dan, perkataan, amal, dan niat tidak benar melainkan dengan adanya keselarasan dengan sunnah.” [2]

Dan dari Sa’id bin Jubair رَحِمَهُ اللهُ, ia berkata : “Perkataan tidak akan diterima kecuali (dibuktikan dengan) amal. Amal tidak diterima kecuali dengan perkataan. Perkataan dan amal tidak diterima kecuali dilandasi niat (yang benar). Dan, perkataan, amal dan niat tidak akan diterima kecuali dengan niat yang sesui dengan sunnah.” [3]

Dan dari Sufyan ats-Tsauri رَحِمَهُ اللهُ, ia mengatakan : “Iman itu perkataan, perbuatan dan niat, bertambah dan berkurang, bertambah dengan ketaatan, berkurang dengan kemaksiatan. Perkataan itu tidak dibolehkan melainkan dibuktikan dengan amal. Perkataan dan amal tidak diperbolehkan melainkan dilandaskan dengan niat (yang benar). Dan, perkataan, amal dan niat tidak diperbolehkan melainkan dengan mencocoki sunnah.” [4]

Dan dari Imam Ahmad رَحِمَهُ اللهُ, ia mengatakan : “Iman itu perkataan, amal (perbuatan), dan niat yang benar.” [5]

Dan, Sahl bin Abdillah at-Tustariy رَحِمَهُ اللهُ pernah ditanya tentang iman ‘apakah iman itu ?’ beliau رَحِمَهُ اللهُ pun menjawab, “Iman adalah perkataan, niat, perbuatan, dan sunnah; karena iman itu bila mana berupa perkataan tanpa perbuatan maka itu merupakan kekufuran. Bila mana berupa perkataan dan perbuatan tanpa niat maka itu merupakan kemunafikan. Dan, bila berupa perkataan, perbuatan dan niat tanpa sunnah, maka itu merupakan kebid’ahan.” [6]

Ibnu Baththah al-‘Akbariy رَحِمَهُ اللهُ mengatakan, “Dan cukuplah Anda dari hal itu :  apa yang dikabarkan kepada Anda tentang hal itu oleh Tuhanmu yang Maha Mulia dengan firman-Nya,

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ  [البينة : 5]

“Padahal mereka hanya diperintahkan menyembah Allah dengan ikhlas mentaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat ; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).” (al-Bayyinah : 5) ; karena sesungguhnya ayat ini menghimpun perkataan, perbuatan dan niat; karena sesungguhnya beribadah kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى tidak terjadi kecuali setelah adanya pengakuan (seorang hamba) terhadap-Nya, sedangkan menegakan shalat, penunaian zakat tidak terjadi kecuali dengan perbuatan. Sedangkan keikhlasan tidak akan terjadi kecuali dengan adanya tekad hati, dan niat.” [7]

Dan, imam al-Bukhari  رَحِمَهُ اللهُ meriwayatkan hadis : إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ di sejumlah tempat di dalam shahihnya dengan sanadnya رَحِمَهُ اللهُ sampai kepada ‘Alqamah bin Waqqash al-Laitsi  :

Di tempat yang pertama : ‘Alqamah رَحِمَهُ اللهُ mengatakan, ‘Aku pernah mendengar Umar bin al-Khaththab رَضِيَ اللهُ عَنْهُ mengatakan di atas mimbar : ‘Aku pernah mendengar Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda,

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ …

“Sesungguhnya amal-amal itu tergantung niat-niat…” dan beliau menyebutkan hadis ini. [8]

Di tempat lain : ‘Alqamah رَحِمَهُ اللهُ mengatakan, “Aku pernah mendengar Umar bin Khaththab رَضِيَ اللهُ عَنْهُ berkhutbah, ia mengatakan : aku pernah mendengar Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda,

أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّة …

“Wahai segenap manusia ! Sesungguhnya amal-amal itu tergantung niat…” dan beliau menyebutkan hadis ini.[9]

