Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى (14) وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى (15) بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا (16) وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى (17) إِنَّ هَذَا لَفِي الصُّحُفِ الْأُولَى (18) صُحُفِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى (19)

Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri.

Dan dia ingat nama Rabb-nya, lalu dia shalat.

Tetapi kalian (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi.

Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.

Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab tetdahulu.

(Yaitu) kitatb-kitab Ibrahim dan Musa (al-A’la : 14-19)

أَفْلَحَ diambil dari kata فَلَاحٌ. Artinya meliputi keberhasilan meraih yang diinginkan dan selamat dari yang ditakuti. Itulah makna فَلَاحٌ, mencakup keberhasilan meraih segala kebaikan dan terhindar dari segala keburukan.

Firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى : مَنْ تَزَكَّى (orang yang membersihkan diri) diambil dari kata تَزْكِيَّةُ , yakni pembersihan diri. Dari situlah diambil kata zakat, karena pada hakikatnya zakat membersihkan manusia dari akhlak yang jelek, yakni bakhil, seperti yang Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى sebutkan dalam ayat :

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا [التوبة : 103]

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka (at-Taubah : 103)

Jadi, تَزَكَّى artinya membersihkan diri lahir dan batin. Pertama, membersihkan diri dari syirik. Ini berkaitan dengan hubungan dengan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. dia menyembah Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dengan memurnikan ketaatan hanya untuk Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى semata, tidak berbuat riya dan sum’ah, bukan untuk mengejar penghormatan dan kedudukan dari ibadah yang ia lakukan. Ia semata-mata mengharap pahala Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dan kampung akhirat.

Ia membersihkan diri dengan mengikuti Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, dengan tidak berbuat bid’ah dalam syariat, banyak maupun sedikit, dalam keyakinan, ucapan maupun amal perbuatan. Ini merupakan bentuk tazkiyah terhadap Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, yaitu dengan mengikuti beliau dan tidak berbuat bid’ah. Hal itu tidak mungkin dilakukan kecuali dengan mengikuti manhaj As-Salaf Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang mengimani seluruh sifat Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى yang Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى sebutkan dalam kitab-Nya atau melalui lisan Rasul-Nya صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Mengikuti pedoman Salafush Shaleh yang tidak berbuat bid’ah dalam ibadah-ibadah qauliyah (ibadah dalam bentuk ucapan) ataupun ibadah fi’liyyah (ibadah dalam bentuk perbuatan).

Anda dapati Salafush Shalih selalu mengikuti apa yang tertera dalam syariat. Berbeda halnya dengan apa yang dilakukan oleh sebagian ahli bid’ah yang mengada-adakan bid’ah dalam dzikir, mulai dari bentuk dzikirnya, kaifiyat dan sifatnya sampai kepada cara pelaksanaannya. Misalnya adalah yang dilakukan pengikut tarikat sufi dan selainnya.

Demikian pula ia membersihkan diri dalam hubunganya dengan orang lain. Ia membersihkan diri dari sifat dengki dan khianat terhadap saudara-saudaranya sesama muslim. Hatinya selalu bersih dan mencintai saudaranya apa-apa yang ia cintai bagi dirinya sendiri, tidak rela melihat saudaranya disakiti, bahkan ia berkeinginan agar semua orang terhindar dari keburukan dan mendapat taufik untuk berbuat kebaikan.

Jadi, makna مَنْ تَزَكَّى (orang yang membersihkan diri) adalah orang yang membersihkan diri lahir dan batin. Ia membersihkan batinnya dari syirik, syak (keragu-raguan), nifak, memusuhi kaum Muslimin, membenci mereka dan kotoran-kotoran lainnya yang harus dibersihkan dari hati. Ia juga harus membersihkan lahiriyahnya, dengan menjaga lisan dan anggota tubuhnya dari mengganggu hamba-hamba Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, tidak menggunjing orang lain, tidak mengadu domba (namimah), tidak memaki orang lain, tidak menyakiti orang lain dengan memukul atau merampas harta dan lain sebagainya.

Tazkiyah adalah istilah umum yang meliputi pembersihkan diri dari kotoran lahir dan batin. Jadi, tazkiyah ini berhubungan dengan tiga hal :

Pertama : Berhubungan dengan hak Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.

