Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَهِيَ تَجْرِي بِهِمْ فِي مَوْجٍ كَالْجِبَالِ وَنَادَى نُوحٌ ابْنَهُ وَكَانَ فِي مَعْزِلٍ يَا بُنَيَّ ارْكَبْ مَعَنَا وَلَا تَكُنْ مَعَ الْكَافِرِينَ

‘Dan kapal itu berlayar membawa mereka ke dalam gelombang laksana gunung-gunung.

Dan Nuh memanggil anaknya, ketika dia (anak itu) berada di tempat yang jauh terpencil,

“Wahai anakku ! Naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah engkau bersama orang-orang kafir.”

(Qs. Huud : 42)

 

“Seorang ayah yang beriman perhatiannya akan hidayah untuk anaknya lebih banyak daripada segala bentuk kemaslahatan (dunia) bagi diri dan anaknya.

Maka, Nabi Nuh عَلَيْهِ السَّلَامُ merasa takut anaknya akan mati di atas kekufuran lebih besar dan lebih banyak daripada rasa takutnya bahwa anaknya akan mati karena tenggelam.

Dan, adanya seorang anak yang enggan untuk taat terhadap orang tua yang taat, tidak berarti bahwa hal itu muncul karena kurangnya sang orang tua dalam mengajak anaknya untuk melakukan kebaikan, dan tidak pula berarti karena tidak adanya upaya yang sungguh-sungguh dari orang tua untuk menunjukkan anaknya kepada kebaikan. “

(TafsirCenter, Hidaayaat al-Qur’an al-Karim, IG)