Setelah menjelaskan empat tanda-tanda kekuasaan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, yakni, unta, langit, gunung dan bumi, Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى mengatakan kepada NabiNya صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :

فَذَكِّرْ

“Maka berilah peringatan” (al-Ghasyiyah : 21)

Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى memerintahkan Nabi-Nya agar memberikan peringatan dan tidak mengkhususkan peringatan itu untuk seorang saja, yakni, Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى tidak menyuruh : ‘berilah peringatan kepada si Fulan dan si Fulan !’. Peringatan ini bersifat umum. Karena Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ diutus kepada seluruh umat manusia. [*] Berilah peringatn kepada siapa saja, dimana dan kapan saja !.

Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ telah memberi peringatan, demikian pula para Khulafaur Rasyidin sepeninggal beliau yang meneruskan tugas beliau di tengah umat dalam menyebarkan ilmu, amal shaleh dan dakwah.

Namun, apakah peringatan ini berguna bagi setiap manusia ?

Jawabannya : tidak selalu !

Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى telah menegaskan :

فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ

“Karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (adz-Dzariyat : 55)

Adapun selain orang-orang yang beriman, peringatan hanyalah berfungsi menegakkan hujjah kepada mereka, sama sekali tidak memberikan manfaat bagi mereka. Tidak ada yang mendapat manfaat dari peringatan kecuali orang-orang yang beriman. Maka dari itu kita katakan : ‘Jika hatimu tidak mendapat manfaat dari peringatan yang diberikan maka curigailah dirimu ! Karena Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى telah mengatakan :

وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (adz-Dzariyat : 55)

Jika kita diberi peringatan sementara hati kita tidak tersentuh dan tidak mendapat manfaat dari peringatan tersebut, maka kita harus mencurigai diri kita sendiri. Kita harus menyadari bahwa diri kita dilanda krisis keimanan. Kalaulah iman kita sempurna tentu peringatan akan bermanfaat. Karena peringatan pasti bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.

Kemudian, Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman :

إِنَّمَا أَنْتَ مُذَكِّرٌ

Karena sesungguhnya engkau (Muhammad) adalah orang yang memberi peringatan.”

Yakni, Muhammad صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ hanyalah pemberi peringatan dan muballigh (yang menyampaikan), adapun hidayah mutlak di tangan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman :

لَيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ

“Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya.” (al-Baqarah : 272)

Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ telah memberikan peringatan sampai akhir hayat beliau. Hingga sebelum menghembuskan nafas terakhir beliau masih sempat berkata :

اَلصَّلَاةَ اَلصَّلَاةَ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ

“Jagalah shalat, jagalah shalat dan jagalah budak-budak yang kalian miliki!” [1]

Beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menghadapi saat-saat sekarat sambil menyampaikan pesan tersebut. Beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ telah memberi peringatan sejak awal diangkat menjadi Rasul saat dikatakan kepada beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :

قُمْ فَأَنْذِرْ

“Bangunlah, lalu berilah peringatan!” (al-Mudatsir : 2)

Sampai Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى mewafatkan beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ senantiasa bersemangat memberikan peringatan pada setiap kesempatan dan waktu yang ada meski beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menerima perlakuan buruk dari kaumnya dan dari kaum lain. Siapa yang pernah membaca sejarah sirah nabawiyah tentu mengetahui perlakuan yang beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ terima dari penduduk Makkah, kaum yang paling dekat hubungannya dengan beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Mereka mengenal beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dan bahkan sempat menggelari beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ sebagai al-Amin (yang terpercaya). Mereka mempercayai beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ hingga mereka bersedia mengangkat beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ sebagai hakim dalam peletakan batu Hajar Aswad di Ka’bah. Ketika mereka merenovasi Ka’bah dan hendak mengembalikan Hajar Aswad ke tempatnya semula, mereka berkata : “Siapakah yang meletakkannya ?” Terjadilah pertengkaran di antara mereka. Masing-masing kabilah mengatakan : “Kamilah yang hendak meletakkannya ke tempatnya semula!” Lalu datanglah Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dan memutuskan pertengkaran di antara mereka. Beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ suruh mereka meletakkan Hajar Aswad pada sehelai kain, lalu masing-masing kabilah memegang ujung kain, kemudian mengangkatnya. Setelah sampai di tempatnya beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengambilnya dengan tangan beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ yang mulia lalu meletakkannya di tempatnya. [2]