Maka, dua riwayat ini memberikan faedah bahwa Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ telah menyebutakan hadis ini di dalam khuthbahnya di atas mimbar untuk mengingatkan tentang kedudukan niat nan agung dan tegaknya agama Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى di atasnya. Dan, Khalifah yang terbimbing Umar bin Khaththab رَضِيَ اللهُ عَنْهُ pun meneladani beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Ia berkhutbah dengan menyebutkan hal itu di atas mimbar, ia mengingatkan tentang posisi niat dan kedudukannya yang tinggi; dan para penyeru kebaikan, para imam yang baik, orang-orang yang gemar memberikan nasehat kepada para hamba Allah pun senantiasa mengingatkan pada setiap kesempatan di atas mimbar dan pada kesempatan yang lainnya tentang pentingnya niat dan kedudukannya yang agung.

Imam al-Bukhari رَحِمَهُ اللهُ mengawali kitabnya ash-Shahih dengan hadis ini, dan memposisikanya sebagai posisi pendahuluan bagi kitabnya tersebut; untuk memberikan isyarat bahwa setiap amal yang tidak dimaksudkan untuk meraih wajah Allah, maka amal tersebut batil, tidak memiliki buah di dunia, tidak pula di akhirat, dan kami beranggapan bahwa imam al-Bukhari رَحِمَهُ اللهُ telah memurnikan niatnya dalam menulis karya nan agung ini; sehingga keberkahan kitabnya menjadi besar. Maka, ketika beliau رَحِمَهُ اللهُ mengikhlaskan/memurnikan niat dan menjernihkan hati, maka Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى memberikan manfaat dengan kitabnya terhadap makhluk.

Dan begitu pula yang telah dilakukan oleh sejumlah kalangan ulama seperti yang telah beliau رَحِمَهُ اللهُ lakukan; mereka mengarang berbagai karya tulis mereka dengan memulainya dengan menyebutkan hadis ini; imam al-Baghawi رَحِمَهُ اللهُ dalam kitabnya Mashabih as-Sunnah dan Syarh as-Sunnah memulai dengan menyebutkan hadis ini. Begitu pula imam an-Nawawi رَحِمَهُ اللهُ di dalam kitabnya ‘al-Arba’in’. Begitu pula imam Abdul Ghani al-Maqdisi رَحِمَهُ اللهُ di dalam kitabnya Umdatul Ahkam. Begitu pula imam as-Suyuthi رَحِمَهُ اللهُ di dalam kitabnya al-Jami’ ash-Shaghir. Begitu pula ulama-ulama yang lainnya.

Abdurrahman al-Mahdi رَحِمَهُ اللهُ mengatakan, “Andai kata aku mengarang sebuah kitab yang terdiri dari beberapa bab niscaya aku akan meletakkan hadis Umar bin Khaththab ‘ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ ‘ pada setiap babnya.” Dan diriwayatkan pula dari beliau bahwa beliau رَحِمَهُ اللهُ mengatakan, “Barang siapa ingin mengarang sebuah kitab maka hendalah ia memulainya dengan hadis ‘إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ ‘ [10]

Dan hadis ini (yakni, إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ) merupakan salah satu hadis yang mana agama ini berporos di atasnya.

Diriwayatkan dari imam asy-Syafi’i رَحِمَهُ اللهُ bahwa ia mengatakan, “Hadis ini sepertiga ilmu, dan masuk ke dalam tujuh puluh bab dari fikih.” [11]

Dan diriwayatkan dari imam Ahmad رَحِمَهُ اللهُ bahwa beliau mengatakan, “Pokok landasan Islam berada di atas tiga hadis :

(Pertama) hadis Umar رَضِيَ اللهُ عَنْهُ :

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

(Sesungguhnya amal-amal itu tergantung niat-niatnya)

(Kedua) hadis ‘Aisyah رَضِيَ اللهُ عَنْهَا :

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

(Barang siapa membuat-buat perkara baru dalam urusan kami ini yang tidak ada sumber rujukan darinya, maka hal itu tertolak) [12]

(Ketiga) hadis Nu’man bin Basyir رَضِيَ اللهُ عَنْهُ :

اَلْحَلَالُ بَيِّنٌ وَالْحَرَامُ بَيِّنٌ

(Yang halal itu jelas dan yang haram itu (juga) jelas) [13][14]

