Pembaca yang budiman…

Tahukah Anda bahwa sebagaimana manusia mempunyai proyek, setan juga mempunyai proyek. Hanya saja bedanya, proyek manusia itu bermacam-macam ; ada proyek kebaikan dan ada pula proyek keburukan, sedangkan proyek setan hanya satu macam saja, yaitu proyek keburukan. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,

إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ

“Sesungguhnya setan hanya bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu melalui minuman keras dan judi serta (bermaksud) menghalangi kamu dari mengingat Allah dan (melaksanakan) shalat, maka tidakkah kamu mau berhenti.” (al-Maidah : 91)

Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى juga berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَمَنْ يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَى مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan ! Siapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya dia (setan) menyuruh (manusia mengerjakan perbuatan) yang keji dan mungkar. Kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu, niscaya tidak seorang pun di antara kamu bersih (dari perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya. Akan tetapi, Allah membersihkan siapa yang Dia kehendaki. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (an-Nur : 21)

Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى juga berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ . إِنَّمَا يَأْمُرُكُمْ بِالسُّوءِ وَالْفَحْشَاءِ وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Wahai manusia, makanlah sebagian (makanan) di bumi yang halal lagi baik dan janganlah mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya ia bagimu merupakan musuh yang nyata. Sesungguhnya (setan) hanya menyuruh kamu untuk berbuat jahat dan keji serta mengatakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (al-Baqarah : 168-169)

Perintah setan untuk berbuat jahat dan keji, mengatakan tentang Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى apa yang tidak kamu ketahui, berbuat kemungkaran, menghalangi kamu dari mengingat Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dan (melaksanakan) shalat, menimbulkan kebencian dan permusuhan di antara kamu merupakan contoh dari proyek setan. Dan, masih banyak contoh proyek-proyek setan yang lainnnya.

Saudaraku, pembaca yang budiman…

Sesungguhnya, untuk menjalankan proyek-proyek tersebut setan telah mendahuluinya dengan bersumpah kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى :

 قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ

“Ia (Iblis) berkata, “Demi kemuliaan-Mu, pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya.” (Shaad : 82)

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ . ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

Ia (Iblis) berkata, “Karena Engkau telah menyesatkan aku, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus.

Kemudian, pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka. Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (al-A’raf : 16-17)

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ

“Ia (Iblis) berkata, “Tuhanku, karena Engkau telah menyesatkanku, sungguh aku akan menjadikan (kejahatan) terasa indah bagi mereka di bumi dan sungguh aku akan menyesatkan mereka semuanya.” (al-Hijr : 39)

Saudaraku…

Begitulah setan bersumpah. Sebagaimana yang Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى kabarkan di dalam kitab-Nya, al-Qur’an. Maka, akan banyak proyek-proyek keburukan dan akan banyak pula bentuk dan ragamnya yang dirancang dan digarap oleh setan. Baik proyek yang kecil maupun proyek yang besar, yang kita istilahkan dengan ‘Mega Proyek Setan’. Semoga Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى melindungi kita semuanya dari keburukan setan dan dari keburukan proyek-proyek setan, baik proyek-proyek yang kecil maupun proyek-proyeknya yang besar.

Di antara Mega Proyek Setan

Saudaraku, pembaca yang budiman…

Di antara mega proyek keburukan yang dirancang dan digarap oleh setan adalah proyek memunculkan permusuhan di antara sesama muslim.

Rasululllah  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda,

« إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ الْمُصَلُّونَ فِى جَزِيرَةِ الْعَرَبِ وَلَكِنْ فِى التَّحْرِيشِ بَيْنَهُمْ »

“Sungguh setan telah putus asa untuk membuat orang-orang yang rajin Shalat di  jazirah Arab guna  menyembah dirinya, namun yang diusahakan oleh setan adalah memunculkan permusuhan di antara mereka (kaum Muslimin).” (HR. Muslim)

Pembaca yang budiman…

Dalam rangka untuk mensukseskan proyek yang besar tersebut, setan akan banyak menggunakan banyak instrumen, salah satunya yang terbukti manjur adalah mempercayai dan menyebar berita yang belum jelas kebenarannya. Trik ini terbukti sukses untuk memunculkan permusuhan antara suami dengan istri. Antara anak dengan orang tuanya. Antara kakak dengan adiknya. Antara guru dengan muridnya. Antara ustadz dengan jama’ahnya. Antara seseorang dengan tetangganya atau temannya. Antara ulama dengan umara. Antara atasan dengan bawahan, dan lain sebagainya.

Hanya akibat satu berita, persaudaraan, pertemanan, hubungan akrab antara sesama muslim bisa rusak, bahkan hancur berantakan. Keharmonisan berubah menjadi kecurigaan. Keakraban berubah menjadi permusuhan. Kerjasama kebaikan berubah menjadi upaya untuk saling menjatuhkan. Saat itulah setan bertepuk tangan kegirangan.