Mereka menggelari beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ “al-Amin”, namun ketika Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى memuliakan dengan kenabian, gelar itu berubah menjadi cercaan. Mereka mengatai beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ tukang sihir, tukang tenung, penyair, orang gila, tukang dusta dan menghujani beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dengan berbagai macam cercaan. Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ tetap memberikan peringatan, karena tidak ada kuasa beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ selain memberi peringatan. Dari situ kita ketahui bahwa hidayah berada di tangan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Kita tidak bisa memberi hidayah kepada orang yang paling dekat dengan kita sekalipun ! Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman :

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya.” (al-Qashash : 56)

Janganlah terkejut bila kita memberi peringatan kepada seseorang, kita lihat ia menentang atau membantah atau mengatakan : “Ah, semau saya saja!” atau kalimat-kalimat sejenisnya. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى  telah berfirman kepada Nabi-Nya صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :

لَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَفْسَكَ أَلَّا يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ

“Boleh jadi kamu (Muhammad) akan membinasakan dirimu, karena mereka tidak beriman.” (asy-Syu’ara : 3)

Yakni, janganlah engkau membinasakan dirimu karena mereka tidak mau beriman. Keimanan mereka adalah untuk mereka dan kekufuran mereka bukanlah tanggung jawabmu! Oleh karena itu Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى mengatakan di sini :

لَسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُصَيْطِرٍ

Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka.” (al-Ghasyiyah : 22)

Yakni, engkau tidak memiliki kuasa atau kendali apapun atas mereka. Kekuasaan hanyalah milik Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى Rabb Semesta Alam. Kewajibanmu hanyalah memberi peringatan, maka berilah peringatan itu ! Sedangkan kuasa dan kendali ada di tangan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى !

Kemudian, Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى mengatakan :

إِلَّا مَنْ تَوَلَّى وَكَفَرَ (23) فَيُعَذِّبُهُ اللَّهُ الْعَذَابَ الْأَكْبَرَ (24)

Tetapi orang yang berpaling dan kafir, maka Allah akan mengazabnya dengan azab yang lebih besar.” (al-Ghasyiyah : 23-24)

Para ulama رَحِمَهُمُ اللهُ mengatakan : Kata “ إِلَّا “ (kecuali) di sini bermakna لَكِنْ  (tetapi) maksud istitsna (pengecualian) di sini adalah istitsna munqati’ bukan istitsna muttasil. Perbedaan antara keduanya : Pada istitsna muttasil perkara yang dikecualikan berasal dari jenis perkara yang dikecualikan darinya. Sedangkan pada istitsna munqati’ tidak berasal dari jenis yang dikecualikan darinya. Misalnya, jika kita katakan istitsna dalam ayat di atas adalah muttasil maka makna ayat ini menjadi : (“Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka kecuali orang yang berpaling dan kafir; maka kamu memiliki kuasa atas mereka”) padahal bukan itu maknanya, namun maknanya : (“tetapi orang yang berbaling dan kafir setelah engkau beri peringatan, maka Allah akan mengazabnya dengan azab yang lebih besar.”)

Barangsiapa berpaling dan kafir setelah disampaikan kepadanya wahyu yang turun atas Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ maka ia pasti akan terkena azab.

Firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى :

إِلَّا مَنْ تَوَلَّى وَكَفَرَ

tetapi orang yang berpaling dan kafir (al-Ghasyiyah : 23)

At-Tawalli artinya berpaling, yakni tidak mau melihat dan menerima kebenaran, bahkan tidak mau mendengarnya. Kalau pun ia mendengar dengan telinganya namun hatinya tidak mendengarnya. Sebagaimana yang Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى sebutkan dalam ayat :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَوَلَّوْا عَنْهُ وَأَنْتُمْ تَسْمَعُونَ (20) وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ قَالُوا سَمِعْنَا وَهُمْ لَا يَسْمَعُونَ (21)

“Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling daripada-Nya, sedang kamu mendengar (perintah-perintah-Nya), dan janganlah kamu menjadi sebagai orang-orang (munafiq) yang berkata : “Kami mendengarkan, padahal mereka tidak mendengarkan.” (al-Anfal : 20-21)

Yakni, mereka tidak mau tunduk kepada-Nya.