Dan al-Hakim رَحِمَهُ اللهُ mengatakan : “Ceritakan kepada kami dari Abdullah bin Ahmad, dari ayahnya : bahwa beliau menyebutkan sabda beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  : الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

Dan sabda beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :

إِنَّ خَلْقَ أَحَدِكُمْ يُجْمَعُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا

(Sesungguhnya penciptaan kalian terkumpul dalam perut ibunya selama empat puluh hari)

Dan sabda beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

(Barang siapa membuat-buat perkara baru dalam urusan kami ini yang tidak ada sumber rujukan darinya, maka hal itu tertolak)

Maka, beliau رَحِمَهُ اللهُ mengatakan, “Seyogyanya dimulai dengan hadis-hadis ini dalam setiap karya tulis; karena sesungguhnya hadis-hadis ini merupakan pokok hadis-hadis.”

Dan dari Ishak bin Rahawaih رَحِمَهُ اللهُ, ia mengatakan : “Empat hadis yang merupakan pokok agama :

(Pertama) hadis Umar رَضِيَ اللهُ عَنْهُ :

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

(Sesungguhnya amal-amal itu tergantung niat-niatnya)

(Kedua) hadis :

اَلْحَلَالُ بَيِّنٌ وَالْحَرَامُ بَيِّنٌ

(Yang halal itu jelas dan yang haram itu (juga) jelas)

(Ketiga) hadis :

إِنَّ خَلْقَ أَحَدِكُمْ يُجْمَعُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا

(Sesungguhnya penciptaan kalian terkumpul dalam perut ibunya selama empat puluh hari)

(Keempat) hadis :

مَنْ صَنَعَ فِي أَمْرِنَا شَيْئًا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

(Barang siapa membuat-buat sesutu dalam urusan kami yang tidak ada rujukan darinya, maka hal itu tertolak)

Dan Utsman bin Sa’id meriwayatkan dari Abu Ubaid, ia berkata : Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ telah menghimpun semua urusan akhirat dalam satu kalimat :

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

(Barang siapa membuat-buat perkara baru dalam urusan kami ini yang tidak ada sumber rujukan darinya, maka hal itu tertolak)

Dan, beliau telah menghimpun urasan dunia seluruhnya dalam satu kalimat :

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

(sesungguhnya amal-amal itu tergantung niat-niatnya)

Di mana keduanya (kedua hadis tersebut) masuk ke dalam setiap bab.

Dan dari Abu Darda, ia berkata : “Aku melihat di dalam al-Hadis al-Musnad ; ternyata ada 4.000 hadis, kemudian aku melihat, ternyata poros 4.000 hadis tersebut terdapat pada empat hadis :

(Pertama) hadis Nu’man bin Basyir رَضِيَ اللهُ عَنْهُ :

اَلْحَلَالُ بَيِّنٌ وَالْحَرَامُ بَيِّنٌ

(Yang halal itu jelas dan yang haram itu (juga) jelas)

(Kedua) hadis Umar رَضِيَ اللهُ عَنْهُ :

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

(Sesungguhnya amal-amal itu tergantung niat-niatnya)

(Ketiga) hadis Abu Hurairah رَضِيَ اللهُ عَنْهُ :

إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ

(“Sesungguhnya Allah itu Maha baik, tidak akan menerima kecuali yang baik. Dan, sesungguhnya Allah telah memerintahkan orang-orang yang beriman dengan sesuatu yang telah diperintahkan kepada para Rasul…” al-Hadis) [15]

(Keempat) hadis :

مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَالَا يَعْنِيْهِ

(Di antara (tanda) baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya) [16]

Beliau رَحِمَهُ اللهُ mengatakan : “Maka, setiap hadis dari empat hadis ini merupakan seperempat ilmu.”

