[Khuthbah Pertama] :

إنَّ الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا ، من يهده الله فلا مضل له ، ومن يضلل فلا هادي له

وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له

وأشهد أنَّ محمداً عبده ورسوله ، وأمينه على وحيه ، وخيرته من خلقه ، وسفيره بينه وبين عباده ، المبعوث بالدين القويم ، والمنهج المستقيم ، أرسله الله رحمة للعالمين ، وإماماً للمتقين ، وحجةً على الخلائق أجمعين

{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ }

[ آل عمران : 102 ]

{ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً } [النساء : 1]

[الأحزاب : 70-71] { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً }

أما بعد  : فإن أصدق الحديث كتاب الله وأفضل الهدى هدى محمد  صلى الله عليه وسلم وشر الأمور مُحْدَثَاتُهَا وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة فى النار

Ibadallah !

Sesungguhnya kehidupan ini adalah kehidupan yang sementara, fana, dan begitu cepat, dibandingkan dengan kehidupan yang akan datang. Rasulullah صلى الله عليه وسلم  mengatakan :

أَعْمَارُ أُمَّتِى مَا بَيْنَ السِّتِّينَ إِلَى السَّبْعِينَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ

Sesungguhnya umur umatku antara 60 sampai 70, hanya sedikit di antara mereka yang melampaui umur 70 tahun.

Dan ini adalah usia yang sebentar jika dibandingkan dengan kehidupan selanjutnya di dalam alam barzah yang mana seseorang menantikan hari Kiamat, bisa jadi ratusan tahun bisa jadi ribuan tahun. Terlebih lagi jika dibandingkan di padang mahsyar yang kata Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى :

فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ  [المعارج/4]

Di hari yang sehari seperti lima puluh ribu tahun

Terlebih lagi dibandingkan setelah padang mahsyar, yaitu di penghujung perjalanan, apakah Surga ataukah Neraka yang abadi selama-lamanya.

Namun, manusia lupa akan hidup (di dunia) yang sebentar ini. Terkadang hartanya yang banyak membuat dirinya lalai. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى bercerita tentang orang-orang kafir, kata Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى :

الَّذِي جَمَعَ مَالًا وَعَدَّدَهُ (2) يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهُ أَخْلَدَهُ (3) كَلَّا [الهمزة/2-4]

Yang mengumpulkan hartanya dan menghitung-hitungnya. Dia menyangka bahwa hartanya tersebut akan membuatnya kekal. Sekali-kali tidak…

Sebagian orang menyangka bahwa jika ia mempunyai harta yang banyak, punya rumah yang mewah, punya perusahaan yang banyak akan menambah umurnya. Sesungguhnya tidak sama sekali. Bahkan, sedetik pun tidak akan ditambah umurnya. Jika telah tiba ajal, maka dia harus pergi meninggalkan negeri ini dan menuju fase kehidupan selanjutnya.

Demikian juga seorang boleh jadi terpedaya dengan kesehatannya. Ketika dia melihat tubuhnya sehat, segar bugar, dia menyangka umurnya panjang, sesungguhnya umurnya telah ditentukan oleh Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dan itu pun hanya sebentar jika dibandingkan dengan fase kehidupan selanjutnya.

Karena Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dalam al-Qur’an mengingatkan akan singkatnya kehidupan dunia ini agar kita tidak lalai. Diantaranya, Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman :

وَمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ [العنكبوت/64]

Tidaklah kehidupan dunia ini kecuali hanyalah permainan dan sendagurau, dan sesungguhnya kehidupan akhirat itulah kehidupan yang sejati, kehidupan yang sesungguhnya…

Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menamakan kehidupan dunia ini dengan ‘لَعِبٌ’ permainan, dan kita tahu bahwa permainan hanyalah sebentar. Tidak bertahan lama, tiba-tiba permainan tersebut terhenti. Tiba-tiba seseorang tengah bermain di dunia ini, tiba-tiba selesailah permainan itu, tiba-tiba ia masuk dalam kehidupan yang serius selanjutnya di alam barzah.