Dalam ayat ini Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى mengatakan :

إِلَّا مَنْ تَوَلَّى وَكَفَرَ

tetapi orang yang berpaling dan kafir (al-Ghasyiyah : 23)

Tawalli artinya berpaling, yakni tidak mau melihat dan menerima kebenaran bahkan tidak mau mendengarnya. Kalaupun ia mendengar dengan telinganya namun hatinya tidak mendengarnya. Sebagaimana yang Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى sebutkan dalam ayat :

(21) يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَوَلَّوْا عَنْهُ وَأَنْتُمْ تَسْمَعُونَ (20) وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ قَالُوا سَمِعْنَا وَهُمْ لَا يَسْمَعُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan RasulNya, dan janganlah kamu berpaling daripada-Nya, sedang kamu mendengar (perintah-perintah-Nya), dan janganlah kamu menjadi sebagai orang-orang (munafik) yang berkata : “Kami mendengarkan, padahal mereka tidak mendengarkan.” (al-Anfal : 20-21)

Yakni mereka tidak mau tunduk kepada-Nya. Dalam ayat ini Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى mengatakan :

إِلَّا مَنْ تَوَلَّى وَكَفَرَ

tetapi orang yang berpaling dan kafir

Tawalla artinya berpaling dan kafara artinya menyombongkan diri serta tidak mau menerima ajaran yang dibawa oleh Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , maka sebagai balasannya :

فَيُعَذِّبُهُ اللَّهُ الْعَذَابَ الْأَكْبَرَ

maka Allah akan mengazabnya dengan azab yang lebih besar.”

Azab yang besar pada Hari Kiamat.

Dalam ayat ini Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى tidak menyebutkan azab yang menjadi perbandingannya. Yakni Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى tidak menyebutkan : “azab yang lebih besar daripada ini dan ini !” karena azab yang diancamkan ini telah mencapai puncak kebesaran, kesulitan dan kehinaan. Siapa saja yang berpaling dan menjadi kafir, pasti Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى akan mengazabnya dengan siksa yang sangat dahsyat. Di dunia pun ada azab yang kecil. Orang yang berpaling dari ajaran Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى kadang kala tertimpa penyakit di tubuh atau akalnya, tertimpa kemalangan pada keluarga, harta atau masyarakatnya. Semua itu bila dibandingkan dengan azab api Neraka adalah azab yang kecil. Azab yang dahsyat itu hanya diberikan pada Hari Kiamat nanti.

Maka Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى mengatakan setelah itu :

إِنَّ إِلَيْنَا إِيَابَهُمْ

Sesungguhnya kepada Kami-lah kembali mereka (al-Ghasyiyah : 25)

Yakni, tempat kembali mereka. Tempat kembali adalah kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, walau kemanapun hamba itu melarikan diri namun tempat kembalinya adalah kepada Rabbnya سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Walau bagaimana pun panjang usianya namun tempat kembalinya hanyalah kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى . Oleh sebab itu Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى mengatakan :

يَا أَيُّهَا الْإِنْسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَى رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَاقِيهِ

“Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja sungguh-sungguh menuju Rabb-mu, maka pasti kamu akan menemui-Nya.” (al-Insyiqaq : 6)

Bersiap-siaplah wahai saudaraku untuk menghadapi hari pertemuan, karena engkau pasti bertemu dengan Rabb-mu. Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ telah bersabda :

مَا مِنْكُمْ أَحَدٌ إِلَّا سَيُكَلِّمُهُ رَبُّهُ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ تُرْجُمَانٌ فَيَنْظُرُ أَيْمَنَ مِنْهُ فَلَا يَرَى إِلَّا مَا قَدَّمَ مِنْ عَمَلِهِ وَيَنْظُرُ أَشْأَمَ مِنْهُ فَلَا يَرَى إِلَّا مَا قَدَّمَ وَيَنْظُرُ بَيْنَ يَدَيْهِ فَلَا يَرَى إِلَّا النَّارَ تِلْقَاءَ وَجْهِهِ فَاتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ

“Setiap orang pasti akan ditanya oleh Allah tanpa ada penerjemah antara dia dengan Allah (yakni, langsung tanpa ada penerjemah, Allah akan menanyainya pada Hari Kiamat). Ia melihat ke kanan, namun ia tidak melihat kecuali apa yang telah ia lakukan, ia melihat ke kiri dan ia pun tidak melihat kecuali apa yang telah ia lakukan. Lalu ia melihat ke depan dan ia tidak melihat kecuali Naar (Neraka) di hadapannya. Peliharalah diri dari api Neraka walau pun dengan sebiji kurma.” [3]