Dan dari Abu Dawud رَحِمَهُ اللهُ juga, ia mengatakan : “Aku menulis dari Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ 500.000 hadis, aku menyeleksi darinya apa yang terkandung dalam kitab ini ; yakni : kitab as-Sunan ; aku menghimpun di dalamnya 4.800 hadis, dan cukuplah seseorang untuk agamanya dari itu empat hadis :

Pertama : sabda beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  :

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

(Sesungguhnya amal-amal itu tergantung niat-niatnya)

Kedua : sabda beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  :

مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَالَا يَعْنِيْهِ

(Di antara (tanda) baiknya keislaman seseorang adalah  meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya) [17]

Ketiga : sabda beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  :

لَا يَكُوْنُ الْمُؤْمِنُ مُؤْمِنًا حَتَّى لَا يَرْضَى لِأَخِيْهِ إِلَّا مَا يَرْضَى لِنَفْسِهِ

(Seorang mukmin tidak akan menjadi mukmin (sejati) hingga ia tidak ridha untuk saudaranya kecuali sesuatu yang ia ridha untuk dirinya sendiri) [18]

(Keempat) : sabda beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  : .

اَلْحَلَالُ بَيِّنٌ وَالْحَرَامُ بَيِّنٌ

(Yang halal itu jelas dan yang haram itu (juga) jelas).

Dan dalam riwayat lain darinya, ia berkata :

Fikih berputar di atas lima hadis :

(Pertama) (Sabda beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ) :

اَلْحَلَالُ بَيِّنٌ وَالْحَرَامُ بَيِّنٌ

(Yang halal itu jelas dan yang haram itu (juga) jelas).

(Kedua) : Sabda beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :

لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

(Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boeh (pula) membahayakan orang lain) [19]

(Ketiga) : Sabda beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

(Sesungguhnya amal-amal itu tergantung niat-niatnya)

(Keempat) : Sabda beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :

اَلدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ

(Agama itu nasehat) [20]

(Kelima) : Sabda beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :

مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوهُ وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَافْعَلُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ

(Apa yang aku larang, maka tinggalkanlah. Dan, apa yang aku perintahkan, maka lakukanlah semampu kalian). [21]

Dan dalam satu riwayat darinya, ia mengatakan : “Pokok sunnah pada setiap bidang adalah empat hadis :

(Pertama) Hadis Umar رَضِيَ اللهُ عَنْهُ :

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

(Sesungguhnya amal-amal itu tergantung niat-niatnya)

(Kedua) Hadis :

اَلْحَلَالُ بَيِّنٌ وَالْحَرَامُ بَيِّنٌ

(Yang halal itu jelas dan yang haram itu (juga) jelas).

(Ketiga) Hadis :

مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَالَا يَعْنِيْهِ

(Di antara (tanda) baiknya keislaman seseorang adalah  meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya) [22]

(Keempat) Hadis :

اِزْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبُّكَ اللهُ . وَازْهَدْ فِيْمَا فِي أَيْدِي النَّاسِ يُحِبُّوْكَ النَّاسُ

(Berlakulah zuhud terhadap urusan dunia, niscaya engkau akan dicintai Allah, dan berlaku zuhudlah terhadap apa yang dimiliki orang lain, niscaya engkau dicintai manusia.) [23]

Dan al-Hafizh Abul Hasan Thahir bin Mufawwiz al-Mu’afiriy al-Andulusi memiliki (ungkapan kata dalam bait-bait syairnya) :

عُمْدَةُ الدِّيْنِ عِنْدَنَا كَلِمَاتٌ أَرْبَعٌ مِنْ كَلَامِ خَيْرِ الْبَرِيَّةِ

اِتَّقِ الشُّبُهَاتِ وَازْهَدْ وَدَعْ مَا لَيْسَ يَعْنِيْكَ وَاعْمَلَنْ بِنِيَّةِ

Sandaran agama, menurut kami, ada beberapa kalimat

Empat buah dari perkataan sebaik-baik makhluk

Jauhilah hal-hal yang syubhat, zuhudlah, dan tinggalkan sesuatu yang tidak berguna bagimu, serta beramallah dengan niat (yang benar) [24]

Mereka, para imam ini menginginkan hal itu untuk memberikan peringatan akan besar dan agungnya perkara niat ini dan untuk memberikan sentuhan akan perlunya seorang muslim kepada niat ini dalam menuntut ilmu dan dalam ibadah-ibadahnya seluruhnya, karena sesungguhnya amal-amal itu diperhitungkan dengan niat-niatnya; maka tidaklah shalat, puasa, haji, sedekah, kebaktian, dan tidak pula pendekatan diri kepada-Nya apa pun bentuknya akan teranggap kecuali apabila berdiri di atas niat yang benar; di mana amal yang dilakukan dimaksudkan untuk mencari wajah Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.

