Pujian kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى , bersambung dengan kecintaan dan pengagungan terhadap-Nya.
Kata Ibnul Qayyim رَحِمَهُ اللهُ , ketika mengomentari firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى,
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Segala puji hanya bagi Allah Rabb semesta alam.” (al-Fatihah : 2)
“الْحَمْدُ adalah pujian yang bersambung dengan rasa kecintaan yang sempurna dan pengagungan yang sempurna (kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى ).
Hal ini sangat selaras sekali bagi sifat yang datang setelah ungkapan ini ( الْحَمْدُ لِلَّهِ, segala puji hanya bagi Allah), yaitu firman-Nya : رَبِّ الْعَالَمِينَ (Rabb semesta alam). Di mana, ungkapan ini bermakna bahwa Dia-lah pendidik mereka (makhluk seluruhnya di alam semesta), Dia-lah Penguasa mereka, dan Dia-lah pula Dzat yang mengatur seluruh urusan mereka semuanya.
Maka, bila mana Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى Dia-lah Dzat yang mendidik hamba, maka wajib atas hamba untuk mencintai-Nya.
Dan, bila mana Dia-lah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى Dzat yang Maha Mampu untuk melakukan hal itu, maka wajib atas hamba untuk mengagungkan-Nya.”
(Ibnul Qayyim, Bada-i’ al-Fawaa-id, 3/132. Dengan gubahan)