Seluruh hamba akan dihadapkan kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى pada Hari Kiamat lalu ia mengakui dosanya, Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى mengatakan :

“Pada hari ini engkau telah melakukan dosa ini !” Dan hamba itu akan mengiyakan dan mengakuinya. Dan apabila ia telah mengiyakan dan mengakuinya Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berkata kepadanya :

إِنِّي سَتَرْتُ عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ

“Aku telah menutupinya atasmu di dunia dan Aku mengampunimu pada hari ini.” [HR. al-Bukhari]

Berapa banyak dosa yang Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى tutupi, berapa banyak dosa yang telah kita lakukan tak ada seorang pun yang mengetahuinya, namun Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى mengetahuinya. Sikap kita terhadap dosa-dosa tersebut adalah meminta ampunan kepada Allah عَزَّ وَجَلَّ serta memperbanyak amal shaleh yang dapat menghapus kesalahan hingga kita menemui Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dalam keadaan diridhai-Nya.

Kemudian Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman :

ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا حِسَابَهُمْ

Kemudian sesunguhnya kewajiban Kami-lah menghisab mereka (al-Ghasyiyah : 26)

Yakni, Kami akan menghisabnya. Para ulama رَحِمَهُمُ اللهُ mengatakan : “bentuk atau wujud hisab bukanlah pemeriksaan yang sesungguhnya kepada manusia. Sebab, siapa saja yang dihisab (dengan hisab yang sesungguhnya, bukan sekedar diperlihatkan dosa-dosanya-pent) pasti akan disiksa.” Sekiranya Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menghisab kita atas segala perbuatan kita, kita pasti disiksa. Sekiranya Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menghisab salah satu nikmat yang diberikan kepadamu, seperti nikmat penglihatan, maka tidak mungkin engkau mengerjakan amalan apa pun untuk dapat menebus nikmat penglihatan tersebut. Nikmat yang lain adalah nikmat bernafas, nafas yang keluar masuk dengan mudah tanpa ada kesulitan, manusia dapat berbicara, tidur, makan dan minum, namun demikian ia tidak merasakan keluar masuknya nafas. Ia tidak mengetahui besarnya nikmat nafas kecuali bila ia ditimpa penyakit yang menghalanginya bernafas. Saat itulah ia ingat betapa besar nikmat Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى tersebut. Akan tetapi, bilamana sehat, ia mengatakan, “bernafas adalah perkara alami.” Sekiranya ia ditimpa penyakit sesak nafas, barulah ia tahu betapa besar nikmat bernafas itu. Sekiranya ia dihisab, niscaya ia akan tersiksa seperti yang Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ katakan kepada ‘Aisyah رَضِيَ اللهُ عَنْهَا :

مَنْ نُوْقِشَ الْحِسَابَ هَلَكَ

“Barangsiapa dihisab dengan munaqasah [**] pasti akan binasa.” [4]

Dalam riwayat lain disebutkan : عُذِّبَ “pasti akan diazab.” [5]

Akan tetapi, bagaimana Kaifiyat atau bentuk hisab ?

Adapun hisab orang-orang yang beriman, Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى akan menghadapkannya seorang diri tanpa ada orang lain yang menyertainya, lalu Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menjelaskan kepadanya dosa-dosa yang telah dilakukannya : “Engkau telah melakukan dosa ini dan itu” dan apabila ia mengiyakan dan mengakuinya Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى akan berkata kepadanya : “Aku telah menutupi segala dosa-dosamu di dunia dan Aku mengampunimu pada hari ini.”

Adapun hisab orang-orang kafir, mereka tidak dihisab dengan cara seperti itu, karena mereka tidak memiliki yang dapat menghapuskan keburukan mereka. Akan tetapi akan dihitung seluruh amal perbuatan mereka dan ia mengakuinya di hadapan seluruh makhluk dan merekapun turut menghitungnya. Lalu diserukan di hadapan seluruh makhluk :

هَؤُلَاءِ الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى رَبِّهِمْ أَلَا لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ

“Orang-orang inilah yang telah berdusta terhadap Rabb mereka.” Ingatlah, laknat Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zhalim.” (Huud : 18)

Kita berlindung kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dari kehinaan dan tidak adanya pertolongan.[6]

Faidah :

Di antara faidah yang dapat dipetik dari beberapa ayat di atas adalah sebagai berikut :

1-Penjelasan bahwasanya seorang da’i (penyuru) ke (jalan) Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى kepentingannya adalah menyampaikan, mengajak dan menyeru (manusia kepada petunjuk dan jalan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى) bukan berkewajiban memberikan hidayah pada hati (orang yang didakwahinya), karena hidayah (taufiq) itu kewenangan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى semata.