Maka, sabda beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

(Sesungguhnya amal-amal itu tergantung niat-niatnya)

Yakni, sesungguhnya amal-amal itu teranggap di sisi Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berdasarkan niat-niatnya; maka jika niatnya karena Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى secara murni dan dilakukannya amal untuk mencari wajah Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, niscaya Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menerima dari si pelaku amalannya.

Dan jika amal tersebut tidaklah demikian : niscaya ditolaklah (amal tersebut) dari pelakunya meskipun amal tersebut banyak jumlahnya, beragam dan bermacam-macam bentuknya. Sungguh Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى telah berfirman :

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُومًا مَدْحُورًا (18) وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ وَسَعَى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا (19) [الإسراء : 18 ، 19]

Barang siapa menghendaki kehidupan sekarang (dunia) maka Kami segerakan baginya di (dunia) ini apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki. Kemudian Kami sediakan baginya (di akhirat) neraka Jahannam ; dia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.

Dan barang siapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, sedangkan dia beriman, maka mereka itulah orang yang usahanya dibalas dengan baik. (al-Isra : 18-19)

Dan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman :

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ [البينة : 5]

Padahal mereka hanya diperintahkan menyembah Allah dengan ikhlash menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama (al-Bayyinah : 5)

Dan Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى juga berfirman :

أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ [الزمر : 3]

Ingatlah ! Hanya milik Allah agama yang murni (dari syirik) (az-Zumar : 3)

Dan ayat-ayat lainnya yang semakna dengan ayat-ayat ini cukup banyak.

Maka, betapa butuhnya seseorang kepada perbaikan niat dan menerapi maksud dan tujuannya, serta mengoreksi keinginan-keinginannya dalam semua amal-amalnya; pada shalatnya, puasanya, hajinya, dan seluruh bentuk ketaatan-ketaatannya; agar ia tidak mencari dengan hal-hal tersebut kecuali wajah Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى; karena tak sedikit pun dari hal-hal tersebut yang akan diterima, diridhai, dan dibalas dengan baik di sisi Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى keculi apabila amal tersebut murni untuk Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.

Dan, sekali-kali tidak akan masuk bersama seseorang di dalam kuburnya amalnya yang shaleh dan perkataannya yang benar, kecuali apa yang dimaksudkan untuk mendapatkan wajah Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Adapun amal-amal yang dilakukan oleh orang yang melakukannya yang menginginkan ketenaran, atau riya, atau sum’ah atau dunia nan fana, atau hal-hal lainnya ; maka kesemuanya itu tidak akan diterima di sisi Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dan tidak pula diridhai di sisi-Nya ; karena termasuk syarat amal yang diterima adalah bahwa amal tersebut dimaksudkan untuk mencari wajah Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.

Dari Yahya bin Abi Katsir رَحِمَهُ اللهُ, ia berkata : “Pelajarilah oleh kalian niat ; karena sesungguhnya niat itu lebih penting dari amal.” [25]

Dan dari Zubaid al-Yami رَحِمَهُ اللهُ, ia berkata : “Sesungguhnya aku benar-benar menyukai untuk mempunyai niat pada setiap sesuatu, sampai pun dalam hal makan dan minum.” [26]

Dan dari Yusuf bin Asbath رَحِمَهُ اللهُ, ia berkata : “Pembersihan niat dari hal-hal yang akan merusaknya adalah lebih berat atas orang-orang yang beramal daripada lamanya kesungguhan (dalam beramal).” [27]

Dan dari Mutharrif bin Abdillah رَحِمَهُ اللهُ, ia berkata : “Kebaikan hati dengan baiknya amal, dan baiknya amal dengan baiknya niat.” [28]

