Ibnu Katsir رَحِمَهُ اللهُ berkata, “Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menyifati ulil albab, orang-orang yang berakal, seraya berfirman,

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ

“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring.”

(Ali ‘imram: 191)

Yakni, mereka senantiasa mengingat-Nya dalam setiap kondisinya dengan raga mereka, hati mereka dan mulut mereka…

Syaikh Abu Sulaiman ad-Darani رَحِمَهُ اللهُ berkata, “Sungguh, aku keluar dari rumahku. Tidaklah pandangan mataku jatuh pada sesuatu melainkan aku melihat padanya terdapat nikmat yang Allah berikan kepadaku, atau padanya terdapat pelajaran yang dapat aku ambil darinya.” Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya di dalam kitab at-Tafakkur Wa al-I’tibar. (Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, 2/184)

Maka, wahai saudaraku… berusahalah selalu agar matamu selalu engkau jadikan sebagai penangkap sinyal-sinyal nikmat yang Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى telah karuniakan kepadamu.

Lalu, sinyal-sinyal itu kau antarkan ke lubuk hatimu, sehingga hatimu akan berbunga-bunga selalu karena mengingat-Nya dalam segala kondisimu.