[Khuthbah Pertama]

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْعَمَ عَلَيْنَا بِمَوَاسِمِ الطَّاعَاتِ, الَّتِي تُضَاعَفُ فِيْهَا الْحَسَنَاتُ, وَتُحْمَى فِيْهَا السَّيِّئَاتُ

أَحْمَدُهُ حَمْدًا يَلِيْقُ بِجَلَالِهِ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِهِ

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ, لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ, يَفْتَحُ لَنَا فِي رَمَضَانَ أَبْوَابَ الْجِنَانِ وَيُغْلِقُ أَبْوَابَ النِّيْرَانِ

وَأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ, خَيْرُ مًنْ صَلَّى وَصَامَ وَقَامَ وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ, وَأَلَانَ الْكَلامَ

فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

: أَمَّا بَعْدُ

Ibadallah! Bertakwalah kepada Allah.

Khatib wasiatkan kepada diri khatib sendiri dan para jama’ah sekalian, hendaklah kita senantiasa bertakwa kepada Rabb kita, Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى di mana saja kita tengah berada dan dalam kondisi apa pun juga.

Kita bertakwa kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dengan mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya. Serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya.

Kita pun bertakwa kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dengan selalu bersyukur kepada-Nya atas segala nikmat yang datang dari-Nya. Kita tidak mengingkarinya, tidak mengingkari pemberinya, dan tidak pula menggunakannya untuk bermaksiat kepada-Nya.

Kita pun bertakwa kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dengan banyak mengingat dan menyebut-Nya sebanyak-banyaknya di setiap keadaan kita, baik kala kita duduk, kala kita berdiri, ataupun kala kita tengah membaringkan badan kita.

Ibadallah!

Seorang petani yang menginginkan sukses besar dalam panennya, tentu dia akan berupaya melakukan banyak usaha dan menempuh beragam cara. Mulai dari mempersiapkan lahan ladang dan sawah sebaik-baiknya, memilih bibit yang unggul, memupuk secara rutin dan berkala, hingga merawat serta melindungi tanamannya dari gulma dan hama pengganggu tanamannya.

Persiapan lahan sebelum bercocok tanam, adalah sebuah hal yang mutlak diperlukan, sebagai langkah awal menuju kesuksesan panen raya. Sebab seunggul apapun bibit yang disediakan, apabila lahannya tandus dan tidak subur, niscaya buah yang dihasilkan tidak akan maksimal.

Ibadallah!

Iman adalah benih unggul yang membutuhkan lahan yang subur, agar iman bisa tumbuh dengan baik dan terus membesar serta berkembang.

Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menjelaskan, mengingatkan kita dalam ayat-Nya :

وَالْبَلَدُ الطَّيِّبُ يَخْرُجُ نَبَاتُهُ بِإِذْنِ رَبِّهِ وَالَّذِي خَبُثَ لَا يَخْرُجُ إِلَّا نَكِدًا كَذَلِكَ نُصَرِّفُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَشْكُرُونَ

Tanah yang subur, tanaman-tanamannya akan tumbuh dengan baik, seizin Tuhannya. Adapun tanah yang gersang, maka tanaman-tanamannya akan tumbuh merana.Demikianlah Kami menjelaskan berulang-ulang tanda-tanda (kekuasaan Kami) bagi orang-orang yang bersyukur. (Qs. Al-A’raf (7) : 58)

Ibadallah!

Menurut para pakar tafsir, ayat yang barusan kita dengar, sedang menggambarkan perumpamaan tentang kaum mukminin dan orang-orang kafir. Bagaimanakah efek dari turunnya wahyu kepada kedua jenis manusia tadi. Wahyu diumpamakan bagaikan air hujan. Sebab wahyu turun kepada semua hati manusia, tanpa terkecuali. Sebagaimana curahan hujan juga diturunkan kepada semua manusia.

Namun, walaupun demikian, ternyata tidak semua hati bisa memetik manfaatnya. Hanya sebagian hati saja yang siap untuk menjadi lahan tumbuhnya iman. Yaitu hati yang bersih dan subur.

Dari tanah-tanah suci inilah bermunculan buah-buahan yang manis, berupa akhlak yang mulia, iman, takwa, kerinduan kepada para kekasih Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, ikhlas dalam beribadah, amalan yang sesuai dengan tuntutan, dan lain sebagainya.

Ibadallah!

Kebalikannya, hati orang-orang kafir serupa dengan tanah yang tandus, gersang, kering dan tercemar. Sehingga tidak mendapatkan manfaat sedikitpun dari air hujan. Sebanyak apapun curah hujan yang diturunkan, tetap saja tanamannya meranggas dan merana. Na’udzu billah min dzalik…

Ibadallah!

Namun demikian, ketahuilah bahwa lahan yang gersang itu, bukan sesuatu yang mustahil untuk dirubah menjadi tanah yang subur. Hanya saja memang membutuhkan perjuangan panjang yang tidak gampang.

Ibadallah!

Tamu agung nan istimewa dalam beberapa hari ke depan akan tiba menyambangi kita.

Sejauh manakah langkah kita dalam mempersiapkan lahan, agar beragam ibadah Ramadhan bisa tumbuh subur di atasnya?

Ibadallah!