Ibadallah !

Demikian pula Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menjelaskan singkatnya kehidupan dunia ini dengan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى mengibaratkan kehidupan ini seperti “Mawar yang mudah menjadi lapuk, menjadi lesu.” Demikianlah sebagaimana ‘Bunga Mawar”. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman :

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَى  [طه/131]

Janganlah engkau panjangkan kedua matamu kepada kelompok orang yang Kami berikan mereka زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا (mawar kehidupan dunia), agar Kami menguji mereka dengan kehidupan dunia tersebut. Dan sesunguhnya rizki Rabbmu lebih baik dan lebih kekal.

Di sini Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menamakan kehidupan dunia dengan “Mawar”  زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا .  Kita tahu bahwasanya bunga mawar begitu harum, begitu indah dengan warna-warninya, tetapi dia mudah layu, sedemikian cepat ia mengalami kelayuan. Demikian pula kehidupan dunia ini, kelihatannya indah dipandang, lezat untuk dirasakan, namun dia hanya sebentar. Begitu cepat ia meninggalkan kita. Kalau pun dia tidak meninggalkan kita, kita akan meninggalkannya.

Ibadallah !

Demikian juga Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menjelaskan tentang singkatnya kehidupan dunia ini dengan mengibaratkan seperti air hujan yang turun di atas muka bumi ini. Kata Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى :

وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الْأَرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيمًا تَذْرُوهُ الرِّيَاحُ وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ مُقْتَدِرًا  [الكهف/45]

Dan buatkanlah untuk mereka (manusia) perumpamaan kehidupan dunia ini, ibarat air (hujan)  yang Kami turunkan dari langit, sehingga menyuburkan tumbuhan-tumbuhan bumi, kemudian (tumbuh-tumbuhan) itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan Allah Maha kuasa atas segala sesuatu. (al-Kahfi : 45)

Ibadallah !

Demikianlah kehidupan dunia. Dalam ayat ini, Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menggunakan huruf ‘fa’ فَأَصْبَحَ هَشِيمًا (lalu kemudian (tumbuh-tumbuhan) itu menjadi kering), yakini, begitu cepat, yang tadinya tumbuhan-tumbahan hijau, tiba-tiba menjadi kering dan mudah diterbangkan oleh angin.

Sebagaimana dalam ayat yang lain, kata Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى :

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا [الحديد/20]

Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sendagurauan, dan saling berbangga di antara kalian serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani ; kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kalian lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. (al-Hadid : 20)

Ibadallah !

Demikianlah kehidupan dunia. Ini semuanya mengingatkan kepada kita bahwasanya kehidupan dunia ini hanyalah sementara, maka janganlah kita terpedaya dengan kesehatan kita, dan jangan pula  terpedaya dengan harta yang kita miliki. Sesungguhnya, semua itu tidak akan menambah ajal kita meskipun hanya seditik pun juga.

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرَ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

***

[Khuthbah Kedua] :

اَلحَمْدُ ِلله عَلَى إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ تَعْظِيْمًا لِشَأْنِهِ

وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ دَاعٍ إِلَى رِضْوَانِهِ

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَإِخْوَانِهِ

Ibadallah !

Jika kita tahu dan sadar bahwa kehidupan dunia ini hanyalah sebentar, maka tentunya kita harus menyikapinya dengan sikap yang benar. Oleh karenanya, kalau kita ternyata mengalami kehidupan yang sulit, ekonomi yang rendah, maka bersabarlah. Sesungguhnya kehidupan ini hanyalah sementara.

