Pengantar

Alhamdulillah. Segala puji hanya bagi Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى atas segala nikmat-Nya. Sungguh, nikmat yang Allahسُبْحَانَهُ وَتَعَالَى   karuniakan kepada kita sangat banyak. Allahسُبْحَانَهُ وَتَعَالَى   berfirman mengingatkan kita,

أَلَمۡ تَرَوۡاْ أَنَّ ٱللَّهَ سَخَّرَ لَكُم مَّا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِ وَأَسۡبَغَ عَلَيۡكُمۡ نِعَمَهُۥ ظَٰهِرَةٗ وَبَاطِنَةٗۗ

Tidakah kalian memperhatikan bahwa Allah telah menundukkan apa yang ada di langit dan apa di bumi untuk (kepentingan) kalian dan menyempurnakan nikamat-Nya untuk kalian lahir dan batin. (Luqman : 20)

Maka, kesemua nikmat tersebut mengharuskan seorang hamba untuk mensyukurinya.

Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman mengingatkan kita orang-orang yang beriman kepada-Nya :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُلُواْ مِن طَيِّبَٰتِ مَا رَزَقۡنَٰكُمۡ وَٱشۡكُرُواْ لِلَّهِ إِن كُنتُمۡ إِيَّاهُ تَعۡبُدُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman ! Makanlah dari rezeki yang baik yang Kami berikan kepada kalian dan bersyukurlah kepada Allah, jika kalian hanya menyembah kepada-Nya (Al-Baqarah : 172)

Shalat, merupakan salah satu cara yang disyariatkan oleh Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى kepada kita, para hamba-Nya untuk menyembah-Nya. Demikian pula halnya berkurban. Dan, kedua hal tersebut, bila ditunaikan seorang hamba, maka dia tengah menempuh jalan kesyukuran kepada-Nya, Dzat yang telah begitu banyak memberikan berbagai kenikmatan kepada seorang hamba.

Salah seorang hamba Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى yang mulia, bahkan paling mulia di antara para hamba-Nya yang mulia karena paling bertakwa kepada-Nya, yaitu, Nabi kita Muhammad صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ diingatkan oleh Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىي berkaitan dengan hal ini dalam salah satu surat di dalam al-Qur’an, yaitu surat al-Kautsar.

Sebelum kita mebahas isi dari surat ini, penulis ingin menyebutkan beberapa hal terkait surat nan agung ini.

Pertama, nama-nama surat ini

Kedua, penjelasan tentang surat ini, termasuk surat Makkiyah ataukah termasuk surat Madaniyah.

Ketiga, Tujuan surat ini.

Keempat, Tema-tema surat ini.

Surat ini dimakan dengan “Surat al-Kautsar”. Surat ini dinamakan dengan  “Surat al-Kautsar” karena surat ini dibuka dengan menyebutkan kata “اَلْكَوْثَر “ (al-Kautsar) dalam firman-Nya :

إِنَّآ أَعۡطَيۡنَٰكَ ٱلۡكَوۡثَرَ

(Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu “al-Kautsar”) (al-Kautsar : 1) [*]

Surat ini, dinamakan juga dengan surat إِنَّآ أَعۡطَيۡنَٰكَ ٱلۡكَوۡثَرَ (Innaa A’thainaa-ka al-Kautsar) dan surat اَلنَّحْر (an-Nahr) [**]

Adapun tujuan surat ini, di antaranya yang paling penting adalah menyampaikan kabar gembira kepada Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ akan adanya kebaikan yang banyak dari Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى [***]

Adapun tema-tema yang terkandung di dalam surat ini, di antaranya yang terpenting adalah :

1-Penjelasan tentang karunia yang diberikan kepada Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bahwa beliau telah diberikan kebaikan yang banyak.

2-Perintah kepada Nabi  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ agar bersyukur kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى atas nikmat tersebut dengan cara menghadapkan diri sepenuhnya untuk beribadah kepada-Nya.

3-Pemberitahuan kepada Nabi  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, bahwa orang yang membencinya dialah orang yang terputus dari setiap kebaikan.

Tafsir Ayat :

Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى  berfirman :

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ (1) فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ (2) إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ (3)

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu; dan berkorbanlah. Orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.” (al-Kautsar : 1-3)

Al-Kautsar, menurut bahasa artinya kebaikan yang banyak. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى telah memberi kebaikan yang sangat banyak kepada Rasulullah  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَdi dunia dan di akhirat.

