[Khutbah Pertama :]

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونتوب إليه ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا ، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له ، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه وأتباعه إلى يوم الدّين وسلم تسليما ًكثيرا .

: أما بعد

أيها المؤمنون عباد الله

Khatib wasiatkan kepada diri khatib pribadi dan Anda sekalian, hendaklah kita bertakwa kepada Allah azza wa jalla, karena sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa kepada Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-.

Ibadallah !

Takwa  merupakan wasiat Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-terhadap orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang kemudian. Takwa merupakan sebab keberuntungan dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Takwa kepada Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-adalah seorang hamba melakukan ketaatan kepada Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى- di atas cayaha (petunjuk) dari Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-, ia mengharapkan pahala dari Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-, meninggalkan tindak kemaksiatan kepada Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى- di atas cahaya (petunjuk) dari Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-, ia takut akan azab dan siksa Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-.

Ibadallah !

Telah berlalu dari kita semuanya musim nan mulia dari musim-musim ketaatan, hari-hari nan agung dari hari-hari ibadah, yaitu musim Ramadhan yang penuh berkah,  hari-harinya yang mulia dan malam-malamnya yang utama.

Di bulan Ramadhan, orang-orang yang beriman sedemikian bersemangat untuk beribadah kepada Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى- dan sedemikian bersungguh-sungguh dalam melakukan ketaatan kepada Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-,  mereka saling  berlomba dalam memasuki pintu-pintu kebaikan dan melakukan amal-amal shaleh. Dan, seorang mukmin itu tentunya akan bergembira dengan kegembiraan yang sangat besar dengan bertambahnya ketaatan dan berlombanya manusia dalam ibadah dan apa yang mereka lakukan berupa memasuki pintu-pintu kebaikan di bulan yang agung tersebut.

Ibadallah !

Akan tetapi seorang muslim wajib mewaspadai bahwa ibadah kepada Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى- dan berlomba melakukan ketaatan serta bersungguh-sungguh dalam melakukan hal-hal yang diridhai Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى- tidaklah berhenti pada suatu bulan atau hari-hari tertentu. Karena itu, meskipun bulan Ramadhan yang penuh berkah telah usai, sesungguhnya ibadah seseorang tidaklah usai. Meskipun hari-harinya yang penuh berkah dan malam-malamnya yang utama telah usai, sesungguhnya amal-amal kebaikan tidak akan selesai. Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-berfirman di dalam kitab-Nya yang agung,

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ [الحجر : 99]

Dan sembahlah Tuhanmu sampai perkara yang diyakini datang kepadamu (al-Hijr : 99).

Perkara yang diyakini itu adalah al-Maut (kematian). Maka, seorang muslim diminta untuk melanggengkan ketaatannya kepada Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-, terus melanjutkan ibadahnya kepada Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى- hingga Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-mematikan dirinya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ  [آل عمران : 102]

Wahai orang-orang yang beriman ! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim (Ali Imran : 102)

Yakni, kerahkanlah segenap kesungguhan kalian dalam beribadah kepada Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى- dan saling berlombalah kalian dalam melakukan hal-hal yang diridhai-Nya hingga kalian mati di atas hal tersebut.

Dan termasuk hal yang telah dimaklumi oleh setiap orang bahwa dirinya tidak tahu kapankah akhir hidupnya dan kapankah datang ajalnya. Oleh karena itu, sesungguhnya seorang muslim itu diminta untuk mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian pada setiap waktu dan kesempatan. Sehingga, ia selalu saja menjaga keadaannya di atas ketaatan kepada Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-, bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-, melaksanakan apa-apa yang Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-perintahkan sesuai dengan kesanggupannya, menjauhkan diri dari apa-apa yang Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-larang dan apa-apa yang diharamkan-Nya berupa perbuatan-perbuatan yang diharamkan, kefasikan, kemaksiatan dan dosa-dosa.

Ibadallah !