Saudaraku, pembaca yang budiman…

Tidak layak, bagi seorang muslim untuk ikut-ikutan berpartisipasi dalam mensukseskan proyek setan, karena itu Allah kelarang kita dari mengikuti langakah-langkah setan,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan !” (an-Nur : 21)

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ . إِنَّمَا يَأْمُرُكُمْ بِالسُّوءِ وَالْفَحْشَاءِ وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Wahai manusia, makanlah sebagian (makanan) di bumi yang halal lagi baik dan janganlah mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya ia bagimu merupakan musuh yang nyata.” (al-Baqarah : 168-169)

Seharusnya seorang muslim berada di garda terdepan untuk menggagalkan proyek-proyek keburukan, semisal keburukan proyeknya yang satu ini.

Namun, bagaimanakah gerangan caranya ? Mari kita menyimak firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berikut ini. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila ada orang fasik datang kepadamu membawa suatu berita maka telitilah kebenarannya. Agar kalian tidak mencelakakan suatu kaum karena sikap kecerobohan yang akhirnya kalian menyesali perbuatan itu.” (Qs. al-Hujurat : 6)

Saudaraku, pembaca yang budiman…

Ayat ini mengajarkan kepada kita sebuah etika terbaik dalam menyikapi suatu berita supaya tidak mengakibatkan penyesalan di kemudian hari, yaitu, meneliti dan mengkroscek kebenaran berita tersebut. Mengapa kita perlu meneliti dan mengkroscek kebenaran suatu berita ? sebab, sebuah berita yang datang kepada kita, memiliki tiga kemungkinan; yang pertama, mungkin berita itu tidak benar. Atau, yang kedua, mungkin berita itu benar, tetapi kita keliru di dalam memahaminya. Atau, yang ketiga, mungkin berita itu benar dan kita tidak keliru di dalam memahaminya. Tapi ternyata yang bersangkutan memiliki argumen yang benar yang belum kita ketahui.

Nah, untuk mengetahui dan memastikan hal-hal tersebut di atas jalan satu-satunya adalah dengan mempraktekkan adab ilahi yang termaktub dalam ayat ini, yaitu, cek dan recek.

Saudaraku, pembaca yang budiman …

Etika yang sedang kita bahas kali ini, yaitu, upaya memastikan kebenaran suatu berita, sebenarnya mudah untuk dipraktekkan, apalagi di zaman ini, yang sarana komunikasi begitu lengkap dan beragam, bisa lewat telphone, lewat sms, lewat WA, lewat email, atau yang lainnya. Bahkan bisa bertemu secara langsung. Namun, walaupun secara teori itu mudah, ternyata realitanya tidak banyak orang yang mau mempraktekkan etika tersebut dalam keseharian. Banyak faktor yang memicu hal itu. Bisa karena dorongan ego yang merupakan sifat bawaan manusia sejak lahir. Atau bisa karena sikap tergesa-gesaan yang juga memang itu merupakan salah satu sifat dasar manusia,  sebagaimana Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى  berfirman,

وَكَانَ الْإِنْسَانُ عَجُولًا

“Memang manusia itu memiliki sifat ketergesa-gesaan.” (Qs. al-Isra : 11)

Atau bisa juga karena terjebak bisikan setan yang berusaha sekuat tenaga menghalang-halangi manusia dari etika tersebut agar proyek keburukannya bisa berjalan dengan lancar. Atau mungkin karena faktor-faktor lainnya.

Saudaraku, pembaca yang budiman…

Hati yang bersih dari kotoran hasad, kotoran iri, kotoran dengki, kotoran buruk sangka, dan noda-noda lainnya, dengan izin Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى akan membuahkan perilaku-perilaku yang baik dan simpatik dalam keseharian. Sebagian sahabat Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ pernah berpetuah,

لَا تَظُنَّنَّ بِكَلِمَةٍ خَرَجَتْ مِنِ امْرِءٍ مُسْلِمٍ شَرًّا وَأَنْتَ تَجِدُ لَهَا فِي الْخَيْرِ مَحْمَلَا

Jangan pernah sekalipun engkau menafsirkan buruk perkataan seorang muslim selama perkataan itu bisa ditafsirkan dengan baik (Atsar diriwayatkan oleh imam al-Baihaqi dalam kitab beliau Syu’abul Iman)

Sebuah etika mulia yang muncul dari hati yang bening. Alangkah indahnya adab di atas apabila diterapkan dalam muamalah keseharian kita sesama muslim, niscaya akan sangat banyak permasalahan dan problematika pelik yang bisa dihindarkan dan ditepis sejak awal, insya Allah. Maka, mari kita mulai melatih diri untuk membersihkan hati, menjaga lisan dan berhati-hati dalam menerima berita serta menyebarkannya.

Semoga Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى  memberikan taufik kepada kita semua. Amin

Wallahu A’lam

(Redaksi)