﴿إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ إِنَّا لَا نُضِيعُ أَجْرَ مَنْ أَحْسَنَ عَمَلًا (30) أُولَئِكَ لَهُمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِنْ ذَهَبٍ وَيَلْبَسُونَ ثِيَابًا خُضْرًا مِنْ سُنْدُسٍ وَإِسْتَبْرَقٍ مُتَّكِئِينَ فِيهَا عَلَى الْأَرَائِكِ نِعْمَ الثَّوَابُ وَحَسُنَتْ مُرْتَفَقًا (31)﴾ [الكهف: 30-31]

Sesungguhnya mereka yang beriman dan mengerjakan kebajikan, Kami benar-benar tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang mengerjakan perbuatan baik.

Mereka itulah yang memperoleh surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. (Dalam surga itu) mereka diberi hiasan gelang emas dan mereka memakai pakaian hijau dari sutra halus dan sutra tebal. Mereka duduk-duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah. (Itulah) sebaik-baik pahala dan tempat istirahat yang indah.

Makna Global

Allah ﷻ tengah menjelaskan tentang baiknya kesudahan orang-orang yang beriman, Dia ﷻ berfirman: sesungguhnya mereka orang-orang yang beriman dan mereka melakukan amal-amal shaleh, sesungguhnya Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala mereka dan Kami pun tak akan menguranginya; karena mereka telah memperbagus amal mereka. Mereka itulah orang-orang yang akan memperoleh surga-surga tempat tinggal yang kekal, mengalir dari bawah kamar-kamar mereka dan tempat tinggal-tempat tinggal mereka serta pohon-pohon mereka sungai-sungai yang airnya segar. Dalam surga itu mereka diberi hiasan gelang emas dan mereka memakai pakaian hijau dari sutra halus dan sutra tebal. Di dalam surga itu mereka duduk-duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang dihiasi sehingga tampak indah. (Itulah) sebaik-baik pahala dan tempat istirahat yang indah, yang ditutupi dengan kubah yang terbuat dari kain yang mewah. Sebaik-baik pahala adalah surga-surga itu, dan surga-surga itu merupakan sebaik-baik tempat tinggal dan tempat istirahat mereka.

Tafsir Ayat

[Firman-Nya ﷻ]

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ إِنَّا لَا نُضِيعُ أَجْرَ مَنْ أَحْسَنَ عَمَلًا

Sesungguhnya mereka yang beriman dan mengerjakan kebajikan, Kami benar-benar tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang mengerjakan perbuatan baik.

Korelasi Ayat Ini dengan Ayat Sebelumnya

Bahwa Allah ﷻ setelah menyebutkan ancaman terhadap al-Mubthilin (orang-orang yang mengingkari dan menolak kebenaran), Dia ﷻ mengikutinya dengan menyebutkan setelahnya dengan janji terhadap al-Muhiqqin (orang-orang mengakui dan membenarkan kebenaran yang datang dari-Nya) [1]

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ إِنَّا لَا نُضِيعُ أَجْرَ مَنْ أَحْسَنَ عَمَلًا

Sesungguhnya mereka yang beriman dan mengerjakan kebajikan, Kami benar-benar tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang mengerjakan perbuatan baik.

Yakni, Sesungguhnya mereka yang beriman dengan setiap perkara yang wajib diimani oleh mereka, dan mereka mengerjakan amal-amal baik, sesungguhnya Kami sekali-kali tidak akan menyia-nyiakan pahala mereka; karena mereka telah memperbagus amal mereka, dan demikian juga Kami pun tidak akan menyia-nyiakan pahala setiap orang yang memperbagus amalnya, di mana ia menjadikan amalnya tersebut murni untuk Allah ﷻ dan ia pun mengikuti tuntunan syariat-Nya dalam melakukannya di atas petunjuk Rasul-Nya. [2]

Seperti kata Allah ﷻ:

