Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ (135) أُولَئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ (136)

“Orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mereka segera mengingat Allah lalu memohon ampun atas dosa-dosa mereka. Siapakah yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Mereka pun tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedangkan mereka mengetahui.

Mereka itulah yang balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya. Itulah sebaik-baik pahala bagi orang-orang yang mengerjakan amal saleh.” (QS. Ali Imran : 135–136)

Dari Yunus bin Ubaid, Bakar bin Abdillah rahimahullah berkata:

“Sesungguhnya kalian banyak berbuat dosa, maka perbanyaklah istighfar.
Jika seseorang terlanjur berbuat dosa kemudian dia melihat dosanya itu diiringi dengan istighfar, sungguh tempatnya kelak akan membuatnya bahagia.”

(Imam Ahmad bin Hanbal, Az-Zuhd, 1/314)