Sebelas bulan telah berlalu sejak Ramadhan tahun kemarin. Boleh jadi dosa-dosa yang kita kerjakan telah menumpuk bahkan menggunung. Banyak perintah agama yang kita abaikan dan larangan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى yang kita langgar. Seiring dengan berjalannya waktu, noda-noda kotor itu semakin menumpuk tebal di hati kita. Itulah lahan gersang dan tandus, yang muncul sebagai akibat dari tingkah polah kita selama ini.

Ibadallah!

Apabila kondisi mengenaskan tersebut kita biarkan, tanpa ada langkah nyata untuk merubahnya, besar kemungkinan kita akan termasuk golongan manusia-manusia yang gagal total memanfaatkan peluang emas Ramadhan. Menjadi orang-orang sial dan celaka, yang disebutkan dalam hadits Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :

قَالَ جِبْرِيْلُ : رَغمَ أَنفُ عَبدٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ لَم يُغْفَرْ لَهُ . فَقُلْتُ : آمِيْنَ

“Jibril berkata, “Merugilah manusia yang menjumpai Ramadhan, namun ia tidak diampuni dosa-dosanya”. Maka aku (yakni, Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) pun menyahut, “Amien”. (HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad)  

Ibadallah!

Langkah pertama dan utama yang harus kita tempuh dalam rangka mempersiapkan hati menjelang datangnya Ramadhan adalah bertaubat. Bertaubat dari segala jenis dosa dan maksiat. Dengan harapan, pasca taubat, Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berkenan untuk membersihkan jiwa kita. Hama dan ilalang yang selama ini mengotori hati, diharapkan musnah tak berbekas lagi. Noda dan kotoran yang menempel tebal di dalam jiwa, semoga tersapu bersih semuanya tak tersisa sedikit pun juga.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kalian kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya. Semoga Rabb kalian berkenan untuk menghapuskan kesalahan-kesalahan kalian dan memasukkan kalian ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai”. (Qs. At Tahrim (66): 8).

Ibadallah!

Dengan taubat, hati yang sebelumnya terasa sempit menghimpit, akan terbuka lebar dan terasa lapang.

Dengan taubat, jalan yang berliku tak berujung, akan berubah menjadi lurus, nyaman dan lancar.

Dengan taubat, suasana jiwa nan gelap gulita, akan berganti menjadi bersinar dan terang benderang.

Dengan taubat, hari-hari yang dipenuhi dengan kelesuan dan rasa malas beramal, akan bertukar dengan kondisi yang diliputi semangat beribadah.

Sehingga tamu istimewa pun mendapatkan sambutan yang layak dari kita. Sebab lahan yang akan digunakan untuk bercocok tanam berbagai jenis ibadah Ramadhan, telah siap untuk kita sebar di atasnya benih-benih kebajikan.

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرَ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

[Khutbah Kedua]

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيْرْضَى

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ

وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ

فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ

: أَمَّا بَعْدُ

Ibadallah !

Setelah ladang untuk bercocok tanam berbagai jenis pohon ibadah Ramadhan telah siap, maka jangan pernah lupakan tawakal. Mempertebal ketergantungan kita kepada Allah Yang Maha kuasa. Menyadari bahwa tanpa bantuan dari-Nya, mustahil kita bisa beribadah dengan baik kepada-Nya.

وَاللهِ لَوْ لَا اللهُ مَا اهْتَدَيْنَا * وَلَا تَصَدَّقْنَا وَلَا صَلَّيْنَا

Demi Allah, kalaulah bukan karena (pertolongan dan bimbingan) Allah, niscaya kita tidak mendapatkan petunjuk, tidak pula kita dapat bersedekah dan tidak pula kita dapat mengerjakan shalat.

Ibadallah!

Ingatkah kita, bahwa setiap hari, minimal tujuh belas kali kita berikrar :

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Hanya kepada Engkaulah kami beribadah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan“. (QS. Al-Fatihah (1): 5)

Ibadallah!

Tidakkah kita renungi isi dari ikrar tersebut ?

Sungguh amat menarik untuk kita perhatikan, bagaimana kita berikrar untuk beribadah hanya kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, lalu dilanjutkan dengan ikrar untuk meminta pertolongan juga hanya kepada-Nya.

Ibadallah!

Mengapa dua ikrar tersebut digandengkan?

Sebab, ibadah adalah hak Allah ta’ala atas para hamba-Nya. Dan mereka tidak mungkin mampu untuk menunaikan hak tersebut, tanpa adanya bantuan dan pertolongan dari Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.

Ibadallah!

Ibadah kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى adalah tujuan utama kita semua. Sedangkan permohonan bantuan kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى adalah sarana utama untuk menggapai tujuan mulia tersebut.

Ibadallah!

Hari ini adalah hari Jum’at. Hari Jum’at, kata Nabi kita Muhammad صَلَّى االلهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ merupakan hari yang utama. Dan, kita pun diperintahkan oleh beliau صَلَّى االلهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ untuk banyak bershawat kepadanya. beliau صَلَّى االلهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda :

إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَأَكْثِرُوا عَلَىَّ مِنَ الصَّلاَةِ فِيهِ فَإِنَّ صَلاَتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَىَّ

“Sesungguhnya di antara hari-hari kalian yang paling utama adalah hari Jum’at, maka perbanyaklah shalawat kepadaku pada hari tersebut, karena sesungguhnya shalawat kalian akan tersampaikan kepadaku.” (HR. Abu Dawud)

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَتَوَفَّنَا مُسْلِمِينَ

رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

رَبِّ اجْعَلْنا مُقِيمي الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنا رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا

رَبَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

وَآخِرُ دَعْوَانا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