Pengantar
Pada bagian pertama tulisan ini akan disebutkan beberapa hal berkaitan dengan surat ini, yaitu, tentang nama surat ini, beberapa keutamaan dan keistimewaan surat ini, beberapa maksud dari surat ini, dan tema-tema bahasan surat ini.
Nama Surat
Surat ini memiliki dua nama ;
1-Surat al-Kahfi [1]
،((… عَنْ النَّوَّاسِ بْنِ سَمْعَانَ رَضِيَ الله عَنْهُ، قَالَ : ذَكَرَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الدَّجَّالَ ذَاتَ غَدَاةٍ
وَفِيْهِ أَنَّ رَسُولَ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ((فَمَنْ أَدْرَكَهُ مِنْكُمْ، فَلْيَقْرَأْ عَلَيْهِ فَوَاتِحَ سُوْرَةِ الْكَهْفِ))
Dari Nawas bin Sam’an radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Pada suatu pagi Rasulullah ﷺ pernah menyebutkan perihal Dajjal…dan di dalamnya disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda : “Maka, barang siapa di antara kalian mendapatinya, hendaklah ia membacakan kepada dajjal itu ayat-ayat pembuka surat al-Kahfi.” [2]
وَعَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ حَفِظَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ أوَّلِ سُوْرَةِ الْكَهْفِ، عُصِمَ مِنَ الدَّجَّالِ
Dan Abu Darda radhiyallahu ‘anhumeriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda : “Barang siapa hafal 10 ayat dari awal [3] surat al-Kahfi, niscaya ia dilindungi dari Dajjal.” [4]
2-Surat Ashabul Kahfi
،عَنِ النَّوَّاسِ بْنِ سَمْعَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ : ((ذَكَرَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الدَّجَّالَ ذَاتَ غَدَاةٍ…))
وَفِيْهِ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ((فَمَنْ رَآهُ مِنْكُمْ، فَلْيَقْرَأْ فَوَاتِح سُوْرَةِ أَصْحَابِ الْكَهْفِ ))
Dari Nawas bin Sam’an radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Pada suatu pagi, Rasulullah ﷺ menyebutkan perihal Dajjal…(dan di dalamnya beliau ﷺ bersabda)…”Lalu, barang siapa di antara kalian yang melihatnya, maka hendaklah ia membaca ayat-ayat pembuka surat Ashabul Kahfi.” [5]
Beberapa Keutamaan dan Keistimewaan Surat Ini
1-Bahwa Membaca Surat al-Kahfi Merupakan Sebab Turunnya Ketenangan
عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا : ((قَرَأَ رَجُلٌ الْكَهْفَ وَفِي الدَّارِ الدَّابَّةُ، فَجَعَلَتْ تَنْفِرُ، فَسَلَّمَ، فَإِذَا ضَبَابَةٌ أَوْ سَحَابَةٌ غَشِيَتْهُ، فَذَكَرَهُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ : اِقْرَأْ فُلَانُ؛ فَإِنَّهَا السَّكِيْنَةُ نَزَلَتْ لِلْقُرآنِ، أَوْ تَنَزَّلَتْ لِلْقُرْآنِ ))
al-Bara bin Azib radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan, ada seorang lelaki membaca (surat) al-Kahfi (di rumahnya), sedangkan di rumahnya tersebut ada kuda. Maka, (bacaan surat tersebut) membuat lari (kudanya tersebut). Lalu, lelaki tersebut pun mengejar dan menangkapnya. Ternyata, ada awan yang menaungi dirinya. Lalu, ia menyebutkan hal itu kepada Nabi ﷺ. Maka, beliau mengatakan (kepada lelaki tersebut) , “Bacalah (surat itu) wahai Fulan; karena sesungguhnya ia adalah ketenangan yang turun karena (pembacaan) al-Qur’an atau (ketenangan yang) banyak turun karena (pembacaan) al-Qur’an.” [6]
2-Hafal 10 Ayat dari Awal Surat al-Kahfi merupakan perlindungan diri dari Dajjal
،((…عَنْ النَّوَّاسِ بْنِ سَمْعَانَ رَضِيَ الله عَنْهُ، قَالَ : ذَكَرَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الدَّجَّالَ ذَاتَ غَدَاةٍ
وَفِيْهِ أَنَّ رَسُولَ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ((فَمَنْ أَدْرَكَهُ مِنْكُمْ، فَلْيَقْرَأْ عَلَيْهِ فَوَاتِحَ سُوْرَةِ الْكَهْفِ ))
Dari Nawas bin Sam’an radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Pada suatu pagi Rasulullah ﷺ pernah menyebutkan perihal Dajjal…dan di dalamnya disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda : “Maka, barang siapa di antara kalian mendapatinya, hendaklah ia membacakan kepada Dajjal itu ayat-ayat pembuka surat al-Kahfi.” [7]
وَعَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ رَضِيَ الله عَنْهُ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ((مَنْ حَفِظَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ أوَّلِ سُوْرَةِ الْكَهْفِ، عُصِمَ مِنَ الدَّجَّالِ))
Abu Darda radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda : “Barang siapa hafal 10 ayat dari awal surat al-Kahfi, niscaya terlindungi dari Dajjal.” [8]
3-Bahwa surat al-Kahfi ini termasuk surat-surat al-‘Atiqah dan termasuk sesuatu yang telah lama dihafal oleh para sahabat.