Di antaranya sungai besar yang berada di dalam Jannah (Surga) dan terdapat dua pancuran yang memancarkan air ke telaga Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.  Airnya lebih putih dari susu, lebih manis dari madu dan lebih wangi dari minyak kasturi [1]

Di hari Kiamat kelak telaga ini akan dipersiapkan bagi orang-orang mukmin dari umat Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم. Bejananya sangat indah dan banyak, sebanyak bintang di langit [2] Barang siapa ketika di dunia berada di atas syariat, maka ia akan mendapatkan telaga ini di akhirat kelak. Jika tidak, maka ia pun tidak akan mendapatkannya.

Di antara kebaikan yang diberikan kepada Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم  di dunia, sebagaimana yang tertera dalam hadis yang diriwayatkan Imam al-Bukhari dan Muslim dari Jabir, bahwa Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم bersabda :

أُعْطِيتُ خَمْسًا لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ قَبْلِي نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيرَةَ شَهْرٍ وَجُعِلَتْ لِيَ الْأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا فَأَيُّمَا رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي أَدْرَكَتْهُ الصَّلَاةُ فَلْيُصَلِّ وَأُحِلَّتْ لِي الْمَغَانِمُ وَلَمْ تَحِلَّ لِأَحَدٍ قَبْلِي وَأُعْطِيتُ الشَّفَاعَةَ وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ عَامَّةً

Aku diberi lima keistimewaan yang tidak diberikan kepada nabi-nabi sebelumku. (pertama) Aku ditolong dengan rasa takut yang ditimpakan atas musuh dari jarak perjalanan selama satu bulan, (kedua) bumi dijadikan untukku sebagai masjid dan suci, jika seseorang dari ummatku menemui waktu shalat, maka hendaklah ia melaksanakannya, walau di manapun ia berada, (ketiga) Aku diberi hak untuk memberi Syafa’at, (keempat) dihalalkan untukku harta rampasan perang, (kelima) para nabi sebelumku diutus khusus untuk kaumnya saja, adapun aku diutus untuk seluruh ummat manusia.” [3]

Inilah kebaikan yang banyak tersebut, beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم  diutus untuk seluruh ummat manusia yang berarti pengikut beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم  lebih banyak daripada pengikut para nabi yang lainnya. Dan sudah dimaklumi bahwa orang yang menunjukkan kepada suatu kebaikan sama halnya dengan orang yang melakukannya. Dan yang memberi petunjuk kepada umat yang besar ini yang melebihi umat lain ialah Muhammad Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم. Oleh karena itu Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم  juga mendapat pahala bagi setiap umat yang melaksanakan kebaikan tersebut dan jumlah umat beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم  tidak ada yang tahu kecuali Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.

Di antara kebaikan yang diberikan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى  kepada beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم  adalah tempat yang terpuji di hari Kiamat kelak. Dan juga syafa’at yang terbesar. Sesungguhnya pada hari Kiamat kelak manusia akan ditimpa bencana hebat yang tidak sanggup dipikul. Maka mereka mencari-cari Syafa’at. Mereka mendatangi Nabi Adam, Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa. Sampai mereka mendatangi Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم, beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم  pun berdiri dan meminta Syafa’at. Kemudian Allah ta’ala memperkenankan permintaan Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم  dengan mengadili hamba-hamba-Nya. Inilah yang dimaksud dengan kedudukan yang terpuji tersebut yang mendapat pujian dari manusia pertama sampai yang terakhir dan yang difirmankan Allah Ta’ala :

عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا  [الإسراء/79]

“…mudah-mudahan Rabb-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (al-Isra’ : 79)

Jadi yang dimaksud dengan al-Kautsar ialah kebaikan yang banyak, di antaranya adalah telaga yang ada di dalam Surga, dan sudah tidak diragukan lagi telaga tersebut bernama al-Kautsar. Namun, telaga ini bukanlah satu-satunya nikmat yang diberikan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى  kepada Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم.

Berkorbanlah sebagai tanda Syukur !

Setelah Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menyebutkan banyak kebaikan yang telah Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berikan, Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman :

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu; dan berkorbanlah

(yakni) shalatlah kepada Rabb-mu dan berkorbanlah sebagai tanda syukur kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى akan nikmat besar yang telah Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berikan.

Yang dimaksud dengan shalat di sini ialah seluruh shalat. Pertama kali shalat yang termasuk ke dalam ayat ini ialah shalat yang berkaitan dengan penyembelihan yaitu shalat Iedul Adha, tetapi ayat tersebut lebih bersifat umum.

