Pada pembahasan yang lalu kita telah membicarakan keutamaan-keutamaan kalimat tauhid laa ilaaha illallah yang disarikan dari apa-apa yang tercantum dalam Al-Qur’an Al-Karim.
Itulah kalimat agung yang karenanya tegak bumi dan langit, diciptakan semua makhluk, diutus para Rasul, diturunkan kitab-kitab, ditetapkan syariat, ditancapkan timbangan-timbangan, diletakkan catatan-catatan, didirikan pasar surga serta neraka, ciptaan terbagi kepada orang-orang beriman dan orang-orang kafir serta orang-orang baik-baik dan pelaku dosa.
Ia adalah asas bagi ciptaan dan perintah, serta pahala dan siksaan.
Ia adalah al-haq yang dibangun di atasnya millah (agama) serta diadakan kiblat. Orang-orang terdahulu maupun yang akan datang ditanya tentangnya ada hari kiamat. Tidaklah bergeser kedua kaki seorang hamba di hadapan Allah hingga ditanya tentang dua masalah; Apa yang dahulu kamu sembah ? Apa jawaban kamu terhadap para utusan?
Jawaban bagi pertanyaan pertama adalah dengan merealisasikan kalimat tauhid laa ilaaha illallah baik dari segi ilmu, pengakuan, maupun pengamalan.
Jawaban bagi pertanyaan kedua adalah dengan merealisasikan bahwa Muhammad adalah utusan Allah baik dari segi ilmu, pengakuan, kepatuhan, dan ketaatan.[1]
Sungguh keutamaan-keutamaan kalimat tauhid ‘laa ilaaha illallah’ tidak mungkin dihitung oleh ciptaan, karena disiapkan atasnya berupa pahala dan ganjaran serta faidah-faidah sangat banyak di dunia dan akhirat, yang tidak terbetik dalam hati dan tidak terlintas dalam khayalan, dan barangkali aku akan memaparkan beberapa keutamaan kalimat ini dari sela-sela apa-apa yang disebutkan tentangnya dalam hadits Rasulullah ﷺ.
Pertama
Pertama, ia adalah amalan yang paling utama dan lebih banyak lipat gandanya, sebanding dengan memerdekakan budak. Kalimat ini menjadi pelindung dari setan bagi orang yang mengatakannya. Seperti disebutkan dalam Ash-Shahihain, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ beliau bersabda :
“Barang siapa mengucapkan ‘laa ilaaha illallah wahdahu laa syariika lahu, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa alaa kulli syai`in qadiir’ (tidak ada sembahan yang haq kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala puji, dan Dia berkuasa atas segala sesuatu), pada satu hari sebanyak 100 kali, maka baginya sebanding memerdekakan sepuluh budak, dituliskan baginya seratus kebaikan, dihapus darinya seratus keburukan, dan tidak seorang pun datang dengan apa yang lebih utama daripadanya kecuali seseorang yang mengerjakan lebih banyak daripada itu.”[2]
Masih dalam Ash-Shahihain dari Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ dia bersabda :
“Barang siapa mengucapkannya sepuluh kali, maka orang tersebut sama seperti orang yang memerdekakan empat jiwa dari keturunan Ismail “[3]
Kedua
Kedua, ia adalah seutama-utama perkataan yang dikatakan oleh para Nabi, berdasarkan apa yang tercantum dalam hadis Nabi, sesungguhnya beliau ﷺ bersabda :
“Seutama-utama perkataan yang aku katakan dan (dikatakan pula oleh) para nabi di sore Arafah adalah ‘laa ilaaha illallah wahdahu laa syariika lahu, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ala kulli syai`in qadiir. ” [4]
Dalam lafazh lain :
“Sebaik-baik doa adalah doa hari Arafah, dan sebaik-baik apa yang aku katakan dan (dikatakan pula oleh) para Nabi sebelumku adalah ; ‘laa ilaaha illallah wahdahu, laa syariika lahu, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa alaa kulli syai`in qadiir.’ “[4]
Ketiga