Sungguh ada banyak orang sedemikian bersungguh-sungguh dan bersemangat dalam beribadah di bulan Ramadhan, namun kala Ramadhan usai, usai pula ibadah mereka, atau mereka bermalas-malasan untuk beribadah dan dalam beribadah, atau mengendor semangatnya untuk menjalankan ibadahnya, atau banyak pintu-pintu kebaikan yang disepelekannya, seakan-akan ibadah itu hanya diminta dari seorang insan di bulan Ramadhan saja. Dulu, seorang salaf ditanya tentang keadaan mereka orang-orang yang tidak bersemangat dan tidak pula bersungguh-sungguh di dalam beribadah kecuali pada bulan Ramadhan saja. Maka, ia pun menjawab,

“بِئْسَ الْقَوْمِ لَا يَعْرِفُوْنَ اللهَ إِلَّا فِي رَمَضَانَ “

Sejelek-jelek kaum adalah mereka yang tidak mengenal Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-kecuali pada bulan Ramadhan.

Ibadallah !

Sesungguhnya Tuhan bulan-bulan itu satu. Sesungguhnya Tuhan bulan Ramadhan adalah Tuhan bulan Syawal, dan Dia-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-adalah Tuhan bulan-bulan itu semuanya. Sebagaimana halnya seseorang hendaknya menjaga ketaatan dan ibadah kepada-Nya pada bulan Ramadhan, maka wajib atas setiap muslim untuk menjaga ketaatan kepada Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى- dan bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada-Nya di setiap waktu dan kesempatan ; di semua bulan seluruhnya dan di sepanjang tahun semuanya sampai Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-mematikannya sementara ia dalam keadaan yang diridhai-Nya dan dalam perjalanan hidup yang diridhai-Nya pula. Inilah makna firman Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-di dalam al-Qur’an al-Karim,

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا [فصلت : 30]

Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (Fushshilat : 30)

Yakni, mereka meneguhkan pendirian mereka di atas ketaatan kepada Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى- dan mereka kontinyu beribadah kepada-Nya, mereka melewati dan memasuki pintu-pintu kebaikan sampai Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى- mematikan mereka. Maka, merekalah orang-orang yang memperoleh keuntungan dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Oleh karena itu, Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-menyebutkan keuntungan yang sangat besar dan ghanimah yang sangat banyak di dunia dan di akhirat bagi siapa saja yang keadaannya demikian ini dan siapa saja yang akhir kehidupannya dalam keadaan demikian itu.

Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ [الأحقاف : 13]

Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah,” kemudian mereka tetap istiqamah, tidak ada rasa khawatir pada mereka dan mereka tidak (pula) bersedih hati (al-Ahqaf : 13)

Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-juga berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ (30) نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ (31) نُزُلًا مِنْ غَفُورٍ رَحِيمٍ (32) [فصلت : 30 – 32]

Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah,” kemudian tetap (dalam pendiriannya), akan turun malaikat-malaikat kepada mereka (seraya berkata), “Janganlah kamu takut dan bersedih hati serta bergembiralah dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.”

Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat. Di dalamnya (surga) kamu akan memperoleh apa yang kamu sukai dan apa yang kamu minta.

(Semua itu) sebagai karunia (penghormatan bagimu) dari (Allah) Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Fushshilat : 30-32)

Kesemuanya itu-wahai hamba-hamba Allah !- hanyalah bagi orang-orang yang beriman kepada Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى- dan istiqamah di atas ketaatan kepada Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى- sampai Allah -سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى- mematikannya, dan ketika wafat, sebagaimana Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-kabarkan akan turun malaikat-malaikat (kepadanya) ; para malaikat rahmat yang membawa kabar gembira yang paling agung dan ucapan selamat yang paling agung, dan diberkahi dengan kebaikan, para malaikat itu akan turun kepada orang yang  seperti ini keadaannya pada saat wafatnya memberikan kabar gembira kepadanya berupa akhir kehidupan yang bahagia dan keadaan yang terbimbing yang akan dijumpainya setelah wafatnya,

تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا

akan turun malaikat-malaikat kepada mereka (seraya berkata), “Janganlah kamu takut dan bersedih hati

Janganlah kamu takut terhadap apa-apa yang akan kamu datangi, karena sesungguhnya kamu datang di atas sebuah keadaan yang nyaman dan pahala yang besar serta keridhaan dari Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-. Dan, jangan pula bersedih hati atas apa-apa yang kamu berpisah dengannya berupa keluarga dan anak-anak, karena mereka dalam penjagaan Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى- dan pemeliharaan-Nya serta bimbingan dan taufiq-Nya.

