Allah سُبْحَانَهُ وَتَعالَىَ berfirman:

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Kitab (al-Qur’an) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran.” (Shaad : 29)

Syumaith رَحِمَهُ اللهُ berkata,

“Sesungguhnya orang mukmin menjadikan kitab Allah عَزَّوَجَلَّ sebagai cermin.

Sesekali dia melihat apa-apa yang Allah عَزَّوَجَلَّ sifatkan kepada orang-orang mukmin.

Sesekali dia melihat apa-apa yang Allah عَزَّوَجَلَّ sifatkan terhadap orang-orang yang tertipu.

Sesekali dia melihat Surga dan apa yang dijanjikan Allah عَزَّوَجَلَّ di dalamnya.

Dan sesekali dia melihat Neraka dan apa yang disiapkan Allah عَزَّوَجَلَّ di dalamnya.

Dia membaca kitab Allah عَزَّوَجَلَّ dengan sedih karena rasa rindu terhadap sesuatu yang dijadikan Allah عَزَّوَجَلَّ untuk dirindukannya.

Dan dia lari dari sesuatu yang dijadikan Allah عَزَّوَجَلَّ untuk ditakutinya, laksana anak panah yang dilesatkan.”

(Ibnul Jauzi, Shifatu ash-Safwah, 3/344)