Dari Atha’ bin Yasar, Rasulullah ﷺ bersabda, “Nuh عَلَيْهِ السَّلَامُ pernah menasehati putranya, ‘Duhai putraku, sesungguhnya aku berwasiat kepadamu dengan nasihat singkat agar kamu tidak lupa. Aku mewasiatkan dua perkara dan melarang dua perkara untukmu. Dua hal yang aku wasiatkan adalah apa yang aku lihat banyak menghantarkan kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dan aku lihat Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dan juga hamba-Nya yang shalih senang pada keduanya, yaitu :

(Pertama) : Membaca kalimat ‘سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ’ (Mahasuci Allah dan dengan memuji-Nya), karena ia adalah shalatnya para makhluk dan sebab dikaruniakannya rezeki kepada mereka

(Kedua) : Membaca, لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ (Tidak ada ilah yang berhak diibadahi selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya), karena jika langit dan bumi dijadikan sebagai mata rantai maka ia pasti akan memutuskannya, dan jika keduanya diletakkan pada satu daun timbangan, niscaya kalimat tersebut lebih berat.

Adapun dua hal yang aku larang adalah (pertama) syrik dan (kedua) sombong. Jika kamu mampu berjumpa dengan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى sedangkan dalam hatimu tidak ada kesyirikan dan kesombongan, maka lakukanlah.’

(Ahmad bin Hanbal, az-Zuhd , hal. 84)