Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ

“Dia (Ya’qub) menjawab, “Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (Yusuf : 86)

Abu Hudzaifah berkata,
“Ats-Tauri رَحِمَهُ اللهُ pernah melihat seorang lelaki di tengah-tengah sekelompok orang, ia tengah mengeluhkan kesempitan hidupnya (kepada mereka).” Maka, berkatalah Ats-Tauri رَحِمَهُ اللهُ kepada lelaki tersebut, “Wahai fulan! (Mengapa) engkau mengadukan dan mengeluhkan Dzat yang Mengasihi dan Menyayangimu kepada orang yang belum tentu menyayangi dan mengasihimu”. (al-Mujalasah Wa Jawahir al-Ilmi, ad-Dainuri, 1318)

Ibnul Qayyim رَحِمَهُ اللهُ mengomentarinya seraya berkata, “Tindakan (lelaki) ini merupakan kebodohan yang sangat luar biasa tentang Dzat yang diadukan dan tempat pengaduan. Karena, andai kata ia mengenal dengan baik Rabbnya, niscaya ia tak akan mengeluhkanNya, dan sekiranya ia mengenal dengan baik kepada siapa ia tengah mengadukan masalahnya, niscaya ia tidak akan mengeluhkan masalahnya kepada mereka (manusia)…”

Dan dalam hal itu, dikatakan,
Apabila engkau mengeluhkan masalah kepada anak Adam (manusia), engkau hanyalah mengeluhkan ar-Rahim (Dzat Yang Maha Penyayang) kepada orang yang tidak menyayangi (dengan kasih sayang yang sempurna). Sedangkan orang Arif itu mengeluhkan kesusahannya hanya kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى semata.

(Abdurrazzaq al-Badr, “asy-Syakwa Ilallah”)