Demikian pula mereka diberi kabar gembira ketika kematiannya,

أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ

“Janganlah kamu takut dan bersedih hati serta bergembiralah dengan (memperoleh) surga.”

Yakni, demi Allah, akan dikatakan kepada mereka saat wafat mereka, ‘bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga’. Yakni, bergembiralah kalian dengan (memperoleh) Surga Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى- yang kalian telah bersungguh-sungguh untuk mendapatkannya dalam kehidupan kalian (di dunia) dan kalian telah mengerahkan segenap upaya untuk memperolehnya sepanjag hari-hari kalian, dan kalian telah beristiqamah di atas ketaatan kepada Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-.” Oleh karena ini, saat kematian mereka, mereka diberi kabar gembira.

Karena itu banyak kalangan orang yang taat dan bersungguh-sungguh di dalam beristiqamah dan menjaga ketaatan kepada Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى- tersenyum saat kematian mereka dan nampak kegembiraan, kesenangan, dan kebahagiaan pada wajah mereka. Hal tersebut nampak pada mereka saat kematian. Ini merupakan hasil yang pasti karena berita gembira nan agung dan penghormantan yang mulia yang diberikan kepada mereka saat kematian mereka.

Khatib memohon kepada Allah-جَلَّ وَعَلَا-dengan nama-nama-Nya yang paling indah dan sifat-sifat-Nya yang tinggi agar menuliskan untuk-ku dan untuk Anda sekalian akhir kehidupan yang mulia itu dan tempat kembali yang terbimbing itu dengan karunia Allah-جَلَّ وَعَلَا-, taufiq-Nya, pertolongan-Nya.

Ibadallah !

Sebagaimana halnya bahwa bulan Ramadhan adalah bulan puasa. Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-wajibkan ketaatan yang agung dan kewajiban yang mulia tersebut pada bulan tersebut sebulan lamanya, maka sesungguhnya puasa itu tidak berhenti dengan usainya bulan Ramadhan.

Ibadallah !

Betul, bahwa puasa yang diwajibkan tidak ada kecuali pada bulan Ramadhan, akan tetapi meskipun puasa di bulan Ramadhan telah usai, masih saja tersisa bersama seorang muslim puasa nafilah (puasa sunah), dan di antara puasa sunnah yang paling agung adalah puasa 6 hari di bulan Syawwal. Dan, bulan syawwal itu, saat ini masih menyisakan sejumlah hari-harinya, yang mana jika di antara kita ada yang belum melakukan puasa 6 hari dari bulan syawal nan utama ini, lalu ia memulai puasanya besok hari, atau lusa, niscaya masih mencukupinya waktu-waktunya. Maka, bergegaslah melakukan puasa nan utama ini, agar Anda tak ketinggalan untuk meraih keutamannya.

Ibadallah !

Sungguh, puasa 6 hari pada bulan syawwal ini, setelah seseorang menyelesaikan puasa Ramadhanya merupakan amal shaleh nan utama, merupakan amal ketaatan seorang hamba kepada Allah azza wa jalla yang sangat utama.

Disebutkan di dalam hadis yang diriwayatkan oleh imam Muslim di dalam shahihnya dari Abu Ayub al-Anshariy bahwa Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – bersabda,

(( مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ)).

Barang siapa berpuasa Ramadhan, kemudian mengikutinya dengan (puasa) enam hari pada bulan Syawal hal itu seperti puasa setahun.

Ibadallah !

Sesungguhnya puasa 6 hari pada bulan Syawal terdapat beberapa faedah yang agung dan keuntungan yang besar serta manfaat yang banyak, di antaranya-wahai hamba-hamba Allah !- adalah :

Bahwa tindakan berpuasa 6 hari dari bulan Syawal merupakan kesyukuran seorang hamba kepada Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-atas (nikmat berupa) taufiq dapat menyempurnakan puasa bulan Ramadhan. Sesungguhnya termasuk kesyukuran terhadap nikmat yang agung adalah kesyukuran setelahnya. Sesungguhnya termasuk kesyukuran kepada Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-atas taufiq sehingga dapat melakukan ketaatan adalah melakukan ketaatan setelahnya. Oleh karena itu, sesungguhnya termasuk bentuk kesyukuranmu kepada Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى- atas taufiq-Nya kepadamu untuk menunaikan puasa Ramadhan adalah kamu bersegera untuk menunaikan puasa 6 hari di bulan Syawwal sebagai bentuk kesyukuran kepada Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-atas (nikmat) taufiq-Nya.

