Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah atas baginda Muhammad ﷺ, penutup para Nabi dan imam para rasul, dan atas keluarganya serta para sahabatnya secara menyeluruh.

Saudara, saudariku,

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuhu

Wa ba’du,

Pembahasan kita hari ini adalah tentang Yahudi di dalam al-Qur’an, yang akan kita bahas melalui ayat nomor 44 dari surat an-Nisa’ dan sesudahnya. Allah ﷻ berfirman,

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِنَ الْكِتَابِ

“Apakah kamu tidak melihat orang-orang yang telah diberi bagian dari al-Kitab (Taurat).” (an-Nisa : 44)

Allah ﷻ menyeru mereka kepada keanehan mereka dan mengajukan pertanyaan retorik, untuk membangunkan pikiran atas kebatilan-kebatilan mereka.

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِنَ الْكِتَابِ

“Apakah kamu tidak melihat orang-orang yang telah diberi bagian dari al-Kitab (Taurat).” (an-Nisa : 44)

Jadi sebenarnya mereka telah mengetahui kesesatan dan petunjuk, mengerti halal dan haram, mengetahui penyimpangan dan jalan yang lurus. Meski mereka telah diberi sebagian dari al-Kitab, akan tetapi mereka menukarnya dengan kesesatan, membayarkan nilainya untuk mendapatkan apa yang diingini. Allah ﷻ menggambarkan kesesatan sebagai sesuatu yang diperjual belikan, mereka mengejarnya dan ingin membelinya. Mereka tidak hanya sesat, tapi mereka juga menginginkan orang lain ikut sesat bersamanya, sebagaimana firman Allah ﷻ ,

وَيُرِيدُونَ أَنْ تَضِلُّوا السَّبِيلَ (44) وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِأَعْدَائِكُمْ وَكَفَى بِاللَّهِ وَلِيًّا وَكَفَى بِاللَّهِ نَصِيرًا (45)

“Dan mereka bermaksud supaya kamu tersesat (menyimpang) dari jalan (yang benar). Dan Allah lebih mengetahui (daripada kamu) tentang musuh-musuhmu. Dan cukuplah menjadi Pelindung (bagimu). Dan cukuplah Allah menjadi Penolong (bagimu).” (an-Nisa’ : 44-45)

Pada saat ini, mereka adalah manusia paling pendusta berkenaan dengan berita yang mereka siarkan dan cerita yang mereka sebarkan. Karena mereka sebelumnya telah berdusta atas nama Allah ﷻ , dan orang yang berani berdusta atas nama Allah pasti lebih berani berdusta saat berbicara atas nama manusia. Allah  ﷻ berfirman,

مِنَ الَّذِينَ هَادُوا يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ

“Yaitu orang-orang Yahudi, mereka merubah perkataan dari tempat-tempatnya.” (an-Nisa : 46)

Saat mereka memalsukan kalam suci-kalam Allah ﷻ dengan merubah kalimat dari tempat-tempatnya, merubah kalimat dari maknanya semula, merubah kalimat yang menunjukkan kepada tujuan akhirnya, saat itu berarti mereka telah merubah kalam Allah ﷻ dari tempat-tempatnya untuk memberi maksud yang bertentangan dengan tujuan yang sebenarnya.

وَيَقُولُونَ سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا

“Mereka berkata, “Kami mendengar, tetapi kami tidak mau menurutinya.” (an-Nisa : 46)

Saat mereka mengakui ketidakmauan untuk menuruti, mereka mengakuinya setelah mereka mendengar petunjuk. Karena itulah hujjah yang kuat lagi jelas dari Allah ﷻ atas mereka sudah tegak.

Adapun orang-orang yang melakukan kelalaian tanpa mengetahui tentang kerasulan Muhammad ﷺ , maka semoga mereka mendapat uzur, sebagaimana disabdakan oleh Nabi ﷺ ,

أَهْلُ الْفَطْرَةِ نَاجُوْنَ

Ahli Fathrah (yang belum sampai kepada mereka berita kerasulan) akan selamat.”

Akan tetapi bagi mereka yang telah mengetahui kerasulan Muhammad  ﷺ,   mengetahui dakwah, dan berkata “Kami telah mendengar.“ lalu mereka bermaksiat setelah mendengar, maka dosanya tidak mempunyai pembenaran.