﴿فَاسْتَجَابَ لَهُمْ رَبُّهُمْ أَنِّي لَا أُضِيعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِنْكُمْ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى﴾ [آل عمران: 195]

Maka, Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman), “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan perbuatan orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki maupun perempuan (Ali Imran: 195)

Allah ﷻ juga berfirman:

﴿إِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ﴾ [التوبة: 120]

Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik. (at-Taubah: 120)

[Firman-Nya ﷻ]

أُولَئِكَ لَهُمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِنْ ذَهَبٍ وَيَلْبَسُونَ ثِيَابًا خُضْرًا مِنْ سُنْدُسٍ وَإِسْتَبْرَقٍ مُتَّكِئِينَ فِيهَا عَلَى الْأَرَائِكِ نِعْمَ الثَّوَابُ وَحَسُنَتْ مُرْتَفَقًا

Mereka itulah yang memperoleh surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. (Dalam surga itu) mereka diberi hiasan gelang emas dan mereka memakai pakaian hijau dari sutra halus dan sutra tebal. Mereka duduk-duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah. (Itulah) sebaik-baik pahala dan tempat istirahat yang indah.

Korelasi Ayat Ini dengan Ayat Sebelumnya

Bahwa Allah ﷻ ketika telah menetapkan adanya pahala bagi orang-orang mengakui dan membenarkan kebenaran yang datang dari-Nya, namun pahala yang disebutkannya tersebut masih belum jelas (bentuknya), maka Dia ﷻ mengikutinya dengan penjelasan secara terperinci dari beberapa sisi; pertama: tentang sifat tempat mereka. Kedua: tentang pakaian mereka. Ketiga: tentang tata cara duduk mereka. [3]

Dan juga ketika Dia ﷻ telah menyebutkan tempat orang-orang kafir -yaitu, Neraka-, maka Dia ﷻ kemudian menyebutkan tempat orang-orang yang beriman, yaitu جَنَّاتُ عَدْنٍ (surga ‘Adn), dan ketika Dia ﷻ telah menyebutkan di sana perihal apa yang mereka pinta -yaitu air, lalu mereka diberi air seperti (cairan) besi yang mendidih-, maka kemudian Dia ﷻ di sini, menyebutkan sesuatu yang istimewa yang dikhususkan bagi para penduduk Surga, di mana keadaan sungai-sungai yang mengalir dari bawah mereka, kemudian Dia menyebutkan sesuatu yang Dia karuniakan kepada mereka berupa perhiasan dan pakaian yang mana kedua hal tersebut merupakan hiasan yang memperindah penampilan luar. [4]

[Firman-Nya ﷻ]

أُولَئِكَ لَهُمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ

Mereka itulah yang memperoleh surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.

Yakni, mereka itulah-orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan-bagi mereka surga-surga sebagai tempat tinggal yang kekal, sungai-sungai yang banyak mengalir di hadapan mereka dari bawah kamar-kamar mereka dan tempat tinggal mereka, serta pohon-pohon (yang menaungi) mereka. [5]

Seperti kata Allah ﷻ:

﴿وَعَدَ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ أَكْبَرُ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ﴾ [التوبة: 72]

Allah telah menjanjikan kepada orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, surga-surga yang sungai-sungai mengalir di bawahnya, mereka kekal di dalamnya, dan tempat-tempat yang baik di surga ‘Adn. Rida Allah lebih besar. Itulah kemenangan yang agung. (at-Taubah: 72)

[Firman-Nya ﷻ]

يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِنْ ذَهَبٍ

(Dalam surga itu) mereka diberi hiasan gelang emas

Yakni, orang-orang beriman dihiasi di dalam Surga dengan gelang terbuat dari emas yang ditempatkan pada tangan-tangan mereka [6]

[Firman-Nya ﷻ]

وَيَلْبَسُونَ ثِيَابًا خُضْرًا مِنْ سُنْدُسٍ وَإِسْتَبْرَقٍ

Yakni, dan mereka memakai pakaian berwarna hijau yang terbuat dari sutra tipis dan yang terbuat dari sutra tebal [7]