Dan dari Ibnul Mubarak رَحِمَهُ اللهُ, ia berkata : “Betapa banyak amal yang kecil, niat menjadikannya besar (nilai dan pahalanya). Dan betapa banyak (pula) amal yang besar, niat menjadikannya kecil (nilai dan pahalanya).” [29]

Dan Sufyan ats-Tsauri رَحِمَهُ اللهُ mengatakaan : “Tidaklah aku menerapi sesuatu yang lebih berat atasku daripada niatku ; karena niat itu berbolak-balik pada diriku.” [30]

Karena niat itu meloncat-loncat, dan hal-hal yang memalingkan yang menghalangi seorang hamba dari keikhlasan di dunia ini cukup banyak, dan kondisi ini merupakan kondisi yang besar untuk mengerahkan segenap kesungguhan, dan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى telah berfirman :

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ [العنكبوت : 69]

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik. (al-Ankabut : 69)

Oleh karena ini; maka sesungguhnya menerapi niat dan mengerahkan segenap kesungguhan jiwa untuk ikhlas karena Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى merupakan perkara yang diminta dari seorang muslim sampai akhir nafas dan sampai saat terakhir dari kehidupannya ; hal demikian itu oleh karena akan selalu saja datang silih berganti kepadanya hal-hal yang memalingkan dan hal-hal yang merintangi dari keikhlasan dari arah sana-sini; sehingga seseorang membutuhkan kepada upaya menerapi niatnya, memperbaiki maksudnya, dan memperbagus keinginannya setiap waktu dan setiap saat.

Sabda beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :

فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ

Maka, barang siapa hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya.

Yakni, barang siapa hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya niatnya dan tujuannya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya pahalanya dan balasannya.

Ibnu Rajab رَحِمَهُ اللهُ mengatakan : “Ketika beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menyebutkan bahwa amal-amal itu tergantung niat-niatnya, dan bahwa bagian yang akan diperoleh pelakunya dari amalnya adalah niatnya berupa kebaikan atau pun keburukan, kedua kalimat ini merupakan kalimat yang menyeluruh, sebuah kaedah yang komperhensif, tidak ada sesuatu pun yang keluar dari keduanya ; beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ setelah itu menyebutkan sebuah contoh dari contoh-contoh amal yang bentuknya satu sementara berbeda kebaikan dan kerusakannya disebabkan karena perbedaan niat-niatnya, dan seolah-olah beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengatakan : “semua bentuk amal-amal itu mengikuti contoh ini…”

Maka, Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengkhabarkan bahwa hijrah ini berbeda-beda tergantung pada perbedaan niat-niat dan tujuan-tujuannya; maka barang siapa berhijrah ke Darul Islam (Negri Islam) karena cinta kepada  Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dan Rasul-Nya, dan keinginan untuk mempelajari agama Islam, serta agar dapat menampakkan (syiar/ajaran) agamanya, di mana hal itu tidak mampu dilakukannya saat berada di negeri kesyirikan ; maka inilah dia seorang muhajir (orang yang berhijrah) kepada Allah dan rasul-Nya secara benar. Dan, cukuplah baginya sebuah kemuliaan dan kebanggaan bahwasanya ia akan mendapatkan apa yang diniatkannya dari hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya.

Dan untuk makna inilah beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ membatasi dalam memberikan jawaban terhadap sayarat ini hanya dengan mengulangi lafazhnya ; karena diperolehnya apa yang diniatkan dengan hijrahnya ; merupakan batas final yang diminta di dunia dan di akhirat.

Dan barang siapa yang hijrahnya dari negeri syirik ke negeri Islam untuk mencari dunia yang ingin diperolehnya, atau karena seorang wanita yang ingin dinikahinya di negeri Islam ; maka hijrahnya kepada sesuatu yang ia berhijrah kepadanya dari hal tersebut; yang pertama adalah seorang pedagang, sedangkan yang kedua adalah seorang pelamar, dan tidak satu pun dari kedua orang tersebut yang disebut sebagai seorang muhajir sejati (orang yang berhijrah dengan benar).[31]

Dan seluruh amal-amal itu seperti (amal) hijrah dalam sisi makna ini ; maka kebaikannya dan kerusakanya tergantung niat yang mendorong dan melatarbelakanginya ; seperti amal berupa shalat, haji, sedekah, dan amal-amal yang lainnya.