فَصَلِّ لِرَبِّكَ

(Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu),

Yaitu shalat wajib, shalat sunnah, shalat Ied dan shalat Jum’at.

وَانْحَرْ

dan berkorbanlah

Yaitu mendekatkan diri kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dengan cara menyembelih hewan kurban.

Kata “an-Nahr ialah kata yang dipakai khusus untuk menyembelih unta. Kata “adz-Dzabh” untuk menyembelih sapi dan kambing. Di dalam ayat disebutkan an-Nahr karena menyembelih unta lebih bermanfaat untuk si miskin daripada menyembelih hewan lainnya. Oleh karena itu, ketika haji Wada’, Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم menyembelih 100 ekor unta. 63 ekor beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم  sembelih dengan tangannya sendiri dan selebihnya (yaitu, 37 ekor) disembelih oleh Ali bin Abi Thalib. Kemudian beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم  sedekahkan semuanya kecuali sepotong daging dari setiap unta, beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم  letakkan di dalam panci lalu dimasak. Beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم makan dagingnya dan meminum kuahnya. Kemudian Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم  memerintahkan untuk menyedekahkannya sampai perhiasan dan kulit dari unta tersebut [4]

Perintah yang ada dalam ayat ini merupakan perintah untuk beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم  dan umatnya. Maka, kita wajib untuk mengikhlaskan diri dalam menunaikan shalat dan di dalam menyembelih hewan Kurban sebagaimana yang telah diperintahkan Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم.

Kemudian Allah ta’ala berfirman :

إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ

Orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus

Ayat ini lawan dari pemberian al-Kautsar.

شَانِئَكَ  artinya orang yang membencimu. الْأَبْتَرُ  ialah isim tafdhil dari kata بَتَر  artinya terputus. Yang terputus dari segala kebaikan. Karena orang kafir Quraisy berkata : Muhammad itu abtar artinya yang tidak mempunyai kebaikan, keberkahan dan tidak ada keberkahan dalam mengikutinya.

Ketika anak beliau al-Qasim meninggal, orang kafir Quraisy berkata : Muhammad abtar, yaitu yang tidak mempunyai anak. Kalau pun lahir tidak akan ada lagi keturunannya. Maka Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menjelaskan bahwa yang abtar adalah mereka yang membenci Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم. Terputus atas mereka segala kebaikan dan tidak mendapat keberkahan, kehidupannya akan tersesali. Jika seseorang membenci Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم  berarti ia juga membenci syariat yang dibawanya. Barang siapa membenci syariat atau membenci salah satu dari syariat tersebut, atau membenci suatu ketaatan yang dilakukan sebagai ibadah di dalam Islam, maka orang tersebut kafir, keluar dari agama Islam sebagaimana firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى :

ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ  [محمد/9]

“Yang demikian itu adalah karena sesunggunya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (al-Qur’an) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka.” (Muhammad : 9)

Tidak ada penghapusan amal kecuali karena kekafiran. Barang siapa yang benci melaksanakan shalat, maka ia telah kafir walaupun ia melaksanakannya. Barang siapa benci untuk menunaikan zakat, maka ia telah kafir walau pun ia melaksanakan zakat. Jika ia merasa berat melaksanaknya dengan tidak dibarengi kebencian, berarti ia mempunyai salah satu dari sifat orang munafik, namun ia tidak dikatakan kafir. Jadi sudah jelas perbedaan antara orang yang mengerjakan karena merasa berat dengan orang yang melaksanakan karena benci.

Kesimpulannya, bahwa ayat ini menjelaskan tentang nikmat yang telah dianugerahkan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى kepada Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم  berupa kebaikan yang sangat banyak. Kemudian Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى memerintahkan agar mengikhlaskan diri dalam melaksanakan shalat, menyembelih hewan dan melaksanakan seluruh ibadah lainnya. Kemudian Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menerangkan, barang siapa yang membenci Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم  atau membenci salah satu dari syariatnya, maka orang tersebut telah terputus dari segala kebaikan dan keberkahan. Nas-alullaha al-‘Afiyah wa as-Salamah, kita memohon kesejahteraan dan keselamatan kepada Allah. [4]

Petunjuk Ayat :         

Di antara petunjuk ayat-ayat di atas adalah sebagai berikut :

1-Penjelasan tentang pemulian Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى terhadap Rasul-Nya Muhammad صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

2-Wajibnya ikhlash (memurnikan ketaatan kepada Allah) dalam mengerjakan semua betuk peribadatan. [5]

3-Bahwa termasuk kewajiban seorang hamba kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى  adalah mensyukuri segala bentuk nikmat yang telah Allah karuniakan dengan menggunakannya untuk mentaati-Nya.