[Firman-Nya ﷻ]

مُتَّكِئِينَ فِيهَا عَلَى الْأَرَائِكِ

Mereka duduk-duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah

Yakni, dan keadaan mereka di surga adalah bahwa mereka duduk-duduk sambil bersandar [8] di atas dipan-dipan yang dihiasi dan diperindah tampilannya ditutupi dengan kubah yang terbuat dari kain yang mewah. [9]

Seperti kata Allah ﷻ:

﴿إِنَّ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ الْيَوْمَ فِي شُغُلٍ فَاكِهُونَ (55) هُمْ وَأَزْوَاجُهُمْ فِي ظِلَالٍ عَلَى الْأَرَائِكِ مُتَّكِئُونَ (56)﴾ [يس: 55-56]

Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu berada dalam kesibukan (sehingga tidak sempat berpikir tentang penghuni neraka) lagi bersenang-senang.

Mereka dan pasangan-pasangannya berada dalam tempat yang teduh sambil berbaring di atas ranjang berkelambu. (Yasin: 55-56)

[Firman-Nya ﷻ]

نِعْمَ الثَّوَابُ

(Itulah) sebaik-baik pahala

Yakni, sebaik-baik pahala orang-orang beriman adalah surga-surga itu yang Allah sifatkan sebagian dari kenikmatan yang ada di dalamnya; sebagai balasan bagi mereka atas amal-amal shaleh yang mereka lakukan (selama hidup di kehidupan dunia). [10]

[Firman-Nya ﷻ]

وَحَسُنَتْ مُرْتَفَقًا

dan tempat istirahat yang indah.

Yakni, dan tempat istirahat yang indah itu adalah surga-surga itu sebagai tempat tinggal dan tempat menetap, di mana orang-orang yang beriman dan melakukan kebajikan akan tetap menetap di dalamnya. [11]

Seperti kata Allah ﷻ:

﴿أُولَئِكَ يُجْزَوْنَ الْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوا وَيُلَقَّوْنَ فِيهَا تَحِيَّةً وَسَلَامًا (75) خَالِدِينَ فِيهَا حَسُنَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا (76)﴾ [الفرقان: 75-76]

Mereka itu akan diberi balasan dengan tempat yang tinggi (dalam surga) atas kesabaran mereka serta di sana mereka akan disambut dengan penghormatan dan salam.

Mereka kekal di dalamnya. (Surga) itu sebaik-baik tempat menetap dan kediaman. (al-Furqan: 75-76)

Dan Allah ﷻ juga berfirman:

﴿أَصْحَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَئِذٍ خَيْرٌ مُسْتَقَرًّا وَأَحْسَنُ مَقِيلًا﴾ [الفرقان: 24]

Para penghuni surga pada hari itu paling baik tempat tinggalnya dan paling indah tempat istirahatnya. (al-Furqan: 24)

Faedah:

1-Firman-Nya ﷻ:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ إِنَّا لَا نُضِيعُ أَجْرَ مَنْ أَحْسَنَ عَمَلًا

Sesungguhnya mereka yang beriman dan mengerjakan kebajikan, Kami benar-benar tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang mengerjakan perbuatan baik.

Firman Allah ﷻ:

إِنَّا لَا نُضِيعُ أَجْرَ مَنْ أَحْسَنَ عَمَلًا

Kami benar-benar tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang mengerjakan perbuatan baik.

“Kebaikan amal adalah seorang hamba menginginkan amal yang baik yang dilakukannya untuk meraih rida Allah ﷻ, dan dia mengikuti petunjuk syariat Allah ﷻ ketika melakukannya.

Amal semacam inilah yang Allah ﷻ tidak akan menyia-nyiakannya sedikit pun juga.

