Jum’at, 4 Oktober 2024
Segala puji bagi Allah.
Sesungguhnya nikmat-nikmat Allah yang dikaruniakan kepada para hamba-Nya banyak tak terhitung jumlahnya. Dan, sesungguhnya nikmat teragung yang dikaruniakan kepada para hamba-Nya adalah ‘pemberian petujuk kepada mereka terhadap agama yang lurus ini dan millah yang benar yaitu agama Islam, yang ungkapan kata tak akan dapat menggambarkan kesempurnaannya dan penyematan sifat tidak akan dapat pula menggambarkan secara sempurna keindahannya. Maka, tidaklah ada nikmat apa pun yang Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى karuniakan kepada para hamba-Nya yang lebih agung daripada pemberian hidayah kepada mereka terhadap agama ini, dan menjadikan mereka sebagai pemeluknya, termasuk orang yang ridha terhadapnya dan diridhainya agama ini bagi mereka. Oleh karena itu, Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى mengaruniakan kepada mereka berupa pemberian petujuk kepada agama ini. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,
لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al kitab dan Al hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Ali Imran : 164)
Dan Allah ﷻ memberikan pengertian kepada para hamba-Nya dan mengingatkan mereka akan agung dan besarnya nikmat-Nya yang dikaruniakan kepada mereka berupa agama ini yang mengharuskan mereka untuk bersyukur karena Dia ﷻ telah menjadikan mereka termasuk pemeluknya.
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (al-Maidah : 3)
Sungguh telah datang syariat-syariat agama ini dan amalan-amalannya yang sempurna dan lengkap, mudah tidak sulit, apabila para hamba melakukannya niscaya tidak akan mendapatkan kepenatan dan kerepotan.
Barangsiapa merenungkan -sebagai contohnya-lima perkara yang mana dibangun di atasnya agama Islam, yang disebutkan dalam hadis Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda,
بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ وَحَجِّ الْبَيْتِ
“Islam dibangun di atas lima (rukun) ; (1) persaksian bahwa tidak ada ilah (yang berhak diibadahi) kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, (2) mendirikan shalat, (3) menunaikan zakat, (4) berpuasa Ramadhan, dan (5) berhaji ke Baitullah.”
niscaya ia akan mendapatkan bahwa hal-hal tersebut merupakan amalan-amalan yang mudah, dan merupakan ketaatan-ketaatan yang menyempurnakan yang mencakup akan kebaikan para hamba, menyucikan (jiwa) mereka, kesempurnaan mereka dan ketinggian kedudukan mereka.
Maka, dua persyaksian (yaitu, pertama, persyaksian bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan kedua, persyaksian bahwa Muhammad adalah utusan Allah) merupakan pertanda agama ini dan merupakan kunci (gerbang) untuk (masuk) Islam, dan kedua hal ini merupakan pokok dan landasan agama, pucuk urusan, dan batang pohonnya yang penuh keberkahan. Sisa rukun-rukun dan kewajiban-kewajiban yang lainnya merupakan cabang dari kedua hal ini, tersebar dari keduanya dan merupakan penyempurna-penyempurna untuk kedua hal tersebut.
Adapun shalat, sungguh telah dirancang dengan sesempurna mungkin dan sebagus mungkin yang mengandung pengagungan kepada Allah ﷻ dengan menggunakan berbagai macam anggota badan seseorang, berupa ucapan lisan, tindakan kedua tangan dan kedua kaki, kepala dan panca indra seseorang, dan seluruh anggota badan masing-masingnya mengambil bagian perannya dalam melakukan ibadah ini. Dan, ibadah ini mengandung sanjungan dan pujian, pengagungan, tasbih, takbir, dan persaksian kebenaran. Dan, berdirinya seseorang di hadapan Rabb merupakan maqam sang hamba yang rendah, yang tunduk, yang patuh. Pada maqam ini, mengandung perendahan diri kepada Allah ﷻ, kerendahan hati dan pendekatan diri kepada-Nya dengan membaca kitab-Nya, kemudian menundukkan punggung untuk menghinakan diri kepada-Nya dengan penuh kekhusyu’an dan ketenangan jiwa, kemudian tegaknya berdiri kembali untuk mempersiapkan diri untuk tunduk lebih sempurna kepada-Nya dari sikap tunduk yang pertama, yaitu, untuk tersungkur sujud dari posisi berdiri. Maka, ia meletakkan sesuatu yang paling mulia yang ada pada anggota tubuhnya yaitu wajahnya di atas bumi sebagai ketundukan kepada Rabbnya, ketundukan terhadap keagungan-Nya dan perendahan diri terhadap kemuliaan-Nya. Hatinya mengharap belas kasih-Nya, jasadnya menghinakan diri kepada-Nya, dan anggota badannya khusuk kepada-Nya. Kemudian, ia duduk hingga sempurna, ia merendahkan diri kepada-Nya, menghinakan diri di hadapan-Nya, dan ia meminta kepada-Nya dari karunia-Nya, kemudian ia kembali lagi kepada keadaan ini berupa kerendahan diri, khusyu’ dan tenang. Maka, terus saja hal ini menjadi kebiasaannya hingga ia menyelesaikan shalatnya. Lalu, ia duduk terlebih dahulu ketika hendak beranjak pergi dari shalatnya dengan menyanjung dan memuji Rabbnya, bersalam atas Nabinya dan para hamba-Nya, kemudian bershalawat kepada Rasulullah ﷺ , kemudian meminta kepada Rabbnya berupa kebaikan-Nya dan karunia-Nya, kemudian mengucapkan salam (dengan membersamainya dengan menengokkan wajahnya ke kanan dan ke kiri). Maka, adakah peribadatan yang lebih mulia daripada peribadatan ini !! dan adakah kesempurnaan di belakang kesempurnaan ini !!