وَيَقُولُونَ سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا وَاسْمَعْ غَيْرَ مُسْمَعٍ

“Mereka berkata, “Kami mendengar, tetapi kami tidak mau menurutinya.“ Dan (mereka mengatakan pula), “Dengarlah” sedang kamu sebenarnya tidak mendengar apa-apa.” (an-Nisa : 46)

Kalimat غَيْرَ مُسْمَعٍ  menurut orang Arab maksudnya adalah tidak  mendengar tentang keburukan. Akan tetapi Yahudi memaksudkannya “kamu kehilangan pendengaran“ atau maksudnya tidak mendengar tentang kebaikan. Dalilnya adalah firman Allah ﷻ ,

وَرَاعِنَا لَيًّا بِأَلْسِنَتِهِمْ وَطَعْنًا فِي الدِّينِ

“Dan (mereka mengatakan), “Raa’inaa” dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama.” (an-Nisa : 46)

Apa artinya ini ?

Kalimat  رَاعِنَا  tanpa tanwin dan رَاعِنًا  dengan tanwin, artinya menurut bahasa Arab adalah kalimat untuk mencela, mengejek dan merendahkan, yang dalam bahasa Arab adalah kalimat yang diucapkan oleh seseorang kepada orang lain yang diajak bicara agar melihat kepada kedudukan dan posisinya. Karena maksud kalimat ini dalam bahasa Arab adalah demikian, maka Allah ﷻ melarang orang-orang yang beriman untuk mengucapkannya. Allah ﷻ berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقُولُوا رَاعِنَا وَقُولُوا انْظُرْنَا وَاسْمَعُوا وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad), “Raa’ina,” tetapi katakanlah, “Unzhurna,” dan “Dengarlah.” Dan bagi orang-orang yang kafir siksaan yang pedih.” (al-Baqarah : 104)

Mereka mengatakan,

سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا وَاسْمَعْ غَيْرَ مُسْمَعٍ وَرَاعِنَا لَيًّا بِأَلْسِنَتِهِمْ

“Kami mendengar, tetapi kami tidak mau menurutinya.” Dan (mereka mengatakan pula), “Dengarlah” sedang kamu sebenarnya tidak mendengar apa-apa. Dan (mereka mengatakan), “Raa’ina,” dengan memutar-mutar lidahnya.” (an-Nisa : 46)

Mereka melemparkan ucapan dan kalimat dari  makna sebenarnya. Tapi saya heran dengan beberapa sastrawan yang menggunakan kalimat ini dalam syair-syairnya untuk merubah maksud sebenarnya dan memaksakan arti yang lain, padahal tidak mungkin mereka bisa.

Begitulah orang-orang Yahudi, di setiap masa, setiap waktu, di setiap zaman dan di setiap tempat.

وَطَعْنًا فِي الدِّينِ

“Dan mencela agama.” (an-Nisa : 46)

Oleh karena itu, Allah ﷻ memberi mereka pengganti, apabila mereka adalah orang-orang yang berakal.

وَلَوْ أَنَّهُمْ قَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَاسْمَعْ وَانْظُرْنَا لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَأَقْوَمَ وَلَكِنْ لَعَنَهُمُ اللَّهُ بِكُفْرِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُونَ إِلَّا قَلِيلًا

“Sekiranya mereka mengatakan, “Kami mendengar dan patuh, dan dengarlah, dan perhatikanlah kami,“ tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat, akan tetapi Allah mengutuk mereka, karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis.” (an-Nisa : 46)

Hiburan bagi kita, bahwa Allah ﷻ mengusir mereka dari rahmat-Nya dan  menjauhkan mereka dari Surga-Nya.

لَعَنَهُمُ اللَّهُ بِكُفْرِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُونَ إِلَّا قَلِيلًا

“Allah mengutuk mereka, karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis.” (an-Nisa : 46)

Rabb Yang Mahasuci menyeru mereka, saat mereka berada dalam daar taklif,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ آمِنُوا بِمَا نَزَّلْنَا مُصَدِّقًا لِمَا مَعَكُمْ

“Hai orang-orang yang telah diberi al-Kitab, berimanlah kamu kepada apa yang telah Kami turunkan (al-Qur’an) yang membenarkan Kitab yang ada pada kamu.” (an-Nisa : 47).