Bahkan, Dia ﷻ akan menjaga (pahala) amal tersebut bagi orang-orang yang melakukannya. Dan, Dia ﷻ pun akan memberikan ganjaran yang sempurna kepada mereka sesuai amal yang mereka lakukan, karunia-Nya dan kebaikan-Nya.” [12]

2-Dua kaedah pahala dan asas keselamatan adalah iman bersama amal shaleh; karena Allah ﷻ menetapkan dan menyiapkan atas kedua hal tersebut adanya pahala di dunia dan di akhirat. [13]

3-Firman Allah ﷻ:

يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِنْ ذَهَبٍ

(Dalam surga itu) mereka diberi hiasan gelang emas

Menunjukkan bahwa hiasan di dalam Surga berlaku umum bagi kalangan laki-laki dan kalangan wanita; karena Dia ﷻ memutlakkannya pada firman-Nya: يُحَلَّوْنَ (mereka diberi hiasan), dan demikian pula halnya dengan sutra dan lainnya. (yakni, berlaku umum juga. Diberikan kepada kalangan laki-laki dan juga diberikan kepada kalangan wanita penduduk Surga-pen) [14]

4-Allah ﷻ berfirman:

وَيَلْبَسُونَ ثِيَابًا خُضْرًا مِنْ سُنْدُسٍ وَإِسْتَبْرَقٍ

Dan (dalam surga itu) mereka memakai pakaian hijau dari sundus dan istabraq.

Sundus dan istabraq merupakan dua jenis sutra, dan sebaik-baik warna adalah warna hijau, dan pakaian yang paling halus adalah sutra; maka, Dia ﷻ mengumpulkan untuk mereka (para penduduk Surga) antara keindahan pemandangan pakaian dan kelezatan pandangan mata menikmatinya dan antara kenikmatan-kenikmatan-Nya dan kelezatan jasad menikmatinya. Dan Allah ﷻ berfirman:

وَلِبَاسُهُمْ فِيهَا حَرِيرٌ [الحج: 23]

Pakaian mereka di dalamnya adalah sutra. (al-Hajj: 23) [15]

Wallahu A’lam

(Redaksi)

Catatan:

[1] Lihat: Tafsir ar-Raziy, 21/460.

[2] Lihat: Tafsir Ibnu Jarir, 15/254. Tafsir Ibnu Katsir, 5/156. Tafsir as-Sa’diy, hal. 476. Adh-Waa-ul Bayan, karya: asy-Syinqithi, 3/271. Tafsir Ibnu Utsaimin -surat al-Kahfi, hal. 65.

[3] Lihat: Tafsir ar-Raziy, 21/461.

[4] Lihat: Tafsir Abu Hayyan, 7/170.

[5] Lihat: Tafsir Ibnu Jarir, 15/255. Tafsir Ibnu Katsir, 5/156. Tafsir as-Sa’diy, hal. 476. Adh-Waa-ul Bayan, karya: asy-Syinqithi, 3/272. Tafsir Ibnu Utsaimin-surat al-Kahfi, hal. 65.

[6] Lihat: Tafsir Ibnu Jarir, 15/255. Tafsir Ibnu Athiyyah, 3/514. Tafsir asy-Syaukaniy, 3/335.

Berkata Ibnu Utsaimin:

Huruf مِنْ pada kalimat مِنْ أَسَاوِرَ, boleh jadi untuk menunjukkan makna Sebagian; yakni, mereka (para penduduk Surga) diberi hiasan di dalam Surga Sebagian gelang, yakni, setiap orang dari mereka diberi hiasan sesuatu dari gelang-gelang ini, dan ketika itu tidak ada isykal. Boleh jadi pula huruf مِنْ pada kalimat مِنْ أَسَاوِرَ tersebut untuk menjadi penjelasan. Yakni, penjelasan tentang sesuatu yang disematkan kepada mereka berupa perhiasan, yaitu berbentuk gelang-gelang, bukan berupa kalung atau anting-anting misalnya. Adapun firman-Nya: مِنْ ذَهَبٍ, maka kalimat ini sebagai penjelasan. Yakni, untuk menjelaskan gelang-gelang yang diberikan itu bahwasanya gelang-gelang tersebut terbuat dari emas (Tafsir Ibnu Utsaimin-surat al-Kahfi, hal. 66)

[7] Lihat: Tafsir Ibnu Jarir, 15/255. Tafsir Ibnu Katsir, 5/156. Tafsir as-Sa’diy, hal. 476. Tafsir Ibnu Asyur, 15/313. Tafsir Ibnu Utsaimin-surat al-Kahfi, hal. 67.

