Allah ﷻ berfirman :
وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ هُوَ خَيْرًا لَهُمْ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Dan jangan sekali-kali orang-orang yang kikir dengan apa yang diberikan Allah kepada mereka dari karunia-Nya, mengira bahwa (kikir) itu baik bagi mereka, padahal (kikir) itu buruk bagi mereka.
Apa (harta) yang mereka kikirkan itu akan dikalungkan (di lehernya) pada hari Kiamat.
Milik Allahlah warisan (apa yang ada) di langit dan di bumi. Allah Mahateliti terhadap apa yang kalian kerjakan (Qs. Ali Imran : 180)
Banyak sekali orang yang memaknai ayat ini pada kebakhilan harta benda saja. Padahal, ayat ini memiliki makna yang lebih universal dan lebih luas. Sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu dan disepakati oleh Ibnu Katsir.
Oleh karena itu mereka tidak menyadari bahaya dari kebakhilan mereka dalam masalah ilmu, kedudukan atau karunia yang secara khusus diberikan Allah ﷻ kepada mereka.
Mereka menyangka bahwa (dengan kebakhilan itu) mereka telah melakukan kebaikan untuk diri mereka. Padahal yang mereka lakukan adalah murni keburukan.
Balasan langsung (di dunia) yang bisa mereka dapatkan ialah hilangnya nikmat-nikmat itu dari tangan mereka.
Allah ﷻ berfirman :
وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
Milik Allah-lah warisan (apa yang ada) di langit dan di bumi
Dan kelak (di akhirat) akan mendapat balasan yang dijanjikan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى di dalam firman-Nya :
سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Apa (harta) yang mereka kikirkan itu akan dikalungkan (di lehernya) pada hari Kiamat.
[Prof. Dr. Nashir al-Umar, Liyaddabbaruu Aayaatihi, hal. 85]