Ketikan Nabi صلى الله عليه وسلم -dalam peristiwa perang Khandaq- melihat para sahabatnya yang harus menggali khandaq dengan lebar 5 meter, dalam 5 meter, dan panjang berkilo-kilo meter, sementara musuh sudah bergerak dari Makkah menuju Madinah, dengan jumlah 10.000 pasukan, maka para sahabat pun mulai menggali parit, sementara kala itu musim dingin, musim kelaparan, mereka bekerja keras, sehingga mereka kurang makan. Sampai-sampai debu memenuhi tubuh mereka, dan sampai-sampai mereka harus makan makanan yang tengik, bahkan mereka harus mengikat perut mereka dengan batu karena kelaparan. Ketika Rasulullah صلى الله عليه وسلم melihat mereka sedang dalam kesulitan, maka Nabi صلى الله عليه وسلم mengatakan :

اللَّهُمَّ لَا عَيْشَ إِلَّا عَيْشُ الْآخِرَهْ فَأَصْلِحِ الْأَنْصَارَ وَالْمُهَاجِرَهْ

Ya Allah, sesungguhnya tidak ada kehidupan yang sejati kecuali kehidupan akhirat. Maka, perbaikilah keadaan orang-orang Anshar dan orang-orang yang berhijrah.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengingatkan kepada para sahabat, kesulitan yang dihadapi hanyalah sementara, toh kehidupan dunia adalah kehidupan yang fana dan hanyalah sebentar saja.

Ibadallah !

Demikian juga jika seseorang melihat orang lain memiliki kemewahan, kekayaan dunia yang banyak, maka hendaklah dia mengucapkan :

اللَّهُمَّ لَا عَيْشَ إِلَّا عَيْشُ الْآخِرَهْ

Ya Allah, sesungguhnya tidak ada kehidupan yang sejati kecuali kehidupan akhirat.

Kita yang tidak memiliki kekayaan seperti itu, tidaklah perlu kita hasad, tidak perlu kita dengki, hendaknya kita Ridha dengan apa yang Allah سبحانه وتعالى berikan kepada kita. Boleh jadi, jika kita memiliki kekayaan seperti mereka, kita tidak akan mampu untuk menjawab pertanyaan yang akan Allah سبحانه وتعالى ajukan pada hari Kiamat kelak ketika yaumul hisab (hari perhitungan). Maka, kita ridha dengan pemberian Allah سبحانه وتعالى.

Ibadallah !

Demikian juga jika seseorang sadar bahwa kehidupan dunia ini hanya sementara, maka janganlah dia berlebih-lebihan dalam dunia, karena ketika berlebih-lebihan niscaya hatinya akan cenderung kepada dunia, lupa dengan akhirat.

Suatu hari, kata Ibnu Abbas رضي الله عنه : Umar bin al-Khaththab رضي الله عنه masuk menemui Rasulullah صلى الله عليه وسلم   yang saat itu beliau tengah berada di atas tikar (yang dijadikannya sebagai alas tidurnya) yang ternyata meninggalkan bekas pada anggota tubuhnya bagian kanannya. Lalu, Umar mengatakan, ‘Ya, Rasulullah ! Tidakkah sebaiknya Anda mengambil alas tidur yang lebih nyaman daripada ini ? ‘

Apa jawaban Nabi صلى الله عليه وسلم ?

Beliau صلى الله عليه وسلم menjawab :

يَا عُمَرُ مَالِي وَلِلدُّنْيَا وَمَا لِلدُّنْيَا وَلِي وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا مَثَلِي وَمَثَلُ الدُّنْيَا إِلَّا كَرَاكِبٍ سَارَ فِي يَوْمٍ صَائِفٍ فَاسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ سَاعَةً مِنَ نَهَارِ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا

Wahai Umar ! Apa urusanku dengan dunia, dan apa urusan dunia denganku ? Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah perumpamaan diriku dan perumpamaan dunia, melainkan seperti pengendara yang tengah berjalan pada sebuah hari nan terik, lantas ia (singgah di suatu tempat) lelu ia berteduh di bawah pohon sesaat saja dari waktu siang, kemudian ia beranjak pergi meninggalkan pohon itu (untuk melanjutkan perjalanannya). (HR. Ibnu Hibban)

Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengingatkan, bahwa dunia itu seperti tempat peristirahatan sementara, sebagaimana seorang pengembara yang mampir (berteduh) di bawah sebuah pohon, tidak lama ia berada di sana, ia hanya sebentar saja, kemudian dia melanjutkan perjalanannya. Ia sadar bahwa perjalanannya masih jauh, perjalanannya masih panjang. Di hadapannya masih ada alam barzah, masih ada padang mahsyar, masih ada hisab, masih ada mizan, masih ada persidangan pada hari Kiamat kelak, dan masih ada Surga dan Neraka.