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، أَنَّهُ قَالَ : سُوْرَةُ بَنِي إِسْرَائِيْلَ وَالْكَهْفِ، وَمَرْيَمَ وَطَهَ وَالْأَنْبِيَاءِ : هُنَّ مِنَ الْعِتَاقِ الْأُوَّلِ ، وَهُنَّ مِنْ تِلَادِي
Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bahwa ia mengatakan : surat Bani Israil, al-Kahfi, Maryam, Thaha, dan al-Anbiya, surat-surat ini termasuk al-‘Itaq al-Awwal [9], dan surat-surat ini termasuk tiladiy [10][11]
4-Bahwasanya seluruh ayat-ayatnya muhkamah
Telah dinukil adanya ijma’ bahwasanya tidak ada di dalam ayat-ayat surat ini yang dinasakh (dihapus hukumnya) [12]
Beberapa Maksud dari Surat Ini
Di antara maksud terpenting dari surat ini adalah memberikan petunjuk kepada prinsip akidah yang benar, perilaku yang lurus, akhlak yang mulia, pemikiran yang sehat menunjukkan kepada kebahagiaan di dunia dan akhirat.[13]
Tema-Tema Bahasan Surat Ini
Di antara tema-tema bahasan surat ini yang terpenting yaitu,
1-Penyebutan pujian kepada Allah ﷻ atas penurunan kitab ini (al-Qur’an) kepada hamba-Nya, dan penyematan sifat terhadap kitab ini dengan bahwa kitab ini merupakan kitab yang ‘qayyim’ (yang lurus), tidak ada sedikit pun kebengkokan di dalamnya. Ia datang untuk memberikan kabar gembira dan ancaman.
2-Penjelasan bahwa apa-apa yang ada dipermukaan bumi merupakan hiasan bagi bumi, di mana Allah ﷻ menjadikannya sebagai ujian dan cobaan.
3-Penyebutan kisah Ashabul Kahfi
4-Penyebutan tentang adanya fitnah harta dengan menyebutkan kisah tentang pemilik dua kebun.
5-Permisalan tentang kehidupan dunia dengan sesuatu yang menunjukkan kepada kefanaannya dan hilangnya segala macam hiasannya.
6-Penyebutan beberapa hal tentang pemandangan pada hari Kiamat
7-Penjelasan mengenai permusuhan Iblis terhadap Adam dan keturunannya, dan pelanggaran dan penetangannya terhadap perintah Rabbnya.
8-Penjelasan mengenai sunnatullah dalam hal pembinasaan orang-orang yang zhalim, rahmat Allah ﷻ dan pemberian tenggang waktu terhadap orang-orang yang berbuat dosa sampai batas waktu yang telah ditentukan.
9-Kisah Musa عَلَيْهِ السَّلَامُ bersama seorang hamba yang sholih.
10-Kisah Dzul Qarnain
11-Pembatalan kesyirikan dan ancaman terhadap pelakunya, dan penjelasan mengenai apa-apa yang telah Allah ﷻ siapkan bagi orang-orang yang beriman.
12-Permisalan akan luasnya ilmu Allah ﷻ dan penjelasan bahwa al-Qur’an itu merupakan wahyu dari Allah ﷻ kepada Rasul-Nya ﷺ.