Ketiga, ia bisa mengungguli timbangan catatan-catatan dosa pada hari kiamat, seperti pada hadits Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu ‘anhu, yang dikutip dalam Al-Musnad, Sunan An-Nasa`i dan At-Tirmidzi, serta selain keduanya, melalui sanad yang jayyid, dari Nabi ﷺ , beliau bersabda :
“Dipanggil seseorang dari umatku di hadapan ciptaan pada Hari
Kiamat, maka dibentangkan untuknya sembilan puluh sembilan
lembaran, setiap satu lembaran sejauh mata memandang, kemudian Allah tabaraka wa ta’ala berfirman kepadanya, ‘Apakah engkau mengingkari sesuatu dari hal ini?’ Dia berkata : ‘Tidak ya Rabb.’ Allah berfirman, ‘Bahkan, sungguh engkau memiliki kebaikan pada kami, dan sungguh tidak ada kezhaliman atasmu.’ Lalu dikeluarkan untuknya kartu yang terdapat padanya, ‘aku bersaksi tidak ada sembahan yang haq kecuali Allah, dan bahwa Muhammad hamba dan utusan-Nya.’ Orang itu berkata, ‘Wahai Rabb, apalah artinya kartu ini dibandingkan lembaran-lembaran ini?’ Allah berfirman, ‘Sungguh engkau tidak dizhalimi.”” Beliau bersabda, “Maka lembaran-lembaran itu diletakkan pada satu anak timbangan dan kartu pada anak timbangan lainnya, ternyata lembaran-lembaran itu masih lebih ringan, sementara kartu lebih berat.”[6]
Tidak diragukan lagi, orang ini telah menegakkan dengan hatinya daripada keimanan, sehingga menjadikan kartunya yang terdapat padanya ‘laa ilaaha illallah’ mengungguli lembaran-lembaran tersebut, karena manusia berbeda-beda keutamaannya dalam hal amalan, sesuai dengan apa yang ditegakkan oleh hati mereka dairpada keimanan. Karena bila tidak demikian, berapa banyak yang mengucapkan ‘laa ilaaha illallah’ namun tidak mendapatkan seperti itu disebabkan lemahnya keimanannya terhadap kalimat tersebut dalam hatinya.
Disebutkan dalam Ash-Shahihain, dari hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ beliau bersabda :
“Akan keluar dari neraka siapa yang mengucapkan ‘laa ilaaha illallah’ dan dalam hatinya ada seberat sebiji syair (jenis gandum) berupa kebaikan, dan akan keluar dari neraka barang siapa mengucapkan ‘laa ilaaha illallah’ dan di hatinya seberat burrah (jenis gandum) berupa kebaikan, dan akan keluar dari neraka siapa yang mengucapkan ‘laa ilaaha illallah’ dan di hatinya seberat dzarrah (biji sawi) berupa kebaikan).” [7]
Maka hal itu menunjukkan bahwa ahli ‘laa ilaaha illallah’ berbeda-beda padanya, sesuai apa yang tegak dalam hati mereka dari keimanan.
Keempat
Keempat, apabila ia ditimbang berbanding dengan langit-langit
dan bumi, niscaya ia akan lebih berat darinya, seperti disebutkan dalam Al-Musnad, dari Abdullah bin Amr, dari Nabi ﷺ:
“Sesungguhnya Nuh berkata kepada anaknya saat kematiannya, aku perintahkan kepadamu ‘laa ilaaha illallah,’ karena langit yang tujuh dan bumi yang tujuh, jika diletakkan pada satu anak timbangan, dan ‘laa ilaaha illallah’ diletakkan pada anak timbangan satunya, niscaya ia (langit dan bumi) akan dikalahkan beratnya oleh ‘laa ilaaha illallah,’ dan sekiranya langit yang tujuh berada dalam lingkaran tak berpintu niscaya akan dihancurkan oleh ‘laa ilaaha illallah. ” [8]
Kelima
Kelima, tidak ada hijab (penghalang) antara kalimat itu dengan
Allah, bahkan ia menembus semua penghalang hingga sampai kepada Allah.
Dalam Sunan At-Tirmidzi melalui sanad hasan dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ, sesungguhnya beliau bersabda :
“Tidaklah seorang hamba mengucapkan ‘laa ilaaha illallah’ secara ikhlas, melainkan dibukakan baginya pintu-pintu langit hingga sampai ke ‘Arsy selama dijauhi dosa-dosa besar.” [9]
Keenam
Keenam, ia adalah keselamatan dari neraka bagi orang yang mengucapkannya.
