Imam al-Baihaqi meriwayatkan dari Syuraih رَحِمَهُ اللهُ bahwa ia berkata, “Sesungguhnya, ketika tertimpa suatu musibah aku akan memuji Allah atas musibah yang menimpaku tersebut sebanyak empat kali.
(Pertama) Aku memujiNya bila mana musibah yang menimpaku tersebut tidaklah lebih besar dari musibah yang aku anggap jauh lebih besar dari itu.
(Kedua) Aku memujiNya ketika Dia mengaruniakan kepadaku kesabaran dalam menghadapinya
(Ketiga) Aku memujiNya ketika Dia memberikan taufik kepadaku untuk beristirja’ (mengucapkan, ‘إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ ‘ (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali), untuk mengharapkan pahala dariNya.
(Keempat) Aku memujiNya ketika Dia tidak menjadikan musibah yang menimpaku tersebut dalam perkara agamaku.”
(Abdurrahman bin al-Kamal Jalaluddin as-Suyuthi, “ad-Durru al-Mantsur”, 1/162)