4-Bahwa menghadapi kenikmatan dengan kesyukuran akan menambah kenikmatan [6]

5-Bahwa mengerjakan shalat dan berkurban dengan menyembelih hewan, keduanya merupakan perkara yang sangat agung yang digunakan oleh seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى [7]

6-Bahwa membenci Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ termasuk sebab terputusnya kebaikan pada seseorang.

7-Bahwa barang siapa membenci sesuatu yang dibawa oleh Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, niscaya ia akan mendapatkan efek buruknya. Abu Bakar bin ‘Iyasy mengatakan : “Ahlu Sunnah akan tetap ada (dan akan tetap berada dalam kebaikan) dan akan tetap pula disebut-sebut. Sedangkan ahli bid’ah akan mati dan akan mati pula penyebutan (kebaikan) mereka.” Hal demikian itu karena ahli bid’ah mereka membenci sebagian dari apa yang dibawa oleh Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , maka Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى akan memutus mereka (dari kebaikan) sejauh mana mereka melakukan kebid’ahannya dan sejauh mana mereka menjauh dari tuntunan Rasul-Nya صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Dan, orang-orang yang memperlihatkan apa-apa yang dibawa oleh Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, mereka pun akan mendapatkan bagian dari firman-Nya :

وَرَفَعۡنَا لَكَ ذِكۡرَكَ

Dan Kami tinggikan sebutan (nama)mu bagimu (asy-Syarh : 4)

Karena sesungguhnya sesuatu yang dengannya Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى  memuliakan Nabinya berupa kebahagiaan di dunia dan di akhirat, maka orang-orang yang beriman yang mengikuti jejaknya, akan mendapatkan bagian dari hal tersebut sekadar keimanannya. Adapun, hal-hal yang termasuk kekhususan kenabian dan kerasulan beliau, maka tak ada seorang pun dari kalangan umatnya yang ikut serta memperolehnya. Sedangkan hal-hal yang berupa pahala keimanan dan amal shaleh, maka setiap orang yang beriman akan mendapatkan bagian sekadar hal tersebut. [8]

8-Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman :

إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ

Orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.

Maka, setiap orang, siapa pun dia, bila mana membeci Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dan memusuhinya, niscaya Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى akan memutus kebaikannya sampai akar-akarnya, dan memusnahkan (kebaikan dan keberkahan) dirinya dan keturunannya. [9]

Wallahu A’lam

(Redaksi)

 

Catatan :

[*] Lihat : Bashaa-ir Dzawiy at-Tamyiz, Fairuz Abadiy, 1/547.

[**] Lihat : Shahih al-Bukhari, 6/178, Nazhmu ad-Durar, al-Biqa’i,22/287, Tafsir Ibnu Asyur, 30/571.

[***] Lihat : at-tafsir al-Wasith, Thanthawi, 15/521. Lihat juga, Ma’sha-id an-Nazhar, al-Biqa’i, 3/255.

[1] Hadis riwayat at-Tirmidzi, kitab Tafsir, bab dan dari surat (3361) ia berkata : hadis hasan shahih.

[2] Hadis riwayat Muslim, kitab al-Fadha-il, Bab : penetapan adanya telaga Rasulullah dan ciri-cirinya (2300-2301)

[3] Hadis riwayat al-Bukhary, Kitab At Tayammum, Bab firman Allah Ta’ala : فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا. Muslim, Kitab Shalat, Bab Masjid-masjid dan tempat-tempat Shalat (521) (3)

[4] Tafsir al-Qur’an al-Karim, Juz Amma, Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin, hal. 331-334. Dengan sedikit gubahan.

[5] Aisaru at-Tafaasiir, al-Jazaa-iriy, 5/622.

[6] al-Mukhtashar Fii Tafsiri al-Qur’an al-Karim, sekumpulan ulama Tafsir, hal.602.

[7] Lihat : Majmu’ al-Fatawa, 16/532.

[8] Lihat : Majmu’ al-Fatawa, Ibnu Taimiyah, 28/38.

[9] Lihat : ash-Shaarim al-Maslul ‘Ala Syaatimi ar-Rasul, Ibnu Taimiyah, hal. 165.