Allah ﷻ memastikan hujjah atas mereka. Dan seorang Nabi yang buta aksara, tidak bisa membaca dan menulis, belum pernah belajar kepada seseorang, memberitahu mereka tentang isi Taurat yang ada pada mereka, dengan menerangkan bahwa apa yang dibawa oleh al-Qur’an seratus persen sesuai dengan yang ada dalam Taurat sebelum mereka merubahnya, menggantinya dan memalsukannya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ آمِنُوا بِمَا نَزَّلْنَا مُصَدِّقًا لِمَا مَعَكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَطْمِسَ وُجُوهًا فَنَرُدَّهَا عَلَى أَدْبَارِهَا

“Hai orang-orang yang telah diberi al-Kitab, berimanlah kamu kepada apa yang telah Kami turunkan (al-Qur’an) yang membenarkan Kitab yang ada pada kamu sebelum Kami merubah muka(mu), lalu Kami putarkan ke belakang.” (an-Nisa : 47)

Ini adalah ancaman untuk merubah bentuk. Ancaman dari Allah ﷻ  untuk membuat mata mereka pindah ke belakang dan menjadikan mereka berjalan mundur. Allah ﷻ telah merubah mereka menjadi kera dan babi, dan kali ini mengancam mereka melalui lisan Nabi ﷺ dalam al-Qur’an,

مِنْ قَبْلِ أَنْ نَطْمِسَ وُجُوهًا فَنَرُدَّهَا عَلَى أَدْبَارِهَا

“sebelum Kami merubah muka(mu), lalu Kami putarkan ke belakang.” (an-Nisa : 47)

Karena itulah mereka selamanya tidak pernah berjalan kecuali ke belakang dalam pemikiran dan gaya penggambaran mereka. Mereka hanya melihat kepada Taurat yang telah mereka ubah, dan tidak mau melihat kepada yang datang setelahnya.

قَالُوا نُؤْمِنُ بِمَا أُنْزِلَ عَلَيْنَا وَيَكْفُرُونَ بِمَا وَرَاءَهُ

“Mereka berkata, “Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami.” Dan  mereka kafir kepada al-Qur’an yang diturunkan sesudahnya.” (al-Baqarah : 91)

Allah ﷻ mengancam mereka dengan merubah bentuk mereka,

مِنْ قَبْلِ أَنْ نَطْمِسَ وُجُوهًا فَنَرُدَّهَا عَلَى أَدْبَارِهَا أَوْ نَلْعَنَهُمْ كَمَا لَعَنَّا أَصْحَابَ السَّبْتِ

“Sebelum Kami merubah muka (mu), lalu Kami putarkan ke belakang atau Kami kutuk mereka sebagaimana Kami telah mengutuk orang-orang (yang berbuat maksiat) pada hari Sabtu.” (an-Nisa : 47)

Telah kita pelajari sebelumnya tentang suatu kampung yang dekat dengan laut saat mereka melanggar aturan tentang hari Sabtu. Rabb kita telah menceritakan tentang orang-orang yang melanggar aturan tentang hari Sabtu dalam firman-Nya,

كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ

“Jadilah kamu kera yang hina.” (al-Baqarah : 65)

Dan perintah Allah ﷻ  pasti terjadi.

Orang-orang Yahudi dengan segala kejahatan mereka ini, mengira bahwa mereka adalah anak-anak Allah dan kesayangan-Nya. Karena itu Allah ﷻ  menjadikan kita terheran dengan mereka dalam firman-Nya,

(50) أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يُزَكُّونَ أَنْفُسَهُمْ بَلِ اللَّهُ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ وَلَا يُظْلَمُونَ فَتِيلًا (49) انْظُرْ كَيْفَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih. Sebenarnya Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya dan mereka tidak dianiaya sedikitpun. Perhatikanlah, betapakah mereka mengada-adakan dusta terhadap Allah.” (an-Nisa : 49-50)

Sebagaimana kebiasaan mereka dalam media, bahwa tatkala mereka bisa menipu manusia, maka mereka juga mengira kemungkinan bisa menipu Rabb manusia. Karena itulah Rabb yang Mahatahu berfirman,

انْظُرْ كَيْفَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَكَفَى بِهِ إِثْمًا مُبِينًا

“Perhatikanlah, betapakah mereka mengada-adakan dusta terhadap Allah. Dan cukuplah perbuatan itu menjadi dosa yang nyata (bagi mereka).” (an-Nisa : 50)

Mereka bukanlah orang-orang yang amanat, bahkan terhadap pemikiran. Anggaplah mereka telah kufur dan mereka mengerti hal itu, maka bagaimana mereka menutupi sebuah pemikiran yang benar yang dihasilkan dari sikap objektif murni, padahal orang-orang musyrik di Jazirah Arab mengakuinya. Mereka berkata kepada Yahudi, “Kalian adalah pemilik kitab yang pertama, adapun kami dengan Muhammad selalu berada dalam peperangan, pertentangan, permusuhan dan persengketaan. Maka siapa di antara kita yang lebih benar ? Jika memang Muhammad benar, maka kami akan mengikutinya, namun bila kami yang lebih benar maka kami akan senang dengan persaksian kalian.” Karena itulah mereka tidak menjaga amanat dalam suatu sikap. Itulah firman Allah ﷻ,