Demikianlah sedikit uraian tentang surat al-Kahfi pada bagian pertama tulisan ini. Semoga bermanfaat.
Insya Allah, pada bagian kedua tulisan ini kita akan mulai memahami ayat demi ayat dalam surat ini. Semoga Allah ﷻ memberikan taufik dan memudahkannya. Amin
Wallahu A’lam
(Redaksi)
Catatan :
[1] Surat ini dinamakan surat al-Kahfi karena surat ini mengandung kisah Ashabul Kahfi dengan perinciannya. (Lihat : Bashaa-ir Dzawiy at-Tamyiz), karya Fairuz Abadi, 1/297.
[2] HR. Muslim 2937
[3] Ibnul Qayim rahimahullah mengatakan : “Hal ini diperselisihkan. Sebagian rawi mengatakan, ‘ «مِنْ أَوَّلِ سُوْرَةِ الْكَهْفِ» ‘ (dari awal surat al-Kahfi). Sebagian mereka ada yang mengatakan, «مِنْ آخِرِهَا» (dari akhir surat ini), dan kedua redaksi ini terdapat di dalam ash-Shahih. Akan tetapi, pendapat yang kuat adalah pendapat kalangan yang mengatakan, «مِنْ أَوَّلِ سُوْرَةِ الْكَهْفِ» (dari awal surat al-Kahfi);
Karena di dalam Shahih Muslim dari hadis Nawwas bin Sam’an radhiyallahu ‘anhu dalam kisah Dajjal (disebutkan) :
فَإِذَا رَأَيْتُمُوْهُ، فَاقْرَؤُوْا عَلَيْهِ فَوَاتِحَ سُوْرَةِ الْكَهْفِ
“Lalu, apabila kalian melihatnya, maka bacakanlah kepadanya (Dajjal) ayat-ayat pembuka surat al-Kahfi.”
Dan dalam hal tersebut tidak diperselisihkan. Hal ini menunjukkan bahwa siapa yang meriwayatkan ’10 ayat dari awal surat’ dia menghafal hadis tersebut. Sedangkan siapa yang meriwayatkan ‘dari akhir surat’, dia tidak menghafal hadis tersebut (Jilaa-u al-Afham, 1/324). Dan lihat : Silsilah al-Ahaadits ash-Shahihah, al-Albani, 2/124, dan 6/314).
[4] HR. Muslim 809
[5] HR. at-Tirmidzi (2240), an-Nasa-i di dalam as-Sunan al-Kubra) (10783). At-Tirmidzi mengatakan : Hasan Shahih Gharib. Dan, dishahihkan oleh al-Albani di dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi (2240), hadis ini asalnya terdapat dalam Shahih Muslim (2937) tanpa ada lafazh “أَصْحَاب “
[6] HR. al-Bukhari (3614) dan Muslim (795)
[7] HR. Muslim 2937
[8] HR. Muslim (809). Dan, mengenai sebab pembacaan 10 ayat dari awal surat al-Kahfi dianjurkan untuk dibacakan kepada Dajjal dan mengapa ayat-ayat tersebut merupakan pelindung bagi seseorang yang melindunginya dari Dajjal, di dalamnya ada beberapa sisi (pertimbangan), antara lain :
- Apa yang terdapat dalam kisah Ashabul Kahfi berupa hal yang sangat menakjubkan dan tanda-tanda kekuasaan Allah ﷻ (yang luar biasa), maka barang siapa yang mengetahuinya niscaya ia tidak akan merasa asing tentang perkara Dajjal, dan ia pun tak akan terfitnah olehnya.
- Bahwa firman Allah ﷻ :
لِيُنْذِرَ بَأْسًا شَدِيدًا مِنْ لَدُنْهُ
“(Dia menjadikannya kitab) yang lurus agar Dia memberi peringatan akan siksa yang sangat pedih dari sisi-Nya.” (al-Kahfi : 2)
Akan dapat meringankan siksaan yang akan dilakukan oleh Dajjal. Sedangkan firman-Nya ﷻ :
وَيُبَشِّرَ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا حَسَنًا * مَاكِثِينَ فِيهِ أَبَدًا
“Dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan kebajikan bahwa mereka akan mendapat balasan yang baik. Mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya.” (al-Kahfi : 2-3)
Akan dapat meringankan tindakan bersabar atas fitnah-fitnah yang dilakukan oleh Dajjal yang menampakan berbagai macam bentuk kenikmatan yang dihadirkannya dan siksaan dan tindakan buruk yang dilakukannya.