Kedua : Berhubungan dengan hak Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Ketiga : Berhubungan dengan hak manusia.

Tazkiyah yang berhubungan dengan hak Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى adalah membersihkan diri dari syirik, yaitu hanya menyembah Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى semata dengan mengikhlaskan ketaataan hanya kepada-Nya.

Tazkiyah yang berhubungan dengan hak Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ adalah membersihkan diri dari perbuatan bid’ah, yatu menyembah Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى sesuai dengan tuntutan syariat Muhammad صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, baik ibadah dalam bentuk keyakinan, perkataan atau perbuatan.

Dalam hubungannya dengan manusia, ia membersihkan diri dari khianat, hasad, permusuhan dan kebencian, ia menjauhi seluruh perkara yang dapat menimbulkan kebencian dan permusuhan di antara kaum muslimin. Dan ia melakukan apa saja yang dapat mendapatkan rasa cinta dan kasih sayang, di antaranya adalah dengan menebarkan salam. Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda :

لاَ تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا.أَوَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَىْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ

“Kalian tidak akan masuk Surga hingga kalian beriman. Dan kalian tidak beriman hingga kalian saling mengasihi. Maukah kalian aku tunjukkan suatu amalan yang apabila kalian lakukan akan tercipta rasa saling mengasihi di antara kalian ? Sebarkanlah salam di antara kalian.” [1]

Ucapan salam merupakan salah satu faktor penyebab yang sangat kuat untuk menumbuhkan rasa kasih dan cinta di antara kaum Muslimin. Hal ini sudah terbukti kebenarannya. Jika seorang muslim lewat di hadapanmu dan tidak mengucapkan salam kepadamu pasti tumbuh perasaan tidak enak dalam hatimu. Demikian pula sebaliknya, jika kamu tidak mengucapkan salam kepadanya maka tumbuh perasaan tidak enak dalam hatinya. Namun bila engkau mengucapkan salam kepadanya atau ia mengucapkan salam kepadamu maka seolah-olah itu merupakan tali yang menghubungkan kalian berdua yang akan menumbuhkan rasa kasih sayang dan cinta. Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda :

وَتَقْرَأُ السَّلَامَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَعَلَى مَنْ لَمْ تَعْرِفْ

“Ucapkanlah salam kepada orang yang engkau kenal dan orang yang tidak engkau kenal.” [2]

Kebanyakan orang sekarang ini hanya mengucapkan salam kepada orang yang ia kenal, adapun kepada orang yang tidak dikenalnya ia tidak mengucapkan salam. Sikap seperti ini jelas keliru. Karena apabila Anda hanya mengucapkan salam kepada orang yang Anda kenal saja berarti salam tersebut tidaklah tulus karena Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Ucapkanlah salam kepada kaum Muslimin yang Anda kenal dan yang tidak Anda kenal sehingga dengan demikian Anda memperoleh kasih sayang dan cinta mereka, memperoleh kesempurnaan iman dan dapat masuk Surga, semoga Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menjadikan kita sebagai penghuni Surga.

Firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى :

وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى

“Dan ia ingat nama Rabb-nya, lalu dia shalat.” (al-A’la : 15)

Yakni, dia ingat Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى sengaja menyebutkan : اسْمَ “nama” agar dzikir itu dilakukan dengan lisan. Karena dengan lisanlah seseorang menyebut nama Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, misalnya ia mengucapkan : سُبْحَانَ اللهِ (maha suci Allah), اَلْحَمْدُ لِلهِ (segala puji bagi Allah), اَللهُ أَكْبَرُ (Allah Maha Besar) (dan yang lainnya), maka ia mengingat Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dengan menyebut nama-Nya. Termasuk juga beribadah dengan menyebut nama Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. misalnya wudhu’, wudhu termasuk ibadah dengan menyebut nama Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Pertama, seseorang berwudhu tentu dalam rangka mengerjakan perintah Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Kedua, saat memulai wudhunya ia mengucapkan ‘بِسْمِ اللهِ’ (bismillah, dengan menyebut nama Allah), setelah selesai ia membaca :

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَاجْعَلْنِي مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ

 

“Aku bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Na. Ya Allah, masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang membersihkan diri.“

Termasuk juga khuthbah Jum’at. Khuthbah Jum’at termasuk mengingat Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Berdasarkan firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ [الجمعة : 9]

“Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.” (al-Jum’ah : 9)

Oleh sebab itu, sebagian ulama mengatakan : Firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى :

وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ

“Dan ia ingat nama Rabb-nya,

Yakni, khatib yang menyampaikan khuthbah pada hari Jum’at.

