Allah ﷻ berfirman:

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَسَلَكَهُ يَنَابِيعَ فِي الْأَرْضِ ثُمَّ يُخْرِجُ بِهِ زَرْعًا مُخْتَلِفًا أَلْوَانُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَجْعَلُهُ حُطَامًا إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِأُولِي الْأَلْبَابِ [الزمر : 21]

Apakah engkau tidak memperhatikan bahwa Allah menurunkan air dari langit, lalu diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi. Kemudian dengan air itu ditumbuhkan-Nya tanaman-tanaman yang bermacam-macam warnanya, kemudian menjadi kering, lalu engkau melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikan-Nya hancur bercerai berai. Sesungguhnya, pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal sehat. (Qs. az-Zumar: 21)

Pada tahun 1508, Bernard Pallissy adalah orang pertama yang menemukan konsep siklus air. Ia menggambarkan bagaimana air menguap dari lautan kemudian mendingin dan membentuk awan. Awan bergerak ke daratan, mengembun dan jatuh menjadi hujan. Air ini berkumpul kembali di danau, sungai, dan mengalir ke laut dalam siklus yang terus-menerus berputar.

Abad ke-7 SM, Thales Miteus percaya bahwa permukaan air di lautan terbawa oleh angin dan turun di daratan menjadi hujan.

Dahulu, orang-orang tidak mengetahui sumber air bawah tanah. Mereka menyangka bahwa air di lautan terbawa dan terdorong ke benua karena pengaruh angin. Kepercayaan mereka bahwa ada sebuah jalan rahasia atau jurang rahasia tempat air kembali disebut Tarturus sejak zaman Plato. Bahkan Descartes, seorang pemikir abad ke-18, meyakini hal ini.

Sampai abad ke-19, teori Aristoteles meluas. Menurut teori Aristoteles, air berkondensasi di dalam gua-gua pegunungan yang sejuk dan membentuk danau bawah tanah yang disebut springs. Hari ini kita tahu bahwa air hujan merembes ke dalam tanah menuju bawah tanah.

Siklus air ini digambarkan dalam ayat al-Qur’an:

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَسَلَكَهُ يَنَابِيعَ فِي الْأَرْضِ ثُمَّ يُخْرِجُ بِهِ زَرْعًا مُخْتَلِفًا أَلْوَانُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَجْعَلُهُ حُطَامًا إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِأُولِي الْأَلْبَابِ [الزمر : 21]

Apakah engkau tidak memperhatikan bahwa Allah menurunkan air dari langit, lalu diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi. Kemudian dengan air itu ditumbuhkan-Nya tanaman-tanaman yang bermacam-macam warnanya, kemudian menjadi kering, lalu engkau melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikan-Nya hancur bercerai berai. Sesungguhnya, pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal sehat. (Qs. az-Zumar: 21)

وَمِنْ آيَاتِهِ يُرِيكُمُ الْبَرْقَ خَوْفًا وَطَمَعًا وَيُنَزِّلُ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَيُحْيِي بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ [الروم : 24]

Dan di antara tanda-tanda kebesaran-Nya, Dia memperlihatkan kilat kepadamu untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dengan air dihidupkannya bumi itu setelah mati (kering). Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mau mengerti. (Qs. ar-Ruum: 24)

وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً بِقَدَرٍ فَأَسْكَنَّاهُ فِي الْأَرْضِ وَإِنَّا عَلَى ذَهَابٍ بِهِ لَقَادِرُونَ [المؤمنون : 18]

Dan Kami turunkan air dari langit dengan suatu ukuran; lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi, dan sesungguhnya Kami benar-benar kuasa melenyapkannya. (Qs. al-Mukminun: 18)

Tidak ada satu teks pun sejak 1.400 tahun lalu yang memberikan penjelasan gamblang sesuai fakta ilmiah mengenai siklus air, kecuali al-Qur’an.

Angin Mengawinkan Awan

وَأَرْسَلْنَا الرِّيَاحَ لَوَاقِحَ فَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَسْقَيْنَاكُمُوهُ وَمَا أَنْتُمْ لَهُ بِخَازِنِينَ [الحجر : 22]

Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan [1] dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan (air) itu, dan sekali-kali bukan kamu yang menyimpannya. (al-Hijr: 22)

Kata dalam bahasa Arab yang digunakan adalah لَوَاقِحَ (lawaaqih). Kata laqih berasal dari kata laqaha yang berarti mengawinkan. Dalam konteks ini, makna dari mengawinkan berarti angin mendorong awan yang berkolaborasi meningkatkan kondensasi hingga menyebabkan petir dan hujan. Deskripsi ini telah dijelaskan al-Qur’an.

اللَّهُ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ فَتُثِيرُ سَحَابًا فَيَبْسُطُهُ فِي السَّمَاءِ كَيْفَ يَشَاءُ وَيَجْعَلُهُ كِسَفًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَالِهِ فَإِذَا أَصَابَ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ [الروم : 48]

Allah-lah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang Dia kehendaki, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu engkau lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila Dia menurunkannya kepada hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki, tiba-tiba mereka gembira. (ar-Ruum: 48)

Deskripsi al-Qur’an sangat berkesesuaian secara sempurna dengan data hidrologi modern. [2]

Wallahu A’lam

Sumber:
Miracles of al-Qur’an & As-Sunnah, Dr. Zakir Naik, hal. 27-30.

Catatan:

[1] Awan, tanaman, dan sebagainya.

[2] Siklus air digambarkan al-Qur’an secara gamblang pada al-Baqarah: 19, al-A’raf: 57, ar-Ra’du: 17, al-Furqan: 48-49, Qaf: 9-11, al-Waqi’ah: 68-70, al-Mulk: 30 dan at-Tariq: 11.