Adapun firman-Nya ﷻ :
وَيُنْذِرَ الَّذِينَ قَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا
(Dia menurunkan Al-Qur’an itu) juga agar Dia memberi peringatan kepada orang-orang yang berkata, “Allah mengangkat seorang anak.”
Dan firman-Nya ﷻ :
كَبُرَتْ كَلِمَةٌ تَخْرُجُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ
“Alangkah besar (dosa) perkataan yang keluar dari mulut mereka. Mereka hanya mengatakan (sesuatu) kebohongan belaka.” (al-Kahfi : 5)
Pada kedua ayat ini Allah ﷻ mencela orang yang mendakwa bahwa Allah ﷻ mengangkat seorang anak, padahal tidak ada yang semisal dengan-Nya. Maka, bagaimana orang serupa dengan makhluk lainnya, mendakwa dirinya memiliki sifat keilahiyahan (sehingga wajib disembah).
Jadi, ayat-ayat tersebut (yang berada di awal-awal surat al-Kahfi mengandung hal-hal yang akan dapat memalingkan fitnah yang dimunculkan oleh Dajjal. Sampai firman-Nya ﷻ :
إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ 10
“(Ingatlah) ketika pemuda-pemuda itu berlindung ke dalam gua.” (al-Kahfi : 10)
Mereka ini adalah kaum yang diuji, lantas mereka bersabar dan mereka meminta (berdoa kepada Allah ﷻ) agar memperbaiki urusan-urusan mereka. Lantas, urusan-urusan mereka pun diperbaiki. Dan ini perupakan pelajaran bagi orang yang ingin dan mengajak kepada tindakan menyekutukan Allah ﷻ.
- Bahwasanya boleh jadi ini termasuk keistimewaan yang Allah ﷻberikan kepada orang yang hafal hal tersebut. (Lihat : Ikmal al-Mu’allim Bi Fawaa-id Muslim) karya al-Qadhi ‘Iyadh (3/177), Kasyfu al-Musykil Min Hadis ash-Shahihain, karya Ibnul Jauziy, 2/165, Syarh an-Nawawiy ‘Ala Muslim, 6/93.
[9] al-‘Itaq al-Awwal, yakni, surat-surat yang pertama-tama kali diturunkan di Makkah. Lihat : an-Nihayah, karya Ibnul Atsir, 3/179.
[10] Tiladiy, yakni, termasuk surat-surat yang aku ambil (hafal) dan aku mempelajarinya di Makkah. Lihat : an-Nihayah, karya Ibnul Atsir, 1/194.
[11] HR. al-Bukhari, 4739
[12] Lihat : Nasikh Wa al-Mansukh, karya Ibnu Salamah, hal. 117, an-Nasikh Wa al-Mansukh, karya Ibnu Hazm, hal. 44. Akan tetapi, as-Suddiy menyelisihi pendapat ini, dan dia mengatakan : “sesungguhnya di dalamnya (di dalam surat ini, surat al-Kahfi) terdapat satu ayat yang mansukh (dihapus hukumnya), yaitu firman-Nya :
فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُر
“Maka, siapa yang menghendaki (beriman), hendaklah dia beriman dan siapa yang menghendaki (kufur), biarlah dia kufur.” (al-Kahfi : 29)
ia mengatakan : ayat tersebut dinasakh oleh firman-Nya :
إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ
“Kecuali apabila dikehendaki Allah.” (al-Insan : 30)
Dan Ibnu Hazm juga menisbatkannya kepada Qadah. Abu al-Hasan as-Sakhawiy mengatakan : yang dikatakannya adalah batil, dan yang dimaksudkan (dengan ayat tersebut) adalah untuk memberikan peringatan, bukan untuk memberikan pilihan, dan kalau pun apa yang dikatakannya teranggap benar, maka firman-Nya :
وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمٗا
“Kamu tidak menghendaki (sesuatu) kecuali apabila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (al-Insan : 30) tidaklah bertentangan dengannya (dengan ayat 29 dari surat al-Kahfi) (Jamaalu al-Qurra Wa Kamal al-Iqra, hal. 430.
[13] at-Tafsir al-Wasith, karya : ath-Thanthawiy, 8/463)




