Bila Allah ﷻ menghalangi hamba-hamba yang beriman kepada-Nya dari suatu keinginan mereka, Dia ﷻ pasti membuka pintu (lain) yang lebih ; bermanfaat, mudah dan pantas untuk mereka.
Sebagaimana firman Allah ﷻ,
مَا نَنْسَخْ مِنْ آيَةٍ أَوْ نُنْسِهَا نَأْتِ بِخَيْرٍ مِنْهَا أَوْ مِثْلِهَا أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Ayat mana saja yang kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, pasti Kami datangkan ayat yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya.” (Qs. Al-Baqarah : 106)
وَإِنْ يَتَفَرَّقَا يُغْنِ اللَّهُ كُلًّا مِنْ سَعَتِهِ وَكَانَ اللَّهُ وَاسِعًا حَكِيمًا
“Jika keduanya bercerai, maka Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masingnya dari limpahan karunia-Nya. Dan adalah Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Bijaksana.” (Qs. An-Nisa : 130).
Dan banyak sekali ayat-ayat lain yang senada dengan itu.
[Abdurrahman bin Nashir as-Sa’diy, “Qawa-id al-Hisan Fii Tafsiiri al-Qur’an”, hal. 103]






