Allah ﷻ berfirman:
وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ
Demikian (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mereka (segera) mengingat Allah lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya. Siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Mereka pun tidak meneruskan apa yang mereka kerjakan (perbuatan dosa itu) sedangkan mereka mengetahui(-nya). (Ali Imran : 135)
Istighfar (memohon ampunan kepada Allah ﷻ) atas perbuatan dosa dan tidak meneruskan perbuantan dosa itu, itulah salah satu sifat orang-orang yang bertakwa.
Itulah istighfarnya orang-orang yang jujur.
Semoga saya dan Anda termasuk golongan mereka.
Namun, patut kiranya kita mewaspai diri kita dari ketidak jujuran dalam memohon ampunan kepada-Nya atas dosa yang kita lakukan.
Kita beristighfar, namun kita tidak berhenti dari perbuantan dosa itu.
Jika ini yang terjadi, maka inilah model istighfarnya para pendusta.
Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata:
“ Istighfar yang tidak disertai berhenti dari berbuat dosa merupakan istighfar para pendusta. “
(Tahdzib Mau’izhatil Mu’minin, hal 74)