2-Penjelasan bahwa tempat kembali manusia adalah kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, dan hal tersebut berkonsekwensi seseorang mengimani-Nya dan mentaati-Nya, dalam rangka mencari keselamatan dari azab-Nya dan mencari kesuksesan dengan meraih rahmat-Nya, dan hal tersebut tentunya merupakan sesuatu yang dicari-cari oleh setiap orang yang berakal, andai manusia mau berfikir. [7]

3-Bahwa Nabi kita Muhammad صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (dan orang-orang yang mengikuti jejaknya) tidaklah dibebani untuk memaksa manusia untuk mengingat dan beriman, karena Allah-lah yang akan menghisab mereka ketika mereka kembali kepada-Nya di negeri keabadian.[8]

4-Termasuk hal yang jelas bahwa kedatangan firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى :

إِنَّ إِلَيْنَا إِيَابَهُمْ (25) ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا حِسَابَهُمْ (26)

“Sungguh, kepada Kamilah mereka kembali, kemudian sesungguhnya (kewajiban) Kamilah membuat perhitungan atas mereka.” (al-Ghasyiyah : 25-26)

Setelah firman-Nya سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى :

فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنْتَ مُذَكِّرٌ (21) لَسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُصَيْطِرٍ (22) إِلَّا مَنْ تَوَلَّى وَكَفَرَ (23) فَيُعَذِّبُهُ اللَّهُ الْعَذَابَ الْأَكْبَرَ (24)

“Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya engkau (Muhammad) hanyalah pemberi peringatan. Engkau bukanlah orang yang berkuasa atas mereka,

Tetapi orang yang berpaling dan kafir, maka Allah akan mengazabnya dengan azab yang lebih besar.” (al-Ghasyiyah : 21-24)

adalah sebagai bentuk hiburan bagi Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dan untuk menakut-nakuti mereka, orang-orang yang berpaling dan mengingkari (seruannya). Kemudian, bahwa sesungguhnya penghisaban kelak pada hari akhir tidaklah khusus berlaku terhadap mereka ini, tetapi hal tersebut berlaku umum terhadap semua makhluk. [9]

Wallahu A’lam

(Redaksi)

Catatan :

[*] Sebagaimana firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى :

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan kepada semua umat manusia sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Saba’ : 28)

[1] HR. Ahmad dalam Musnadnya (3/117) dan Ibnu Majah dalam Sunannya dalam kitab al-Washaya Bab : Apakah Rasulullah meninggalkan wasiat ? (2698)

[2] Silakan lihat kisahnya dalam kitab al-Bidayah wan Nihayah, karangan Ibnu Katsir, 3/479.

[3] HR. al-Bukhari dalam kitab az-Zakat Bab Bersedekah sebelum ditolak (1413) dan Muslim dalam kitab az-Zakat Bab Anjuran bersedekah meski dengan sebiji kurma (1016) (61).

[**]Munaqasah adalah bentuk hisab yang sesungguhnya.

[4] HR. al-Bukhari dalam kitab at-Tafsir Bab firman Allah : فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا  “Niscaya Kami akan menghisabnya dengan hisab yang mudah” (4939) dan Muslim dalam kitab Al-Jannah wa Na’imuha Bab Penetapan adanya hisab (2876)(80)

[5] HR. Muslim dalam kitab al-Jannah wa Na’imuha Bab Penetapan adanya hisab (2786)(79)

[6] Tafsir Juz Amma, Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin, hal. 181-185.

[7] Aisir at-Tafasir Li Kalami al-‘Aliy al-Kabir, Jabir bin Musa al-Jaza-iriy, 5/563.

[8] Lihat : at-Tahrir Wa at-Tanwir, Ibnu Asyur, 30/273. Dengan penyesuaian.

[9] Adh-Waa-u al-Bayan Fii Iidhaa-hi al-Qur’an bi al-Qur’an, Muhammad al-Amin asy-Syinqithi, 8/520.