Ibadallah !

Maka, seseorang hendaknya tidak berlebih-lebihan dengan dunia, karena hal itu akan melupakannya akan kehidupan akhiratnya. Sehingga jadilah orientasinya adalah dunia, dunia, dan dunia.

Ibadallah !

Kemudian, ketika seseorang tahu bahwa kehidupan di dunia hanyalah sebentar, maka tidak perlu kita merusak kehidupan yang sebentar ini dengan pertengkaran, dengan pertikaian. Maka, maafkanlah mereka, orang-orang yang mendorong Anda untuk bertengkar dan bertikai dengan Anda. Apa kata Allah سبحانه وتعالى?

وَإِنَّ السَّاعَةَ لَآتِيَةٌ فَاصْفَحِ الصَّفْحَ الْجَمِيلَ  [الحجر/85]

Dan sungguh, Kiamat pasti akan datang, maka maafkanlah (mereka) dengan cara yang baik (al-Hijr : 85)

Maafkanlah (mereka) dengan cara yang baik, tidak perlu kita perpanjang pertengkaran. Maafkanlah, kemudian kita hidup dengan tentram di dunia ini, agar kita bisa fokus untuk beribadah kepada Allah سبحانه وتعالى.

Ibadallah !

Jika kita tahu dan sadar bahwa kehidupan dunia hanya sementara, maka manfaatkanlah kesempatan yang Allah سبحانه وتعالى berikan kepada kita sebelum datang kesulitan sehingga kita tidak bisa beramal shalih karenanya. Kata Nabi صلى الله عليه وسلم :

اِغْتَنِمْ خَمْساً قَبْلَ خَمْسٍ

Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara yang lainnya, (kata Nabi ) :

حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

Mumpung masih hidup, sebelum datang kematianmu.

شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ

Mumpung masih muda, (beramal shalehlah) sebelum datang masa tuamu (dimana kamu akan sulit untuk beramal shaleh)

وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ

Mumpung masih punya uang, (maka bersedekahlah, umrahlah, hajilah, perhatianlah terhadap orang miskin) sebelum datang kesulitan ekonomimu (sehingga kamu tidak bisa bersedekah dan hal-hal lainnya)

وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ

Mumpung masih miliki waktu luang, (manfaatlah waktu luang tersebut untuk menghadiri majlis ilmu, untuk membaca al-Qur’an, untuk menyambung silaturahim dan amal kebaikan lainnya) sebelum datang masa sibukmu (sehingga engkau tidak bisa melakukan hal-hal itu)

وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ

Mumpung masih sehat, sebelum datang masa sakitmu (sehingga engkau tidak bisa beribadah dengan baik)

Ibadallah !

Ketahuilah bahwasanya semua orang akan sadar bahwa kehidupan dunia ini hanyalah sebentar ketika tiba hari Kiamat kelak. Kata Allah سبحانه وتعالى :

يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا (42)

Mereka (orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari Kiamat, “Kapan terjadinya?”

فِيمَ أَنْتَ مِنْ ذِكْرَاهَا (43)

Untuk apa engkau perlu menyebutkannya (waktunya) ?

 إِلَى رَبِّكَ مُنْتَهَاهَا (44)

Kepada Tuhanmulah (dikembalikan) kesudahannya (ketentuan waktunya)

إِنَّمَا أَنْتَ مُنْذِرُ مَنْ يَخْشَاهَا (45)

Engkau (Muhammad) hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya (hari Kiamat)

كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا عَشِيَّةً أَوْ ضُحَاهَا (46)

Pada hari ketika mereka melihat hari Kiamat itu (karena suasananya hebat), mereka merasa seakan-akan hanya (sebentar saja) tinggal (di dunia) pada waktu sore atau pagi hari (saja) (an-Nazi’at : 42-46)

Ibadallah !

