Allah ﷻ berfirman:
بَلِ الْإِنْسَانُ عَلَى نَفْسِهِ بَصِيرَةٌ (14) وَلَوْ أَلْقَى مَعَاذِيرَهُ (15)
“Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, dan meskipun dia mengemukakan alasan-alasan.”
(Al-Qiyamah: 14–15)
Ini adalah salah satu kaidah interaksi dengan jiwa.
Bahwa manusia, walaupun ia berusaha untuk membela dengan sengit perbuatan-perbuatan dan perkataan-perkataannya yang ia sendiri mengetahui kebatilan dan kesalahannya, dan ia beralasan dengan berbagai alasan dari dirinya, tapi ia sangat mengetahui apa yang dikatakan dan dilakukannya, walaupun ia berusaha menutupi (aib) dirinya di hadapan manusia, atau ia mengeluarkan berbagai alasan, maka tidak ada yang lebih bisa menyaksikan dan mengetahui apa yang ada dalam dirinya kecuali dirinya sendiri, sebagaimana dikatakan kepada manusia dalam sebuah syair, “Engkau adalah hujjah yang melawan dirimu sendiri!”
Di antara bidang-bidang pengaplikasian kaidah ini, dalam kaitan interaksi jiwa dengan jiwa:
Bahwasanya di antara manusia terdapat orang yang senang mengamati kesalahan-kesalahan dan aib-aib orang lain, dan ia tidak memperhatikan aib-aib dirinya sendiri, sebagaimana dikatakan oleh Qatadah dalam tafsirnya terhadap ayat ini,
بَلِ الْإِنْسَانُ عَلَى نَفْسِهِ بَصِيرَةٌ
“Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri,”
“Yakni, apabila Anda ingin, demi Allah, Anda dapat melihatnya memperhatikan aib-aib dan dosa-dosa manusia, dan tidak memperhatikan dosa-dosanya sendiri.”
(Tafsir ath-Thabari, 24/63)
Dan ini, tanpa diragukan lagi, termasuk di antara tanda-tanda kehinaan, sebagaimana dikatakan oleh Bakr bin Abdullah al-Muzani,
“Apabila kalian melihat seseorang yang mengurusi aib-aib manusia, dan melupakan aib dirinya sendiri, maka ketahuilah bahwasanya dia telah terkena tipu daya.”
Dan oleh karena itu, salah seorang salaf berkata,
“Kejujuran yang paling bermanfaat adalah engkau mengakui aib-aib dirimu kepada Allah.”
(Hilyah al-Auliya’, 9/282)
[Dr. Umar bin Abdullah Al-Muqbil, Qawa’id Qur’aniyyah, hal. 29]