فَصَلَّى

lalu dia shalat. (al-A’la : 15)

Yakni, shalat Jum’at.

Ayat ini mencakup seluruh shalat yang didahului dengan menyebut nama Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Tidak ada satu pun shalat melainkan didahului dengan dzikir. Sebab apabila seseorang berwudhu sebelum shalat tentu ia menyebut nama Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى kemudian baru ia shalat.

Namun yang lebih tinggi lagi : Kandungan ayat ini berlaku umum. Jadi termasuk di dalamnya seluruh bentuk mengingat nama Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Yakni setiap kali seorang insan mengingat nama Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى maka ia akan sadar, menghadap kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dan mengerjakan shalat.

Shalat adalah ibadah yang sudah dimaklumi bersama, yakni ibadah yang terdiri atas ucapan dan perbuatan, dibuka dengan takbir dan diakhiri dengan taslim (ucapan salam).

Kemudian Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,

بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا. وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى

 

“Tetapi kalian (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (al-A’la : 16-17)

Kata بَلْ di sini fungsinya sebagai idhraab intiqaali. Karena kata بَلْ kadang kala berfungsi sebagai idhraab intiqaali dan kadangkala berfungsi sebagai idhraab ibthaali. Yakni perpindahan dari satu kalimat kepada kaliamat lain.
Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menjelaskan tentang keadaan manusia yang lebih memilih kehidupan dunia, karena sekarang ini kehidupan dunialah yang terbentang di hadapan mereka. Manusia diciptakan memiliki sifat terburu-buru. Suka kepada perkara yang segera terhidang dan ada sekarang. Oleh karena itu mereka lebih mengutamakan kehidupan dunia, padahal sebenarnya kehidupan dunia, seperti makna dunia sendiri, adalah rendah. Rendah zamannya dan rendah pula sifatnya. Dikatakan rendah zamannya karena dunia datang lebih dahulu dari pada kehidupan akhirat. Adapun keberadaan dunia yang serba kurang, memang begitulah realitanya. Meski bagaimana pun lamanya seseorang tinggal di dunia, suatu saat pasti binasa dan kesudahannya adalah kebinasaan. Meski bagaimana pun megahnya seseorang hidup di dunia, namun kesudahannya adalah kehancuran. Oleh sebab itu, hampir setiap kali datang waktu kegembiraan pasti datang setelah itu masa kesedihan.

Dalam hal ini seorang penyair berkata :

Hari ini kita kalah esok kita menang

Kita kalah pada peperangan nusaa’

Dan kita menang pada peperangan nasr.

Perhatikanlah keadaanmu di dunia, tentu tidak setiap waktu engkau lewati dengan mulus, pasti ada masa-masa sulit. Tidak setiap waktu engkau lewati dengan keceriaan, pasti ada masa-masa sedih. Tidak setiap waktu engkau lewati dengan ketenangan, pasti ada masa-masa susah. Dunia sebagaimana namanya adalah kehidupan yang rendah.

Kemudian Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,

وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى

 

“Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.”

Kehidupan akhirat lebih baik dan lebih kekal daripada kehidupan dunia. Lebih baik karena kenikmatan dan kebahagiaannya yang abadi dan tidak berkurang. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,

لَا يَمَسُّهُمْ فِيهَا نَصَبٌ وَمَا هُمْ مِنْهَا بِمُخْرَجِينَ [الحجر : 48]

 

“Mereka tidak merasa lelah di dalamnya dan mereka sekali-kali tidak akan dikeluarkan darinya.” (al-Hijr : 48)

Demikian pula kehidupan akhirat lebih kekal daripada kehidupan dunia. Keberadaan dunia adalah sedikit, akan hilang dan hancur. Berbeda halnya dengan keberadaan akhirat yang kekal abadi.