Ibnu Asyur mengatakan:

السندسُ merupakan salah satu jenis pakaian, ia adalah dibaj yang tipis, dikenakan di badan langsung bersentuhan dengan kulit; untuk melindungi kulit dari tebalnya al-Istabraq. Sedangkan al-Istibraq adalah dibaj yang tebal yang disulam dengan menggunakan emas, dikenakan di atas pakaian yang bersentuhan langsung dengan kulit. (Tafsir Ibnu Asyur, 15/313)

[8] Ibnu Katsir mengatakan:

Firman-Nya سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى: مُتَّكِئِينَ فِيهَا عَلَى الْأَرَائِكِ, tentang الاتكاءُ, ada yang mengatakan, الاضطجاعُ (berbaring). Ada juga yang mengatakan: التربُّعُ في الجلوس (duduk sila), dan makna ini merupakan makna yang paling menyerupai dengan hal yang dimaksudkan di sini, di antara yang semakna dengan ini adalah hadis yang terdapat dalam ash-Shahih (di mana Nabi ﷺ bersabda): «أمَّا أنا، فلا آكُلُ مُتَّكِئًا» (adapun aku, maka aku tidak makan sambil bersandar). Tentang makna مُتَّكِئًا di sini ada dua pendapat. (Tafsir Ibnu Katsir, 5/156)

Al-Biqa’iy mengatakan:

Dia ﷺ mulai menyebutkan sifat tentang keadaan duduk mereka (para penghuni Surga) di dalam Surga, bahwa keadaan duduk mereka itu seperti duduknya para raja dipenuhi dengan berbagai ragam bentuk kenikmatan, Dia ﷻ berfirman: مُتَّكِئِينَ فِيهَا (mereka duduk-duduk sambil bersandar) di dalam Surga), yakni, karena mereka berada dalam kerehatan yang paripurna (Nazhmu ad-Durar, 12/55).

Berkata Ibnu Utsaimin:

الاتكاءُ (duduk sambil bersandar) menunjukkan kelegaan dan ketenteraman jiwa dan juga menunjukkan adanya ketenangan dalam hati. (Tafsir Ibnu Utsaimin-surat al-Kahfi, hal. 67.)

[9] Lihat: Tafsir Ibnu Jarir, 15/255, Hadiy al-Arwah, karya: Ibnul Qayyim, hal: 212, 213, Tafsir Ibnu Katsir, 5/156. Tafsir as-Sa’diy, hal. 476. Tafsir Ibnu Asyur, 15/314. Adh-Waa-ul Bayan, karya: asy-Syinqithiy, 3/272.

[10] Lihat: Tafsir Ibnu Jarir, 15/256. Tafsir Ibnu Katsir, 5/156. Tafsir as-Sa’diy, hal. 476.

[11] Lihat: Tafsir Ibnu Katsir, 5/156. Tafsir as-Sa’diy, hal. 476. Adh-Waa-ul Bayan, karya: asy-Syinqithiy, 3/270, 273.

[12] Lihat: Tafsir as-Sa’diy, hal. 475.

[13] Lihat: al-Mukhtashar Fii Tafsiri al-Qur’an al-Karim, Sekelompok ulama Tafsir, hal. 297.

[14] Lihat: Tafsir as-Sa’diy, hal. 475.

[15] Lihat: Hadiy al-Arwah, karya: Ibnul Qayyim, hal. 197.