Allah ﷻ berfirman :
“Kepada (kaum) Samud (Kami utus) saudara mereka, Saleh. Dia berkata, “Wahai kaumku, sembahlah Allah! Sekali-kali tidak ada tuhan bagimu selain Dia. Dia telah menciptakanmu dari bumi (tanah) dan menjadikanmu pemakmurnya. Oleh karena itu, mohonlah ampunan kepada-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku sangat dekat lagi Maha Memperkenankan (doa hamba-Nya).” (Huud : 61)
“Orang-orang yang mempunyai tekad dan bashirah lebih memperhatikan beristighfar setelah melaksanakan amalan-amalan ketaatan. Karena mereka melihat kekurangan diri mereka dalam menjalankan ketaatan-ketaatan itu dan meninggalkan amalan-amalan tersebut karena Allah sebagaimana yang layak bagi kemuliaan dan keagungan-Nya, dan seandainya tidak ada perintah, tentu tidak ada serorang pun berani melakukan ubudiyah ini dan dia tidak rela bagi tuannya.”
[Ibnu Qayyim, Madarij As-Salikin Bai-na Manazil Iyyaka Na’budu Wa iyyaaka Nas-ta’in, 1/195]