Adapun zakat dan apa yang terkandung di dalamnya berupa kepedulian terhadap orang-orang yang membutuhkan dari kalangan hamba-hamba Allah ﷻ yang tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan mereka dan dikhawatirkan akan binasa bila orang-orang yang berkecukupan membiarkan dan tidak mempedulikan diri-diri mereka. Di samping apa yang terdapat dalam ibadah ini berupa kasih sayang, tindakan dan sikap baik, pembersihan (harta), penyematan sifat dan karakter dermawan, mementingkan orang lain, murah hati, dan keutamaan, dan keluar dari kekikiran jiwa, kebakhilan dan kerendahan, dan lain sebagainya, hal ini termasuk hal yang menunjukan akan kecukupan ibadah ini dan kesempurnaannya.
Adapun puasa, maka ini merupakan ibadah yang agung, seseorang menahan nafsu dari melampiaskan syahwatnya dan mengeluarkannya dari penyerupakan diri dengan binatang ternak kepada penyerupaan diri dengan para malaikat yang dekat kepada Allah ﷻ. Karena sesungguhnya nafsu itu bila dihiasi dengan pendorong-pendorong syahwatnya, niscaya akan bergabung dengan alam binatang. Namun akan berbeda bila nafsu itu dikekang syahwat-syahwatnya karena Allah ﷻ, dan aliran lewatnya setan dipersempit, dan nafsu itu menjadi dekat dari Allah dengan meninggalkan kebiasaan-kebiasaannya dan syahwat-syahawatnya karena kecintaan kepada Allah ﷻ dan lebih mendahulukan keridhaan-Nya, dan untuk mendekatkan diri kepada-Nya, karena sesungguhnya orang yang tengah berpuasa itu dengan puasa (yang dilakukan)nya, ia tengah meninggalkan sesuatu yang paling ia sukai dan hal terbesar yang lekat dengan kebutuhannya berupa makanan, minuman, dan jima’ (berhungan intim dengan pasangan hidupnya) karena Tuhannnya dan karena sangat ingin untuk mendapatkan pahala-Nya dan keridhaan-Nya. Maka, kebaikan apa lagi yang akan menambah kebaikan ibadah ini yang akan memecahkan syahwat dan mengendalikan nafsu, menghidupkan hati, mendorong untuk mencintai apa yang ada di sisi Allah ﷻ dan bersikap zuhud dalam berlari di belakang syahwat-syahwat, dan membantu seorang hamba untuk melaksanakan ketakwaan kepada Allah ﷻ. Dan tidak ada sesuatu yang semisal dengan puasa yang digunakan untuk membantu seseorang untuk melaksanakan ketakwaan kepada Allah ﷻ dan menjaga batasan-batasan-Nya, serta menjauhkan diri dari hal-hal yang dilarang-Nya. Kesemua hal itu menunjukkan kesempurnaan dan keindahan ibadah ini.
