Umar bin Abdul Aziz rahimahullah pernah berkhotbah pada manusia di sebuah kampung bernama Khunashirah, Syiria,

“Hai manusia, sesungguhnya kalian tidak diciptakan dalam keadaan sia-sia dan tidak ditinggalkan begitu saja tanpa guna.

Kalian memiliki tempat kembali, yaitu akhirat. Di sana, Allah menerapkan dan memutuskan perkara di antara kalian dengan penuh keadilan.

Karenanya, alangkah rugi dan menderitanya orang yang keluar dari rahmat Allah yang menyelimuti segala sesuatu, dan alangkah meruginya orang yang diharamkan masuk Surga yang luasnya seluas langit dan bumi.

Tidakkah kalian lihat bahwa kalian sedang berada dalam puing-puing peninggalan orang-orang yang telah mati. Selanjutnya pun, akan diwarisi oleh orang-orang setelah kalian. Sampai akhirnya akan jatuh ke tangan sebaik-baik orang yang mewarisi.

Setiap hari, kalian melayat orang yang pergi menghadap Allah, orang-orang yang pergi karena memang telah sampai pada ajalnya, lalu kalian mengasingkannya dalam lubang tanah tanpa bantal dan tanpa alas kasur.

Ia berpisah dengan para kekasihnya, meninggalkan warisan, dan berhadapan dengan perhitungan dan menghuni tanah.

Ia bergantung pada amalnya, tidak memerlukan harta yang ia tinggalkan, dan hanya membutuhkan amal yang telah ia ajukan.”

(Abdullah bin Abdul Hakam, al-Khalifatul-‘Adil : Umar bin Abdul Aziz, hal. 60)