Renungkanlah firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى perihal azab yang ditimpakan kepada kaum ‘Aad, kaumnya Nabi Hud عَلَيْهِ السَّلَامُ :
فَلَمَّا رَأَوْهُ عَارِضًا مُسْتَقْبِلَ أَوْدِيَتِهِمْ قَالُوا هَذَا عَارِضٌ مُمْطِرُنَا بَلْ هُوَ مَا اسْتَعْجَلْتُمْ بِهِ رِيحٌ فِيهَا عَذَابٌ أَلِيمٌ
“Maka, ketika melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, mereka berkata, “Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kita.” (Bukan,) tetapi itu azab yang kalian minta agar disegerakan kedatangannya, (yaitu) angin yang mengandung azab yang sangat pedih.” (al-Ahqaf : 24)
Maka…, “Apabila Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menurunkan kepadamu sebuah hal yang berbahaya, namun hal itu justu mendekatkan dirimu kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, maka ketahuilah bahwa hal itu merupakan Ni’mah (kenikmatan) dalam rupa Niqmah (Musibah atau hukuman).
Dan, apabila Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menurunkan kepadamu sebuah Ni’mah (kenikmatan), namun hal itu justru menjauhakan dirimu dari Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, maka -waspadalah- bahwa hal itu merupakan Niqmah (musibah atau hukuman) dalam rupa Ni’mah (kenikmatan).”
[Abdul Aziz bin Marzuq ath-Tarifiy, ‘Baina Niqmah wa Ni’mah’]



