Renungkanlah, bagaimana Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman di dalam ayat yang memerintahkan untuk berdzikir kepadaNya,

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِين

“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (al-A’raf: 205)

Dan dalam ayat yang memerintahkan agar kita berdoa, memohon kepadaNya, Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan merendahkan diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (al-A’raf: 55)

Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى sebutkan kata ‘تَضَرُّعًا’ (dengan merendahkan diri) dalam kedua kasus tersebut (dzikir dan doa) bersamaan, yang berarti tunduk, merendahkan diri, penuh dengan ketenangan, serasa hati hancur (di hadapan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى). Hal itu (yakni, tadharru’, merendahkan diri) merupakan ruh dzikir dan doa. (Ibnu Taimiyyah, “Majmu’ al-Fafawa”, 15/19,20)

Apakah kita telah demikian itu kala kita berdzikir mengingatNya dan berdoa memohon kepadaNya?