Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,

وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ . الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ . أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

“Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn” (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan kembali). Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (al-Baqarah: 155-157)

Ibnu Qayyim al-Jauziyah رَحِمَهُ اللهُ berkata,

الاحتساب يخفف ثقل البلاء ومؤنته فإنهم كلما شاهدوا العوض هان عليهم تحمل المشاق والبلاء

“Mengharapkan pahala kepada Allah atas setiap bala’ dan musibah yang mendera seseorang akan dapat meringankan beratnya bala’ dan tekanannya. Karena sesungguhnya setiap kali mereka menyaksikan ganti itu niscaya akan menjadi mudah atas mereka untuk memikul beban berat dan bala’ yang sering mendera mereka.” ( Ighatsatu al-lahfan, 2/187)

(Prof. Dr. Khalid bin Abdullah al-Mushlih, ‘al-Ihtisab Yukhaffifu Tsiqala al-Bala-i’)