Kemudian Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,

إِنَّ هَذَا لَفِي الصُّحُفِ الْأُولَى (18) صُحُفِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى (19)

 

“Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab terdahulu, (yaitu) kitab-kitab Ibrahim dan Musa.” (al-A’la : 18-19)

Firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى :

إِنَّ هَذَا

“Sesungguhnya ini”

Yakni, penyebutan bahwa manusia lebih memilih kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat dan melupakan kehidupan akhirat, begitu pula peringatan-peringatan yang terkandung dalam ayat-ayat di atas,

لَفِي الصُّحُفِ الْأُولَى

“benar-benar terdapat dalam kitab-kitab terdahulu”

Yakni, kitab-kitab yang diturunkan sebelum umat ini. Yaitu :

صُحُفِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى

kitab-kitab Ibrahim dan Musa.

Kitab-kitab tersebut dibawa oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Musa عَلَيْهِمَا السَّلَامُ. di dalamnya terdapat peringatan dan nasehat yang dapat melunakan hati dan memperbaiki keadaan.

Kita memohon kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى semoga menjadikan kita termasuk orang-orang yang mendapat kebaikan di dunia dan akhirat. Dan menyelamatkan kita dari azab jahannam, sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Mulia.[3] Amin

Faidah :

1-Motivasi untuk membersihkan diri, lahir maupun batin. Karena, orang yang melakukannya akan menjadi bagian dari golongan orang-orang yang beruntung.

2-Pentingnya membersihkan diri dari hal-hal buruk yang bersifat zhahir dan yang bersifat batin [4]

3-Motivasi untuk zuhud terhadap kehidupan dunia dan dorongan untuk mencintai kehidupan akhirat. Hal demikian itu karena fananya kehidupan dunia dan kekalnya kehidupan akhirat.[5]

4-Motivasi untuk dzikrullah (mengingat dan menyebut Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى) dan nama-Nya, dan mengerjakan shalat.[6]

5-Saling selarasnya kitab-kitab samawi (Taurat, Zabur, Injil, al-Qur’an) merupakan dalil bahwasanya kitab-kitab tersebut adalah wahyu Allah dan kitab-kitab-Nya yang Dia turunkan kepada para Rasul-Nya, عَلَيْهِمُ السَّلَامُ [7]

6-Sungguh telah terkumpul berbagai macam kebaikan dalam firman-Nya : قَدْ أَفْلَحَ , (Sesungguhnya beruntunglah), karena falah (keberuntungan) adalah suksesnya seseorang dalam hal yang sangat diinginkannya, karena hal itu menghimpun dua makna, (pertama) kesuksesan atau kemenangan dan (kedua) kemanfaatan. Dan, yang demikian itu adalah kemenangan dengan mendapatkan sesuatu yang diinginkan berupa kebaikan. [8]

Wallahu A’lam

(Redaksi)

Catatan :

[1] Hadis riwayat Muslim dalam kitab al-Iman, bab : penjelasan bahwa tidak akan masuk surga kecuali orang-orang yang beriman dan menyebarkan salam merupakan salah satu sebab masuk Surga (54) (93).

[2] Hadis riwayat al-Bukhari dalam kitab al-Isti’dzaan bab Ucapan salam kepada orang yang dikenal dan orang yang tidak dikenal (6236) dan Muslim dalam kitab al-Iman bab Penjelasan tentang tingkatan Islam dan amal yang paling utama dalam Islam (63) (39).

[3] Tafsir Juz Amma, Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin, hal. 166-170.

[4] Lihat : al-Mukhtashar Fii Tafsiri al-Qur’an, Sekelompok Ulama Tafsir, hal. 954.

[5] Lihat : Aisir at-Tafasir, karya : al-Jaza-iriy, 5/559.

[6] Lihat : al-Anwar as-Sati’at Li-Aayati Jami’at, Abdul Aziz bin Muhammad as-Salman, 3/444.

[7] Lihat : Aisir at-Tafasir, karya : al-Jaza-iriy, 5/559.

[8] at-Tahrir Wa at-Tanwir Min at-Tafsir, Ibnu Asyur, 16/300.