Ibadallah !

Termasuk faedah puasa 6 hari dari bulan Syawal adalah bahwa puasa 6 hari dari bulan Syawal kedudukannya seperti shalat sunnah setelah shalat wajib. Sebagaimana halnya shalat wajib disyariatkan setelahnya mengerjakan shalat sunnah yang akan dapat menambal dan menutupi kekurangan shalat fardhu dan menyempurnakan apa-apa yang terjadi di dalamnya berupa kesalahan dan keteledoran, maka puasa 6 hari dari bulan Syawal laksana shalat sunnah setelah shalat wajib. Dan tidak diragukan bahwa setiap orang di antara kita terjadi pada dirinya kekurangan pada puasa Ramadhan yang dilakukannya, maka datanglah enam hari ini untuk menambal kekurangan pada puasa Ramadhannya.

Ibadallah !

Termasuk faedah puasa 6 hari dari bulan syawal adalah apa yang dijelaskan oleh Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- dalam hadis yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu sabda beliau-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-

 (( كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ ))

Hal tersebut seperti puasa setahun

Karena sesungguhnya satu kebaikan itu dibalas sepuluh kali lipatnya. Dan, puasa Ramadhan -atas dasar ini- sebanding dengan puasa 10 bulan lamanya, lalu jika seseorang mengikutinya dengan puasa 6 hari dari bulan Syawal, maka puasa syawal itu sebanding dengan puasa selama 60 hari, sedangkan setahun itu jumlah harinya adalah 360 hari; sehingga seakan-akan seseorang telah berpuasa setahun penuh. Maka, jika seseorang demikian itu keadaannya sepanjang hidupnya, di mana ia berpuasa Ramadhan dan kemudian ia mengikutinya dengan berpuasa 6 hari dari bulan Syawal, maka seakan-akan ia telah berpuasa sepanjang tahun penuh.

Ibadallah !

Kemudian, sesungguhnya puasa 6 hari dari bulan Syawal padanya terdapat faedah lain yang tak kalah agungnya, yaitu bahwa melakukan puasanya merupakan tanda dari tanda-tanda diterimanya (puasa Ramadhannya) dan juga merupakan tanda dari tanda-tanda keridhaan (Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-terhadap dirinya), karena termasuk tanda diterimanya ketaatan itu adalah dilakukannya ketaatan setelahnya, dan termasuk tanda diterimanya ibadah adalah dilakukannya ibadah setelahnya.

Oleh karena itu-wahai hamba-hamba Allah-setiap orang berharap bahwa Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى- menerima darinya puasanya dan shalat malamnya, dan di antara tanda diterimanya amal tersebut adalah bahwa keadaan orang tersebut setelah melakukan ketaatan lebih baik dari keadaannya sebelum melakukan ketaatan tersebut. Maka, bila mana ia lalai dan kurang melakukan kebaikan, maka ia, setelah Ramadhan menjadi orang yang bersungguh-sungguh dan berlomba-lomba dalam kebaikan. Jika keadaannya sebelum Ramadhan baik, maka keadaanya setelah Ramadhan menjadi lebih baik. Ini semuanya termasuk tanda diterimanya amal seorang hamba.

Ibadallah…!

Kita memohon kepada Allah-جَلَّ وَعَلَا-agar berkenan menerima dari kita dan dari kalian semuanya puasa kita dan shalat malam kita, dan semoga pula Dia-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-membimbing kita semuanya untuk dapat melakukan setiap kebaikan, serta menolong kita semuanya untuk dapat terus istiqamah di atas ketaatan kepada Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-dan melanggengkan ibadah kepada-Nya-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-.

Semoga pula Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-menunjukan kita semuanya  ke jalan-Nya yang lurus, melindungi kita dari keburukan-keburukan seluruhnya dan dari fitnah-fitnah semuanya.

