Abu Hazim رَحِمَهُ اللهُ berkata,

اَلدُّنْيَا شَيْئَانِ شَيْءٌ لِي وَشَيْءٌ لِغَيْرِي

“Dunia itu terbagi dua : satu bagian untukku, dan satu bagian lagi untuk selainku.

فَمَا كَانَ لِي لَوْ طَلَبْتُهُ بِحِيْلَةٍ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ لَمْ يَأْتِنِي قَبْلَ أَجَلِهِ

Maka yang menjadi bagianku, sekalipun aku mencarinya dengan melakukan tipu daya terhadap orang-orang yang ada di langit dan bumi, niscaya ia tidak akan datang kepadaku sebelum waktunya (yang telah ditetapkan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى)

وَمَا كَانَ لِغَيْرِي لَمْ أَرْجُهُ فِيْمَا مَضَى وَلَا أرْجُوْهُ فِيْمَا بَقِيَ

Dan yang menjadi bagian selainku, aku tidak menaruh harapan dalam apa-apa yang telah lewat, dan tidak akan berharap dalam apa-apa yang masih tersisa.

يَمْنُعُ رِزْقِي مِنْ غَيْرِي كَمَا يَمْنَعُ رِزْقَ غَيْرِي مِنِّي فَفِي أَيِّ هَذَيْنِ أُفْنِي عُمْرِي

Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menahan rizkiku dari selainku sebagaimana Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menahan rizki selainku dariku, maka dalam bagian yang manakah aku akan menghabiskan umurku?

(Abu Nu’aim Ahmad bin Abdillah al-Ashbahaniy, ‘Hilyatul ‘Auliya Wa Thabaqatu al-Ashfiya’, 10/104)