Adapun haji, maka keadaannya lebih agung dari sekedar dijelaskan dengan ungkapan kata-kata. Dan haji ini merupakan keistimewaan (ajaran) agama yang lurus ini, di mana Allah ﷻ telah menjadikan rumah-Nya al-Haram (Ka’bah) sebagai pusat kegiatan (peribadatan dan urusan dunia) bagi manusia. Maka, Baitullah adalah tiangnya alam yang di atasnyalah bangunannya. Maka, kalaulah manusia seluruhnya meninggalkan ibadah haji setahun saja, niscaya langit akan jatuh di atas permukaan bumi, sebagaimana hal itu dikatakan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma maka, al-Bait al-Haram tonggak berdirinya alam semesta; maka ia akan terus menjadi tonggak selagi rumah ini dikunjungi oleh para jama’ah haji dan umrah. Maka, haji adalah keistimewaan agama yang lurus ini, penolong tegaknya shalat dan rahasia perkataan seorang hamba, ‘ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ ‘ karena sesungguhnya Baitullah al-Haram itu dibangun di atas tauhid semata, kecintaan yang murni dan kepatuhan yang sempurna kepada Allah ﷻ. Oleh karena itu, syiar orang yang berhaji adalah ” لَبَّيْكَ اَللَّهُمَّ لَبَّيْكَ ” (aku penuhi panggilan-Mu, Ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu). Dan barangsiapa merenungkan tentang ibadah nan agung ini, sedari melakukan ihram dan menjauhi perkara yang dilarang pada saat itu, membuka kepala, melukar pakaian yang biasa dikenakan, tawaf di sekeling Ka’bah, Sai antara Shafa dan Marwa, Wukuf di Arafah, melontar Jumrah dan seluruh syiar haji, niscaya seseorang akan mendapatkannya sebaik-baik saksi atas kebaikan dan kesempurnaan ibadah ini.
Dan termasuk nikmat Allah ﷻ yang dikaruniakan kepada hamba-Nya adalah ketika seorang hamba menunaikan ibadah ini dengan lengkap dan sempurna, akan keluar dari dosa-dosanya dan kesalahan-kesalahannya seperti kondisi pada hari dia dilahirkan oleh ibunya, sebagaimana hal itu dikabarkan oleh Rasulullah ﷺ.
Wahai hamba-hamba Allah … !
Maka barangsiapa lalai dalam melakukan amal-amalan pembersih jiwa dan ketaatan-ketaatan nan agung yang merupakan tanda agama ini dan petunjuk akan kesempurnaannya, maka ia telah memutuskan dirinya dan menentukan dirinya untuk menyandang kerugian dan mengharamkan dirinya untuk menikmati kelezatan dan hiasan kehidupan ini. Karena, kelezatan hidup dan hiasannya yang sejatinya hanyalah dengan hal-hal tersebut. Dalam hadis Nabi ﷺ bersabda,
ذَاقَ طَعْمَ الْإِيمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ – صلى الله عليه وسلم – رَسُولًا
“Yang bisa merasakan manisnya iman adalah orang yang rela Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad sebagai Rasul (utusan-Nya).” (HR. Ahmad)
Ya Allah, jadikanlah kami demikian itu, dan karuniakanlah kepada kami keteguhan di atas hal itu sampai hari perjumpaan dengan Allah ﷻ.
Ya Allah, hidupkanlah kami sebagai orang-orang Islam dan matikanlah kami sebagai orang-orang yang beriman, bukan sebagai orang-orang yang sesat, bukan pula sebagai orang-orang yang menyesatkan orang lain.
Wahai hamba-hamba Allah …!
Sungguh telah valid dari Nabi ﷺ di dalam ash-Shahihain (Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim) dan selain keduanya, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda,
إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ ، فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا
“Sesungguhnya agama itu mudah. Dan tidaklah seseorang mempersulit agamanya, kecuali ia sendiri yang akan dikalahkan oleh sikapnya (semakin berat dan sulit). Maka bersikap luruslah kalian, mendekatlah kepada kesempurnaan, dan bergembiralah.”
Sesungguhnya hadis nan agung ini yang menghimpun banyak kebaikan dari Rasulullah ﷺ menggariskan sebuah pokok yang agung dan kedudukan nan tinggi, menjelaskan kedudukan agama ini dan kelonggarannya serta kemudahannya.
إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ
“Sesungguhnya agama itu mudah.”
Ini merupakan kaedah yang agung dan dasar yang kokoh. Kaedah ini menjelaskan kedudukan dan kondisi agama ini. Agama kita adalah agama yang mudah dalam persoalan aqidah (prinsip-prinsip keyakinan)nya, aqidah-aqidahnya merupakan aqidah-aqidah yang paling bersih dan paling sempurna. Aqidah-aqidah yang agung yang selaras dengan fithrah yang sehat dan akal yang lurus. Dalam aqidah-aqidah Islam tidak ada hal-hal yang melampaui batas, hal-hal yang jauh dari kebenaran, tidak ada pula hal-hal yang condong dan berpihak kepada kebatilan.
