Ketika menjelaskan sebagian karakter orang-orang yang beriman yang dijamin akan beruntung, Allah ﷻ :

﴿قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ (1) الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ (2) وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ (3)﴾ [المؤمنون: 1-3]

Sungguh, beruntunglah orang-orang mukmin (orang-orang yang beriman). (Yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya, orang-orang yang meninggalkan (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna (al-Mukminun : 1-3)

Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah berkata :

“Jangan coba-coba engkau menjerumuskan dirimu ke dalam perkara yang tidak ada gunanya.

Menyingkirlah dari musuhmu.

Ketika meminta bantuan untuk menjaga barangmu maka pilihlah orang yang bisa dipercaya, karena orang yang amanah pada sebuah lingkungan mendatangkan keadilan.

(Ketahuilah) bahwa tidak ada orang yang bisa dipercaya melainkan orang yang takut kepada Allah.

Jangan sekali-kali berteman dengan pelaku maksiat karena sesungguhnya dia akan menyeretmu…

Ajaklah dialog orang-orang yang merasa takut kepada Allah Ta’ala di dalam urusanmu.”

[Abdullah bin Mubarak, “az-Zuhdu“, hal 491]