Ketika mereka menyaksikan hari Kiamat, mereka sadar sesungguhnya mereka tidaklah tinggal di dunia kecuali hanya sebentar saja, kecuali hanya di waktu sore atau di waktu pagi hari saja. Mereka sadar ternyata hidup di dunia ini hanya sebentar jika dibandingkan dengan kehidupan di akhirat.

Ibadallah !

Demikian pula, ketika Allah سبحانه وتعالى bertanya kepada orang-orang yang masuk ke dalam Neraka Jahannam. Kata Allah سبحانه وتعالى kepada mereka :

قَالَ كَمْ لَبِثْتُمْ فِي الْأَرْضِ عَدَدَ سِنِينَ  [المؤمنون/112]

Dia (Allah) berfirman, “Berapa tahunkah lamanya kalian tinggal di bumi.” ?

(Berapa tahunkah kalian dulu hidup di dunia)

قَالُوا لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ  [المؤمنون/113]

Mereka menjawab, “Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari (saja).

Ibadallah !

Kenapa mereka mengatakan demikian ?

Karena, mereka sadar ternyata (kehidupan) di akhirat sangat panjang jika dibandingkan dengan (kehidupan) di dunia. Kehidupan di dunia hanya sehari atau setengah hari saja. Dan, mereka pun sadar bahwasanya siksaan yang ditimpakan kepada mereka -akibat dari keengganan mereka untuk beriman kepada Allah dan mentaati-Nya semasa hidup mereka di dunia- sangatlah pedih rasanya sehingga kenikmatan yang mereka rasakan di kehidupan dunia hanyalah sebentar saja.

Ibadallah !

Semua akan merasakan bahwa kehidupan di dunia hanyalah sebentar dibandingkan dengan kehidupan di akhirat kelak.

Oleh karena itu, mumpung kita masih hidup, maka manfaatkanlah dengan sebaik-baiknya untuk mentaati Allah سبحانه وتعالى, untuk menghambakan diri kepada-Nya semata.

Kata Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه :

اَلْيَوْمُ عَمَلٌ بِلَا حِسَابٍ وَغَدًا حِسَابٌ بِلَا عَمَلٍ

Hari ini adalah untuk beramal tanpa adanya hisab. Sedangkan esok adalah saatnya penghisaban, tidak ada lagi kesempatan untuk beramal.

Sekarang -semasa hidup kita di dunia ini- kita masih bisa untuk beramal, sedangkan bila kita telah meninggalkan kehidupan dunia nan fana lagi sebentar ini, niscaya kita tidak ada kesempatan lagi untuk beramal lagi, yang ada adalah hisab perhitungan amal oleh Allah.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا  [الأحزاب/56]

Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman ! Bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ مَاعَلَمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ . وَنَعُوْذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ مَاعَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ عَبْدُكَ وَنِبِيُّكَ (مُحَمَّدٌ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-) . وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَّرِّ مَاعَاذَ بِهِ عَبْدُكُ وَنَبِيُّكَ (مُحَمَّدٌ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-)

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ . وَنَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ. وَنَسْأَلُكَ أَنْ تَجْعَلَ كُلَّ قَضَاءٍ قَضَيْتَهُ لَنَا خَيْرًا

اللَّهُمَّ {رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ}

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ

رَبَّنَا وَآتِنَا مَا وَعَدْتَنَا عَلَى رُسُلِكَ وَلَا تُخْزِنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيعَادَ

رَبَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ

رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

رَبَّنَا إِنَّا ظَلَمْنا أَنفُسَنَا ظُلْمًا كَثِيرًا وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ فَاغْفِرْ لَنَا مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْنَا إِنَّك أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَآخِرُ دَعْوَانا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