Wallahu A’lam

(Redaksi)

Sumber :

Ahaadiits al-Iman, hadis : Innama al-A’malu Bi an-Niyyaati, Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin al-Badr, hal. 40-50.

Catatan :

[1] HR. al-Bukhari (1) dan Muslim (1907)

[2] Dikeluarkan oleh al-Laalikaa-i di dalam Syarh Ushul I’tiqad Ahli Sunnah Wa al-Jama’ah (18)

[3] Dikeluarkan oleh al-Laalikaa-i di dalam Syarh Ushul I’tiqad Ahli Sunnah Wa al-Jama’ah (20)

[4] Dikeluarkan oleh al-Laalikaa-i di dalam Syarh Ushul I’tiqad Ahli Sunnah Wa al-Jama’ah (314)

[5] Dikeluarkan oleh Ibnu Hani di dalam Masa-il al-Imam Ahmad (1894) dengan lafazh : dan aku mendengarnya mengatakan –yakni, al-Imam : ‘Kami mendapati manusia dan mereka mengatakan : ‘iman itu perkataan dan perbuatan, bertambah dan berkurang, dan niat yang benar.’

Dan lihat : Syarh Ushul I’tiqad Ahli Sunnah Wa al-Jama’ah (1798)

[6] al-Ibanah, Ibnu Baththah, 2/813

[7] al-Ibanah, Ibnu Baththah, 2/813

[8] HR. al-Bukhari (1)

[9] HR. al-Bukhari (6953)

[10] Kedua ungkapan perkataan beliau tersebut disebutkan oleh imam an-Nawawi dari beliau رَحِمَهُ اللهُ di dalam al-Majmu’ 1/36.

[11] HR. al-Baihaqi di dalam as-Sunan al-Kabir (322-333) sampai perkataannya ‘sepertiga ilmu.’ Dan an-Nawawi menyebutkannya darinya di dalam al-Majmu’ 1/36.

[12] HR. al-Bukhari (2697)

[13] HR. al-Bukhari (52) dan Muslim (1599)

[14] Thabaqat al-Hanabilah, karya : al-Qadhi Abu Ya’la (1/108)

[15] HR. Muslim (1015)

[16] HR. at-Tirmidzi (2317) dan Ibnu Majah (3976), dan dishahihkan oleh al-Albani.

[17] HR. at-Tirmidzi (2317) dan Ibnu Majah (3976), dan dishahihkan oleh al-Albani.

[18] al-Bukhari (13) dan Muslim (45) meriwayatkan dari Anas رَضِيَ اللهُ عَنْهُ bahwa Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda :

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian sehingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.”

[19] HR. Ahmad (2865) dan Ibnu Majah (2341), dan dishahihkan oleh al-Albani.

[20] HR. Muslim (55)

[21] HR. al-Bukhari (7288) dan Muslim (1337)

[22] HR. at-Tirmidzi (2317) dan Ibnu Majah (3976), dan dishahihkan oleh al-Albani.

[23] HR. Ibnu Majah (4102), dan dishahihkan oleh al-Albani.

[24] Lihat  Jami’ al-‘Ulum Wa al-Hikam (27-30)

[25] Dikeluarkan oleh Abu Nu’aim di dalam al-Hilyah, 3/70.

[26] Dikeluarkan oleh Ibnul Mubarak di dalam az-Zuhd (196)

[27] Dikeluarkan oleh ad-Dainuri di dalam al-Mujalasah (1946) dan (3424)

[28] Dikeluarkan oleh Abu Nu’aim di dalam al-Hilyah, 2/199

[29] adz-Dzhabiy menyebutkannya darinya di dalam as-Siyar, 8/400.

[30] Dikeluarkan oleh Abu Nu’aim di dalam al-Hilyah (7/5 dan 62) dengan lafazh : نَفْسِي (jiwaku) sebagai ganti kata : نِيَّتِي (niatku).

[31] Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, karya : Ibnu Rajab al-Hanbali (38-39)