Dalam Shahih Muslim disebutkan, “Nabi ﷺ mendengar mu`adzin mengucapkan, ‘asyhadu an laa ilaaha illallah,’ maka beliau ﷺ bersabda :
‘Dia telah keluar dari neraka. “[10]
Sementara dalam Ash-Shahihain, dari hadits Itban, dari Nabi ﷺ beliau bersabda :
“Sungguh Allah mengharamkan atas neraka siapa yang mengucapkan ‘laa ilaaha illallah’ untuk mencari wajah Allah.” [11]
Ketujuh
Ketujuh, bahwa Nabi ﷺ menjadikannya cabang iman yang paling utama.
Dalam Ash-Shahihain, dari hadits Abu Hurairah, sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda :
“Iman ada tujuh puluh lebih cabang, paling tinggi adalah ‘laa ilaaha illallah,’ dan paling rendah adalah menghilangkan duri dari jalan.” [12]
Kedelapan
Kedelapan, Nabi ﷺ telah mengabarkan bahwa ‘laa ilaaha illallah’ adalah dzikir paling utama, seperti diriwayatkan At-Tirmidzi dan selainnya, dari hadits Jabir bin Abdullah, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda :
‘Dzikir paling utama adalah laa ilaaha illallah, dan doa paling utama adalah alhamdulillah.'” [13]
Kesembilan
Kesembilan, barang siapa mengucapkannya dengan ikhlas dari hatinya, maka ia menjadi manusia paling berbahagia terhadap syafaat Rasul yang mulia pada hari kiamat.
Disebutkan dalam Ash-Shahih dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata, “Dikatakan, ‘Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berbahagia terhadap syafa’atmu pada hari kiamat?’ Rasulullah ﷺ menjawab :
‘Sungguh aku telah menduga wahai Abu Hurairah, tidak ada seseorang pun yang akan lebih dahulu bertanya kepadaku tentang hadis ini daripada engkau, karena apa yang aku lihat dari keseriusanmu terhadap hadits. Manusia paling berbahagia terhadap syafa’atku pada hari kiamat adalah orang mengucapkan laa ilaaha illallah secara ikhlas dari dalam hatinya atau dirinya. ‘”[14]
Sabda Nabi ﷺ pada hadits ini, “Orang yang mengucapkan laa ilaaha illallah ikhlas dari dalam hatinya,” menjadi dalil bahwa ‘laa ilaaha illallah’ tidak diterima dari orang mengucapkannya jika sekedar ucapan dengan lisan, bahkan mesti memenuhi syarat-syaratnya dan melakukan batasan-batasannya yang tercantum dalam AI-Kitab dan As-Sunnah, karena ia tidaklah diterima dari orang mengucapkannya kecuali disertai hal-hal itu. Maka pembahasan penting ini akan menjadi materi kajian kita yang akan datang, insya Allah.
Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.
Wallahu A’lam
(Redaksi)
Sumber :
Fiqhu al-Ad-‘iyyah Wa al-Adz-kar, Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin al-Abbad al-Badr, 1/139-142.
Catatan :
[1] Lihat Zadul Ma’ad, karya Ibnu al-Qayyim, 1/34.
[2] Shahih al-Bukhari, No. 3293 dan No.6403, dan Shahih Muslim, No. 2691.
[3] Shahih al-Bukhari, No. 6404 dan No.2693, dan Shahih Muslim, No. 2691.
[4] Diriwayatkan Ath-Thabrani dalam Ad-Du’a, No. 873, dari hadis Ali radhiyallahu ‘anhu.
[5] Diriwayatkan At-Tirmidzi dalam As-Sunan, No. 3585, dari hadis Abdullah bin Amr, dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah, 4/7-8, dan beliau berkata, “Hadis ini adalah tsabit (akurat) berdasarkan keseluruhan pendukung-pendukungnya.”
[6] al-Musnad, 2/213, Sunan At-Tirmidzi, No. 2639, dan Sunan Ibnu Majah, No. 4300. Al-Albani berkata, “Shahih.” Lihat Shahih Al-Jami’, No. 8095.
[7] Shahih al-Bukhari, No. 44, dan Shahih Muslim, No. 193 (325)
[8] al-Musnad, 2/170, dan dinyatakan shahih oleh al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah, No. 134.
[9] Sunan At-Tirmidzi, No. 3590, dan dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’, No. 5648.
[10] Shahih Muslim, No. 382.
[11] Shahih Al-Bukhari, No. 6938, dan Shahih Muslim, No. 33 (263).
[12] Shahih al-Bukhari, No. 9, dan Shahih Muslim, No. 35.
[13] Sunan At-Tirmidzi, No. 3383, dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’, No. 1104.
[14] Shahih al-Bukhari, No. 99.