أقول هذا القول وأستغفر الله لي ولكم ولسائر المسلمين من كل ذنب فاستغفروه يغفر لكم إنه هو الغفور الرحيم

[Khutbah Kedua :]

الحمد لله عظيم الإحسان واسع الفضل والجود والامتنان ، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله ؛ صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه أجمعين وسلم تسليماً كثيرا

: أما بعد عباد الله

Bertakwalah kepada Allah! dan ucapkanlah perkataan yang benar !

يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا [الأحزاب : 71]

niscaya Allah akan memperbaiki amal-amal kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia menang dengan kemenangan yang agung.

Ibadallah !

Kemudian, bershalawatlah dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepada Nabi kita Muhammad bin Abdillah صلى الله عليه وسلم, sebagaimana Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-perintahkan hal tersebut kepada kalian di dalam kitab-Nya seraya berfirman,

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا  [الأحزاب : 56]

Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman ! Bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya (al-Ahzab :  56)

Ibadallah !

Perbanyaklah bershalawat kepada Nabi kita Muhammad صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ di hari ini, hari Jum’at, karena Nabi kita Muhammad صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengatakan :

إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَأَكْثِرُوا عَلَىَّ مِنَ الصَّلاَةِ فِيهِ

Sesungguhnya hari Jum’at termasuk seutama-utama hari-hari kalian. Maka, perbanyaklah oleh kalian bershalawat kepadaku pada hari tersebut. (HR. Abu Dawud)

Dan, Nabi kita Muhammad صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ telah bersabda,

 (( مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا))

Barang siapa bershalawat kepadaku satu kali, nicaya Allah bershalawat kepadanya 10 kali. (HR. Abu Dawud)

اللهم صلِّ على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد ، وبارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد .

وارض اللهم عن الخلفاء الراشدين الأئمة المهديين ؛ أبي بكر الصديق ، وعمر الفاروق ، وعثمان ذي النورين ، وأبي السبطين علي .

وارض اللهم عن الصحابة أجمعين وعن التابعين ومن اتبعهم بإحسان إلى يوم الدين ، وعنا معهم بمنك وكرمك وإحسانك يا أكرم الأكرمين .

اللهم أعز الإسلام والمسلمين ، اللهم أعز الإسلام والمسلمين ، اللهم أعز الإسلام والمسلمين ، وأذل الشرك والمشركين ، ودمِّر أعداء الدين,

اللهم احم حوزة الدين يا رب العالمين ,

اللهم آمنا في أوطاننا وأصلح أئمتنا وولاة أمورنا واجعل ولايتنا فيمن خافك واتقاك  واتبع رضاك يا رب العالمين ،

اللهم انصر دينك وكتابك وسنة نبيك صلى الله عليه وسلم وعبادك المؤمنين ،

اللهم انصر من نصر الدين واخذل من خذل الدين ،

اللهم انصر إخواننا المسلمين في كل مكان يا حي يا قيوم يا ذا الجلال والإكرام ،

اللهم وفق ولي أمرنا لما تحب وترضى ، اللهم وأعنه على البر والتقوى وسدده في أقوله وأعماله وألبسه ثوب الصحة العافية .

اللهم يا ذا الجلال والإكرام آت نفوسنا تقواها زكها أنت خير من زكاها أنت وليها ومولاها ،

اللهم إنا نسألك من الخير كله عاجله وآجله ما علمنا منه وما لم نعلم ، ونعوذ بك من الشر كله عاجله وآجله ما علمنا منه وما لم نعلم.

اللهم إنا نسألك الجنة وما قرب إليها من قول أو عمل ونعوذ بك من النار وما قرب إليها من قول أو عمل .

اللهم أجرنا من النار ، اللهم أجرنا من النار , اللهم أجرنا من النار .

اللهم أصلح لنا ديننا الذي هو عصمة أمرنا ، وأصلح لنا دنيانا التي فيها معاشنا ، وأصلح لنا آخرتنا التي إليها معادنا ، واجعل الحياة زيادة لنا في كل خير والموت راحة لنا من كل شر ،

اللهم إنا نسألك الهدى والسداد ،

اللهم إنا نسألك الهدى والتقى والعفة والغنى ،

ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين ،

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأموات إنك سميع قريب مجيب الدعوات

اللهم ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار .

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