Sedangkan dalam persoalan ibadah, maka ibadah-ibadah dalam agama ini merupakan bentuk-bentuk ibadah yang sempurna lagi mudah, akan mensucikan dan membersihkan hati, menyehatkan badan, menguatkan hubungan dengan Allah ﷻ.
Adapun dalam persoalan akhlak, maka akhlak-akhlak dan adab-adab agama ini merupakan akhlak-akhlak yang sempurna, di dalamnya terdapat kebersihan manusia, kebaikan urusan mereka, keistiqamahan kondisi mereka, tersatukannya kata mereka, dan terjauhkannya mereka dari perpecahan, perselisihan dan perceraiberaian.
Dengan demikian, maka agama kita adalah mudah dalam persoalan aqidah-aqidah (prinsip-prinsip keyakinan)-nya, bentuk ibadah-ibadahnya, dan akhlak-akhlaknya. Oleh karena itu, Nabi ﷺ bersabda,
وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ
“Dan tidaklah seseorang mempersulit agamanya, kecuali ia sendiri yang akan dikalahkan oleh sikapnya (semakin berat dan sulit).”
‘Mempersulit’ di sini, maknanya, seorang hamba, atas kemauan dirinya sendiri melampaui batasan-batasan syariat dan ia tidak bersikap longgar dalam hal yang dilonggarkan oleh Nabi ﷺ dan para sahabatnya yang mulia, maka ia memperberat dirinya dan mempersulit syariatnya, dan karena sikapnya tersebut ia mendapatkan kesulitan dan keberatan. Maka, barangsiapa melakukan hal itu pada dirinya yang dianggapnya sebagian tuntunan agama, sesungguhnya agama ini akan mengalahkannya, seperti yang dikabarkan oleh Rasulullah ﷺ . Oleh karena itu, hendaknya seorang hamba melakukan dengan apa yang diarahkan oleh Rasulullah ﷺ dalam kelanjutan sabdanya dalam hadis ini, di mana beliau ﷺ bersabda,
سَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا
“Maka bersikap luruslah kalian, mendekatlah kepada kesempurnaan, dan bergembiralah.”
‘Bersikap lurus’, yakni, seorang hamba besemangat dan bersungguh-sungguh untuk dapat mencocoki sunnah dan mengikuti dengan benar petunjuk sebaik-baik manusia yaitu Muhammad bin Abdillah ﷺ karena sesungguhnya bersikap lurus adalah petunjuknya, berdiri di atas kebenaran adalah jalan yang ditempuhnya, bersikap sederhana (tidak bersikap berlebihan dan tidak pula meremehkan) adalah manhaj-nya ﷺ. Lalu, barangsiapa tidak mampu melakukan hal itu, hendaknya ia berupaya mendekatinya. Oleh karena itu, Nabi ﷺ bersabda,
وَقَارِبُوا
“mendekatlah kepada kesempurnaan.”
Yakni, lecutlah diri kalian untuk dapat mendekati sunnah dan dekat dengan petunjuk Nabi ﷺ dengan tanpa bersikap berlebihan dan tanpa sikap antipati, tidak bersikap melampaui batas dan tidak pula bersikap meremehkan. Dan, barangsiapa bersikap demikian (yakni, mendekat kepada kesempurnaan) maka hendaknya ia bergembira. Oleh karena itu, Nabi ﷺ bersabda,
وَأَبْشِرُوا
“dan bergembiralah kalian.”
Dan beliau ﷺ tidak menyebutkan dengan apa (atau karena apa kegembiraan kalian tersebut ?); karena berita gembira itu mencakup segala bentuk kebaikan, kebahagiaan, keuntungan, keunggulan, kemuliaan, dan kesempurnaan di dunia dan akhirat.
Maka, bersikap luruslah kalian, mendekatlah kepada kesempurnaan, dan bergembiralah. Dan, orang yang cerdas dari kalangan hamba-hamba Allah ﷻ adalah orang yang mempersiapkan dirinya dan beramal untuk hari setelah kematian, sedangkan orang yang bodoh adalah orang yang jiwanya mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah ﷻ.
Wallahu A’lam
(Redaksi)
Sumber :
Kamalu ad-Diin Wa Yusruhu, Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin al-Badr حَفِظَهُ اللهُ



