Setiap kali iman seseorang kuat, niscaya rahmatnya (kasih sayangnya) terhadap saudara-saudaranya menguat. Karena, kuatnya kasing sayang pada seorang karena kuatnya imannya, dan lemahnya kasih sayangnya karena kelemahan imannya.

Hal ini nampak jelas pada sabda Nabi ﷺ,

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ

“Orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi bagaikan satu tubuh.”

Dan, hal demikian karena sesembahan kita adalah Dzat yang Maha Penyayang, mencitai orang-orang yang berkasih sayang. Dan, agama kita merupakan agama kasih sayang. Nabi kita adalah Nabi yang penuh kasih sayang. Kitab kita al-Qur’an, merupakan kitab rahmat (kasih sayang). Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menyifati para hamba-Nya di dalam al-Qur’an dengan firman-Nya,

رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ

“Berkasih sayang sesama mereka.” (al-Fath : 29)

(Prof.Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr, ‘ar-Rahmatu Min al-Iman’)