Dalam Shahih Muslim, Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata:

Aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

“Allah telah menulis (menentukan) takdir seluruh makhluk sebelum menciptakan langit dan bumi lima puluh ribu tahun.”

(HR. Muslim)

Keimanan seorang hamba yang benar kepada takdir akan membuahkan:

1. Bersandar kepada Allah ketika mengerjakan sebab-sebab.

Tidak bersandar kepada sebab itu sendiri, karena segala sesuatu ditentukan dengan takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala.

2. Tidak lagi mengagumi dirinya ketika tercapai apa yang dicita-citakan.

Karena tercapainya cita-cita merupakan nikmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang dikarenakan takdir-Nya, yaitu sebab-sebab keberhasilan. Mengagumi diri sendiri dapat melupakan seseorang dari mensyukuri nikmat ini.

3. Menimbulkan ketenangan serta kepuasan jiwa terhadap seluruh takdir yang berlaku.

Tidak gelisah karena hilangnya sesuatu yang disukai atau datangnya sesuatu yang tidak disukai.

Karena dia tahu bahwa hal itu ditentukan dengan takdir Allah yang memiliki langit dan bumi, dan bahwa hal itu akan terjadi dengan pasti.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ ۝٢٢

لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ ۝٢٣

“Tidak ada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah.”

“(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu tidak berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu dan supaya kamu tidak terlalu gembira terhadap apa yang diberikan oleh-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.”

(QS. Al-Hadid: 22–23)

Referensi:
Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, Syarah Ushul Al-Iman.