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِنَ الْكِتَابِ يُؤْمِنُونَ بِالْجِبْتِ وَالطَّاغُوتِ

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bagian dari al-Kitab. Mereka pecaya kepada jibt dan thaghut.” (an-Nisa : 51)

Mereka beriman kepada setiap apa yang disembah selain Allah ﷻ , dari kebatilan-kebatilan, patung-patung dan setan-setan, serta berkata kepada orang-orang kafir,

هَؤُلَاءِ أَهْدَى مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا سَبِيلًا

“Bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman.” (an-Nisa : 51)

Maksud dari kata ‘mereka’ di sini adalah orang-orang musyrikin.

Karena itulah Allah ﷻ mengulang-ulang laknat terhadap mereka,

أُولَئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ وَمَنْ يَلْعَنِ اللَّهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ نَصِيرًا

“Mereka itulah orang yang dikutuki Allah. Barangsiapa yang dikutuki Allah, niscaya kamu sekali-kali tidak akan memperoleh penolong baginya.” (an-Nisa : 52)

Kemudian Allah ﷻ menerangkan kekikiran mereka. Perkenankan saya-wahai saudaraku- di sisa waktu beberapa detik ini untuk menyampaikan lelucon dan cobaan buruk, tentang orang-orang Yahudi yang akan membuat tertawa.

Dikisahkan bahwa ada seorang Yahudi yang mengirimkan anaknya yang masih kecil ke tetangganya yang juga seorang Yahudi untuk meminjam sebuah palu untuk memukul paku. Yahudi yang diminta ternyata tidak memberikan palunya kepada anak kecil, maka orang Yahudi berkata kepada anak kecilnya, “Pergilah lagi wahai anakku, dan tumpahkan air matamu dan pergunakan sebagai wasilah, semoga hatinya melunak dan memberikan palunya kepadamu.” Kemudian anak kecil itu berangkat dengan menampakkan kondisinya, akan tetapi hati tetangganya tetap keras dan tidak memberikannya palu. Maka pulanglah anak kecil ini kepada orang tuanya mengabarkan bahwa tetangganya menolak untuk meminjamkan palunya. Lalu apa kata orang Yahudi ini kepada anaknya yang masih kecil, selain ucapan kepadanya, “Wahai anakku, kita tidak mempunyai alasan lagi. Ambilkan palu milik kita lalu pakailah untuk memukul paku.”

Wahai saudaraku, bukankah ini sebuah sifat yang ditunjukkan oleh al-Qur’an dalam firman-Nya,

أَمْ لَهُمْ نَصِيبٌ مِنَ الْمُلْكِ فَإِذًا لَا يُؤْتُونَ النَّاسَ نَقِيرًا

“Ataukah ada bagi mereka bagian dari kerajaan (kekuasaan), kendatipun ada, mereka tidak akan memberikan sedikit pun (kebajikan) kepada manusia.” (an-Nisa : 53)

اَلنَّقِيْرُ adalah kulit ari kurma.

Allah ﷻ telah menjelaskan atas kebakhilan dan kekikiran mereka yang amat menggelikan yang Allah belum pernah menggambarkan hakikat kebakhilan sedemikian rupa.

أَمْ لَهُمْ نَصِيبٌ مِنَ الْمُلْكِ

“Ataukah ada bagi mereka bagian dari kerajaan (kekuasaan).” (an-Nisa : 53)

Maksudnya, meskipun mereka mempunyai sebagian dari kekuasaan, pada hakikatnya, mereka tidak mempunyai kekuasaan itu. Namun demikian, Allah ﷻ  menegaskan, seandainya mereka mempunyai sebagian dari kekuasaan, niscaya mereka tidak akan memberikan kepada orang lain sekecil biji apapun.

Segala puji bagi Allah ﷻ bahwa mereka tidak mempunyai kekuasaan, bahkan mereka tidak mampu untuk berbuat sedikitpun. Mereka adalah musuh kita, maka kenalilah musuh kalian dan ambillah segala cara untuk kembali kepada Rabb kalian sehingga Dia memberikan ridha-Nya kepada kalian.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.

(Redaksi)

Sumber :

Al-Yahud Fi al-Qur’an al-Karim, Syaikh Shalah Abu Ismail, ei, hal. 249-258.